JENNIE

JENNIE
58 - Her


__ADS_3

Dengan perasaan sendiri saja masih bingung, bagaimana bisa menjaganya selalu? —Raka.


...***...


Raka berdiri tegap di hadapan ratusan orang yang kini memakai satu jaket kebanggaan yang sama, dengan di bagian punggungnya terdapat tulisan DEVERALD. Laki-laki itu menyorot tajam ke arah para anggotanya yang memerhatikan dalam hening. Di belakang Raka, ada enam temannya berdiri dengan wajah tanpa ekspresi.


"Malam ini puncak acaranya, tadi pagi kepala sekolah datengin gue buat minta tolong." Raka berucap tegas hingga suaranya terdengar sampai barisan belakang. Diam sesaat menatap ratusan teman-temannya itu, kemudian ia melanjutkan, "Beliau minta Deverald buat jadi panitia keamanan."


Terdengar riuh tidak persetujuan dari para anggotanya, membuat Raka mengangguk beberapa kali. "Tenang. Gue tau lo semua mau nonton acaranya juga. Jadi, semisal jaganya bergantian tiap sepuluh menit, pada setuju?"


Galang maju beberapa langkah, hingga ia berdiri tepat di sebelah Raka. Laki-laki itu mengangkat tangannya, mengode untuk diam sejenak.


"Biar adil dan semua kena jaga, kita undian aja. Jadi gak milih-milih mau jaga jam berapa. Ayo, pendapatnya, pada setuju gak? Ini cuma dari inti aja, kalo anggota pada gamau, kita cari solusi lain."


Galaxy yang berada di barisan agak ketengah mengangkat tangannya. Galang segera menyuruh laki-laki itu untuk maju. Menepuk bahu Galaxy beberapa kali, sambil bertanya, "Kenapa?"


"Sorry, Bang, sebelumnya. Tapi kalo undian gitu, kita ada ratusan nih, nama-namanya gimana? Emang sempat?"


Seorang laki-laki yang berada di baris paling depan menganggukkan kepalanya setuju. "Bukannya makan waktu banyak, ya, Bang kalo gitu?"


Di tengah kebingungan para anggota, Arga segera maju dengan senyum secerah mentari, berjalan dengan gagah membayangkan dirinya menjadi pahlawan atas keputus-asaan teman-temannya. Laki-laki itu menyugar rambutnya menggunakan jari, menampilkan senyum maut memikatnya.


"Gue udah catat semua nama-namanya," ucap Arga mengangkat tinggi dagunya.


Mendengar itu, seluruh laki-laki yang ada di depan Arga bertepuk tangan sambil berdecak kagum. Tidak terima kalau Arga saja yang mendapat perhatian karena kontribusinya, Iqbal turut berdiri di sebelah laki-laki itu.


"Kagak usah banyak gaya ya lo Ar, jelas-jelas gue sama Regan bantuin! Enak aja mau dapet perhatian sendiri," ucap Iqbal sewot yang mendapat toyoran dari Arka.


"Gak cuma lo bertiga doang anjir, gue juga bantuin gulungin kertasnya."


Galang mendengkus. "Diem lo pada. Ide dari cewek gue tuh, si Audey. Jadi yang berperan penting di sini gue!"


Regan reflek memberikan tendangan mautnya pada Galang, yang dengan sigap laki-laki itu menghindar. Menoleh pada Regan, kemudian tersenyum mengejek.

__ADS_1


"Keren kan gue?"


"Hah? Jelek? BWAHAHAH!! Nyadar juga lo anjir. Emang jelek banget lo tuh Lang!" ucap Regan kejam.


"Gila ni bocah, nantangin lo?!" Galang memasang posisi kuda-kuda.


Arka yang jengah melihatnya segera menoyor satu-satu kepala Galang dan Regan bergantian. "Lo berdua napa jadi ribut?!"


"Noh, Regan duluan. Enak aja mau nendang muka gue."


"Lo pake acara bilang lo yang punya peran penting. Ide juga dari Audey. Bantu nulis atau gulungin aja enggak. KERJAAN LO CUMA PACARAN ANJIR!"


Galang mendelik. "Look, kalo gue gak deket sama Audey, kita pasti masih bingung!"


Baru Regan ingin kembali berucap, suara Raka lebih dulu menginterupsi. "Diam anjir." Laki-laki itu mengerutkan kening. "Sekali lagi ada yang oot, traktir satu Deverald."


Regan lantas menutup rapat mulutnya, tidak lupa menguncinya. Galang yang melihat itu mendengkus.


