JENNIE

JENNIE
57 - Not Both


__ADS_3

Terkadang, hati dan mulut tidak sinkron karena berada dalam dua pilihan rumit. Untuk mengurangi kebingungan, jalan satu-satunya adalah netral. —Rin.


...***...


"Ayo, Rin, masa lo gak mau liat, sih?"


Audey masih berusaha membujuk Rin agar ikut menonton final basket putra. Kelas mereka menjadi juara ketiga, sementara juara satu masih diperebutkan oleh dua tim. Sayangnya, Rin enggan untuk menonton pertandingan tersebut ketika mengetahui kalau tim Raka dan tim Prima-lah yang akan berhadapan.


"Rin, ayo, ih! At least, kalo gamau nonton karena lo bingung mau dukung kak Raka atau Prima—"


"Gue gak dukung dua-duanya." Rin menyahut cepat.


"Yeah, if you say so." Audey menganggukkan kepalanya dengan bibir bawah dimajukan. "Well, kalo lo gamau liat final putranya, liat final putrinya, lah. Kita support Ruth biar dia bisa relax nanti. Gak tegang atau panik."


"Ya, udah, tinggal tunggu di sini sampe final putranya selesai. Baru pas Ruth mau main kita ke bawah. Gitu kan juga bisa, Dey?" Rin mengangkat satu alisnya.


Audey merengut. "Jangan gitu dong, Rin. Gue mau dukung Galang nih, dia kan masuk tim kak Raka. Kalo sendirian gue malu, celingak-celinguk ntar. Gabisa heboh-heboh gitu juga."


"Megan?"


Audey menoleh sejenak pada Megan yang senyum-senyum sendiri bermain ponsel. Megan kini tengah asik menonton Run BTS, sesekali gadis yang rambutnya dicepol asal itu tertawa akibat tingkah random member Bangtan.


"See?" Audey mengangkat kedua alisnya, kemudian mengangguk mantap. "Dia gak bakal mau. I know that."


Rin menghela napas. "Sama Jessica aja, ya?"


"Dia udah duluan, Rin. Stay paling pertama malah."


"Gue mager, Dey, serius."


"Nontonnya agak ke belakang, deh. Biar lo gak keliatan kak Raka atau Prima. Gue berdiri tepat di depan lo juga, biar makin gak ada yang sadar kehadiran lo di lapangan buat nonton."


Rin menggeleng pelan. "Gue mager nonton, Dey. Malas mau keluar. Bukan karena Raka atau Prima yang main makanya gue gak mau nonton."


Audey menghela napas panjang. Gadis itu memutuskan kembali duduk di kursinya, dan memilih bermain hp tanpa sepatah kata keluar. Rin menatap teman sebangkunya itu dengan perasaan tidak enak. Rin mau saja sebenarnya menemani Audey, hanya saja, bagaimana, ya, menjelaskannya. Intinya, Rin udah keburu malas duluan.


"Dey," panggil Rin pelan, ia ingin memastikan kalau Audey tidak ngambek.


"Hm?"


Okay, Audey lagi ngambek.


Rin berpikir selama beberapa menit, hingga akhirnya gadis itu kembali berucap, "Ya, udah, ayo. Gue temenin ke lapangan."


Mendengar itu, Audey spontan menegapkan tubuhnya. Menatap Rin dengan berbinar. Gadis itu lantas memeluk teman esnya itu dengan erat dari samping.


"Tapi gue cuma anterin doang, ya. Sama nemenin lo sampe ketemu Jessica."


Audey terlihat berpikir sejenak, kemudian mengangguk setuju. Gadis itu menoleh pada Megan sebelum merangkul Rin berjalan keluar.


"Meg, gue sama Rin ke lapangan, ya."

__ADS_1


Megan mengalihkan sesaat fokusnya pada Audey. "Iya. Sorry gak ikut."


"No problem, girl. Bye!" Audey segera menggandeng lengan Rin keluar. Gadis itu sempat melambai pada Megan sekilas yang dibalas lambaian juga oleh gadis ARMY itu.


...*****...


"Kak!"


Rin memejamkan matanya sejenak sebelum menoleh pada sang pemilik suara, Prima. Rin sedikit terkejut mendapati Prima baru saja keluar dari kelasnya, gadis itu kira Prima sudah ada di lapangan sejak tadi. Untungnya, Rin pandai dalam bermain ekspresi.


"Iya?"


"Lo mau nonton gue?" tanya Prima berlari kecil sambil menyisir rambutnya ke belakang menggunakan jari. Begitu tepat berhadapan dengan Rin, laki-laki itu yang lebih tinggi dari Rin membungkukkan tubuhnya hingga wajah mereka setara.


Rin mengerjap, gadis itu membuka mulutnya, tapi segera ia tutup rapat lagi. Rin memutuskan untuk mundur beberapa langkah. Menatap Prima dengan salah satu alis terangkat, seolah berkata, 'ada apa?'.


Prima menyengir menunjukkan gummy smile-nya. "Lo ntar dukung gue atau Raka, Kak?"


"Kak Raka." Audey menyahut sambil melirik Prima sinis. "Lo mending siap-siap sana. Rin gak dukung siapa-siapa."


Prima menghiraukan, laki-laki itu tetap menunggu Rin menjawab pertanyaannya barusan. Hening beberapa saat, Rin mempertahankan wajah dinginnya. Sementara Prima bersikukuh dengan diam di tempat.


