JENNIE

JENNIE
23 - Vegasus Street


__ADS_3

Nyatanya melupakan tidak segampang itu. Sekeras apapun berusaha, kalau hati saja enggan ikut berjuang, bagaimana bisa? —Rin.


...*****...


Pake Molly apa Relly ya?


Rin menatap ponselnya sekali lagi. Masih ada tiga puluh menit, bisalah santai-santai pake Molly. Gadis itu mengambil sling bag berwarna hitam dari belakang pintu dan segera keluar dari kamarnya.


Menuruni anak tangga satu per satu, dan menghampiri mamanya di ruang tengah. Gadis itu mencium pipi mamanya dari belakang membuat Ara kaget karena tadi wanita itu sedang fokus pada televisi di depannya.


Menolehkan kepala, dahi Ara berkerut. "Kamu mau kemana?"


Rin tersenyum manis. "Keluar bentar Mah. Mau makan di luar. Gapapa, kan?"


Ara balas tersenyum. "Iya gapapa. Ini sen—"


"Sendiri," jawab Rin cepat lalu segera berlalu dari sana. Keluar dari rumah besarnya, dan mendatangi garasi.


White Ferrari kesayangan Rin itu pun melaju cepat membelah ramainya jalanan ibukota. Nama mobilnya mungkin lucu, tapi si pemiliknya berbanding terbalik dari kata lucu.


...*****...


Rin mengerem mendadak dengan wajah kaget setengah mati. Di depannya, kumpulan anak motor sedang berkumpul jadi satu. Menyebabkan kerusuhan entah apa yang dibahas. Satu yang Rin tangkap, Gaara—pemimpin dari Alvaska itu terlihat sangat marah, dengan Raka yang tenang tetapi mengintimidasi.


Rin menelan ludahnya susah payah. Tanpa banyak bicara, ia memutar balik mobilnya yang berjarak cukup jauh, lalu menjalankannya dengan kecepatan penuh. Berhenti di dekat gang jalan Vegasus, yang terdapat warung. Melihat rumah di sebelahnya yang pagarnya terbuka, Rin langsung saja masuk. Segera turun ketika seorang ibu-ibu menghampiri dengan sapu lidi di tangannya.


Ketika Rin turun, ibu-ibu tadi terdiam, mengerjap beberapa kali karena terpesona akan kencatikan gadis es di hadapannya. "Saya izin markirin mobil di sini." Rin melirik motor matic merah berada di depan warung si ibu-ibu. "Saya boleh pinjam motornya sekalian?"


Wanita paruh baya itu mengerjap ketika sadar dari keterpukauannya, lantas mengerutkan dahi. "Loh? Emm, adek ini siapa?" tanyanya terkesan basa-basi karena ragu ingin meminjamkan motor.


"Jaminannya, mobil saya ada di sini. Saya pinjam sebentar motornya. Ada barang saya yang harus ditahan lagi?"


Ibu-ibu berdaster bunga merah muda selutut itu tersenyum kikuk, tidak enak sendiri. "Emm, i-iya boleh." Lantas menuntun Rin menuju warungnya, dan memberikan kunci.


"Saya izin pakai, Bu," kata Rin sopan sambil berlalu dari hadapan ibu-ibu tadi setelah mendapat anggukan setuju.


Segera mengendarai motor matic tersebut dengan laju, yang perlahan memelan, dan berhenti di dekat pohon besar yang mampu menyembunyikan Rin maupun motor. Mengintip dengan hati-hati, dapat gadis itu lihat bagaimana Gaara yang sepertinya hilang kendali, dan Raka yang terlihat ingin mengamuk.


Rin memicingkan matanya, melirik dengan ujung mata ke belakang, saat tiba-tiba saja terdengar suara langkah seseorang yang mengendap-endap. Ketika dirasa ada satu tangan hendak menyentuh bahunya, Rin segera saja berbalik dan meninju perut laki-laki di depannya, tidak lupa memberikan satu bogem mentah di pipi. Ketika melirik jaket yang dikenakan laki-laki ini, Rin langsung memerhatikan wajahnya.


Rio.


Tanpa membiarkan laki-laki itu melawan, Rin melilit kedua tangannya di belakang tubuh, mengunci pergerakan.


