JENNIE

JENNIE
63 - Belajar Bareng


__ADS_3

Dibalik dinginnya dia, ternyata ada sisi hangat yang jarang ditunjukin. Ada perhatian kecil yang tulus, dari balik ekspresi datar dan sikap tak acuhnya. —Raka.


...***...


"Sebelum masuk ke soal, lo harus tau dulu, hukum Wien itu apa." Rin menghela napas sejenak. Sekarang ini, untuk berkata banyak, rasanya benar-benar membutuhkan tenaga yang besar. Melelahkan sekali.


"Hukum Wien sendiri berbunyi, hasil kali panjang gelombang pada intensitas maksimum (λ max) dikali dengan suhu mutlaknya (T) adalah konstan (Konstanta Wien), yaitu 2,89 x 10^-3mK." Rin kemudian mengambil sebuah kertas dari tasnya, kemudian menuliskan sebuah rumus.


λ × T \= k.


"Lambda ini panjang gelombang maksimumnya. T itu suhu dalam konstanta. Sementara k-nya ini konstanta Wien dengan rumus asal 2,89 x 10^-3mK." Rin melirik Raka sekilas. "Jadi kalo lo udah ngerti bunyinya tadi, itu udah merangkum rumusnya, sekalian penjelasan."


Raka mengangguk paham. Laki-laki itu kemudian memerhatikan dengan seksama begitu Rin menulis ulang soal pada kertas coretan.


"Karena gue udah jelasin panjang lebar rumusnya, pasti ngerti, kan?"


"Iya, paham dikit."


"Lo jawab, gue yang nulis. Buruan."


Raka mengangguk. "T-nya 2000 K. Terus K-nya 2,89 x 10^-3mK. Berarti nanti, T sama K-nya dibagi buat dapetin lambda-nya, kan?"


Rin mengangguk singkat. Gadis itu menuliskan apa yang diucapkan Raka dengan rapi agar laki-laki itu mudah memahaminya.


"Hasil baginya berapa?"


Raka dengan cepat menghitung dengan buku coretan miliknya sendiri. Terlihat sedikit kesulitan, tapi laki-laki itu berhasil menemukan hasilnya. Meski tidak secepat itu, Rin merasa senang karena Raka tidak buruk juga hitungannya.


"1,499 x 10^-6m Rin hasilnya."


"Itu kan masih meter, sementara yang diminta soal satuannya mikrometer. Gimana ngubahnya?"


Raka terdiam sejenak, kebingungan. Setelah menelaah soalnya, laki-laki itu menjawab dengan semangat, "Karena μm \= m/106, jadi \=1,449μm jawabannya. Bener gak, Rin?"


Rin mengangguk. "Iya."


"GAMPANG BANGET, RIN!!"


Rin reflek memukul bahu laki-laki itu. Keduanya duduk di lantai, menjadikan meja yang biasa ditaruh jajanan dipakai untuk meja belajar. Jadi, jarak duduk keduanya tidak terlalu jauh, dan mudah bagi Rin menjangkau Raka.


"Terus apa yang lo bingungin?"


"Hehe, gue males ngerjain. Sebenernya juga di youtube sama aja sama cara bu Agatha. Gue paham, sih. Cuma mager jadi agak lelet otak gue." Raka menyengir lucu yang dihadiahi tatapan tajam dari Rin.


"Sia-sia dong gue ngomong panjang lebar?"

__ADS_1


Raka menggeleng pelan. "Enggak. Gue beneran gak ngerti yang mana dulu di anu. Paham, cuma kayak butuh arahan gitu."


"Halah, bilang aja lo mau modus." Raya tiba-tiba menimbrung. Gadis itu mengambil cheese balls yang ada di meja, kemudian berlalu pergi dari sana, kembali ke kamarnya.


Raka mendengkus. Batinnya dengan lantang berteriak, GANGGU AJA, SIAL!


"Gak usah dengerin, Rin. Emang agak gesrek mbak Raya tuh."


"Karena cuma ada dua angka semua di opsinya, jadi ambil dua angka paling depan. 1,4 hasil akhirnya."



"Sorry tulisan gue kurang rapi. Lagi males nulis. paham aja kan lo?"


"Paham." Raka mengangguk beberapa kali. "Okay, thank's Rin. Maaf ngerepotin."


"Itu tau ngerepotin. Besok-besok gak usah alasan lagi, ya." Rin segera membereskan barang-barangnya ke dalam tas. Gadis itu berniat pulang.


