JENNIE

JENNIE
40 - He Changed


__ADS_3

Perubahan sikap seseorang dari care jadi tak acuh itu wajar. People come and go. Namun, kalau ingin pergi perlahan dengan menyisakan luka, apa itu balas dendam atas penolakan yang sebelumnya ada? —Rin.


...***...


"Guys, ntar jadi kan ke mall? Lansung aja gimana? Gue males banget ganti baju, ntar paling pake cardigan aja, biar gak ketara banget."


Cellin mengangguk setuju akan perkataan Audey. "Boleh. Aku juga kebetulan bawa bomber jacket, tapi kalo ga dipake gapapa kan? Misal aku mau pake seragam aja, gapapa kan?"


"Gapapa lah, Lin," kata Ruth seraya menganggukkan kepalanya pelan. "Gak cuma lo aja, banyak ntar."


"Takut jadi pusat perhatian aja, sih, ntar mereka mikir aneh-aneh lagi."


"Ngapain anjir mikirin kita?" Audey tertawa hingga memegangi perutnya. "Mereka palingan sibuk sendiri."


Megan tersenyum menahan tawa melihat ekspresi Audey. Sementara Rin hanya menggelengkan kepalanya pelan.


"Lo belum-belum udah overthink, heran gue," ucap Ruth menambahi.


"Ya ... siapa tau, kan?"


"Enggak ah, mereka tuh sibuk sendiri, ngeliat sekilas doang itu pun gak acuh."


"Pengen ikutttttt," kata Megan sambil mengerucutkan bibirnya dengan kening mengerut. "Lo katanya ada anu—"


"Iya, kan aku mau ikut, mau. Bukan nanya kok gak diajak."


"Abis muka lo bikin kesel, kayak gak diajak aja."


"Emang bawaannya gini ya gimana!"


Ruth memutar matanya malas. "Ada aja bahan ribut lo berdua."


Audey mendengkus, gadis itu menyenderkan tubuhnya di pagar pembatas lantai dua. Menyipitkan mata menatap Megan yang berada di seberangnya sedang duduk di kursi panjang.


Kelima gadis cantik itu kini tengah berada di depan kelas, menunggu bel masuk yang tak lama lagi akan segera berbunyi. Rin diam memerhatikan ujung tangga, seketika memgerjap pelan begitu mendapati tubuh tegap Raka perlahan terlihat, dan melangkah menuju tangga lantai tiga bersama teman-temannya.


Rin spontan menundukkan kepalanya, entah kenapa jadi salting sendiri. Gadis itu mengangkat pandangannya, begitu Audey mendekat dan berbisik heboh.


"Weh, ada gerombolan kak Raka tuh, omg, omg!!"


"Emang kenapa?" tanya Megan polos.


"Duh, Marpuah! Lo tuh peka napa, sih, ngeselin banget asli, bikin emosi!!"


"Gue kan nanya Dey? Emang kenapa kalo ada kak Raka?"


"Gerombolan kak Raka." Audey meralat dengan sinis. Ia kemudian menghela napas panjang begitu Megan masih mengernyit kebingungan sendiri. "Gini, kalo ada kak Raka, berarti ada Galang juga. Cowok gue!!"


Ruth menahan tawanya. "Ur boy? Please, Dey, don't make me laugh. Kapan jadiannya? Kapan dia nembak lo? Kalian masih deket tanpa status. Dia perhatian, lo kelewat baper. Gue ingetin lagi biar lo sadar dan gak terlalu berharap."


"Yea, I know that. Gue cuma jelasin ke Megan aja."


"Ngaku-ngaku berkedok jelasin."


Audey mendelik. "Damn it?"


Cellin membekap bibirnya dengan satu tangan, ia menahan tawa. Takut membuat Audey jadi kesal. Namun, sialnya, Audey menyadari kalau Cellin menahan tawa. Sontak saja gadis berkulit sedikit tanned itu mendatarkan ekspresi wajahnya.


"Lo kalo mau ketawa, ketawa aja Lin, gak usah ditahan-tahan!" ucapnya tak santai.

__ADS_1


"Eh, ga gitu, aku ketawa bukan karena kamu ngaku-ngaku, tapi karena itu—" Cellin terlihat ragu sendiri.


Melihat itu, Audey segera memastikan, "Because?"


"Muka kamu lucu pas melotot tadi. Aku mau ketawa tapi takut kamu salah paham." Cellin meringis pelan sembari mengangkat dua jarinya. "Peace?"


