
Gue emang benci banget sama pengkhianat, tapi kalo itu lo, kenapa gue jadi berharap kalo itu bukan bener-bener lo? —Raka.
...***...
"There you go."
Raka melemparkan sebuah jam tangan bracelet hitam dengan ukiran yang asing bagi keenam laki-laki berwajah tampan di ruangan itu. Galang mengambilnya pertama, kemudian membandingkan jam tangan tersebut dengan jam tangan yang baru saja ia keluarkan dari saku celana.
Galang terdiam cukup lama sambil menahan napasnya beberapa saat. Kemudian menatap enam temannya yang memerhatikan dengan serius, especially Raka.
"Gue gatau, tapi sepenglihatan gue, ini sama persis."
"Coba gue liat," pinta Arka membuat Galang melemparkan jam tangan yang tadi diberi Raka ke arah laki-laki itu. "Permintaan sendiri gak, sih? Dipesan khusus buat couple gitu."
Arga mendekat pada Arka, kemudian ikut memerhatikan jam tangan tersebut. "I agree. Dari brand apa aja, setau gue gak ada mereka ngeluarin strap bracelet model gini."
"Jelas, sih. Huruf A kepampang jelas gitu di dalam kacanya. A merk apaan coba? Ini mah, fix sama kayak yang lo temuin di malam kejadian, Lang." Iqbal menambahkan, yang ternyata laki-laki itu juga menghimpit Arka dari sisi satunya.
Alden berpikir sejenak, kemudian laki-laki itu menatap teman-temannya serius. "Al. I know right?"
"Iya." Raka menyahut dingin. Ia melirik sejenak ke arah jendela kamarnya, di mana di taman samping rumahnya ada Rin bersama Riana dan Raya, tengah menyirami tanaman kesayangan mamanya itu.
"Rin, ya?" tanya Arga lesu.
"Belum pasti," ucap Raka cepat, menoleh pada laki-laki itu dengan sorot tajam. "Jelas-jelas tulisannya A, lain R. Double A, bukan A and R. Jangan asal nyimpulin."
Alden melirik Raka sengit. "Kita belum tau, dia kawan atau lawan. Lo udah ngebelain dia duluan?"
"Nah, lagian si Arga cuma nanya, gak ada tuh dari dua kata yang di ucapin si Arga, dia nyudutin Rin. Sensi amat, Rak," ucap Arka yang entah kenapa kesal sendiri.
"Udah, udah, daripada bahas ini—" Regan mengalihkan pembicaraan, lantas melirik ke arah Arga dan Iqbal bergantian. "—mending lo berdua cari tau, A ini siapa selain Al."
"Okay, gue coba hack nomornya si Rio. Siapa tau ada jawaban." Arga yang berniat melangkah keluar itu, tertahan, berbalik badan kemudian menyengir lucu. "Lupa gue. Ini kan rumah Raka. Laptop pinjem, ye, Rak?"
"Iya. Tempatnya kayak biasa."
"Thank's, Rak!" Arga lantas segera mengambil Apple MacBook dari laci belajar Raka. Sebelum memulai tugasnya, laki-laki itu menoleh kepada sang ketua sekaligus teman dekatnya dari junior highschool kelas tujuh itu. Arga tersenyum tipis, tapi tulus. "Gue juga gak berharap dia pelakunya, sih. Lo keliatan banget sayangnya ke Rin."
Arga dan Iqbal kemudian segera bekerja sama melacak empat nomor anggota inti Alvaska. Hanya satu yang tidak bisa mereka lacak, Al. Nomor laki-laki itu bahkan sudah tidak aktif dari sepuluh bulan yang lalu. Jadi, kedua laki-laki berwajah tampan itu memanfaatkan sebaik mungkin informasi dari empat inti Alvaska ini.
Sambil menunggu mereka, Raka memilih memerhatikan Rin yang sesekali tertawa lepas begitu Raya membuat gurauan. Ketiganya kini bermain air, saling siram, dan untuk pertama kalinya, Raka melihat wajah Rin secerah ini. Tidak suram seperti biasa.
Tanpa sadar, lengkung tipis terbit di bibir ranumnya. Raka menatap lekat gadis berambut hitam legam sepunggung itu. Dan untuk pertama kalinya juga, Raka di benaknya mengakui seorang perempuan cantik, selain mama dan mbaknya.
Gue harap lo gak ada hubungannya sama semua ini, Rin.
