
Equestrian sport sebenarnya bisa jadi salah satu healing dalam melupakan sejenak masalah dalam hidup, tapi karena malas, ya, udah, diem aja merhatiin orang-orang. —Rin.
...***...
"LO SERIUSAN LIN? KOK BISA BATAL, SIH?"
Cellin tersenyum tipis. "Karena jumlah tiga angkatan di sini tuh banyak banget, tembus seribu lebih. Jadi, rencana mau camping dibatalin aja."
Audey yang mendengar itu menghela napas panjang bersamaan dengan Ruth yang juga tampak murung. Sekembalinya Cellin dari rapat tadi, gadis itu segera diajak ke UKS untuk ditanyakan perihal kepastian camping.
Sebenarnya dilarang memberitahu yang lain sebelum pengumuman hari kamis nanti. Namun, karena keempat temannya juga sudah tahu, Cellin memutuskan jujur saja mengenai hasil rapat hari ini.
"Terus nanti, bakal ada peresmian ekskul baru."
"Apa?" tanya Rin yang sejak tadi diam menyimak.
"Berkuda."
"OH MY GOSH, REALLY?!" Megan yang awalnya tak terlalu tertarik seketika berbinar senang. "Ini pasti, kan?"
Cellin mengangguk antusias. "Iya, pasti. Gurunya nanti orang yang bersertifikat juga, kok. Semua guru yang ngajarin berkuda nanti. Terus buat pemula banget mau masuk gapapa, diajarin bener-bener dari nol sampe bisa. Jadi, ga perlu ada basic."
"Oh my gosh, oh my gosh, oh my gosh!!"
"Aku juga waktu denger ini dari ketua OSIS kaget banget, sih, mau teriak heboh gitu tapi aku tahan. Starlight keren banget huhuu!!"
"Btw Lin, tempatnya di mana?"
"Udah disiapin diem-diem sama pihak sekolah. Dan pas rapat tadi ngeliat sebentar ke sana. Luas banget, sih. Udah ada banyak orang luar, perhaps mereka gurunya.
"Please, gak sabar banget jadinya! Kapan peresmiannya Lin?"
"Hari kamis, selesai apel pagi."
Audey, Ruth dan Rin saling pandang satu sama lain. Ketiganya tidak terlalu berminat pada ekskul kuda. Dan yang paling mengejutkan, dua teman mereka yang paling feminin justru mereka lah yang menyukai berkuda.
"Guys?" Audey angkat suara membuat Megan dan Cellin sontak menoleh padanya. "Kalian suka berkuda?"
"Aku waktu kecil pernah coba, dan emang seseru itu, sih." Megan mengangguk setuju atas perkataan Cellin. "Waktu masih belum di sini, gue juga suka diajarin naik kuda sama grandma. Duduk miring gitu juga pernah diajarin."
"Seriously Megan? Ih, ntar aku mau coba. Susah ga, Megan?"
"Lumayan, ngimbanginnya cuma dari satu sisi, awal-awal, sih pengen nangis aja gara-gara takut jatuh. Lama-kelamaan, terbiasa, jadi seru pas udah bisa."
"Itu yang ngajarin grandma kamu? Keren banget, Megan!"
"Iya, haha. Setiap keturunan dari anak tertua yaitu mami aku, harus bisa equestrian sport. Awalnya malas banget, apalagi itu masih kecil bawaannya pengen main barbie sama boneka. Tapi lama-lama jadi happy juga. Kadang tiap sore bertiga sama mami, grandma, terus aku, kita berkuda ngelilingin kastil."
"Itu pas kamu udah bisa?"
"Yup! Kalo pas masih awal-awal, ya ga berani Lin."
"Wait, Meg," ucap Audey menghentikan sejenak percakapan antara Megan dan Cellin. "Kastil? What do you mean?"
"Iya." Megan kembali menoleh pada Cellin. "Kamu gimana?"
"Kalo aku, sih datang ke tempat latihannya. Dulu itu bolak-balik Prancis tiap tahunnya. Kan ada liburan sebulan pas kenaikan kelas, itu aku langsung siap-siap buat ke bandara. Total lathan ada enam bulanan, pas SMP aku stop latihan karena mau fokus ngejar nilai."
"Wow, interesting."
"Kamu juga keren banget."
"Hahah. Btw Lin, kamu masih ingat gak naikin kuda gimana? Jalaninnya gimana? Jaga keseimbangannya?"
Cellin merengut. "Masih ingat, sih, cuma takut kaku aja aku. Kalo kamu?"
"Gatau, ya. Aku jadi pengen praktik langsung. Materinya ingat aja, cuma takut gak bisa pas terjun ke lapangan."
"Same, sih."
__ADS_1
Keduanya diam, larut dalam pikirannya masing-masing. Audey yang sejak tadi memerhatikan dengan kagum itu angkat suara.
"Gila lo berdua, sekalinya ngomong bahas berkuda. Diam seperti pemalu, bergerak membantai teman-temannya dengan fakta. OMG! Gue punya temen kayak kalian, seneng banget!!"
Megan memgernyit. "Fakta apaan?"
"Lo berdua pada bisa berkuda. Keren tau gak buat seukuran perempuan. Biasanya kan hobinya fashion, beauty, segala macam yang menunjukkan ke-girly-an gitulah."
"Tapi aku suka fashion, kok," kata Cellin membuat Audey yang tadinya girang seketika mendatarkan wajahnya.