Audey mendengkus. "Ya!"


"Lo napa, sih Dey? Bete mulu kayanya." Megan mengerutkan alis.


"Galang gak ada chat gue kemaren sebelum tidur, liat dia seneng, sih, tapi bikin kesel."


Ruth menghela napas. "Dey, gini, lo itu bukan pacar dia. Hidup dia gak cuma fokus buat ngucapin mimpi indah tiap malam. Kalo pun dia jadi pacar lo, tetep sama aja, hidupnya gak cuma tentang lo, yang bedain cuma status dan point of view orang-orang ke kalian. Btw, masih deket tanpa kejelasan, ya?"


"Ruth ihh jangan gitu dong, huaaaa!!"


"Gue ngomong fakta."


Baru saja Audey ingin menyahut, suara seorang laki-laki lebih dulu meninterupsi. "Morning, Dey. Sorry semalam gak sempet ngucapin good night kayak biasa, ada urusan sama Deverald," ucap Galang sambil mengelus lembut puncak kepala Audey. Gadis itu menggigit pipi bagian dalamnya pelan kemudian mengangguk dengan seulas senyum cantik. "Iya, gapapa. Aku paham, kok."


Ruth dan Megan memutar kedua mata mereka malas, sementara Rin makin mendatarkan ekspresinya, dan Cellin yang mengerutkan kening. Tadi saja, Audey badmood parah, baru dikasih ucapan maaf sama Galang udah meleleh, haduh!


Berbeda dengan respon empat gadis cantik itu, teman-teman Galang justru heboh sendiri. "ANJIR! AKU-KAMU NIH??" tanya Iqbal mendelik kaget.


"Bau-bau bakal ada yang jadian nih!" seru Regan sambil tersenyum menggoda pada Galang. Tak ingin ketinggalan, Arga juga ikut menimbrung tidak kalah heboh. "UDAH LAH LANG PACARAN AJA SONO LO BERDUA, KEBURU DIEMBAT ARKA WOI!!"


Namanya disebut-sebut dengan hal tidak benar, Arka segera melayangkan sebuah toyoran di kepala Arga dengan keras. "Sembarangan! Bisa abis gue kalo deketin Audey."


Galang mendengkus malas. "Lo pada bisa diem gak, sih?"


"Ada yang marah nih yeeee," goda Arga sambil menutup mulutnya, menahan tawa.


"Anjir, waketu marah tar woi dah-dah. Buwaketu juga udah malu-malu domba noh!" Iqbal melirik Audey yang hanya tersenyum kikuk.


"Tau noh, minta di jorokin ke got kali ya?" Arka mengangkat salah satu alisnya.


"Nyenyenye."


Raka berdecak begitu perdebatan konyol masih berlanjut di antara lima temannya. Laki-laki itu melirik Rin yang kini sibuk memainkan ponsel. Mendapati kursi panjang di sebelah gadis itu masih ada tempat untuknya duduk, Raka segera saja mengambil langkah dan mendudukkan diri di sebelah Rin.


Rin melirik dengan ujung mata, gadis itu menahan napas untuk beberapa saat, kemudian menghela napas secara perlahan dengan diam-diam. Wangi maskulin menyeruak di hidungnya, membuat Rin mendadak salah tingkah.


"Udah sarapan?" Raka menoleh pada Rin, menatap gadis itu dengan lekat.


Rin mengangkat wajahnya, menoleh pada Raka dengan tatapan datar, as usually. "Udah."


"Nanti ada kelas, kan?"


Rin mengerjap perlahan, gadis itu menyipitkan mata, meringis dalam hati. Dia lupa kalau hari ini ada jadwal kelas fisika. Rin melirik Audey yang kini masih memerhatikan Arga, Arka, Iqbal dan Regan adu debat.


Rin berdiri, menarik tangan Audey pelan, menjauh dari yang lain. Galang hanya melirik sekilas, lalu memilih menyenderkan tubuhnya di pembatas pagar.


"Kenapa Rin?" tanya Audey kebingungan.


"Sorry, but I forgot something."


Audey mengerutkan alisnya. "Um, what is it?"


Audey membuka mulutnya sejenak, tapi tak lama menutupnya kembali. Gadis itu hanya mengangguk beberapa kali sebagai responnya.

__ADS_1


"Maaf, ya."


"Santai. Btw, berapa jam kelasnya?"


"Two hour**s."


"Okay, lo kasih tau aja Ruth sama Cellin."