Raka memejamkan matanya sejenak, kemudian menghela napas panjang sambil membuka matanya kembali, menatap Rin lagi.
Gue benci pengkhianat, tapi kalo itu lo ... gue takut jadi boomerang, Rin.
"Btw, udah empat bulan berlalu, dan kita akhirnya bisa dapetin jamnya si Rin. Lo minta langsung apa gimana, Rak?" tanya Regan membuat Raka dengan terpaksa mengalihkan pandangan.
"Tadi pas belajar bareng—" Raka memutar matanya. "—sesuai ide si Alden. Selesai ngerjain satu soal itu, mama ngajak Rin buat makan siang bareng. Jadi dia agak buru-buru beresin barang-barangnya."
Raka menghela napas panjang. "Terus jam tangannya mungkin lupa dia taruh di tas lagi, ketinggalan di atas meja soalnya."
"Jadi ke depannya gimana, Rak?" tanya Alden membuat Raka menggeleng pelan. "Gatau."
"Lo capek-capek narik perhatian dia, eh malah dapetin jamnya semudah itu, BWAHAHAH!!" Galang tertawa ngakak sambil memukuli Arka dengan brutal.
"Anjir, napa lo mukul gue?!" protes Arka seraya menyentak tangan Galang yang terus saja memukulinya.
"Mana si Rin-nya sedikit pun gak tertarik sama lo, yang ada lo yang tertarik sama Rin," lanjut Galang mengelap ujung matanya. Saking ngakaknya, sampai mengeluarkan air mata si playboy gadungan satu ini.
"Jerk," maki Raka pelan sambil mendengkus malas.
"Kalo dia gak ada hubungannya sama ini semua, sesuai perkataan lo diawal waktu itu, Rak." Alden ber-smirk. "Buang."
Raka mendengkus. Baru saja ingin berucap, Arka lebih dulu mengeluarkan suara. "Dan kalo dia ada hubungannya sama ini semua, lo bakal musnahin."
"Laki-laki dipegang omongannya, Rak, kalo lo lupa." Regan menambahkan, sekaligus memanas-manasi Raka.
"Dan sebagai leader of Deverald, tanggung jawab atas kemarian Barney ada di tangan lo. Lo udah janji bakal nyari sampe dapat si pelaku ke ibunya Barney. Nyawa dibayar nyawa." Galang menepuk bahu Raka beberapa kali. "Gue harap, lo nepatin janji."
Raka mengerutkan keningnya tajam. Ia tidak menyahut apa-apa. Manik hijaunya kembali melirim ke arah jendela. Laki-laki itu terus saja memerhatikan Rin yang kini duduk santai di rerumputan bersama Raya, sementara Riana berdiri memandangi sekeliling.
Sial.
"Kita dapat, Rak."
Raka segera menoleh pada Arga yang kini menatapnya dengan tatapan sulit diartikan. Semua teman-temannya berkumpul di depan MacBook. Raka melirik ke arah jendela sekali lagi, dan mendapati Riana yang duduk di kursi seorang diri. Laki-laki itu tidak mendapati perawakan Rin di mana-mana dari atas sini.
"Rak?" panggil Galang. "Oke."
Yeah, Raya juga tidak ada di taman. Rin pasti sedang bersama mbaknya, kan?
"Apa yang lo dapat?" tanya Raka to the point. Iqbal segera menjawab, "Chat. I mean, group chat Alvaska core."
Arga mengangguk. "Dari nomor hpnya Gaara. Kayaknya nomor lama, sih. Soalnya tiga yang lain pada ganti nomor di tanggal yang sama barengan. Terus malam kejadian jam satu sampai sekarang, nomor Gaara yang ini gak aktif lagi."
"Gue tadi lacak titik koordinasi ponselnya, ada di rumah si Gaara," ucap Iqbal menunjukkan sebuah rumah dari hasil lacakannya.
"Gue gatau itu sengaja atau gimana, tapi kita boleh curiga, sih. Satu lagi, gue ambil chat mereka di hari kejadian."
Raka mengerutkan kening mendengar ucapan Arga barusan, laki-laki itu segera saja memerhatikan layar MacBook-nya yang kini sudah menampilkan sebuah room chat dengan seksama. Ekspresi wajahnya tidak terbaca.