"Anj—" pekiknya tertahan menahan kesakitan. Rin melunak dan hanya menyilang kedua tangan Rio, tidak lagi melilitnya seperti awal tadi.


Tenang, Rin sudah diajarkan bela diri oleh kakek, ayah dari mamanya. Bukan untuk apa, hanya untuk perlindungan diri di saat terdesak. Namun, percayalah, Rin lebih dari sekadar yang dibayangkan orang.


Keduanya segera berjongkok saat satu, dua orang anggota Deverald yang berdiri paling belakang menoleh penasaran, tentunya dengan posisi Rin yang masih menahan kedua tangan laki-laki di depannya ini ke belakang tubuh.


"Siapa lo hah?!" bentak si cowok dengan intonasi suara pelan pada gadis yang kini memakai masker putih.


Rin menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan. Dia sudah siap untuk menunjukkan jati diri sekalian menyapa satu orang anggota Alvaska ini. Toh, cuma satu orang.


Iya. Cuma satu orang aja, Rin.


"Gue, kenapa?" tanya Rin berbisik tepat di telinga Rio, dengan suara yang terdengar begitu dingin.


Seketika itu juga bulu kuduk Rio berdiri, jantungnya nyaris melompat keluar, secepat kilat menoleh dan menemukan sepasang mata setajam elang, gelap dengan sorot menyeramkan memancar.


"Rin," gumam Rio, entah harus senang atau takut.


Rin berdiri dan menepuk kedua tangannya seakan ada debu di sana. "Berdiri."


Menurut, Rio hanya menunduk, begitu menyesal datang terlambat dan berakhir bertemu gadis di depannya ini. Coba saja tadi dia tidak kepo siapa gadis ber-hoodie biru muda dengan rok lipit putih ini.


Ya abisan, Rin kenapa ngintip, sih? Rio kan gak tahu!


Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri, rasa senangnya jauh lebih besar. Rasa takut itu cuma kecil, mengingat Rio telat datang sementara teman-temannya yang lain sudah berjuang sedari tadi.


Rin mungkin hanya akan memarahinya, tidak mungkin sampai membunuh. Gadis cantik di depan Rio ini, tidak sekejam itu.


Kalo gak kejam kenapa lo takut Yo?? dodol.


"Kenapa telat? Gak liat mereka semua udah pada mulai daritadi? Pada babak belur."


"Gue ada urusan tadi. Nganter mama ke rumah temennya buat arisan, biasa kena macet gue," jawabnya mengangkat wajah.


Rin menghela napas pelan. Gadis itu menatap sangat datar pada Rio.


Rio cengengesan. "Ehm, ini lo beneran Rin kan? Ebuset gue kangen sama lo!" serunya ingin memeluk Rin yang segera Rin cegah dengan satu pukulan dengan lutut di perut Rio.


"Sakit Rin! Elah masih aja galak lo. Tapi dulu galak doang, sekarang dingin juga nyerempet di lo, tambah kejam juga," kata Rio menunduk memegangi perutnya, kesakitan.


"Masalah apa?" tanya Rin kembali memerhatikan ke depan. "Bang Langit di keroyok anak Deverald. Goblok emang, pengecut," umpat Rio, Rin hanya melirik tidak minat pada laki-laki itu yang sekarang sudah mendumel tidak jelas.


Satu yang Rin pikirkan sekarang.


Respon Raka gimana ya?


...*****...

__ADS_1


BUGH!


Raka terkekeh pelan melihat tubuh Gaara yang terkapar tidak berdaya di atas jalanan, setelah ia memberi bogem mentah yang terakhir pada pipi laki-laki yang menjabat sebagai leader Alvaska itu. "Udah tau lemah, sok-sokan nantangin!" ketus Raka sambil menyugar rambutnya ke atas.


"Berasa main perang-perangan sama anak TK lawan lo semua!" kata Raka lagi sambil menunjuk sejumlah pasukan di hadapannya.


"Anjir!" kekeh Arga menendang perut lawannya hingga jatuh tersungkur lalu ikut bergabung bersama enam sahabatnya yang sudah berdiri menyamping di depan lawan. Laki-laki pemilik netra biru itu merogoh saku celana abu-abu mudanya, dan mengambil permen tangkai sambil cengengesan ketika yang lain menatapnya heran, menyiratkan satu hal; gila!


