JENNIE

JENNIE
29 - Don't Care About Him


__ADS_3

Antara peduli dan tidak peduli, bukan karena bingung menghadapi diri sendiri, tapi sifat egois dan gengsi membuat diri kebingungan tak tentu arah. —Megan.


...***...


gue depan gerbang.


Rin yang baru saja menerima pesan dari Raka itu lantas melompat turun dari kasur menuju jendela kamarnya, yang mengarah langsung ke depan gerbang utama rumah megahnya. Dapat ia lihat, ducati merah kepunyaan Raka terparkir manis di depan pagar, sementara pemiliknya menyender di dinding sebelah bel rumah dengan kedua tangan menyilang di depan dada.


Rin berdecak pelan. Raka ini kenapa, sih? Masa tiba-tiba ada di depan rumahnya? Mereka sebelumnya tidak ada membuat janji, loh.


Gadis itu menghela napas. Dengan malas ia bergerak keluar kamar, menuruni tangga satu-persatu. Sempat berpapasan dengan mamanya yang berniat ke ruang musik yang berada di lantai dua—tepat bersebelahan dengan kamarnya—Rin hanya melempar senyum.


Menarik buka pagar tinggi menjulang di hadapannya, Rin berdecak begitu Raka menyambutnya dengan seulas senyum menyebalkan begitu pagar terbuka setengah. Gadis itu menaikkan salah satu alisnya, tertarik dengan alasan dan tujuan Raka kemari.


Mendapati tatapan remeh tapi penuh tanya dari sosok gadis incarannya ini, Raka memberikan smirk memikat andalannya. Yang sialnya, Rin hanua merespon dengan mengerutkan kening.


"Ngapain kesini?"


Raka memainkan lidahnya sejenak, kemudian tertawa renyah. Entah apa yang lucu. Dasar gila memang.


"Kalo gak ada hal penting, tolong pulang, ya. Kehadiran lo gak di butuhin di sini." Rin berucap dengan dingin pun ekspresi sedatar tembok. Ucapannya barusan berhasil menohok hati Raka yang padahal sudah susah payah berpenampilan baik agar di-notice Rin.


"Gue cuma mau minta ajarin materi fisika yang kemaren. Mekanika kuantum, gue gak paham."


Rin memutar matanya. "Please jangan gaptek. Lo punya hp, gunanya buat apa?" tanya gadis itu ketus.


"Buat merhatiin kapan lo online, kapan lo offline, atau kadang baca ulang chat kita di awal-awal. Balasan-balasan yang singkat, padat, tapi kurang jelas dari setiap ketikan pesan lo, bikin gue senyum-senyum karena lo terlalu gemesin."


Rin mengangkat kedua alisnya. "Lo butuh gue telponin pihak rumah sakit jiwa?"


"Silahkan." Raka menantang yang membuat Rin berdecak pelan. "Tolong pergi, ya, Kak. Udah cukup senin sampe sabtu lo gangguin gue. Minggu please jangan. Lo pikir lo siapa punya hak buat dateng ke rumah gue?"


Raka baru ingin membalas, tapi Rin lebih dulu menyela. "Perjanjian awal, tentang kalo lo bisa ngalahin gue. Alasan lo mau belajar bareng, please jangan bodoh, ini kompetisi, lo gak bisa seenaknya."


Napas Rin memburu, emosinya membuncah seperti ingin diledakkan saat itu juga. Namun, sebisa mungkin Rin mengontrol dirinya agar tidak lepas kendali. Tatapannya menajam begitu Raka hanya diam tidak membalas.

__ADS_1


"Satu lagi, tolong buat besok dan seterusnya, jangan nyiapin bekal. Norak tau gak? Gue makan, karna gue hargain mama lo yang capek-capek nyiapin. Taunya malah gatau diri."


Rin dengan segera menutup gerbang rumahnya, menghampiri satpam rumahnya yang berada di pos, gadis itu menitipkan pesan. "Pak, tolong kalau orang di depan itu mau coba masuk, langsung suruh pulang. Saya gak kenal dia siapa."


Pak Dodi mengangguk patuh. "Siap, Non."


"Makasih, Pak."