...mau namain grupnya cogan, tapi ada cewek di sini...
rio sadboy
woi
ntar malam war sama deverald ya?
boleh absen ga si, gue capek anjir
oreo reo
enak bener lo jadi inti tapi gamau ikut war
keluarin aja udah dia dari nih grup @paketu gue nih
rio sadboy
ga gitu ya anjng
just kidding
lo malah tag si paketu, stupid
oreo reo
hilih, bullshit🖕🏻
rio sadboy
tangannya sangat ramah ya kak🤓
bryan anderson calon penerus bisnis papa
heh kembar beda ibu bapak
bikin rusuh aje lo sore sore gini
oreo reo
wiii calon penerus bisnis om chrysander nih
__ADS_1
udah nemuin si client belum yan?
rio sadboy
lah malah oot njir
bryan anderson calon penerus bisnis papa
udah tadi siang
capek banget
nawarnya banyak banget anjir
untung gue yang menang debat
paketu gue nih
berisik.
^^^BWAHAHAH^^^
^^^MARAHIN AJA NOH BOCAH BERTIGA^^^
rio sadboy
abis ini, buketu pasti bakal muncul
ayangnya kan udah muncul🥺🖕🏻
oreo reo
WKWKWK TANGANNYA RAMAH YE🖕🏻
buketu galak
apaan sih
fokus bahas ntar malem, deh!
lo berempat sebagai inti harus datang.
especially lo @rio sadboy
rio sadboy
siap, buketu!🙋🏻♂️
tadi becanda hehe
paketu gue nih
duh, cewek gue tegas banget :(
^^^ANJ^^^
rio sadboy
PENERBANGAN KE GALAXY SEBELAH LIMA MENIT LAGI, SIAP SIAP YE
paketu gue nih
udah diem lo pada
jangan lupa kumpul jam tujuh di markas
^^^siap, pak!^^^
rio sadboy
2
oreo reo
buketu galak
4
...*...
"Ini apaan anjir?" tanya Galang mewakili yang lain.
Iqbal memutar matanya malas. "Chat mereka pas masih sore-sore."
"Skip aja woi, kek orang gabut aja bacain chat mereka yang beginian," ucap Regan tertawa pelan.
Iqbal menggaruk kepalanya yang tidak gatal, melirik Arga sekilas, yang diangguki pelan oleh pemilik netra biru itu. "Ya, udah."
...mau namain grupnya cogan, tapi ada cewek di sini...
oreo reo
udah mendingan le?
rio sadboy
ga usah terlalu di pikirin
bukan salah lo
bryan anderson calon penerus bisnis papa
we believe you
lo ga mungkin bertindak sejauh itu
^^^tidur nyeyak, ale^^^
buketu galak
makasih kalian <3
paketu gue nih
love you
buketu galak
kok tiba tiba?
anyway, love you too :(
...*...
"Sampai situ aja?" tanya Arka menuntut penjelasan.
"Iya. Makanya gue nunjukin dari chat sore mereka." Arga menghela napas, melirik ke arah Raka dan Alden bergantian kemudian tersenyum penuh makna. "Lo berdua pasti paham, kan?"
"Sorenya mereka sama sekali gak ada bahas soal Barney. Malamnya jam 12, mereka nyemangatin si Ale." Raka menyimpulkan membuat Alden turut mengangguk. "Jadi intinya, mereka gatau apa-apa soal kematian Barney?" tanya Alden mengerutkan keningnya samar.
"Itu yang gue pikirin." Arga meregangkan tubuhnya sejenak.
"Tapi yang bikin gue penasaran, bagian info di nomor Al sama cewek yang namanya Ale ini, sama."
"What do you mean?" tanya Galang pada Iqbal.
Iqbal lantas mengambil alih kendali touchpad, menggerakkan benda panah di layar ke arah dua nomor yang sama-sama tidak memakai poto profil itu.
__ADS_1
paketu gue nih
call me al.
buketu galak
call me ale.
"Ada yang aneh?" tanya Regan bingung sendiri.
"Gini, isi chat sama nama kontaknya aja udah jelas banget nunjukin si Ale ini buketu, yang artinya bukan Rin pelakunya. Dia bebas dari tuduhan kita." Iqbal melirik ke arah Raka yang hanya diam.
"Dan perlu gue ingetin lo semua, sepuluh bulan lalu, gue pernah bilang, kan, SMA Holder pernah gempar waktu pagi setelah kejadian tembakan di dada Barney, Al ngilang gitu aja tanpa kabar." Arga menambahkan.
"Oh, iya. Inget-inget," sahut Regan menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Yang katanya ada cewek yang kena bully habis-habisan, ya, waktu itu?" tanya Arka memastikan.