"Woi kampret, kita lagi perang ini masih, lo ngapain makan permen??" tanya Regan tak habis pikir.


"Otak lo kayaknya geser juga nih kayak si Iqbal, makanya suka boleh, jangan obsesi tapi! Stres sendiri kan lo berdua," celetuk Galang dengan malas.


Iqbal merangkul bahu Arga yang menyodorkannya permen bola berwarna merah itu. "Kita kan friend! Satu gila, semua gila. Itu motto kita bedua!" katanya bangga sambil menerima permen pemberian sang soulmate dengan satu tangannya yang menganggur.


Regan mendengkus. "Gue mau juga anjir, bagi-bagi napa," katanya menengadahkan tangan pada Arga. "Untung gue tadi sempet mampir di warung depan sana tuh, kalo enggak, kepohonan lo berdua!" balas Arga tak santai tapi tetap memberikan Regan permen.


Arka memutar matanya. "Dongo lo bertiga!" katanya kesal sendiri.


Galang menggaruk alisnya yang tak gatal. "Wei, gue juga bosen njir gak ngapa-ngapain di sini, bagi juga Ga!"


Arga menoleh. "Stres, lo kira daritadi kita ngapain?? Jualan bakso aci?!"


"Hehe, udah ah siniin satu permennya!" desak Galang tak sabar. Arga mendengkus tapi segera memberikan apa yang di pinta Galang.


Raka berdecak kesal. "Anggota gak punya otak," gumam pemilik netra hijau itu.


Di sisi lain, Gaara yang berusaha bangkit dibantu anak buahnya itu berdecih pelan menatap Raka dengan remeh. Walau sejujurnya jauh di dalam hati laki-laki itu benar-benar marah, emosinya memuncak meminta ingin dikeluarkan, tetapi terhalang fisiknya yang hanya mampu memukul Raka tiga kali. Itu saja, Raka langsung membalasnya berkali-kali lipat.


"****!" umpat Gaara membuat anggota inti maupun anggota biasa Deverald menoleh ke depan.


Iqbal tertawa pelan kemudian mendatarkan wajahnya. "Gak malu gitu? Udah nantangin, di deket markasnya sendiri juga, kalah la—" Perkataan Iqbal terpotong dengan bentakaan Gaara yang mulai hilang kendali.


"ANJING! GUE JUGA NANTANGIN KARNA SEBAB, BUKANNYA MAEN NANTANG AJA!!" tubuh berotot Gaara ditahan salah satu anggota inti Alvaska yang berdiri di dekat ketua mereka itu.


Gaara menunjuk Raka dengan telunjuknya, "ANAK BUAH LO JING, NGAPAIN NGEROYOK LANGIT?! DIA ANGGOTA GUE!!"


Raka menepis kasar telunjuk Gaara, menatap ketua dari geng rival tertangguh Deverald itu dengan teramat tajam. "Setinggi apa lo nunjuk gue?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Raka. Begitu dingin yang membuat suasana berubah mencekam seketika.


Gaara masih berusaha mengatur napas karena emosinya. "Lo kalo di posisi gue, pasti bakal bertindak juga kan Rak?! Ya kali gue diem aja saat anak buah gue dikeroyok!!"


Tatapan Raka menggelap, sosok iblis pencabut nyawa berwujud dewa dalam mitologi Yunani itu melangkahkan kakinya, menatap ke depan dengan tenang. Ia berhasil mengendalikan diri.


Raka menghentikan langkah tepat selangkah dari Gaara berdiri. Kemudian menoleh pada Arga. Mengerti maksud sang sahabat, Arga mengangguk.


Raka kembali menatap Gaara yang sejak tadi menatapnya. Netranya beralih pada anggota Alvaska. "Langit mana? Maju sini."


Meski tidak mengerti maksudnya, laki-laki yang sekarang wajahnya lebam penuh luka yang sudah mulai mengering itu maju dan berdiri di samping Gaara. Ikut menatap Raka.


Langit menoleh pada Gaara sejenak, mendapat anggukan persetujuan ia lantas memulai cerita.