Rin segera melangkah menuju pintu utama rumahnya, berlari tergesa ke dalam kamar kemudian meghampiri jendela. Raka masih di sana, tertunduk dalam di samping motornya, dengan tangan terkepal kuat. Rin segera menutup gorden jendelanya. Gadis itu mungkin sedikit kasar tadi, tapi dia juga tidak bisa membiarkan Raka seenaknya ingin menganggunya, bahkan sampai mendatangi rumahnya.


Terlihat sepele, tapi dengan Raka tahu rumahnya ada di mana tanpa ia memberitahukan pada laki-laki itu, sudah termasuk melanggar privasi. It's annoying dan terkesan tidak sopan. Keempat sahabatnya saja belum pernah ia ajak ke rumahnya.


"*D*amn it."


...*****...


"RIN!!"


Pekikan Audey langsung terdengar begitu Rin memasuki kelas. Gadis itu mengangkat sebelah alisnya mendapati wajah Audey terlihat panik.


"Hm?"


Rin mendudukkan dirinya di kursi, ia menghiraukan sejenak tatapan khawatir Audey begitu ia menyadari ada yang salah di pagi hari ini. Keningnya mengerut samar, selang beberapa detik otaknya mencerna apa ya terjadi, gadis itu pada akhirnya mengangguk pelan.


Kan gue yang minta.


Rin menoleh pada Audey. "Kenapa?"


"Raka gak ada nyiapin, atau ngasih pesan, salam, or something like that ke gue."


Rin mengangguk pelan. "Lo kenapa panik?" Mendengar pertanyaan itu, Audey sukses dibuat menggeleng heran karenanya. "Kenapa gue panik? Lo gak kaget gitu? Lo gak takut Raka kenapa-napa? Dia selalu nyiapin sarapan buat lo sebulanan lebih loh, Rin."


"Yea, so what?"


"Lo sedikit pun gak peduli?"

__ADS_1


Rin menggeleng dengan mantap, tak lupa memberi seulas senyum tipis. "Happy malah."


"Gila lo—"


"Shut up, Dey, itu kan urusan Rin. It's none of your bussines. Gak ada, gak ada sedikit pun hak lo buat judge Rin." Ruth menyela, karena sejak tadi muak dengan Audey.


"Oh my gosh, bukan gitu! Ini si Rin sama sekali gak peduli?"


"Dia cuma gak ngasih sarapan, Dey."


"Iya, I know that, Ruth. Tapi biasanya kan nyiapin sarapan buat Rin."


"Ya terus kenapa? Rin juga gak peduli."


Audey menoleh pada Rin, berniat memastikan. "Beneran lo sedikit aja gak peduli?" Rin kembali mengangguk tanpa ragu.


Audey menatap Rin dengan tatapan yang sulit diartikan. Gadis itu kemudian menarik napas panjang. Kok nyesek, ya?


"Lo sedikit pun gak suka Raka? Hati lo—"


"Enggak," sela Rin, menjawab pertanyaan yang dibisikkan Audey dengan enteng.


"Udah lah Dey, selagi Rin masa bodoh, ngapain kita ikut campur?" Ruth berbalik badan, kemudian menelungkupkan kepalanya ke dalam lipatan tangan di atas meja.


Megan dan Cellin yang sejak tadi memerhatikan pun kemudian kembali sibuk pada aktivitas mereka masing-masing sebelum Rin tiba. Megan, sih tidak ambil pusing, toh dia tahu dengan pasti, Rin muak dengan sikapnya Raka. Kalau Cellin, ia sebenarnya ikut merasakan sesak di dada, gadis itu merasa ada yang hilang. Cellin seakan memposisikan dirinya sebagai Rin, yang setiap hari selalu ada tapi tiba-tiba hilang. Rasanya menyesakkan. Meski faktanya, Rin hanya bodo amat, atau mungkin merasa lebih tenang karena tidak ada gangguan.


Audey menepuk pelan bahu Rin, membuatnya menoleh. "Gue nyesek banget Rin."


"Apaan, sih? Gue biasa aja."


"Serius lo gak peduli tentang dia?"


Rin diam beberapa detik. Actually, gadis itu sendiri juga tidak bisa menjelaskan dirinya kenapa.


Tenang Rin, lama-lama juga bakal biasa aja lagi. Ini cuma karena sebulanan lebih dikasih sarapan baru tiba-tiba enggak. Lima menit juga bakal bodo amat kamu.

__ADS_1


"Yea, I don't care about him."


__ADS_2