JENNIE

JENNIE
26 - Khawatir


__ADS_3

Sekeras apapun menyingkirkan perasaan aneh itu, kalau otak tetap memproses sesuatu di luar keinginan kita, maka sia-sia saja. Rasa khawatir timbul karena otak dan hati yang perlahan menerima orang baru. —RAKARIN.


...****...


Raka berdecak ketika di lorong kelas sebelas para siswi berada di luar untuk saling bergosip ria. Gak mikir apa ya mereka, ini jalan umum, kenapa kayak penguasa aja semua tempat dipenuhi.


"Minggir woi! Minggir! APESI NGALANGIN JALAN, GUE BILANG MINGGIR!!!" teriak Arga dari dekat tangga membuat Raka menoleh sesaat lalu kembali menghadap depan sambil geleng-geleng.


Sebenarnya tanpa disuruh pun, seluruh siswa-siswi pasti akan menepi jika Deverald lewat. Cuma, memang Arga-nya aja nih yang heboh kayak ada kebakaran jenggot.


"MINGGIRRRR!!" pekiknya lalu cengengesan tidak jelas.


Raka berhenti sejenak di depan pintu kelas 11 IPA-1, mengatur napasnya lalu kemudian masuk dengan langkah santai, kedua tangan di saku celana sambil bersiul menatap Rin lekat, tidak lupa tersenyum menggoda pada gadis itu.


Menarik asal kursi entah punya siapa, lalu menaruhnya di samping Rin yang sibuk membaca buku. "Udah sarapan?" tanya Raka pelan. Rin menghentikan aktivitas membacanya. Menoleh pada Raka, "Belum."


Raka mengeluarkan kotak bekal dari dalam tasnya. Tadi pagi karena buru-buru ia ragu bisa menyiapkan sarapan untuk Rin atau tidak. Makanya ditaruh dalam kotak bekal lebih dulu. Sayangnya, Raka kelupaan ngasih, ah elah!


"Makan," suruh Raka menyodorkan kotak bekal berwarna biru muda. Rin meliriknya sambil menghela napas.


Tolong banget ini, Rin bukannya tidak bersyukur atau tidak tahu diri, tapi kalau setiap hari sarapannya itu-itu aja, ya bosen juga dia!


"Kenapa diem?" tanya Raka lagi, salah satu alisnya terangkat.


Rin berpikir sejenak. Kemudian mengambil kotak persegi tersebut. Gadis itu hanya mengambil susu kotaknya saja, tidak dengan kue sus-nya.


Raka mengernyit. "Kenapa gak dimakan?"


Rin berdecak. Gadis itu lebih memilih membaca bukunya kembali.


Arga yang sejak tadi memerhatikan menahan tawanya. Laki-laki itu mendekati Raka dan membungkuk sedikit, kemudian berbisik, "Masih gak paham lo Rak?"


Raka menoleh, kerutan di dahinya semakin dalam. "Apaan?"


"Nih, misal lo dikasih kejuuuu mulu selama sebulan, gimana perasaan lo?" tanya Arga memberi clue.


"Enek," kata Raka jujur. "NAH! Itu dah. Ngerti kan lo?"


Raka mengedikkan bahunya tak acuh. Arga menahan diri agar tidak menoyor ketuanya itu. "Hehehe, gini nih kalo cuma pinter materi. Eh, emang lo pinter ya Rak?"


Arga langsung ngacir keluar kelas sebelum Raka mengomelinya. Sadar jika dirinya dikerjain, tapi Arga sudah keburu kabur Raka hanya mendengkus sambil menatap pintu dengan tajam.


"Nape tuh si Arga?" tanya Regan yang baru masuk, di tangannya ada es blender.


Iqbal yang sejak tadi duduk di depan Ruth untuk menggoda gadis itu langsung berdiri. "Anjir, bagi Gan, gue haus."


Regan berdecak. "Belilah dodol!" sungut laki-laki itu, tapi tetap memberikan minumnya.


Di belakang Regan, ada Arga yang masuk sambil menyengir dan dengan riang menghampiri Raka yang kini menatapnya seakan ingin membunuh. "Calm Paketu, gue mau ngasih tau soal yang tadi. Mau gak?" tanya Arga menaik-turunkan alisnya.


Raka berdecak. "Ya udah apaan."

