
Bisa gak, sih, kalau tau gue salting, lo gak usah pura-pura stupid sampe nanya-nanya kenapa muka gue merah! —Rin.
...***...
"Hello you," sapa Audey pada Rin yang baru saja meletakkan tasnya di atas meja.
Rin tersenyum tipis. "You too."
"Anyway, lo siang banget ini berangkatnya. Bel tinggal lima menit lagi padahal. Ngapain, sih?"
"Siap-siap," balas Rin sambil mengerjap polos. Sontak Ruth yang sejak tadi memerhatikan keduanya menyemburkan tawa. "Dikira konser dulu kali, ya, sebelum ke sekolah. Audey, Audey, stupid, kok dipelihara."
"Lo nape, sih Ruth? Main nimbrung aja!"
Megan menolehkan kepalanya ke belakang. Gadis itu menyengir lucu. Audey memutar matanya malas, sudah menduga Megan akan berkata apa.
"Ya, udah sana. Lo, mah, jarang banget sama kita."
"Bukan gituuu, ih, Odeyy." Megan merengut dengan bibir bawah yang sengaja dimajukan.
"Semalam terus apa?" tanya Ruth memasang tampang julid.
"This! Mana lo formal banget lagi, gilak!" pekik Audey tertahan.
"Ga gitu, weh. Jadi kemaren abis ada acara sama papi gue, bisa dibilang acaranya cukup penting makanya formal gitu. Ga sempet pulang ke rumah buat ganti baju, terus biar ga bolak-balik, papi ikut masuk. Fyi aja, ya, gue ga di bolehin temenan sama laki-laki, so, gue cari aman."
"Geez, poor you." Audey menatap Megan iba. Namun, gadis ARMY itu malah tertawa anggun. "Ga, sih, biasa aja. Jaga hati Jimina juga, hehe."
Audey memutar matanya. "Ya, udah sana. Btw, mau ngapain dah? Bentar lagi kan bel?"
"Main piano bentar, diajakin Una, dah, ya, dadah!" Megan berdiri dari duduknya, kemudian menggandeng lengan seorang gadis yang cukup lama menunggu di depan pintu memainkan ponsel.
"Jam pertama apaan, sih? Kok dia santai banget dah?" tanya Audey kebingungan.
"Pikun nih bocah," ucap Ruth geleng-geleng.
"Anjir, sembarang sebut lo!" pekik Audey tidak terima. "Gini, ya, seinget gue jam pertama itu mtk, tapi jadi ragu. Gara-gara, satu, Rin dateng siang. Dua, Megan yang santai banget mau main Piano padahal hitungan detik bel bunyi. Tiga, anak-anak lain, kok, masih pada santai di luar, sih? Biasanya udah pada masuk jam segini." Gadis itu menyerocos panjang lebar, mengungkapkan kebingungannya.
"Lo pidato apa gimana?" Ruth mengernyitkan dahi. "Kurang panjang, sial!"
Rin mengangguk setuju. "Tungguin aja belnya bunyi. Gak bakal bunyi sampe jam 12 nanti."
"Kok gitu?"
Cellin berdiri kemudian mendudukkan dirinya di kursi Megan. Gadis itu tersenyum kikuk pada Audey. "Em, kan kemaren udah ada pengumuman kalo hari ini kita free belajar. Absen aja. Soalnya pasti pada capek habis acara puncak birthday sekolah tadi malam. Apalagi panitianya."
Audey menganggukkan kepalanya beberapa kali sambil ber-oh ria. Lalu, tiba-tiba gadis itu tertawa sendiri membuat tiga temannya menatapnya bingung. "Kenapa lo? Geser otaknya?" tanya Ruth mengejek.
"Gini ya sialan, gue semalam udah ngerjain latihan soal, takut disuruh maju ngerjain. Gue pelajarin baik-baik sampe jam tiga pagi! Inget kan, kata bu Selina sebelum free tiga minggu belajar? Mau ada kuis." Audey menghela napas sambil memaksakan senyum. "Ah, kampret."
Rin menahan tawanya. "Poor you."
"Anjir," ucap Ruth tertawa lepas. "Makanya, grup tuh dibuka. Jangan chat-nya si Galang aja yang lo ladenin."
Baru saja Audey ingin menyahut, suara tak asing lebih dulu menginterupsi dari pintu. "Apa nih bawa-bawa nama gue?"
Melihat Galang berjalan menghampirinya, Audey seketika cemberut. "GALANGG!!! HUHUU, SEMALAM GUE CAPEK-CAPEK BELAJAR TERNYATA SIA-SIA!!"
Ruth memasang ekspresi geli sendiri sambil memutar matanya malas. Sementara Rin menggerakkan kursinya agak menjauh dengan pelan-pelan begitu Galang meletakkan satu kursi entah punya siapa di sebelah kursi Audey. Cellin sendiri hanya memerhatikan saja.
