
Pada akhirnya nanti, kita pasti akan ikut masuk bahkan bisa terjebak di dalam permainan yang kita buat sendiri, jika kita tidak mampu mengendalikan permainan tersebut dan membiarkan diri tertarik mengikuti arus. —RAKARIN.
...***...
"Rak, lokasi hp Rin ada di kelasnya. Terus enam orang inti Zegior ini ada di sekitar daerah hutan Alvares itu, lumayan jauh dari sini. Jadi kayaknya Rin gak bawa hp pas ke taman belakang."
Raka mengangguk singkat pada Arga. Notifikasi dari salah satu aplikasi bertukar pesan di hpnya mengalihkan perhatian pemilik netra hijau itu. Ia mengecek dari beranda, keningnya mengerut dalam.
Pedjoeang street no.7
Deverald ngaku kalah sama kita, rin, ice princess kesayangan lo itu bakal gue lepasin
—video 5 minutes, tap to view—
Raka menoleh pada Galang, ia melemparkan ponsel mahalnya. Galang dengan sigap menangkap benda kecil seharga motor itu. Wakil ketua Deverald itu mengerjap beberapa kali.
"Wait, Rak, what's does that mean?"
Alden mendekat, begitu pun empat temannya yang lain ikut membaca pesan dari nomor tidak dikenal itu. Arga segera menuju komputer kesayangannya sambil membawa ponsel Raka untuk menyalin nomor pengirim pesan tidak jelas itu, ia berniat berseluncur lebih dalam agar mendapat informasi akurat.
"Ngaku kalah? Lah? Zegior napa bego banget njir?" Iqbal menampilkan ekspresi kebingungan yang mendapat toyoran di kepala dari Regan. "Komuk lo kondisikan ye. Very ugly."
"Sialan."
Galang mengambil alih ponsel Raka ketika Arga sudah selesai menyalin nomor. Ia menyerahkan benda tersebut kembali pada pemiliknya. "Itu video apaan?"
Raka diam beberapa saat, perasaannya tidak enak. Namun, laki-laki itu memaksa dirinya sendiri untuk membuka video berdurasi lima menit itu. Video dibuka dengan menampilkan wajah Rin yang memasang wajah datar, dengan tatapan membunuh pada sosok di hadapannya. Raka berusaha mengatur napasnya ketika melihat tangan seseorang entah siapa dengan seenak jidat mengusap-usap pipi Rin.
Galang yang paham situasi segera mengambil alih ponsel Raka. Sebelum protes, Galang lebih dulu berkata, "Dilacak, Rak. Cari tempatnya di mana. Mukanya siapa ini. Pasti diedit-edit. Jangan lo banting hpnya."
"Gak."
Arka tertawa keras. "Dinding aja hancur, segala bilang gak gak lagi lo."
"Diem dodol!" sungut Iqbal. "Napa jadi lo yang sewot njir?"
"Bukan gitu, lo ngerti situasi dikit ye Bambang. Si Raka lagi panas jangan lo panas-panasin lagi sial," bisik Iqbal emosi di sebelahnya.
Kalo gue gak bisa milikin lo, orang lain juga gak boleh milikin lo, Rin.
Raka dan yang lain menoleh cepat ke arah ponsel Raka, di mana menampilkan laki-laki berwajah bule—yang tentu itu editan—tengah melepas pakaian hitamnya kemudian mendekat pada Rin. Video menghitam dan tidak lama suara teriakan penuh ketakutan terdengar—yang Raka juga baru saja mendengarnya.
JANGAN DEKETIN GUE SI—
__ADS_1
Video terhenti.
Alden segera mengambil alih situasi. Ia mengambil ponsel Raka dari Galang, menyerahkannya pada Iqbal untuk dilacak. Iqbal dengan segera melaksanakan tugasnya. Sedikit keringat dingin, karena takut Raka akan mengamuk. Ketua Deverald sekaligus sahabatnya itu jika murka tidak bisa dihentikan emosinya.