"Kemaren lusa pas tengah hari, jam 12 karena pulang cepet, pas mau pulang, udah nyampe di jalan setapak depan gedung tua yang lama gak kepake, deket sungai Asterika, tiba-tiba ada yang ngehadang lima orang, gue gatau mereka siapa, intinya semua pake jaket Deverald, helmnya ketutup. Ngeroyok gue tanpa belas kasih."


Raka mengeraskan rahangnya. Tidak suka mendengar penjelasan yang dilontarkan Langit. Karena itu artinya, Deverald jelek. Pengecut. Mengeroyok habis-habisan seorang anggota Alvaska. Tangannya terkepal kuat, mati-matian mengendalikan diri.


Raka memerhatikan sejenak wajah penuh luka Langit, lalu beralih menatap Gaara yang juga menatapnya tajam.


"Gue gak tau siapa lima orang itu," kata Raka jujur. "Tapi gue bakal cari tau. Lo gak perlu turun tangan buat ngincar mereka berlima. Gue sendiri yang ngatasin."


"KENAPA HAH?! LO GAK TEGA GUE BALAS DENDAM KE MEREKA BERLIMA?!!" teriak Gaara emosi.


"Mereka anak buah gue." Raka berkata dengan tenang.


Perlahan tapi pasti, napas Gaara teratur. Emosinya perlahan bisa dikendalikan. Melihat itu, Raka menepuk pelan bahu kiri Gaara.


"Duluan."


Raka berbalik badan, terlihat begitu santai dan tidak seperti biasanya. Kalau sudah war, Raka terkenal dengan tidak akan mengampuni musuhnya. Lalu, sekarang cowok itu benar-benar membuat tidak hanya anggota Alvaska, melainkan anggotanya sendiri kebingungan. Hanya keenam sahabatnya yang tahu, kalau Raka kini mati-matian menahan emosi, mengendalikan sifat iblis dalam dirinya.


Arga menoleh sejenak dan menghampiri Gaara yang berdiri paling depan, lalu menoleh pada laki-laki yang berdiri di sebelahnya. Arga segera saja membuka tasnya dan menyerahkan sekotak p3k pada Langit, yang diterima cowok itu dengan ekspresi bingung.


"Kalo sakit diobatin bodoh."


"Anjir," ceplos Langit tanpa sadar, antara bingung sama tidak paham kenapa tiba-tiba dikasih kotak obat.


Arga berbalik tidak peduli. Kali ini Deverald yang salah, maka dengan tetap menjunjung harga diri, tapi juga bertanggung jawab atas anggota mereka yang mengeroyok Langit, maka beginilah caranya.


Raka menaiki motornya dan menjalankannya dengan kecepatan penuh membelah sunyinya jalanan yang dilewati, diikuti gerombolan motor besar anggota Deverald yang sama-sama memikirkan satu hal.


Kelima orang itu, tidak akan selamat.


...*****...


"Duluan. Ketemu gue, cukup lo yang tau."


Rio memasang posisi hormat ketika paham apa yang dimaksudkan Rin. Laki-laki itu melangkah mendekati motornya yang tersembunyi, lalu segera menaiki motor besarnya, mengendarai dengan kecepatan sedang ke kerumunan Alvaska, meninggalkan Rin seorang diri dalam lamunan.


Setelah menunggu beberapa saat, hingga tersisa satu anggota inti Alvaska di sana yang masih merebahkan diri di pinggir jalan dekat lapangan, Rin merogoh tasnya dan mengambil ponsel. Menekan satu nama dan menelpon orang tersebut. Tidak lama, laki-laki jauh di depan Rin itu merogoh celana lepisnya dan mengeluarkan hpnya.


Halo Rin, kenapa?


"Di belakang. Pohon."

__ADS_1


Hah? Apanya?


"Gue."


Anjir! Balas seseorang di seberang tidak santai. Secepat kilat bangkit dan menengok kanan-kiri, ketika menemukan pohon besar dan terdapat seorang gadis manis menyender membelakangi, tanpa pikir panjang ia mendekat dengan motor besarnya.


Gue udah chat lo kalo batal. Belum lo baca nih kayaknya.


Rin mengernyit samar. Ia segera membuka room chat bersama laki-laki ini. Dan benar saja, ada dua pesan.


woy rin ntar gjdi


gw ad ursan


1.59 pm.