__ADS_1
Galang mengambil satu tangan Audey, kemudian menggenggamnya erat. Laki-laki itu tersenyum lembut, yang sialnya begitu memesona membuat Audey serasa ingin jungkir balik jika saja dia tidak memikirkan gengsi.
"Kenapa emang? Coba kasih tau aku."
"Semalam aku gak buka grup, gatau info kalo bakal free belajar hari ini. Soalnya keinget omongan bu Selina kalo mau ada kuis, jadi pulang party aku langsung belajar sampe jam tiga pagi, huwee," adu Audey mengerucutkan bibirnya kesal.
"Najong!" gumam Ruth bergidik ngeri.
Rin hanya tersenyum tipis. Please, ini kenapa si Audey sok manja begitu dah? Rin menggeleng pelan, gadis itu kemudian memerhatikan ke depan, di mana Raka dan lima temannya yang lain perlahan memasuki kelas.
"Megan mana? Kok gak keliatan?" tanya Arga celingukan. Cellin menatap laki-laki itu cukup lama, kemudian tersenyum tipis. "Di ruang piano, Kak. Sama temen ARMY-nya."
"Yah, padahal gue mau ngajak Megan ke rooftops mumpung gak belajar. Pagi-pagi gini suasananya sejuk." Mendengar ucapan temannya itu, Iqbal sontak saja menyemburkan tawa. "Kalo dia di sini juga, belum tentu mau!"
"Buset mulut lo jujur amat," celetuk Arka tertawa brutal.
"Kampret lo berdua."
"Guys, gue sama Galang mau ke kantin, ya." Audey kemudian melangkah keluar bersama Galang sambil bergandengan tangan.
"Si Galang dah nembak Audey belum, sih? Deket doang, baperin doang, dikasih kepastian kagak. Dasar playboy kampung," ujar Regan bertanya sekalian mengatai temannya itu.
"Tau, temen lo tuh," balas Arga santai, kemudian duduk di atas meja milik Cellin.
"Temen lo juga anjir," celetuk Iqbal mendelik pada Arga. "Gak usah melotot gitu Bal, keluar ntar tuh biji mata."
"Sial!"
"Btw, ini kita ke sini nemenin Galang doang, kan? Yok, balik," ucap Regan sengaja memancing Raka. Dan, yup, ketua Deverald itu meliriknya tajam.
"Jangan gitu, Ka, diamuk Raka ntar lo!" ledek Arka tertawa.
Mendengar itu, Rin reflek melirik ke arah Raka. Laki-laki bernetra hijau itu tampak asik memainkan ponselnya, setelah sebelumnya memberi peringatan pada Regan lewat tatapan mata.
"Bukan urusan lo." Ruth berdiri dari duduknya, gadis itu melangkah keluar membuat Rin dan Cellin menatap gadis itu bingung.
"Ruth, mau kemana?" tanya Rin cukup keras karena temannya itu sudah berada diambang pintu kelas. Menoleh, gadis berwajah jutek alami itu mengedikkan bahunya. "Keluar. Males di dalem."
"Kasian amat lo Bal, baru juga mau deketin, udah duluan pergi aja si Iyuth-nya. Gak usah dipaksa, lah, Bal, lo jadi sadboy tingkat akut nih, gak tega gue!" kata Arga menepuk bahu Iqbal beberapa kali yang segera laki-laki itu tepis.
"Sialan lo Ar. Lo juga sadboy, ya! Belum juga lo datang, dia udah pergi. Lo lebih parah dari gue intinya. Iyuth gue kan emang gak suka dideketin cowok. Lah Megan? Saingan lo aset negara orang njir!" kata Iqbal napsu.
Arga menoyor kepala Iqbal dengan kuat. Niat hati ingin mengerjai Iqbal, eh, laki-laki itu malah menamparnya balik sampai ke relung hati.
Sialan, ah, si Iqbal.
Arga dan Iqbal kini saling tampol-menampol membuat Regan dan Arka tertawa brutal sementara Raka dan Alden sibuk sendiri dengan ponsel. Melihat kebisingan luar biasa ini, Rin segera melirik ke arah Cellin, yang ternyata gadis itu juga menatap padanya.
Seakan saling paham akan tatapan satu sama lain, kedua gadis itu berdiri dari duduk mereka secara bersamaan. Sontak saja Raka dan Alden mengangkat pandangan, tertuju fokus pada kedua gadis cantik itu.
"Mau kemana?" tanya Raka menyimpan ponselnya di saku celana. Rin diam sesaat, otaknya berpikir cepat, setelah otaknya menemukan tempat tujuan jelas, gadis itu segera menyahut, "Ke minimarket depan."
