JENNIE

JENNIE
60 - Great Feeling


__ADS_3

For some reason, I doubt my own feelings. Atau bisa kusebut, aku berbalik arah berganti tujuan, yang dalam arti sempitnya bermakna, I want to have you. —RAKARIN.


...***...


"Dey, sorry, ya duduknya pisah," ucap Galang begitu ia dan Audey memasuki pintu utama aula lebih dulu dari yang lain.


"Emang kamu duduk mana?"


"Udah di siapin sama si George noh, agak tengah. Sialan emang, padahal minta pojok belakang dikit, minta gue timpuk gajah kali ya kepalanya." Galang tiba-tiba mengomel sendiri.


"Em, okay."


"Dey, duduk mana?" tanya Rin tahu-tahu sudah ada di sampingnya. "Gatau. Btw, lo bikin gue kaget dikit tadi, tau-tau nongolin kepala gitu di samping muka gue!"


Rin menyengir. "Sorry, sorry, gak sengaja, serius."


"Oh, iya, si Ruth mana nih ama Cellin? Mereka, kan, duluan datang."


Rin menoleh ke belakang sejenak, kemudian kembali melirik Audey. "Mereka jalannya pelan."


Rin memerhatikan seisi ruangan dengan seksama, netranya dengaj tidak sengaja menangkap keberadaan sosok seorang gadis yang tampil formal memakai vintage Chanel suit berwarna pink, serta rambut panjangnya diikat ke bawah dengan rapi.


Rin diam sesaat memerhatikan gadis itu, Megan. Selain cantik dan anggun menawan, Megan juga pintar, juara kelas, punya banyak bakat terlatih. Selain jago bermain piano, Megan bahkan mengusai permainan violin. Benar-benar multitalent. Terkadang Rin merasa iri pada Megan.


For your information, Rin itu gampang banget insecure. Kepercayaan-dirinya begitu rendah. Gadis itu bahkan pernah nyaris membenci dirinya sendiri.


Perlahan tapi pasti, sifatnya itu berganti, menemukan teman-teman yang saling support meski tidak ditunjukkan dengan kata, tapi dengan saling menghargai. Misal dengan hal kecil, mendengarkan bercerita tanpa menyela.


Rin tersenyum tipis, memori lama yang satu ini, tidak akan ia buang jauh-jauh seperti kebanyakan memori lamanya yang lain. Gadis itu merengut samar, tiba-tiba kangen tiga temannya di Holder high school, yang mana keempatnya sudah bersahabat sejak kelas dua SMP.


"Rin."


Gadis itu mengerjap, kemudian menoleh pada Audey yang menyenggol lengannya pelan. "Yes?"


"Tuh, si Prima."


Rin melihat ke arah lirikan Audey, dan mendapati Prima berjalan mendekatinya dengan semangat. "Kak! Belum dapet tempat duduk? Barengan sama gue aja mau?"


"Emang cukup? Gue berempat, loh."


"Cukup, satu meja kan tujuh orang. Gue bertiga sama temen gue, lo berempat sama temen lo." Prima menampilkan gummy smile-nya yang khas.


"Kebetulan banget?" tanya Rin melemparkan tatapan skeptis pada laki-laki dengan kemeja putih dengan tuxedo hitam sebagai luaran itu.


"Mana gue tau, Kak. Kita jodoh kali, ya," ucap Prima menyengir bodoh. Rin reflek memutar mata. "Up to you."

__ADS_1


"Hehe. Tapi katanya ini member Deverald yang susun. Jadi, ya, gini." Prima mengedikkan bahunya tak acuh dengan bibir bawah yang dimajukan, dan kedua alis turut terangkat.


"Oh, tunggu Ruth sama Cellin dulu. Takut mereka udah dapet kursi, mereka duluan soalnya."


"Kalo lo sendiri, mau duduk bareng gak, Kak?" tanya Prima pada Audey, gadis itu mengangguk pelan. "Mau aja, sih. Tapi, ya itu yang dibilang Rin tadi."


"Gue sama Cellin belum dapat kursi. Udah dapet, sih, cuma diambil orang tuh." Ruth berucap tiba-tiba sambil melirik ke arah meja pojok.


"Gosh, ngagetin aja lo tau-tau nongol gini!" seru Audey kesal sendiri.


"Sorry."


Ruth kemudian merangkul Rin dan Audey menuju meja Prima. "Loh, kok lo tau meja Prima?" tanya Rin bingung. Cellin yang berjalan beriringan mengikuti di belakang bersama Prima itu menyahut, "Kita udah daritadi di sana. Cuma kalian berdua ga sadar."


"Prima, lo nyadar?" tanya Rin menoleh sekilas. Prima tertawa pelan. "Nyadar, lah, Kak. Gue kan gak salah fokus."


Rin mengernyit. "Gue gak salah fokus juga, kok."