__ADS_1


"Eitsss, jajanin gue tapi abis ini," katanya dengan senyum lebar, yang sialnya membuat para gadis di kelas itu terpesona, menyebabkan pekikan histeris terdengar begitu memekakkan.


"Ya."


"Main tebakan lagi dong Rak. Emm, kalo lo dikasih sesuatu yang sama setiap harinya, lo gimana tuh?" tanya Arga berbisik.


Raka memutar matanya jengkel. "Bosen lah pinter. Udah ah langsung kasih tau gue aja apaan!"


"Ck, Rin juga bosen lo kasih itu-itu mulu njir!" kata Arga ngegas.


Rak lo kalo bukan Paketu gue, udah gue jorokin ke got! Batin Arga sambil tersenyum tipis.


"Mana uang jajan gue?" tagih Arga membuat Raka mengeluarkan kartu debitnya.


"EH GUE JUGA MAU DI TRAKTIR RAKKKK!!" pekik Iqbal dan Regan bersamaan dengan heboh.


"Anjir," ceplos Raka memijit kening. Arga langsung berlari keluar kelas sebelum Raka berubah pikiran, diikuti Iqbal dan Regan yang berteriak heboh di sepanjang koridor menuju kantin.


"Pergi, ngapain di sini?" tanya Rin santai, matanya terfokus pada buku. Raka menoleh pada gadis itu. Mengambil kotak bekalnya dan beranjak keluar menuju kelasnya. Rin melirik laki-laki itu sekilas lalu kembali membaca bukunya.


"Tumben lo tolak?" tanya Audey menoleh pada Rin. "Enggak," jawab gadis bermata legam itu sambil menunjukkan susu kotak di tangannya.


"Enggak, maksud gue, kue sus-nya itu, tumben gak lo makan?"


"Kenyang."


Audey tersenyum tipis. "Heran gue sama lo. Kadang jadi sedingin salju, tapi kadang cair dikit, bisa diajak ngobrol. Lo ngomong ngilangin berapa kalori dalam tubuh, sih?"


Okeh cukup. Audey memilih diam dan kembali chat-an dengan Galang. Daripada makan hati ye kan. Abisan si Rin es banget, heran.


Rin sendiri ikut terdiam. Diam dalam pikirannya. Menatap pintu dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada sesuatu yang aneh bergejolak dalam hati gadis itu. Sesuatu yang sulit dijelaskan, tapi begitu menganggu dan terasa nyata hadirnya.


Rin menghela napas sambil memejamkan matanya. Kepala gadis itu ia biarkan menyender di kursi. Ketika membuka mata, langit-langit kelas menyambut. Ada banyak pertanyaan, yang tentunya terselip rasa khawatir dalam dirinya.


Tidak banyak memang lukanya, tapi percayalah, rasa cemas gadis itu sangat besar sekarang.


Abis berantem?


...*****...


"Agi," panggil Megan membuat laki-laki yang duduk paling depan di tengah itu menoleh. Mendapati gadis yang sudah menarik perhatiannya itu sejak lama menghampirinya, membuat Agi tersenyum miring.


Megan berdehem pelan. Seandainya bukan Rin yang meminta tolong padanya, gadis itu mana mau berbicara dengan Agi. Kalian tahu kan Arga suka sama Megan, sama Agi juga begitu. Di antara keempat sahabatnya, memang Megan ini paling dekat sama Agi—menurut Rin.


"Pinjem jaket."


Tanpa banyak bicara, laki-laki itu meraba lacinya dan memberikannya pada Megan.


"Rin pinjem. Boleh?"


Agi terdiam beberapa saat. Kemudian mengangguk pelan. "Iya."

__ADS_1


Megan berbalik badan dan kembali menghampiri Rin. Gadis itu memberikan jaket Nike black sportswear jacket pada sahabat esnya itu.


"Okay thanks." Rin segera berlalu keluar dengan kotak p3k miliknya. Tentunya, dengan jaket Agi yang membungkus seluruh tubuhnya, membiarkan rambut hitam legamnya terselip di dalam. Dilengkapi dengan topi dan masker agar tidak ada yang tahu kalau dirinya ini Rin.


"Mau kemana, sih Rin?" tanya Audey agak keras dari jendela, karena Rin sudah berada di luar.


Rin menoleh, menggeleng pelan lalu segera menaiki anak tangga. Tidak ingin membuang waktu lagi.