"This." Arga mengangguk mantap. "Setelah gue iseng nyari waktu seminggu yang lalu gak sengaja lewat depan SMA Holder, siapa cewek itu. Ternyata Ale."
"Kenapa gak bilang?" tanya Raka tajam.
Arga mengedikkan bahunya. "Lo semua fokusnya ke Rin. Gue kasih tau juga, pasti bakal cuek-cuek aja."
"Okay, sorry." Galang mengembuskan napasnya kasar. "Btw, apa yang lo dapat dari si Ale-ale ini?"
"Keinget minuman jaman SD gue," gumam Iqbal sambil menahan tawa. Regan hanya melirik sekilas ke arah Iqbal yang senyum-senyum tidak jelas. Dalam benaknya, ia berulang kali mengatakan kalau temannya yang jago melacak ini otaknya agak miring.
"Al girlfriend, dari kelas sembilan SMP. Siswi pintar, ceria, penuh tawa, disenangi banyak orang, punya banyak teman, kesayangan guru-guru. Dapat gelar si ceria otak encer. Jago nyanyi, main gitar, piano, bisa main clarinet juga. Selalu juara kelas, peringkat pertama satu sekolah pas kelas sepuluh."
Arga menarik napas panjang. "Multitalent."
"Buset, keren banget." Arka menggeleng takjub.
"Tapi, seminggu setelah kematian Barney, pukul sembilan malam, Ale ikut ngilang ditelan bumi. Denger kabar, tuh cewek di-bully habis-habisan sama satu sekolah. Jadi, selama ini dia punya temen, karena dia pacarnya si Al. That's what I think." Arga mengedikkan bahunya.
"Gila, parah banget," ucap Iqbal yang ikut terkejut. Laki-laki itu memang kurang tahu soal gadis bernama Ale ini.
"Hm?" Alden mengangkat satu alisnya, menuntut penjelasan lebih.
"Anehnya, dia yang seterkenal itu, justru datanya gak ada dalam web SMA Holder. Gue udah bolak-balik check, ke daftar anak pindahan, siswa gak aktif, riwayat pelajar di sana, sampe ke blacklist-nya juga gue buka. Tetep gak nemu data si Ale ini."
"Kok bisa gitu?" tanya Arka mengerutkan kening.
"Itu dia masalahnya. Karena malas juga, gue mutusin buat udahan aja main-main di web SMA Holder. Toh, kalian fokus ke Rin."
"Kok jadi banyak teka-tekinya gini, sih, njir?!" Iqbal pusing sendiri.
"Lo gak ada sedikit pun nemu soal si Ale ini?" tanya Galang penuh harap.
"Gak ada. Nomor ponselnya aja, gak ke data di pusat. Petunjuk kita cuma the watch sama nomor Ale ini. Sayangnya, udah mati juga nomornya. Dari kamera depan sama belakang ponselnya juga, gue cuma nemu layar hitam. Si Ale ini nutup kameranya, deh. Maybe dia nonton The Rain movie, makanya daripada dilacak keberadaannya, dia tutupin."
"Genius banget gila kalo emang iya!" seru Arka berdecak kagum.
"Kalo iya, tujuannya apa coba? Dia ngerencanain penembakan ke Ale?" tanya Galang berpikir keras.
"Enggak kayaknya. Gue check waktu itu, kameranya emang ditutup dari awal beli. Sekitar si Ale kelas delapan SMA, sementara dia pacaran sama Al kelas sembilan."
"Aduh, puyeng otak gue dengerinnya," celetuk Iqbal. "Ho'oh sama. Gak paham gue anjir." Keduanya saling pandang sesaat, kemudian tertawa bersama sambil bertos ala laki-laki.
"Despite all that, yang gue bingungin satu. Kenapa jam tangannya ada sama Rin?" tanya Alden yang ternyata laki-laki itu sepemikiran dengan Raka yang sejak tadi mendengarkan dengan seksama.
"Lebih bingungin lagi, Rin ada hubungan apa sama Gaara?" Enam laki-laki berwajah tampan di ruangan itu, segera mengalihkan pandangan mereka pada Galang.
"What does that mean?" tanya Raka mengerutkan alis.
"Sebulan yang lalu, gue sempet liat Rin sama Gaara private dinner di restaurant punya uncle gue." Galang menggaruk alisnya yang tak gatal. "Gak liat langsung, sih. Cuma dari nama penyewanya aja. Soalnya si Gaara nyewa satu gedung."