"Really? Lo bukannya terpesona sama gue, Kak?" tanya Prima dengan senyum jahil, yang dibalas Rin dengan memutar mata. "Gue gak salfok."


"Ngaku aja, sih, Kak, kalo kata gue. Gue memesona, kan? Iya, lah. Future husband-nya lo nih, Kak!"


"Hm."


"Diem deh lo Prim." Audey menyela. "Bucin, kok depan gue!" sungut gadis itu tidak terima. Masalahnya, tidak ada yang pernah ngebucinin dia seperti Prima ke Rin.


"Iri aja lo, Kak, hahah!"


Ruth menoleh kemudian mendelik pada laki-laki itu. "Diem!" Cellin tertawa pelan melihat Prima yang manyun-manyun tidak jelas.


Sampai di mejanya, Prima dengan sigap menarik kursi yang akan Rin duduki. Rin tersenyum tipis. "Makasih."


"Sama-sama, Kak." Prima ikut tersenyum. Laki-laki itu kemudian mendudukkan dirinya tepat di sebelah Rin.


At the same time, Raka, Galang, Iqbal dan Alden menatap meja itu dengan tajam, lebih tepatnya ke arah Prima. Karena Rin yang berhasil dibuat nyaman, Audey dan Ruth yang rela menoleh ketika jalan hanya untuk menatap Prima, serta Cellin yang tertawa lepas di samping laki-laki itu.


"Padahal nih ruangan ac-nya lima, bisa-bisanya gue kegerahan," ucap Iqbal kesal sendiri. Galang mengangguk setuju. "Padahal gak ada api juga, tapi kok gue kebakaran, ya?"


"Padahal deket karna misi, kok gue kesel anjir?"


Sedetik kemudian, Raka terdiam. Sialan, dia kelepasan. Laki-laki itu melirik enam temannya yang mendelik kaget menatap ke arahnya.


"Rak, jangan bilang lo putar arah?!"


...*****...

__ADS_1


Rin memerhatikan panggung dengan tatapan sulit diartikan. Menatap Megan yang menjadi siswa terbaik, meraih peringkat pertama dalam tiga angkatan sekaligus.


Dulu, Rin selalu jadi nomor satu. Bukan ingin bersikap egois, tapi gadis itu hanya merasa kaget karena dua kali dikalahkan. Piano, dan ini. Bagaimana, ya, untuk yang selalu jadi nomor satu dalam segala hal, lalu tiba-tiba tersingkir, rasanya seperti dilempar ke dalam lubang kegelapan.


Belajarku kurang, ya?


Aku terlalu banyak main, ya?


Terlalu kepikiran dia, ya?


Fokus utamaku bukan cita-cita lagi, ya?


Aku ... gagal, ya?


Pertanyaan-pertanyaan yang bersifat menyudutkan seperti itu terus berputar-putar tiada henti dalam pikiran Rin. Gadis itu mengatur napasnya diam-diam. Piano contest saja sudah sangat membuat Rin terpukul, apalagi ini akademi.


Rin menunduk. Ketika yang lain bertepuk tangan takjub yang ditujukan untuk Megan, Rin justru memilih menyembunyikan wajahnya yang kini tidak terkontrol ekspresinya. Kesal, bingung, sedih, kaget, semua jadi satu.


Tidak, bukan Megan yang membuat Rin kesal. Namun, dirinya sendiri.


Ting!


Ting!


Ting!


Atensi Rin teralih pada notifikasi ponsel yany berada dalam tasnya. Gadis itu dengan malas membuka pesan yang ternyata dari Raka itu.


cukup jadi yang terbaik dari versi diri lo. ga perlu best of the best dalam apapun. lo peringkat dua aja udah bagus banget. gimana pun, lo tetep pemenang dari peringkat tiganya, rin.


lo hidup buat jadi nyata, bukan sempurna. kalah sekali, bukan berarti gagal.


so, ga usah murung gitu. lo juga ga usah bingung kenapa gue bisa tau perasaan lo. kan udah gue bilang, fokus utama gue itu, lo.


Rin tersenyum tipis. Sedikit merasa lebih baik. Gadis itu kemudian menoleh pada meja Raka, laki-laki itu fokus menatap ke depan. Rin mengikuti arah pandang Raka, kembali memerhatikan Megan yang diberi penghargaan.


"Megan, congrats," ucap Rin tanpa suara, yang dapat ditangkap Megan dengan jelas. Gadis itu tersenyum cantik sebagai balasan. "Makasih, Rin."


Rin ikut tersenyum. Gadis itu kembali membaca pesan dari Raka.


Aku hidup buat jadi nyata, bukan sempurna, ya?


Rin menghela napas sambil memejamkan matanya sejenak. Sepertinya, tujuan gadis itu sedikit berganti arah dari yang seharusnya.


Sial, Rak, kenapa susah banget buat gak tertarik sama lo?!

__ADS_1


__ADS_2