Rin mengangguk, gadis itu kembali duduk di tempat semula. Ia membisikkan Ruth dan Cellin seperti yang dikatakannya pada Audey. Respon kedua gadis itu hanya mengangguk dengan seulas senyum. Rin jadi merasa tidak enak.


"Maaf, gue bener-bener lupa."


Cellin tersenyum lembut. "Gapapa. Nanti kita tunggu depan minimarket, ada tempat duduknya, kok. Payung juga."


"Setuju, calm aja, sih Rin."


Rin menghela napas lega. Raka yang sejak tadi memerhatikan itu, segera bersuara. "Muka lo kenapa?"


"Hah? Ah, gapapa?"


"Seriuosly?"


"Lupa aja tadi."


Raka memicingkan matanya, membuat Rin menghela napas pelan. "Serius, Kak."


"RAKA!!!"


Mendengar teriakan dari suara yang tak asing di telinga Raka, ia memutuskan untuk mengalihkan pandangannya, terlihat seorang gadis berlari kencang menghampirinya. Raka tersenyum tipis, kemudian berdiri yang segera disambut dengan sebuah pelukan oleh gadis dengan rambut dicepol asal itu.


Rin mengerjap, kaget luar biasa. Secepat kliat ia mendatarkan kembali ekspresinya.


"Gimana?"


Teresa tersenyum makin lebar. "Lumayan capek, tapi aku berhasil dapetin sertifnya, omg!!" Gadis itu melompat-lompat kecil di hadapan Raka. "But, selama di sana gue tuh bawaannya kangen sama lo! Mikirin lo terus pokoknya."


Raka mengangkat salah satu alisnya. "Yakin? Emang gak ada tugas?"


"Ada, sih. Ah, udah, intinya gue kangen sama lo!!"


Teresa bersedekap dada. Sebulan mengambil latihan badminton di China membuat gadis itu cukup lelah karena padatnya jadwal latihan, belum lagi tugas dari sekolah yang tetap ia kerjakan. Jangan lupakan, bahasa yang digunakan di negara tersebut berhasil membuat otaknya keriting.


Raka tersenyum lembut. "Sekarang masih kangen?"


Rin yang tidak tahan melihatnya segera beranjak masuk ke dalam kelas. Megan ikut menyusul sedetik kemudian agar tidak membuat yang lain berpikir aneh-aneh. Tidak lama, Cellin dan Ruth menyusul masuk ke dalam.


Raka sendiri tidak menyadari, justru ia dan Teresa memutuskan segera ke kelas tanpa laki-laki itu menoleh ke arah kursi lagi. Keduanya menyusuri koridor, kelas demi kelas. Teresa bercerita banyak hal, dan Raka mendengarkan dengan seksama penuh perhatian.


Audey mengernyit. Ia menoleh pada enam teman Raka yang ditinggal. "Kenapa gak pada nyusul kak Raka, Kak?" tanyanya pada Regan.


"Gimana, ye, mereka temu kangen anjir!"


"What do you mean?"


Iqbal segera menyikut lengan Regan. Laki-laki itu kemudian cengengesan. "Biarin aja Dey, si Regan nih ngadi-ngadi emang. Tenang, di hati Raka tetap Rin, kok."


Audey hanya diam memandang punggung Raka yang perlahan menghilang ditelan anak tangga. Sementara, di dalam kelas 11 IPA 1, ada Rin, ia memfokuskan pandangannya pada buku paket biologi. Gadis itu sebenarnya hanya alasan agar tidak ditanya kenapa oleh teman-temannya atas sikapnya tadi.


Rin menghela napas panjang, berharap tidak hanya udara yang keluar, melainkan juga perasaan-perasaan sesak yang seharusnya tak ada. Iya, harusnya Rin biasa saja. Gadis itu memejamkan matanya sejenak, se-berusaha apapun melepas bayang-bayang dari ekspresi dan tatapan lembut Raka pada gadis tadi, Rin tetap tidak bisa mengabaikannya. Itu jelas masih menghantui dia.

__ADS_1


Rin memandang kosong ke arah Raka dan Teresa yang berjalan beriringan melewati kelasnya. Rin menarik napas panjang, terasa berat. Sesak memenuhi dada. Gadis itu tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaannya sekarang.


Semenjak gak nyiapin sarapan, kenapa gue ngerasa lo jadi cuek, kak? Balas dendam atas penolakan yang kemaren-kemaren, ya?


__ADS_2