JENNIE

JENNIE
07 - Tidak Asing


__ADS_3

Menghindar mungkin satu-satunya cara agar tidak terlibat dalam sesuatu yang merepotkan. —Rin.


...*****...


Di lorong depan kelas 12 IPS-1 kini sedang rusuh sekali. Bahkan kebisingannya mengalahkan pasar malam. Banyak para perempuan yang sedang lewat karena para anggota Deverald sedang berkumpul di depan kelas itu.


Bagaimana tidak? Ketuanya yang menyuruh kumpul. Kalau Raka sudah memerintah, siapa yang berani menolak? Sebenarnya mereka tidak melakukan hal khusus di sini, Raka hanya meminta para anggotanya meluangkan waktu, berbagi tawa seperti sekarang.


Raka memerhatikan sekelilingnya, banyak adik kelasnya, atau teman seangkatan perempuan yang lewat. Kalau teman seangkatan, mungkin beneran ingin lewat. Namun, adik kelas, buat apa? Kelas mereka kan di lantai satu, dua. Ngapain repot-repot ke lantai tiga?


Ada juga beberapa yang mondar-mandir, atau teriak-teriak demi mencari perhatian. Sok cantik, dan segala gelar sok lainnya dilakukan demi menarik perhatian para inti Deverald dan anggota lainnya.


Terlepas dari itu, ada memang yang benar-benar murni hanya ingin lewat. Salah satunya, kelima gadis cantik sang primadona sekolah. Dengan Audey yang memegang kipas angin mini di tangan kanan, dan handphone di tangan kiri, gadis itu memimpin jalan. Di belakangnya ada Rin yang tangannya digandeng oleh Cellin. Paling belakang sendiri, Megan menjinting oversized hoodie berwarna lilac di tangan kiri, dan tangan satunya menggandeng lengan Ruth.


Sebelumnya, kelima gadis itu tadi ke rooftop menemani Audey yang ingin mengambil foto untuk di-post di instagram. Biasalah ya, dia gak mau feeds ig-nya kosong-kosong banget. And again, background-nya harus mendukung!


Tidak hanya mereka saja yang adik kelas, tapi banyak, bahkan dari kelas 10 juga ada yang mengambil foto di sana. Entah beneran ingin foto atau caper sama kakak kelas.


Suara sahut menyahut yang tadi terdengar menggema kini makin nyaring ketika kelimanya mulai melangkah melewati kelas 12 IPS-1. Para laki-laki berjaket kulit itu bersiul menggoda pada mereka, membuat Megan kesal. Namun, gadis itu tetap melangkah, berusaha mengabaikan hal tak penting.


Rin melirik dengan ujung mata ke arah samping, dengan tak sabaran matanya berusaha mencari keberadaan satu orang hingga tak sadar langkahnya perlahan memelan. Gadis itu mengangkat sebelah alisnya ketika sadar orang yang sejak tadi ia cari menatapnya tajam.


Gue gak tau gimana bisa. Intinya, lo gak sekuat yang gue pikir. Sama orang sekelas Raka aja kalah. Rin berucap dalam hati sambil tertawa sinis. Batinnya melanjutkan, malu ya, makanya pergi gitu aja.


Meremehkan seorang Raka, sudah biasa bagi Rin—bahkan dulu sebelum tahu orangnya. Itu ia lakukan, untuk menyakinkan dirinya sendiri, bahwa dia pergi karena malu atas kekalahannya, bukan karena hal lain. Bahkan sampai detik ini, Rin berusaha keras menyingkirkan pikiran negatif, selalu berusaha positive thinking dan tidak overthinking. Siulan-siulan masih terdengar hingga kelimanya hilang ditelan anak tangga.


Raka, cowok itu masih enggan mengalihkan pandangan dari ujung tangga. Hingga tepukan seseorang di bahunya menyadarkan laki-laki itu. Menoleh dengan ekspresi datar, ia bertanya, "Apa?"


Galang, si pelaku hanya menggeleng pelan. "Kedip napa, serius banget ngeliatnya," canda laki-laki itu.


"Yang di belakang dekel unyu lo?" tanya Raka yang diangguki mantap oleh Galang. "Iya itu Rin. Yang kemaren di belakang sekolah bareng mereka juga."


Arga dan Iqbal mendekat, diikuti Regan yang ikut beranjak dari duduknya mendekati keempat teman mereka yang lain.


"Datar banget ya mukanya," ucap Arga. "udah kayak triplek saking datarnya."

__ADS_1


"Iya jir, tapi cantik banget ah!!" kata Regan menyetujui.


"Playboy-nya Galang nular ke lo ya Gan," ucap Arga yang dihadiahi pelototan tajam Dari Galang. "Enak aja! Gue udah gak playboy lagi, mau setia sama satu hati."


"WOI ANJIR!!" seru Iqbal heboh sendiri.


Tak ingin ketinggalan, Arga ikut menyerukan, "SETIA SAMA SATU HATI? BWAHAHAHAH!!"


"SI GALANG DANA UDAH DAPET RUMAHNYA WOI!" teriak Regan tidak mau kalah.