Sementara Galang, Alden dan Arka segera pasang posisi didekat Raka agar laki-laki itu tidak lepas kendali dan mengacak-acak basecamp mereka di sekolah. Raka sendiri hanya diam, berusaha menstabilkan emosinya agar keluar di waktu yang tepat.
"Got it!" seru Arga di tengah keheningan menegangkan di ruangan utama itu. Pemilik manik biru itu berlari menghampiri teman-temannya.
"Apa?" tanya Raka penuh intimidasi.
"His mean, informasinya apa aja." Alden menjelaskan singkat.
"Oh, okay. Jadi yang ngirim itu Michael, ketua Delvaros. Gue udah lacak anggota-anggotanya, ada sekitar seratus orang lebih di Pedjoeang street, dari CCTV terdekat, mereka pada bawa senjata tajam. Tapi gue gak lihat Rin."
"Terus Zegior? Kenapa tiba-tiba Delvaros muncul?"
"Semua anggota inti ada di gudang tua di pinggiran hutan Alvares kayak yang gue bilang di awal. Mereka ngumpul di sana, terus anggota mereka yang di bawah tiga puluh posisinya pada mencar masing-masing. Gatau kenapa Delvaros tiba-tiba muncul, tapi gue baca pesan terbaru, kira-kira lima belas menit yang lalu, atas nama Victor send message to Michael kalo dia nyuruh siapin pasukan, semua dalam kendali. Gitu, sih. Kemungkinan ada permainan kotor."
Raka menghela napas. Pikirannya terbagi tiga. Rin. Kenapa dia harus se-khawatir ini pada Rin. Last, tentang 'permainan kotor' yang dimaksud Arga.
Iqbal ikut mendekat. "Gue juga dah nemu. Dari wajah di video ini, gue coba cari riwayat rekaman aslinya. Ini mukanya Gilang, di gudang tua di pinggir hutan Alvares. Jadi Rin beneran di pihak Zegior. Dan si Gilang ini maksa Rin buat teriak gitu, istilahnya mendesak buat mancing emosi lo, Rak."
Mendengar penjelasan dari kedua temannya yang jago coding itu, Alden menganggukkan kepalanya. Sebagai penghapus jejak, dia juga kepala strategi penyerangan setelah Raka—berjaga-jaga kalau sang ketua diliputi emosi. "Saran gue, mending buat dua kelompok. Empat inti ke gudang nemuin Zegior, tiga inti sama pasukan Deverald yang ada di sekolah bawa ke Pedjoeang."
"Gue, Galang, sama Iqbal bakal bawa pasukan ke Pedjoeang. Raka, Alden, Regan sama Arga ke gudang. Dugaan gue Rin ada di pihak Zegior, sesuai kata Arga, ada 'permainan kotor'." Arka ikut menjelaskan.
"Gue setuju aja. Jangan lupa hp lo pada jangan di matiin, just in case, tapi semoga gapapa. Delvaros emang pada kuat, sih, cuma ketuanya rada anu, ya kita punya peluang meski kalah jumlah."
"Kalah jumlah gimana?" tanya Iqbal pada Galang.
"Sekarang gak bisa semua anak Deverald di sekolah ini ikut, ada yang latihan buat olimpiade kimia."
"Oh iya, pada latihan ke luar kota, ya?" Regan menghela napas, tak lama ia tersenyum. "Gapapa, sih. Kita nanti yang menang, aman!"
"Pasti." Galang menyahut tegas.
"Senjata tajam, jangan lupa. Kasih tau yang lain juga," ucap Arga memperingati.
"So, meluncur sekarang?" tanya Iqbal mengangkat salah satu alisnya dengan senyum penuh pesona—ralat, senyum yang menadakan dirinya tak sabar akan pertarungan.