Pada akhirnya, Rin mengalah. Gadis itu menepuk bahu Prima beberapa kali sambil tersenyum tipis. "Semangat, ya. Lo bawa nama kelas."


"Jadi lo dukung gue, Kak?" tanya Prima antusias.


"Udah, buruan sana siap-siap. Lo masih pake seragam tuh."


"Makasih, Kak." Prima tersenyum tulus.


"Kebanyakan pada yakin kalo tim Raka yang menang. Kelewat ngeraguin gue, bahkan kelas gue sendiri. Ada yang bilang, gue bakal kalah telak. Raka bakal dapat lima puluh skor di lima babak, terus gue dapet nol."


Rin melembutkan ekspresi wajahnya yang semula datar. Ia bisa merasakan sakitnya atas peremahan orang-orang seperti yang Prima rasakan.


"Makanya, buruan siap-siap. Pemanasan dulu. Buktiin kalo lo bisa bantah omongan mereka."


Prima tersenyum, laki-laki itu menunduk sejenak dengan satu tangannya mengusap tengkuk. Kemudian mengangguk beberapa kali, menatap lekat di kedua manik Rin yang sedikit berkilau karena pantulan cahaya matahari.


"Makasih, Kak."


Laki-laki itu kemudian berbalik badan, berlari kecil menemui teman-temannya yang menunggu agak jauh. Rin menatap punggung itu dengan sendu, Prima mengingatkan ia tentang dirinya dulu. Ibaratnya, Prima itu versi laki-laki Rin.


Diam lama dalam lamunan, sebuah tepukan di bahu Rin membuat gadis itu tersentak kemudian menoleh ke samping. Audey menatapnya dengan tatapan yang sulit ia artikan. Namun, Rin yakin, itu semacam tatapan tidak persetujuan.


"Kenapa?" Rin memberanikan diri bertanya.


"Gue pikir lo bener-bener netral. Gak bakal dukung salah satu pihak."


Rin menghela napas. Gadis itu tanpa menyahut, menggandeng lengan Audet, membawanya ke lapangan segera.


"Lo gak mau nemuin kak Raka dulu?" Audey menatapnya penuh harap.

__ADS_1


"Kasih satu alasan jelas, kenapa gue harus nemuin dia?"


"Kalo kak Raka tau lo nyemangatin Prima kayak tadi, sementara lo cuek-cuek aja ke kak Raka ... ya, lo bayangin sendiri gimana kesalnya dia. I can't imagine, sih."


Rin mengangguk singkat. Manik melirik seorang gadis dengan bando toska volkadot yang berdiri di barisan paling depan. Gadis itu kembali menatap Audey. "Lo udah liat Jessica, kan? Gue kelas, ya."


Rin berbalik badan. Gadis itu menghentikan sejenak langkahnya di anak tangga menuju lantai dua. Berpikir sejenak, kemudian memutuskan untuk pergi ke kantin membeli minum.


...*****...


"Nih."


Raka mendongak begitu sebotol air mineral disodorkan ke arahnya. Laki-laki itu tadinya tengah asik bermain ponsel sambil menunggu pertandingan yang kurang lebih lima menit lagi akan dimulai.


Raka dengan headband hitam bermotif batik yang dikenakannya itu menatap gadis di hadapannya dengan menyipitkan mata. Satu alisnya terangkat. "Kenapa?"


"Buat lo."


"Gue gak haus."


Rin, gadis yang rambutnya dicepol asal itu menggeleng pelan. "Lo main, kan?"


Raka diam beberapa saat. Kemudian tersenyum tipis. "Thank's." Laki-laki itu berucap sambil mengambil minum dari Rin.


"RAK, UDAH MAU MULAI, YOK SEMANGAT!! GAK USAH MURUNG MULU GARA-GARA GAK DI SEMANGATIN RIN!!"


Rin mengernyit, gadis itu menoleh ke belakang. Pintu kaca buram itu menampilkan bayangan samar seseorang berdiri di depannya hendak membuka pintu. Sementara Raka memejamkan matanya guna meredam kekesalan, karena perkataan Iqbal yang bikin malu.


Pintu tidak lama terbuka. Iqbal memasang wajah cengo, kaget karena Raka ternyata bersama Rin sekarang. Laki-laki itu kemudian menyengir begitu melirik Raka yang menatapnya tajam.


"Oh, anu, gapapa. Gue duluan, ye, Rak!"


Iqbal kemudian ngacir, berlari secepat kilat menuju lapangan. Takut di marahin paketu, xixi.


Temen kampret emang!


Suasana di ruang peralatan olahraga yang biasa juga digunakan untuk bersantai setelah mata pelajaran tersebut, dilanda hening yang canggung.


Rin berdehem singkat kemudian berucap, "Gue keluar."


Sebelum benar-benar keluar, Raka menahan pergelangan tangan gadis itu, membuat Rin menoleh. Raka menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan.


"Lo dukung siapa?"


Rin mengerjap beberapa kali, kemudian menghela napas panjang. "Nothing."


"Kenapa?"


"Gak ada hubungannya sama gue."


Raka menahan tawanya. Tidak menduga Rin akan menjawab seperti itu. Laki-laki itu kemudian mengangguk beberapa kali. Tangannya terulur tanpa sadar mengacak pelan puncak rambut Rin.

__ADS_1


"Makasih minumnya." Raka kemudian keluar dari ruangan itu, meninggalkan tidak hanya rambut Rin yang berantakan, tetapi hati gadis itu juga.


Raka sialan.


__ADS_2