"Sialan. Gak usah teriak-teriak juga lah anjir, jadi pusat perhatian kan. Malu-maluin banget emang temenan sama lo betiga," kata Galang kesal setengah mampus.


"Ya gimana mereka pada gak heboh, orang lo tau-tau ngomong gitu." Arka menoleh pada Raka dan Alden. "Ya nggak, Rak, Den?"


Raka mengedikkan bahunya tidak peduli, sementara Alden menyahut dengan singkat, "Y."


"Ya gak sampe teriak juga lah!" Galang mengibas sekali tangan di depan wajah, pertanda tak ingin membahas masalah ini lebih lanjut.


"Jadi gimana Rak?"


Raka mengernyit. "Gimana apanya?"


"Ya mana gue tau. Tau dia aja baru tadi."


Galang berdecak. Cowok itu menoleh pada yang lain. "Menurut kalian Rin gimana?"


"Aku pun tak tau laa, lepas makan biskuit Yaya jadi macem nii," nyanyi Arka sambil berjoget, membuat Raka menjitak kening cowok itu kuat.


"Berisik."


Iqbal tertawa paling keras. "Mampus lo. Kalo mau nge-fanboy Tok Aba di rumah sana, ngapain di sini. Bikin malu!"


"Boboiboy pinter!" kata Regan sembari menendang kursi yang diduduki Iqbal.


Arga tertawa pelan, namun sedetik kemudian ia kembali mendatarkan wajahnya. "Btw, gue ngerasa gak asing sama si Rin. Kayak pernah liat dia," ucap Arga membuat Raka menoleh pada laki-laki itu. Kirain hanya dia yang berpikir begitu, ternyata ada orang lain juga.

__ADS_1


"Kan, gue tandain tuh cewek dari jam tangannya," kata Galang. Cowok itu melanjutkan, "Sama kayak yang gue temuin setengah tahun lalu."


Raka terdiam. "Mana jamnya?" tanyanya langsung.


"Di rumah gue lah, mana bawa gue barang gituan tiap hari."


Raka berdecak pelan.


"Sadar gak, sih kalian? Rumornya si Rin itu anak pindahan SMA Holder." Galang menatap teman-temannya serius.


"Alvaska?" tembak Alden yang langsung mendapat anggukan dari Arga. Suasana yang ricuh di sekitar, berbanding terbalik dengan keheningan yang tercipta di antara ketujuh inti Deverald.


Raka mengumpat pelan. Cowok itu kembali menoleh ke arah tangga. Terdiam lama, membiarkan dirinya larut dalam lamunan mengenai adik kelas barunya itu.


...*****...


Rin melangkahkan kaki memecah kesunyian koridor. Hari ini gadis itu pulang lebih lambat dari biasanya, dikarenakan Pak Oscar sang guru bahasa Inggris memakan setengah jam waktu pulang untuk ulangan dadakan.


Mengharuskannya terlambat masuk kelas matematika siang ini. Mana dari kelasnya, cuma Rin sendirian yang masuk kelas ini. Kan, bikin repot segala harus jelasin alasan ke guru kenapa telat!


Kening Rin mengerut, samar-samar indera pendengarannya menangkap suara gaduh di ujung koridor. Tak lama menyusul pemandangan enam laki-laki tampan yang duduk di sekitaran tangga.


Sebagai informasi, SMA Starlight memiliki dua gedung yang saling berhadapan. Hanya dipisah oleh lapangan dan koridor ruang guru-guru. Satu gedung terkhusus kelas tiga angakatan dan laboratorium IPA maupun bahasa. Sementara gedung lain khusus kelas tambahan, gudang dan aula.


Dan sekarang Rin berada di lantai satu gedung kedua, di mana ia harus melewati enam orang itu agar bisa sampai di lantai dua dan masuk ke kelas Matematika. Masalahnya, enam orang itu anggota inti Deverald—tanpa Alden.


Rin sekarang lagi dalam masa malas ingin terlibat dengan segala macam hal merepotkan. Seandainya ada jalan lain, meski jauh sekalipun, Rin bakal pilih lewat jalan itu daripada ketemu mereka.


Mengambil napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan, Rin dengan ekspresi yang berhasil ia kendalikan mengangkat wajahnya. Seolah menegaskan, bahwa dia bersikap biasa saja.


Ketika langkahnya semakin dekat dengan anak tangga pertama, seorang laki-laki bernetra biru menoleh. Menyenggol lengan Raka, yang membuat cowok itu ikut memandang ke arahnya.


Rin menelan ludah saat melihat Raka berdiri menghampiri. Senyum penuh arti terbit di bibir ranumnya. Mata cowok itu sedikit menyipit akibat terkena paparan sinar matahari. Setelah sampai tepat di depan Rin, Raka sedikit membungkuk untuk menyamakan wajah mereka.


"Arfano Raka Arion," ucapnya dengan nada rendah, berhasil membuat Rin terdiam.

__ADS_1


Dia bingung.


Apaan, sih?


__ADS_2