"Mau pulang?"


"Hm."


"Tapi mobil lo masih di basecamp."


"Ya, terus? Mobil lo kan ada?" tanya Rin dengan satu alisnya terangkat. "Jaminan juga."


"Bukan itu. Gue gak mau mobil kesayangan gue lecet."


"Ya, udah, ntar gue ganti kalo lecet."


Rin berdecak. "Itu mobil kesayangan gue, Rak. Gue gak mau lecet, gak mau diganti."


Raka menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Susah banget emang mahamin cewek dengan tipe kayak Rin gini.


"Ya, terus gue harus apa kalo lecet?"


"Jangan sampe lecet dong!"


Raka memanyunkan bibirnya dengan alis mengerut. Laki-laki itu bersedekap dada, dan terus memerhatikan Rin membuat gadis itu risi lantas menoleh.


"Kenapa?"


"Gue gatau mobilnya lecet atau gak. Kan gue di sini sama lo."


"Ya, kalo lecet lo tanggung jawab, lah."

__ADS_1


"Kan Arga yang bawa!" protes Raka tidak terima.


"Kan lo ketuanya?!" Rin tidak mau kalah.


"Udah selesai ngerjain tugasnya sayang?" tanya Riana menginterupsi perdebatan kecil Raka dan Rin.


"Eh, Mama. Udah, baru aja." Raka menyengir. Sementara Rin hanya tersenyum tipis.


"Makan dulu, yok, kalian kayaknya belum makan siang, ya?"


"Belum," jawab Raka bohong. Namun, tidak bisa disebut bohong juga, sih. Dia memang sudah makan siang, tapi Rin kan belum.


"Ya, udah, ayo makan dulu. Rin sini, kasian kamu repot-repot ngajarin Raka, pasti bikin kesel, kan?" tanya Riana seraya merangkul Rin, menuntun gadis itu menuju ruang makan. Rin hanya menurut saja, ingin menolak tapi tidak enak.


"Enggak, Aunty, hehe." Rin menyengir canggung.


"Jujur juga gapapa. Raka emang bikin kesel anaknya."


Rin menoleh pada Raya yang tiba-tiba keluar dari ruang tengah, lantas menarik satu kursi di meja makan. Riana menarikkan satu kursi di sebelah kakak perempuan Raka itu.


"Kamu duduk sini, ya, Rin. Raka sama Raya kalo duduk sebelahan gak bisa makan tenang nanti kita. Ribut mulu," kata Riana mengerutkan kening. Rin tersenyum tulus. "Makasih, Aunty."


Tidak lama, Raka menyusul masuk. Laki-laki itu segera menarik kursi di sebelah Riana, tepat berhadapan dengan Rin.


"Heh, Rak! Kamu tuh otaknya kecil banget apa gimana? Mbak udah nungguin daritadi, kelaperan tau!"


Fun fact, dalam Arion's family, seluruh anggota keluarga jika ingin makan, harus menunggu anggota keluarga lain yang terlambat baru boleh makan. Itu bertujuan untuk tetap menciptakan kebersamaan di antara satu keluarga agar tidak renggang.


"Raya," tegur Riana sambil menggeleng pelan. Raka menjulurkan lidahnya. Merasa menang karena dibela mamanya.


"Mah, Raka tuh! Masa julurin lidah keluar? Jorok banget, padahal mau makan, loh!"


Riana menoleh pada Raka, laki-laki itu menyengir membuat Riana menggeleng pelan. "Kamu gak malu? Ada pacar kamu, loh."


Rin mati-matian memaksa senyumnya agar tidak luntur. Sementara Raka melirik Rin iseng, kemudian menunduk menahan tawanya dengan sengaja begitu Rin balas melirik.


Raka, lo ngeselin banget asli!


"Ayo, makan. Jangan ribut lagi, ya. Makan gak boleh ngomong." Riana memperingatkan, kemudian keempat orang di meja itu menyantap makanan mereka dalam hening.


Raka beberapa kali memerhatikan Rin diam-diam. Laki-laki itu kemudian menghela napas panjang.


Lagi makan aja lo lucu banget, Rin. Pipinya gembung gitu.


Raka menahan tawanya. Teringat sesuatu, laki-laki itu langsung mendatarkan ekspresinya.

__ADS_1


Sial, kenapa gue jadi terjerat pesona lo terus, sih, Rin?


__ADS_2