Keenamnya segera menoleh pada Raka, laki-laki itu diam beberapa saat. Kemudian dengan suara rendah penuh penekanan, Raka berucap, "Siapin pasukan yang ada, kalian lewat belakang sekolah. Yang ikut gue datangin Zegior, kita lewat depan."
"Siap, Rak!"
__ADS_1
...*****...
Deruman motor memenuhi jalanan setapak yang dilewati, paling depan, Arka memimpin pasukan yang berkisar 75 orang yang masing-masingnya menggunakan motor sport sendiri. Raka memerhatikan rombongan itu berlalu, suara teriakan menggema sahut menyahut bahkan sampai tempatnya berdiri.
Alden menepuk pelan bahu Raka, membuat sang empu menoleh. "Kita juga berangkat, Rak. Arga sama Regan udah siap di parkiran."
Raka mengangguk. Alden diam sesaat, setelahnya nekat bertanya perihal yang menganggunya sejak pagi.
"Jangan lupa misinya, Rak."
Raka menghela napas. Ia mengangguk pelan. "Aman."
Keduanya lantas segera menuju parkiran. Benar saja, Arga dan Regan sudah bersiap di atas motor masing-masing. Tanpa basa-basi, Raka menaiki motornya, menggas-rem untuk beberapa saat, kemudian menjalankannya dengan kencang melewati pelataran parkiran yang luas. Di belakangnya menyusul ketiga temannya.
Begitu sampai di jalan raya, Raka mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata, membelah ramainya jalanan ibukota. Pikiran laki-laki itu melayang, mengenai Rin juga tentang permainan kotor yang ia duga pasti seputar sewa menyewa yang memanfaatkan kekuatan. Money, jadi alasan utamanya. Raka akan mencari tahu itu nanti.
Terpenting saat ini adalah, Rin.
...*****...
"Lo belum makan dari pagi kan? Pucat noh. Makan aja elah tu nasi, sekalian makan siang. Gak gue kasih racun anjir," ucap Victor mendengkus ketika Rin bersikeras tidak ingin memakan masakan yang susah payah laki-laki itu masak.
"Biarin aja, sih. Ni cewek emang batu banget dari dulu," balas Dimas sambil melirik Rin sekilas dengan malas.
Dava mengangguk kuat dengan chiki di kedua tangannya. "Bener."
"Ye, lo main bener bener aja," ucap Rama sewot, ia melanjutkan, "Btw ini, kita aman aja kan, Tor? Lokasi kita gak ketahuan kan? Gue agak khawatir njir pas Michael bilang gerombolan Deverald udah ada di sana."
Victor yang tadinya sibuk memainkan ponsel, seketika terhenti sejenak memikirkan sesuatu. Laki-laki itu kemudian membisikkan sesuatu pada Gilang. Beberapa saat berpikir, Gilang menganggukkan kepalanya.
"Delon, lepasin Rin."
Rin yang tadinya melamun memikirnya cara agar tiba-tiba punya kekuatan tenaga dalam sehingga bisa lepas dari jeratan rantai, lantas mendongak dengan ekspresi curiga. Kali ini, apa lagi rencana licik Gilang?
Rin memejamkan matanya sejenak, kemudian membukanya perlahan. Gadis itu tersenyum tipis menatap langit-langit gedung berbahan besi yang sudah berkarat dan banyak celahnya. Melirik ke arah Delon, yang kini mengeluarkan semacam tisu dan sesuatu entah apa dituangkan ke tisu tersebut. Begitu Delon menghampirinya, Rin pura-pura pingsan.
"Sial, segala pingsan lagi si Rin," ucap Rama mendengkus di belakang Delon.
"Disuruh makan gamau, sih. Ngeyel emang jadi orang," kata Victor julid.
"Udah, cepetan!" Gilang mendesak.
"Mau diikat di tiang ya Lang?" tanya Dimas yang masih belum mengerti situasi. Hal itu membuat Gilang berdecak pelan. "Gak, gue buang ke laut."
__ADS_1
"Anjir?"