Rin memutar matanya malas. Gimana dia gak baca chat tersebut, orang dikirim semenit dari jam janjiannya!


Tanpa mengatakan apapun, Rin mematikan sambungan telepon membuat laki-laki yang sedang mengendarai motornya di seberang sapontan menatap bingung ke arah layar ponselnya.


Setelah sekian lama, gue akhirnya nunjukin diri ke dua orang anggota Alvaska.


Suara motor terdengar makin dekat, dan kemudian berhenti. Rin berdiri sempurna, membalikkan tubuhnya menghadap pada laki-laki yang merupakan anggota inti Alvaska ini.


"Buset Rin! Hampir dua bulan gak liat lo, anjir gue kangen banget!!" serunya sambil menuruni motor dan melepas helm.


Mendapati Rin menatapnya dingin, laki-laki itu berdehem singkat. Nyaris lupa jika ia dan Rin tidak sedekat dulu. "Apa kabar?" tanyanya basa-basi.


"Baik."


"Gue kangen lo. Alvaska juga."


Rin mengangguk singkat.


Me too.


"Langsung aja. Gue kesini mau memperjelas sesuatu."


"Soal itu ya?" laki-laki berkaos abu-abu itu tersenyum tipis menatap Rin.


"Iya, Kak Reo. Dia lepas dari gue, gue juga lepas dari Alvaska. Buat apa bertahan?"


Walau pun gue punya kendali penuh. But, I'm sorry. Gue emang se-kekanakan itu untuk lepas Alvaska cuma perkara beginian.


"Oke. Terserah lo aja. Gue cuma nyampaikan."


Rin menunjukkan smirk-nya. "Dia gak ada bilang ke gue. Se-pengecut itu sampe harus lo yang ngasih tau ke gue?"


Reo menghela napas. "Gue temen dia dari kelas delapan, sekaligus kepercayaan dia, Rin. Mungkin di—"


"Gue bukan batu."


Tiga perkataan itu sudah mampu membuat Reo bungkam. Dia mengerti maksudnya. Memang, Rin tidak akan mungkin bisa melakukannya. Walau sebatas pura-pura.


"Terserah lo. Tapi dia bisa lo genggam lagi, dengan cara ini."


"Beneran gak balik?" tanya Rin memastikan.


Jauh dalam dirinya, berharap untuk bisa menggenggam seseorang itu lagi. Sangat malah.


Reo mengedikkan bahunya. "Dia cuma ngomong itu. Bisa jadi ini strategi dia. Memanfaatkan keadaan, apalagi sekarang Deverald lagi gencar banget nyari tau siapa dalang kejadian enam bulan lalu."


"Termasuk gue?"


Reo kembali diam. Inilah alasan utama Rin ingin melupakan. Namun, sialnya, semua kenangan lama itu tidak pernah bisa lepas dari pikiran Rin, membuat gadis itu seakan ditarik mundur oleh perasaannya sendiri.


"Tadi kenapa?" tanya Rin mencairkan suasana yang sempat hening beberapa saat tadi.


Reo mendengkus. "Anak Deverald nyerang Langit dua hari lalu. Gaara nantangin Raka kemaren pagi, terus tadi baru mereka dateng."


"Kenapa gak langsung?"


"Langit pingsan. Subuh-subuh pas dateng ke markas baru ngasih tau. Mau langsung datengin sekolah mereka," Reo melirik Rin yang berdiri menatapnya penasaran. "Gajadi, karna ada lo."


Rin tertegun beberapa saat. "Iye, Gaara masih suka lo." Menoleh cepat pada Reo yang kini tersenyum miring.


****.


Rin berdehem pelan, mencairkan suasana. "Gaara ... di markas?"


"Iya. Kenapa? Mau mampir? Tenang, kita selalu nerima lo, Bu—"


"Gak perlu. Mau pulang. Duluan."


Rin berbalik meninggalkan Reo dalam keheningan. Gadis itu sadar sepenuhnya, kalau sekarang dia pasti akan lebih kesulitan lagi. Pikirannya berkecamuk mengingat perkataan Reo beberapa menit lalu.


Memanfaatkan keadaan.


Percayalah, Rin takut jika dia juga dianggap sama seperti keadaan.


Kak, gue harap lo gak bener-bener manfaatin gue.

__ADS_1


__ADS_2