JENNIE

JENNIE
12 - Chat


__ADS_3

*Hidup itu singkat. Dan ketikan gue juga ngikutin kehidupan. Singkat dan padat, tapi jelas. —R**in*.


...*****...


"Jujur sama gue lo ada hubungan apa sama Raka?!" todong Audey sambil menarik kursi di depan meja Rin, lalu mendudukkan dirinya. Mata gadis itu memicing membuat Rin mengangkat sebelah alisnya.


"Hubungan? Gak ada," balas Rin singkat.


Bel pulang sudah berbunyi sejak tadi. Kedua gadis itu memang masih di kelas, karena Rin menunggu Audey yang katanya akan diantar pulang oleh Galang hari ini. Ketiga teman mereka yang lain? Kalau Megan sama Cellin sudah dijemput, sementara Ruth ada urusan penting.


"Beneran?" tanya Audey membuat Rin berdecak pelan. "Iya."


"Oke-oke gue percaya, tapi masalahnya, Raka ngapain ngajak lo ketemuan??"


Hah? Ngapain woi?!


Rin menegakkan punggungnya. "Dia bilang ke lo?" Audey menggeleng pelan. "Galang nge-chat gue, katanya Raka nyuruh lo ke kelasnya. Tau ngapain," kata gadis itu sambil menunjukkan ponselnya pada Rin.


"Jadi?"


"Ya lo temuin lah ice queen! Gak usah pake nanya lagiiiii," kata Audey greget.


Enggak ah. Btw dia ngapain ngajak gue ketemuan? Jangan-jangan curiga lagi soal kemaren.


"Gue mau langsung pulang." Rin lalu bangkit dari duduknya, menyimpan buku yang tadi ia baca ke dalam tas, lantas berjalan keluar meninggalkan Audey yang gemas dengan tingkahnya.


"Kebangetan ya lo, disuruh temuin ketua Deverald juga! Heran banget gue sama orang-orang model lo gini. Punya masalah hidup apa, sih? Cowok ganteng sekelas Raka ditolak gitu!!'" cerocos Audey sambil berlari menyusul Rin.


"Gak jelas. Gue gak mau."


"Hihhh, tinggal temuin aja apa susahnya? Entar gue yang kena! Dikira gak ngasi tau lo lagi."


"Tinggal bilang gue gak mau."


Audey berdecak malas. "Lo kenapa, sih? Udah si temuin aja sana!" paksa gadis itu.


"Lo yang kenapa. Gue bilang enggak, ya enggak." tegas Rin dengan nada dingin.


"Yahhhhh," kata Audey memberengut. "jangan gitu dong Rin, rezeki ketemu orang ganteng kenapa lo tolak?!"


Rin mengabaikannya. Gadis itu malah mempercepat langkah yang sedikit kesusahan untuk Audey mengejarnya. Ketika ingin berbelok di tangga, Rin menghentikan langkah saat netranya menangkap ada laki-laki berdiri di anak tangga pertama, membelakanginya. Rin bimbang sendiri. Antara ingin kembali ke kelas atau terobos saja ke parkiran.


"Lama. Gue udah nungguin lo daritadi," ucap Raka dengan suara seraknya yang begitu rendah. Laki-laki itu kemudian membalikkan tubuhnya. Berjalan mendekati Rin yang kini memandangnya datar. Berjalan seperti itu saja, seolah ada gerakan slow motion yang membuat laki-laki itu makin memesona.


Raka kini berdiri tepat di hadapan Rin. Cowok itu menyerahkan ponselnya pada Rin. Membuat gadis itu mengangkat sebelah alisnya, seakan berkata, 'buat?' yang dibalas Raka dengan decakan.


"Id Line lo."


Rin mengernyit samar. "Gak," sahut gadis itu singkat.


Tangan Raka masih terulur, tatapannya menajam seakan apa yang dikatakannya adalah sebuah keharusan yang wajib Rin lakukan. Rin menyenderkan badannya pada tiang penyangga tangga. Seakan menantang Raka. Menunjukkan dirinya pada cowok itu, bahwa sedikit pun ia tidak merasa terintimidasi oleh tatapan setajam elang miliknya.


"Ketik."


"Gak," ucap Rin dengan tangan yang terlipat di depan dada serta kaki gadis itu yang menyilang. Kepalanya terangkat menantang.


Raka mengerutkan dahi. Rin kenapa kayak gak ada takut-takutnya, atau terpesona gitu, sih sama dia? Malah kesannya nantang gini. Tidak ingin gentar, Raka terus memerhatikan tepat di kedua manik Rin dengan tajam. Tatapan dalam, yang tersirat satu makna. Sambil terus menyelami manik hitam legam itu.


Rin mendengkus. Gadis itu menegapkan badannya, berdiri biasa. Kedua tangannya perlahan turun, yang ia biarkan menggantung di samping badan. Menatap Raka sedatar mungkin, yang dibalas cowok itu dengan smirk.