Gadis itu berlari cepat ke ujung koridor, di mana kelas 12 IPS-2 terletak. Sebenarnya tidak terlalu ujung, sih, soalnya ada dua kelas lagi yang paling ujung.


Melirik ke dalam, Rin hanya melihat kehadiran empat gadis yang sibuk memainkan ponsel di kursi pojok. Tidak ada yang menyadari kehadiran Rin. Gadis itu menghela napas lega.


Rin langsung masuk ke dalam dan mencari tas yang biasa Raka gunakan, ketika netranya menemukan yang dicari, ia segera melangkahkan kaki kesana. Meletakkan kotak p3k-nya di atas meja Raka sambil melirik kanan-kiri memastikan tidak ada yang melihat apa yang dilakukannya.


Gadis itu ingin berbalik badan tapi pekikan histeris di luar membuat Rin paham satu hal. Raka dan teman-temannya sudah balik. Melirik pada empat kakak kelas tadi, yang kini memerhatikan dia dengan kerutan di dahi.


Rin mengabaikannya, gadis itu segera berlari hendak keluar kelas. Namun, langkahnya segera ia lambatkan dan berusaha sesantai mungkin ketika berpapasan dengan Raka di depan pintu.


Laki-laki itu berhenti sesaat sambil menatapnya dengan lekat, membuat Rin langsung mempercepat langkah. Masa bodoh ketahuan atau tidak, toh Raka tidak mungkin se-detail itu tahu bentuk tubuhnya. Ketika gadis berpenampilan misterius itu hilang ditelan anak tangga, pandangan mata elang seorang laki-laki pemilik netra hijau tak lepas dari sana.


Raka ... tidak asing dengan gadis tadi.


Galang menepuk bahu Raka. "Nape lo ngelamun?"


"Papasan ama cewek cantik. Walau pun ketutup gitu, auranya emang gak main-main. Biasa, kepincut tuh Paketu," kata Iqbal bercanda sambil cengengesan di kursinya. Kemudian laki-laki itu bersiul menggoda pada seorang gadis manis yang sudah duduk di kursi Raka dengan seulas senyum cantik.


Raka mendengkus. Berbalik badan, laki-laki itu mengernyit mendapati Teresa ada di kursinya. Pandangannya jatuh pada kotak obat di atas mejanya. Cowok itu kembali menatap manik biru cerah di hadapannya.


"Lo ... yang bawain?" tanya Raka mengangkat kedua alisnya.


Teresa fokus pada luka di sekitar bibir Raka, kemudian melirik dengan ujung mata kotak p3k. Gadis itu mengangguk pelan. "Iya, aku yang bawain. Aku denger tadi kamu habis berantem sama Nova. Udah kesebar beritanya."


Raka tersenyum tipis. "Makasih," katanya tulus sambil mengusap lembut puncak kepala Teresa.


"Cewek tadi siapa Res?" tanya Iqbal, penasaran.


Teresa megedikkan bahunya. "Gak tau. Cuma nanya kelasnya Jasmine di mana."


Teresa tidak bodoh. Gadis itu tahu benar siapa perempuan tadi.


Kenapa dia tahu? Simpel, jam hitam yang punya motif sendiri, selalu dikenakan Rin setiap harinya, seperti menjadi identitas kedua bagi gadis itu. Ketahuilah, gadis bernama lengkap Teresa Agnes ini jagonya stalk orang! Satu hal lagi, dia tidak ingin Raka dimiliki siapa pun, kecuali gadis itu sendiri.


"Ooooo, Jasmine anak IPA 5?" tanya Iqbal memastikan. "Iyaaaa, Bal."


Teresa kemudian berdiri dari duduknya, mempersilakan Raka untuk duduk. "Mau aku obatin, atau obatin sendiri?"


"Obatin," jawab Raka cepat dengan senyum miring memesona.


Teresa tertawa pelan dengan anggun. "Oke, agak sakit gapapa, ya? Tapi aku usahain pelan-pelan. Ini bibir kamu robek soalnya, dikit, sih," ringis gadis itu, ikut merasakan ngilu.


Raka diam tidak menjawab. Hanya memerhatikan wajah serius Teresa yang mulai mengobati lukanya.

__ADS_1


Res, if you're not Ronald cousin, you'ld be own mine. Sayang banget cewek sebaik lo, gak bisa sepenuhnya gue milikin.


__ADS_2