JENNIE

JENNIE
55 - Simple Thing


__ADS_3

Terkadang, hal sederhana justru memberikan kenangan yang paling bermakna. —RAKARIN.


...***...


Di minggu pagi yang cerah ini, Raka duduk tepat di depan jendela kamarnya. Dengan wajah baru bangun tidur, yang sialnya menambah ketampanan laki-laki itu, mata sayu dan suara serak rendah yang candu didengar ketika menyanyikan lagu angel baby by Troye Sivan sambil memainkan Cort CEC 3 NS guitar.


Jarinya dengan mahir memetik senar demi senar, berkolaborasi dengan suaranya yang mengayun indah memenuhi ruangan. Raka memerhatikan pemandangan taman samping yang ada di rumahnya, melihat itu sedikit membuat Raka tersenyum samar.


Raka mengernyit sesaat, begitu pikirannya tiba-tiba membayangkan kehadiran Rin di sampingnya. Memejamkan mata sambil menikmati permainan gitar darinya, ditemani lagu dengan vibe tenang.


Raka menghela napas pelan kemudian menghentikan sejenak aktivitas bermain gitarnya. Laki-laki memerhatikan ponsel cukup, lama sebelum akhirnya mengambil benda pipih tersebut. Jarinya dengan lincah mengetikkan beberapa kata untuk dikirimkan pada seseorang.


Selesai dengan urusan singkatnya, Raka melempar balik ponselnya ke kasur, dan melanjutkan memetik gitarnya.


Beberapa saat berlalu dengan ketenangan, hingga suara seorang perempuan dari arah pintu membuat Raka berdecak malas.


"Lagi ngapain lo?" tanya Raya bersedekap dada sambil menyender di pintu.


Raka menoleh dengan tatapan tajam. "Mbak, lo bisa ngetuk pintu dulu gak kalo masuk kamar gue?"


Fun fact, Raka dan Raya ketika tidak bersama Rama dan Riana memang saling menggunakan gue-lo.


"Pintunya gak kekunci, kok," balas Raya sambil mengerjap polos.


"Kekunci atau enggak, tetep ketuk dulu dong pintunya. Privasi, Mbak, privasi!"


Raya memutar matanya malas. "Bullshit. Lo juga kadang main nyelonong ke kamar gue. Ngambilin jajan gue segala."


"Ck, gak ikhlas Mbak Raya nih!" Raka mendengkus dengan pipi menggembung.


"Dih, najong! Muka lo gak usah di imut-imutin gitu, mau muntah gue rasanya."


"How could you, Mbak?!" pekik Raka dramatis.


"Temen-temen lo kalo liat kelakuan lo begini, pasti bakal mikir seribu kali buat jadiin lo ketua geng mereka. Bocah random gak jelas modelan lo, bisa-bisanya jadi leader Deverald."


"Mbak, jangan gitu anjir. Gini-gini gue berhasil bikin Deverald dapet citra baik di masyarakat!" seru Raka bangga.


"Iye, masyarakatnya ciwi-ciwi yang pada suka sama lo. Jelas citranya baik, mereka pada cuci mata."


Raka menghela napas pelan. "Mbak, lo kenapa julid banget, sih? Lagian, baca koran sana, baca baik-baik. Gak cuma anak perempuan seusia gue doang yang suka Deverald, banyak. Masyarakat luas."


"Up to you, deh, Rak."


"Ya, udah, Mbak keluar sana. Jangan lupa tutup pintunya. Ganggu waktu berharga gue aja."


"Gak. Gue mau di sini bentar. Lanjut main situ, anggep gue Rin, pfft, BWAHAHAH!!"


"Sialan."


"Udah, main lagi buruan!" desak Raya greget.


Raka mengangguk pelan, kemudian kembali memetik senar, mempertunjukkan kebolehannya.

__ADS_1


"Gue pengen, deh, punya cowok yang bisa main gitar gitu," ucap Raya mendadak curhat. Raka reflek menoleh. "Lah, bang Richard?"


"Dia gak jago apa-apa anjir. Olahraga gak ada yang dia bisa, musik juga, semua-semua gak bisa. Dia cuma CEO dari perusahaan besar yang bisanya ngurusin kertas-kertas buat disetujui."


Raka memutar matanya. "At least, lo bisa dapet money lebih, Mbak. Lumayan tuh, lo porotin buat beli dress by Cartier."


"Raka! Lo kira gue gold digger, gitu?"


"Ya, udah, sih, tinggal putusin kalo lo gak betah."


"Bukannya gak betah, gue cuma pengen dinyanyiin angel baby pake gitar sama dia. Kan, sweet banget kesannya."


"Kenapa gak ngomong jujur ke dia? Napa curhat ke gue, sih, Mbak?" tanya Raka dengan ekspresi kesal berlebihan.


"Please, deh, komuk lo bisa biasa aja gak?"


"Gak."


"Raka lo gue tendang keluar, ya, lama-lama. Bikin kesel aja. Gue lagi cerita di dengerin kek!"


"Iya, gue udah kasih saran loh, Mbak. Lo ngomong jujur ke dia. Tapi, sebagai sesama cowok, biasanya cowok bakal peka duluan, sih tentang ceweknya. Kalo dia gak peka-peka misal dari hal kecil, kayak lo tiba-tiba badmood gitu, kan, kemungkinannya ada dua. Dia emang stupid, gak peka. Atau, pura-pura gak peka karena emang gak ada rasa ke lo."