__ADS_1


Melirik tangan Raka yang terulur, Rin menghela napas pelan sambil mengambil ponsel berlogo apel setengah gigit itu. Mengetikkan Id Line-nya, setelah selesai ia kembali menyerahkan ponsel itu pada sang pemilik.


Raka tersenyum puas.


Rin melirik Audey yang berdiri di belakangnya. "Audey ada. Gak perlu minta gue. Nyusahin," kata gadis itu ketus.


Raka memainkan lidah sejenak, sengaja mengulur waktu. "Gue bukan pengecut."


Rin terdiam beberapa saat. Menatap lekat manik hijau di hadapannya, yang juga menatapnya tak kalah lekat. Gadis itu menghela napas pelan, kemudian memutuskan kontak lebih dulu. Merasa tidak ada hal penting lagi, ia memutar badannya, melangkah menjauhi Raka, meninggalkan sosok laki-laki bernetra hijau itu yang diam membiarkannya pergi.


Setiap langkah yang Rin ambil, seolah menarik Raka untuk terus memperhatikannya. Gadis itu punya pesonanya sendiri. Misterius, dengan segala pertanyaan yang timbul dalam otak Raka, ketika perlahan mencoba untuk mengetahui sosok gadis itu.


...*****...


Raka merebahkan dirinya di atas sofa. Cowok itu kini berada di basecamp utama Deverald. Raka mengambil ponselnya dari saku celana. Mengetik pesan pada seseorang, yang beberapa hari ini menarik perhatiannya.


.


Iya, Raka cuma ngirim pesan titik (.) gitu doang ke Rin. Sekadar tes aja. Menunggu hingga hampir empat jam, barulah chat tersebut dibaca oleh Rin.


Raka mendengkus karena tak kunjung mendapat balasan. Bisa-bisanya si Rin giniin dia, seorang Arfano Raka Arion, laki-laki yang tidak pernah men-chat atau mendekati perempuan lebih dulu.


Gila kali tuh cewek.


Gemas karena menunggu lama tapi hanya dibaca saja, Raka akhirnya memutuskan untuk mengirim sebuah pesan lagi, yang berupa satu tanda titik. Kira-kira satu jam, Rin membaca pesannya. Menunggu hingga lima menit, Raka dapat menyimpulkan gadis itu hanya membaca pesannya tanpa berniat membalas.


"Ni cewek ngeselin banget anjir," kesal Raka. Tangannya bergerak mengetik pesan lagi untuk Rin.


rin


Kali ini, Rin membacanya lebih cepat, sekitar lima belas menit. Semenit berlalu, dan sepertinya pesan Raka hanya sekadar dibaca lagi.


"Sialan."


Rakarion


.


.


.


^^^?^^^


Raka mendengkus melihat balasan Rin. Dia rela nyepam, tapi cuma dibalas tanda tanya aja??? Mana satu doang lagi. Kebangetan.


Rakarion


keyboard lo rusak?


^^^g^^^


Rakarion


cuma ada huruf g sama ? doang?


^^^g^^^


Rakarion

__ADS_1


balas yang bener cantik.


Read.


Raka berdecak pelan. Si Rin ini kenapa dibaca doang, sih?? Raka kan jadi malu!


Rakarion


keyboard lo melayang?


^^^g^^^


Rakarion


perlu dokter keyboard ga?


^^^g^^^


Rakarion


yaudah gue minta waktu seumur hidupnya, boleh?


^^^udh gw add. jngn gngg bs?^^^


Rakarion


bisa. tapi balas chat gue selain huruf g.


^^^y.^^^


Rakarion


untung gue suka sama lo


Read.


Raka melempar asal ponselnya. Cowok itu menghela napas sembari menatap ke langit-langit.


Sialan, dibaca doang lagi anjir!


Lagian, Raka kenapa ngetik begitu, sih? Iya kalau Rin baper terus balas chat-nya, percakapan mereka berlanjut, dan Rin jatuh dalam pesonanya. Boro-boro jatuh dalam pesona, pesannya aja di-read doang.


Raka berdiri dan memungut ponselnya yang tergeletak di sudut meja. Membuka kembali pesannya bersama Rin, hingga senyum tipis terbit di bibir laki-laki itu. Gimana ya, lucu aja gitu.


Sedetik kemudian, Raka mendatarkan wajahnya.


Inget niat awal lo ganteng!


...*****...


untung gue suka sama lo


Rin mengernyit. Random banget gila. Mana gak penting banget. Gadis itu paling malas berurusan dengan hal-hal tidak penting. Kalau tahu Raka bakalan ganggu gini, mending Rin nendang perut kakak kelasnya itu, baru ke parkiran secepat kilat!


Beres deh.


Lama terdiam dalam lamunan tidak jelas mengenai Raka, Rin menyunggingkan senyum misterius. Gadis itu mengetikkan sesuatu di atas ponselnya, lalu mengirim pesan tersebut pada Raka.


gausah ganggu cewek gue.

__ADS_1


__ADS_2