"Ada yang kurang setuju?" Raka kembali menghadap ke depan.


Galang mengangguk. "Sebelumnya maaf kalo ada beberapa dari kalian yang ngerasa ngebebani kami, karna waktu mepet jadi gue sama inti yang lain gerak cepat. Acaranya malam, sementara pagi sampe siang tadi masih pada sibuk tanding bola."


"Fyi, sebelum ini juga Deverald selalu kerja tim." Raka melirik Pranata dengan tatapan sedatar tembok. "Kalo gak salah, lo masuk Deverald minggu lalu, kan?"


"Iya, Bang."


"Lo paham maksud Galang?"


Pranata mengangguk. "Paham, Bang."


Raka menoleh pada Galaxy, tatapannya menjelaskan semua tanpa harus berucap sepatah kata pun. Galaxy yang mengerti mengangguk patuh. Laki-laki itu mendatangi Pranata, dia punya tugas. Mengenalkan secara singkat apa itu Deverald, geng motor, dan something like that kepada Pranata.


Alden mendekat ke Raka, berucap pelan, "Itu yang kata lo anak mami?"

__ADS_1


"Yoi."


Arga menahan tawanya, laki-laki itu tidak sengaja mendengar percakapan sangat singkat Raka dan Alden. Pranata, laki-laki itu memang dari awal masuk kelihatan silly banget. Alasan masuk Deverald juga karena mau lebih berani dari sebelumnya.


Iqbal yang melihat Arga senyum-senyum sendiri memasang ekspresi bingung yang terlalu dramatis. "Gila kali si Arga," ucap Iqbal pelan pada dirinya sendiri.


"Ada lagi? Gue rasa semua udah setuju." Raka kemudian menginterupsi teman-temannya untuk mulai mengundi.


Sebenarnya bisa saja, laki-laki itu yang memilihkan sebagai pemimpin, hanya saja, Raka tidak ingin berbuat tidak adil. Teman-temanya itu juga ingin menonton rangkaian acara malam ini, yang tentu saja dilaksanakan dengan sangat meriah.


Raka melihat ponselnya sejenak begitu dirasa benda pipih tersebut bergetar di saku celananya. Nama Teresa terpampang jelas di berandanya, gadis itu mengirimi Raka sebuah pesan.


Nanti malam, aku ikut kamu, boleh?


...*****...


"Good evening, Aunty," sapa Raka pada Gabriella, mommy dari Teresa.


"Ou, Raka. Masuk sayang." Wanita berpakaian dress merah muda selutut itu mengulurkan tangan, mempersilakan Raka masuk.


"Makasih, Aunty."


"Ke sekolah barengan sama Teresa, ya? Gak usah dijawab. Tadi dianya udah bilang juga, sih. Saya cuma mau bilang makasih ke kamu, karna mau nemenin Teresa. Satu-satunya yang saya percaya itu kamu, apalagi ini acaranya malam. Teresa gak bikin kamu kerepotan, kan?"


Raka tersenyum lembut. "Raka gak ngerasa di repotin, kok, Aunty." Gabriella ikut tersenyum. "Aunty titip Teresa, ya, Raka. Jagain dia baik-baik."


Raka mengernyit samar. Laki-laki itu berusaha mempertahankan senyumnya. "Iya, Aunty. Teresa bakal Raka jagain, kok. Nanti Raka ajak Teresa buat duduk di ruangan aja sampe acara selesai."


Gabriella menggeleng pelan. "Maksud saya bukan untuk malam ini aja." Wanita itu menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan. Ia menatap Raka lekat. "Tapi buat seterusnya juga. Jaga dia, ya. Kamu tau kan gimana hubungan Teresa sama ayahnya. Jangan sakiti anak saya, ya, Raka."


Raka menahan napas sesaat. Laki-laki itu merutuki dirinya sendiri karena kesulitan berkata, 'iya'. Jangankan berucap sepatah kata, mengangguk saja rasanya berat. Leader of Deverald itu benar-benar bingung akan perasaannya sendiri.


Bagaimana menjelaskannya, ya. Intinya, tanpa di minta, bayangan wajah Rin tiba-tiba terlinta di kepalanya. Itu membuat Raka jadi enggan mengganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Hingga pada akhirnya, Raka hanya mengulum senyum merespon ucapan Gabriella barusan. Dan tanpa keduanya sadari, Teresa mendengarkan dari balik dinding penghalang antara ruang tengah dan lorong panjang menuju kamar. Hati gadis itu seperti tercabik, mendapati Raka tidak menyahut apa-apa.


Aku tersingkir, ya, Rak?


__ADS_2