"Raka, ih! Lo nakutin gue aja!"


Raka tertawa puas melihat wajah Raya memerah kesal. "Gue udah kode dia sampe bilang gini, pengen dinyanyiin angel baby pake gitar. Tapi Richard sampe sekarang belum peka-peka. Lo jangan nakutin, deh, Rak."


"Iya, iya, Mbak. Maaf." Raka menyengir tidak enak. "Gue cuma ngomongin fakta. Tapi balik lagi ke respective individu, sih. Tergantung gitu, jadi gak bener 100% yang gue omongin."


Raka menghela napas pelan. "Gue nyanyiin angel baby mau? Pake gitar, nih."


Raya melirik adik tersayangnya itu, kemudian setelah berpikir beberapa detik ia mengangguk pelan.


Melihat itu, Raka dengan suara serak rendahnya bernyanyi sekali lagi dengan lagu yang sama seperti tadi. Sampai lagu berakhir, laki-laki itu berhasil mengembalikan senyum Raya.


"Gitu dong, Mbak, senyum."


"Iyaaaaa." Raya mendudukkan dirinya menghadap Raka. "Anyway, tujuan gue kesini mau bahas soal Rin, sih. Malah hanyut ama permainan lo."


Raka mengerutkan keningnya. "Rin? Kenapa?"


"Minggu kemaren waktu dinner bareng. Lo udah jadian sama Rin apa gimana? Ice princess gitu, seriusan mau ikut lo?"


"Gue maksa, Mbak."


Raya mendelik. "Gila lo, Rak. Ini gak ada hubungan sama tantangan gue sore itu, kan?"


"Gak lah. Gue emang mau ajak dia sebelum lo ngasih tantangan gak jelas gitu. Gue makan sendiri juga gak masalah, sejak kapan repot?"


Raya menghela napas lega. Sore hari sebelum dinner di minggu kemarin, gadis itu sempat menantang Raka.


"Gue ntar malem ngajak Richard makan bareng. Gak mau ajak Rin juga? Lo gue sebut gak laku kalo Rin gak datang."


"Liat aja. Dia pasti datang."

__ADS_1


"Terus hubungan kalian apa? Pacaran kayaknya gak mungkin, sih. Rin aja pake pakaian formal gitu."


Raka memutar matanya malas. "Bang Richard juga formal Mbak outfit-nya."


"Itu gue sengaja gak ngasih tau. Gue kira dia bakal pake pakaian simple gitu, eh, malah kayak mau ketemu client."


"Gue juga gak ngasih tau. Dia kan cuek, gue kira bakal pake baju santai."


"Dilihat dari outfit-nya kemaren, Rin tau style banget, sih. Bisa jadi dia mikir hal yang sama kayak di pikirin Richard."


Raka menatap Raya penasaran. "Apa?"


"Mau ketemu orang penting."


"Gak lah. Dia jelas gak suka sama gue." Raka membalikkan tubuhnya, kembali menghadap keluar dan membelakangi Raya.


"Kalo lo emang beneran suka, gak cuma sekedar penasaran karena sifatnya, saran gue, perjuangin. Tipe kayak Rin gitu, emang butuh usaha ekstra buat menangin hatinya. Sekali aja, lo berhasil bikin dia nyaman, dia bakal jatuh sedalam-dalamnya sama lo."


Raka tersenyum tipis. "Kalau dia ternyata sukanya sama yang lain?"


Raya menghela napas pelan. Adiknya ini playboy gadungan, tapi masih saja ragu sendiri untuk mendekati satu perempuan.


"Oke, sebelumnya, soal sarapan kemaren. Sekarang lo enggak nyiapin lagi, ya? Tanggapan Rin gimana?"


"No comment. Bahkan cenderung biasa aja."


"Modelan Rin emang suka nyembunyiin perasaannya. Lo peka dikit napa!" Raya tiba-tiba kesal sendiri. "Lagian, ya, Rak, setiap pagi kasih dia minum udah cukup. Gak terlalu makan tenaga."


"Kalo gagal lagi?"


"Besok-besok lo kasih Alphard aja."


Raka tertawa dibuatnya. "Kalo gagal?"


"Ya, udah, mundur. Sadar diri."


Raka mendengkus. Kemudian menoleh pada Raya dengan tatapan tajam. "Beneran, ah, Mbak, jangan becanda mulu."


"Apanya?"


"Kalo gagal lagi?"


"Gosh, lo tinggal kasih dia air mineral. Gak bakal bosen. Emang kesannya biasa aja, tapi kan air putih salah satu elemen penting buat tubuh."


Melihat Raka yang masih memasang tampang berpikir keras, Raya kembali berucap, "Gini, Rak. Terkadang gak perlu sesuatu yang repot-repot, sederhana dan simpel aja, udah cukup buat bikin seseorang ingat kita."


...*****...


Rin yang baru selesai berkebun di taman belakang rumahnya itu segera menuju dapur untuk mengambil air dingin. Mengambil ponselnya sejenak yang sejak tadi ia letakkan di atas meja, kemudian memainkannya sesaat.


Kening gadis itu mengerut samar begitu pesan dari Raka berada di notifikasi tertasa. Dikirimkan dua jam yang lalu. Rin meyakinkan dirinya membuka pesan tersebut.


jangan lupa sarapan.

__ADS_1


__ADS_2