"Terus gue gimana?"
Rin mengerjap polos. "Pardon?"
"Gue kesini mau ketemu lo, kalo lo-nya malah pergi, gue gimana?"
Eh?
__ADS_1
Rin mati-matian menahan senyumnya. Duh, sialan sekali memang Raka ini. Maksud dia apa coba berkata seperti itu? Aneh memang. Kadang bikin salting, kadang ngeselin. Sial.
Iqbal batuk dengan sengaja berkali-kali. Raka meliriknya sengit. "Ketelen kuda lo?"
"Engga, Rak, hehe. Tenggorokan gue salting dengernya."
"Anjir si Iqbal!" pekik Regan seraya menoyor kepala Arka dengan kuat. Arka yang tidak terima, balas menoyor kepala Arga tak kalah kuat. "Napa ke gue, ****! Lo kira gak sakit, hah?!"
"LO JUGA BALASNYA KENAPA KE GUE?!!" Arga melampiaskan kekesalan itu dengan menoyor kepala Iqbal.
"UJUNG-UJUNGNYA BALIK KE GUE!!" teriaknya tertawa kesal. "NTAR GUE KE SIAPA?!"
"Noh, Raka atau gak Alden," balas Arga tersenyum polos.
Iqbal tersenyum tipis. "Eh, bngst nie?"
"NADA SUARA LO NJIR!!" teriak Arka kegelian.
Alden mendengkus. "Mulutnya dijaga."
"Mampus bapak es udah angkat suara. Jangan sampe bapak ketua juga ikuy turun tangan, ya. Melayang kepala lo ntar Bal!" ucap Regan melotot.
"Anjir, napa jadi gue?!" sungutnya tidak terima. Sementara Arga, Regan, dan Arka tertawa melihat Iqbal manyun-manyun tidak jelas.
"Dikira lucu kali, ya, jibang!" umpat Arka dengan tawa setan.
Rin menghela napas. Gadis itu segera menggandeng lengan Cellin dan melangkah keluar. Sebelum beranjak cukup jauh, Raka menarik pergelangan tangan Rin hingga tubuh gadis itu berbalik menghantup dadanya cukup kuat. Rin terdiam sesaat, denyut jantungnya seakan tidak bergerak, begitu mendengar degup jantung Raka yang berdetak cepat tidak terkendali.
"Nyaman banget kayaknya."
Rin mengerjap, gadis itu buru-buru mundur beberapa langkah. Mengangkat wajahnya, yang kini mendapati Raka ber-smirk keegeran.
Raka sialan.
"Sorry, abis lo gue belum selesai ngomong udah mau main pergi aja."
Rin mengeratkan gandengannya pada Cellin. "Emang mau ngomong apaan lagi?" tanyanya berusaha biasa saja.
Raka menyipitkan matanya, laki-laki itu menunduk menyamakan wajahnya dengan Rin, kemudian meletakkan punggung tangannya di kening gadis itu cukup lama. Kelima temannya menatap laki-laki itu dengan membelalak kaget. Terkejut karena selama ini, Raka benar-benar menjaga jarak aman antara dirinya dengan perempuan mana pun, bahkan jika dia bersama Teresa. Paling dekat ketika Raka memeluk Teresa di depan Rin, selebihnya laki-laki itu hanya menggenggam tangan saja.
Catat, Raka baru pertama kali memeluk Teresa, ketika di depan Rin. Please, Raka itu anti cewek kecuali sama mama dan mbaknya. Semua teman-temannya yang merupakan inti Deverald tahu itu.
"Ke—kenapa?"
DAMN IT! KENAPA SUARA GUE PAKE TERCEKAT SEGALA, SIH?!! DIKIRA SALTING LAGI NTAR NGOMONG PUTUS-PUTUS GITU!! AH, KAMPRET. KAMPRET. KAMPRET.
Rin kembali melangkah mundur. Alisnya mengerut tajam begitu mendapati Raka terlihat menahan senyum. "Kenapa?"
"Gue yang harusnya nanya gitu. Lo kenapa? Baik-baik aja?"
Rin mengerutkan kening. "Emang kenapa?"
"Muka lo merah banget."
Sialan. Raka sialan. Sengaja banget, damn.
"Sekarang tambah merah, tuh."
"Hah? Enggak ah! Gue gapapa," sanggah Rin cepat. Gadis itu berbalik badan dan segera melangkah keluar dengan Cellin mengikuti di belakang.
__ADS_1
Sebelum gadis itu benar-benar keluar, Raka kembali berucap yang membuat Rin rasanya ingin jungkir balik mendengarnya.
"Tapi gapapa, sih. Lucu, kok, Rin. Gue suka."