
Gue benci pengkhianat. Jadi siapapun yang berkhianat, gue gak bisa jamin orang itu bisa menghirup udara lebih lama. —Raka.
...*****...
TRANGG!!
Raka menendang pintu berbahan logam di hadapannya satu kali dengan begitu kuat, sehingga langsung terlepas dari pengaitnya dalam sekejap. Keenam sahabatnya yang melihat itu hanya bisa diam, tidak berani menegur. Raka kalau sudah marah, sangat sulit dikendalikan.
Begitu masuk ke dalam markas besar Deverald, Raka berdecak ketika pintu rusak yang ia injak ini menganggu jalan. Menoleh pada Galang, "Urus pintunya."
Galang mengangguk patuh tanpa banyak bicara. Ia mengangkat pintu tersebut dengan dibantu Regan, dan menaruhnya di luar—agak jauh dari basecamp untuk dibuang esok hari.
Arka menoleh ke belakang, melihat raut penuh tanya seluruh anggota, baik yang seangkatan, lebih tua atau lebih muda darinya membuat laki-laki itu memberanikan diri untuk bertanya. Arka berdehem cukup keras. "Rak, itu anggota bubarin a—"
"Bubarin."
Arka mengangguk, segera berlari keluar dan menginterupsi manusia yang berjumlah ratusan itu dengan satu kali perintah, suaranya menggema karena keheningan yang tercipta.
"Kita bahas sekarang Rak?" tanya Arga takut-takut. Raka tidak merespon. Laki-laki itu terus melangkah, menaiki satu per satu anak tangga, dan mendudukkan diri di kursi tahtanya.
Raka memejamkan matanya sejenak. Ketika dirasa suara Galang, Regan, dan Arka terdengar melapor karena telah menjalankan tugasnya masing-masing, barulah Raka membuka mata. Netra hijau itu langsung menghujam netra biru yang berada tepat selurus dengannya.
"Sekarang."
Tanpa basa-basi Arga langsung mengeluarkan laptop berlogo apel di bagian belakang dari dalam tasnya, yang memang terletak di nakas dekat tangga. Setelah beberapa saat berkutat dengan laptop silver tersebut, Arga merogoh saku celana jeans hitamnya, mengambil ponsel ber-merk mahal dari sana.
Mengutak-atiknya selama sepuluh menit, Arga mendongak. "Gue berhasil dapet nomornya tadi." Laki-laki itu menunjuk laptop silver miliknya dengan dagu. Lantas melanjutkan ucapannya, "Barusan ngecek, dan emang bener dia dikeroyok. Alvaska kemaren dari jam empat pagi sampe sekarang masih bahas tentang pengeroyokan itu."
Raka mengangguk pelan. Ia bangkit dari kursi, memilih duduk di anak tangga terakhir, bergabung bersama enam sahabatnya.
"Gak ada tanda-tanda kayak direkayasa?" tanya Iqbal duduk bersila di sebelah Arga yang kini berjongkok.
"Gak ada. Cuma heboh aja si Langit, Langit itu. Dan dilihat dari chat-chat personal-nya, gak ada yang mencurigakan. Langit jujur, dia dikeroyok."
Regan menggaruk telinganya yang tidak gatal, pertanda laki-laki itu masih kebingungan. "Ga, lo dapet nomer Langit bukan manusia tuh darimana?"
__ADS_1
Arga tersenyum miring. "Ya kali hacker berkelas kayak gue gak bisa." Laki-laki itu memukul dadanya beberapa kali dengan bangga.
Iqbal menoyornya. "Buruan woi, lanjut."
"Sabar. Gak sabaran amat lo jadi manusia," cibir Arga sambil mengelus kepalanya yang habis ditoyor Iqbal. Alden berdecak sambil menatap keduanya tajam, yang dibalas cengengesan tidak jelas oleh mereka.
"Lanjut woi, malah ribut," kata Galang jengah.
Arga mendatarkan wajahnya. Laki-laki itu kini kembali serius.
"Jalan setapak depan gedung tua yang lama gak kepake, deket sungai Asterika," gumamnya dengan mata bergulir memerhatikan layar laptop silver dengan cepat.
"Got it!" seru Arga mencetak senyum menawan di wajahnya yang tampan. "Gue ketemu jaringannya. Wait bro, menunggu diakses."
Satu hal yang perlu kalian tahu, dibalik Arga yang tampangnya suka pengen bikin orang nampol kalau lagi usil, sering minta jawaban ulangan, dan kalem-kalem menyebalkan, cowok itu justru menyimpan segudang rahasia mengenai kebolehan dirinya sendiri.
Arga sepertinya sudah selesai dengan tugasnya—meretas CCTV dari jarak jauh, dalam kurun waktu tak sampai sepuluh menit. Ia kemudian meletakkan laptopnya di anak tangga pertama, membuat yang lain duduk berdempetan dengannya hendak menonton tayangan CCTV dua hari lalu. Arga sedikit mempercepat waktu mulai dari jam 12 am.
Di layar, terlihat seorang laki-laki bermotor dari ujung kamera, mengendarai motornya dengan pelan. Awalnya biasa-biasa saja, sampai akhirnya suara knalpot yang begitu bising terdengar mendekat, disusul pemandangan lima orang mengepung satu laki-laki; Langit.