Raka mengeraskan rahangnya. Entah kenapa jadi emosi sendiri.
"Gue bakal cari tau. Besok infonya gue kasih ke kalian. Sama soal si Ale juga." Raka berucap final.
"Excuse me?"
Ketujuhnya sontak menoleh ke arah pintu. Perlahan, pintu kamar Raka terbuka, dan menampilkan sosok Rin yang berdiri diambang pintu dengan pandangan polos menatap ke dalam.
Arka dengan segera membanting tutup MacBook kepunyaan Raka.
Melihat itu, Rin tersenyum tidak enak. "Sorry, ganggu, ya? Tadi niatnya cuma mau ambil kunci."
"Gak usah marah ye lo Rak, gue yang bilang ke Rin kalo ada temen-temen lo, jadi dia boleh masuk ke dalam."
Raya tiba-tiba muncul dari belakang Rin. Gadis itu bersedekap dada. Raka melirik teman-temanya, menyadari keenamnya terlihat panik, Raka lantas berbisik pada mereka, "Kamar gue kedap suara kalo lo pada lupa."
"Mana kuncinya, Rak?" tagih Raya mengulurkan tangan.
Raka berdecak pelan. "Kok lo yang repot, sih, Mbak?!"
"Udah mana!"
"Ar," ucap Raka melirik Arga sekilas.
"Oh, di meja Rin. Ambil aja sendiri, hehe."
Rin melangkah masuk ke dalam dengan sedikit kikuk. Ini pertama kalinya ia masuk ke kamar laki-laki, walau ramai begini dan juga ada Raya yang menemani, Rin tetap saja kurang nyaman.
Begitu masuk, wangi khas seorang Raka yang begitu memabukkan tapi candu menusuk indra penciuman, membuat Rin mati-matian menahan dirinya agar tidak bertingkah atau salting berlebihan.
Wangi banget, sial.
Baru saja tangannya mencapai kunci mobilnya di atas meja bundar di kamar Raka, Regan tiba-tiba lompat terbang dan jatuh tertelungkup di atas meja. Menyebabkan kunci gadis itu terjatuh ke lantai.
"Lo ngapain?" tanya Rin pada Regan yang kini menyengir tidak jelas.
"Ada foto masa kecil gue, malu kalo di liat cewel secakep lo, Buketu."
Rin menggeleng pelan, gadis itu berniat membungkuk, tapi Arga lebih dulu berlari menghampiri dan mengambilkannya kunci mobilnya. Gadis itu tersenyum tipis. "Makasih."
"Rak, lo gak jealous? Pfft!!" Raya cengengesan, sengaja memancing Raka.
"Diem lo, Mbak!"
"Ya, udah, ayo Rin. Gue anter ke depan." Raya menggandeng lengan Rin, membawa gadis itu keluar dari kamar Raka.
"Mbak, gue aja deh yang anter," cegah Raka sebelum Raya menutup pintu kamarnya.
"Kok lo?"
"Kan gue yang bawa dia kesini!"
"Santai dong. Ngegas banget lo sama gue. Btw, gue juga mau nganter Rin," ucap Raya menatap Raka tajam.
"Gak. Orang gue yang bawa dia. Sama gue aja sini, Rin!" Raka berdiri dari duduknya, mendekati Rin dan Raya.
Woi, Rak, lo lucu banget gila!
Rin menggeleng pelan. Gadis itu menepis jauh-jauh pikirannya yang dengan heboh berteriak membuat kerusuhan dengan mengatakan kalau Raka terlalu lucu. Karena, tidak hanya menganggu fokus, tapi debar jantungnya yang menggila akibat terpompa lebih cepat dari biasanya.
Damn.
"Em, Rak, gue mau sama Mbak Raya aja."
Raka menghentikan langkahnya. Raya tersenyum penuh kemenangan, sebelum jauh dari jangkauan Raka, gadis itu menjulurkan lidahnya.
"Sialan. Gue yang susah-susah bikin hati dia leleh, eh mbak Raya yang dipilih."
Brak.
__ADS_1
Raka mengerjap. Sedikit terkejut karena pintu kamarnya ditutup Galang. Ia menoleh ke belakang, mendapati Regan yang mengangkat tinggi tangannya dengan jam tangan hitam milik Rin berada di genggamannya.
"Masih aman, Paketu!"