Belum siap, Langit jelas oleng dan jatuh tertimpa motornya akibat ditendang dua orang dari sisi kanan. Tidak berhenti, kelima orang itu memukuli Langit tanpa ampun, ada yang memakai tongkat baseball juga satu orang.
"Pengecut!" desis Raka tajam.
Iqbal yang duduk di sebelah Raka ikut mengangguk. Laki-laki itu menyipitkan mata menatap layar laptop di depannya. Kemudian dengan segera mengambil tasnya dan mengeluarkan ipad. Mengetik entah apa, lalu mendongak menatap yang lain.
"Itu ... Nova bukan, sih?" tanyanya pelan mengambil atensi orang-orang di ruangan itu. "Dari postur sama gayanya Nova banget."
"Gue liatnya juga gitu, kalo empatnya gue gatau mereka ini siapa," kata Regan menanggapi.
"Kalo empat orang itu juga, gue gak tau." Iqbal menoleh pada Arga. "Coba kasih tau gue informasi semua member."
Arga mengangguk dan kembali memangku laptopnya. Dengan sangat lihainya laki-laki itu mengambil alih beberapa sosial media para member, dan semua informasi disatukan. Ia kemudian memeriksai biodata member Deverald dan mengeceknya satu-satu dengan kecepatan kilat. Hingga akhirnya pandangannya jatuh pada empat orang yang terduga sebagai dalang pengeroyokan.
"Ada anak baru join? Kenapa gak ngasih tau gue dulu? Biar gue bisa periksa ada yang salah atau gak. Soalnya di formulir, nama sekolah dipalsukan. Mereka berempat terdata sebagai anak SMA Alaska sama Galaksi, tapi di sini mereka ngisinya SMA Bina Indonesia sama SMA Antariksa." Arga mendongak menatap yang lain.
__ADS_1
"Eh iya, seminggu lalu Nova juga ada minta akses ke ruang pendataan. Gue tanya ngapain dia bilang mau ambil formulir, temennya dia ada yang mau join. Gue nungguin ampe lumutan gak ada yang dia bawa ke gue, bilangnya temennya gak jadi," kata Galang.
Raka berdecak pelan. "****."
Itu artinya, sudah seminggu ada empat orang asing yang masuk di Deverald. Sial, dia kecolongan.
"SMA Alska kalau gak salah banyak anggota Zegior, terus Galaksi kan satu sekolah anak Zegior semua karena emang berdirinya di sana," kata Arka memijiti kening.
"Yang jadi pertanyaannya, mereka dapet jaket kita darimana?" tanya Regan. "Gue juga belom liat anaknya yang mana aja. Gak pernah nongol."
Arga memperlihatkan laptopnya pada yang lain. Sudah tertera empat foto laki-laki, dilengkapi dengan namanya masing-masing di bagian bawah. Iya, laki-laki pemilik netra biru itu sudah menemukannya.
"Terus jaketnya?" tanya Galang mengangkat kedua alis. "Gue selalu megang kuncinya. Gak pernah ngasih ke siapa-siapa."
Iqbal yang sejak tadi sibuk mengotak-atik iPad-nya itu kini mendongak. "Pake kunci duplikat. Ingat pas markas ini kosong? Nova pasti dateng kesini diam-diam."
"Makanya waktu itu gak ikut ngumpul?" tanya Regan mendapat anggukan dari yang lain.
Iqbal menunjukkan benda pipih di tangannya pada Raka. "Gue yakin Nova dalang dibalik masuknya musuh ke Deverald. He's traitor."
Mendengar itu, Raka menghela napas panjang untuk bisa menahan amarah dalam dirinya. Satu hal tentang pemilik netra hijau itu yang perlu kalian ketahui, cowok itu tidak suka terhadap pengkhianat. Sangat tidak suka.
"Kenapa seyakin itu?" tanya Arka mendekat.
"Because," Raka memperlihatkan layar iPad milik Iqbal pada yang lain. "They are in the same place now, Zegior Headquarters."
"I agree with your opinion, Bal. Nova udah hapus semua hal yang menyangkut ini, biar gak kedeteksi. Gue gak nemu apa-apa selain laman kosong dari semua media sosialnya. Empat orang itu juga, ngasih yang palsu. Jelas, dia tau gue hacker Deverald."
"Dan tau kalo gue pelacak, makanya sebelum dia bertindak, dia udah punya rencana. Gue akui, planning-nya keren," kata Iqbal mengepalkan tangan.
Arga menarik napas panjang. "Kita kelepasan. Seluruh nformasi Deverald, berada di tangan Zegior."
Ketika semua temannya memasang wajah serius, kesal dan ingin marah, Raka tampak tenang menatap layar laptop Arga. Namun, ketahuilah, akan ada iblis yang sebentar lagi keluar. Melepaskan segala emosi yang membuncah.
Sebentar lagi.
__ADS_1
"Nova Bramasta Adijaya, 12 IPA-2, jam tujuh pas, bawa dia ke basecamp sekolah, sama empat sampah gak guna."
And yeah, Raka menemukan mangsanya.