"Agree. Gue juga suka-suka aja pake skincare, hobi malah."
Audey menghela napas. "Lo berdua mah gak bisa diajak bercanda njir. Malas gue."
"Kalo malas sama gue aja, Dey. Kita kantin, mau gak?"
Kelima gadis cantik di ruangan itu segera menoleh ke belakang, sedikit terkejut mendapati tujuh inti Deverald ternyata sedang duduk santai. "Kok kalian di sini? Since when?" tanya Megan dengan tatapan menajam.
"Hehe, Megan, udah daritadi. Niatnya mau jengukin kalian, soalnya pas balik dari kantin gak sengaja liat kalian masuk ke UKS. Terus, tau-tau lagi pada asik cerita soal berkuda," kata Arga menjelaskan.
"Keren banget lo berdua, kecil-kecil udah bisa berkuda!" seru Iqbal sambil bertepuk tangan heboh.
Megan memejamkan matanya sejenak, kemudian menghela napas panjang. Sementara Cellin seketika khawatir, takut tersebar sebelum diumumkan.
"Kak, itu, tolong jangan disebarin ke siapa-siapa dulu, ya," ucap Cellin pelan sambil menunduk.
"Iya, Lin aman. Kita mah pinter jaga rahasia!" seru Regan yang kemudian menaik-turunkan alisnya begitu Cellin mengangkat pandang. "Makasih, Kak."
"Btw itu beneran lo berdua bisa berkuda? Gue juga jadi pengen belajar biar samaan," kata Iqbal tercengir. Galang reflek menoyor kepalanya. "Lo ngapain samaan sama mereka berdua. Fokus kejar Ruth aja noh, dapetin hatinya aja lo gak sanggup, apalagi nih dua cewek yang anti cowok."
"What does that mean?" tanya Ruth menatap tajam ke arah Galang. "Eh, hehehe. Don't get me wrong, ya Ruth, I mean, itu, kalo lo kan gak anti cowok, cuma cuek aja. Sepengamatan gue, Megan sama Cellin nih bener-bener anti cowok."
"Bullshit."
"Mampus!" kata Iqbal mengejek tanpa suara, tak lupa mendelik mengekspresikan emosi.
"Megan," panggil Arga pelan. Gadis itu dengan malas menoleh. "Senyum dong. Murung mulu. Aku gak bakal ikut ekskul berkuda, kok. Jadi kamu ga keganggu. Tapi senyum, jangan murung gitu."
Megan menghela napas, yang dengan cepat Arga kembali berbisik, "Aku juga bakal pura-pura gatau."
Keduanya saling pandang sesaat sebelum akhirnya Megan berdiri. Gadis itu menatap empat temannya yang menatapnya penuh tanya.
"Duluan."
"Loh, kok gitu? Mau kemana?" tanya Audey mengerutkan kening.
Megan tidak langsung menjawab, melainkan diam beberapa saat hingga suara lembut seorang perempuan terdengar dari luar pintu. "Megan?" Tak lama, enam gadis cantik dengan sweater rajut berwarna lilac couple memasuki ruangan sambil melambai dengan seulas senyum cantik.
Megan balas tersenyum, dan dengan segera mendekati keenamnya. "Sorry, kalian jadi repot-repot jemput, huhu."
"Gapapa, santai aja. Sekalian mau keluar, ngelewatin UKS juga."
Salah satu dari mereka lantas segera menyodorkan goodie bag by Chanel kepada Megan. "Thank you, Natasya!!"
Megan kembali menoleh pada empat temannya yang masih bingung. "Duluan. Streaming party." Setelah mengatakan itu, Megan segera keluar bersama enam teman ARMY-nya.
"Chanel-nya dibagi gratis?" tanya Audey memecahkan keheningan yang terjadi sesaat setelah Megan pergi.
"Iya kali. Circle-nya pada banyak duit anjir." Iqbal geleng-geleng kepala sambil mengelus dada. "Lima orang itu dia beliin juga? Kalo iya, buset keren amat."
"Gue nangis banget, bisa-bisanya. Ke satu, dua, atau tiga teman, sih oke-oke aja. Ini sampe enam. Couple-nya modal banget." Audey kemudian melirik tiga temannya. "Yok, kita berlima sama Megan juga couple gitu. Dari Dior aja kita, warna hitam. Gimana? Rin yang bayar."
Raka yang tadinya dari awal sibuk main game online bersama Alden dipojok ruangan segera mengangkat pandangan begitu nama Rin disebutkan.
Sementara Rin yang namanya disebut-sebut itu menganggukkan kepala. "Terserah."
"Eh, seriusan?" tanya Audey bingung tapi seneng juga. Soalnya dia tidak expect bakal diiyakan Rin.
"Yes. Tas aja tapi. Udah, yok kelas." Gadis itu berdiri kemudian Raka ikut berdiri. Rin menghela napas dibuatnya.
__ADS_1
Menyadari Rin, nampak ingin menghindari Raka, Audey segera menggandeng lengan gadis itu keluar, disusul Cellin dan Ruth. Meninggalkan inti Deverald dalam keheningan.
Iqbal tiba-tiba tersenyum bodoh. "Selain, gue sama Arga yang dapet gelar sadboy, ternyata ketua kita si Raka juga! BWAHAHAHAH!!"
"Sialan!" kata Raka seraya menoyor kepala Iqbal.
"Seenggaknya masih ada respon ye kan Rak?" Galang memihak Raka.
"Ikut-ikut aja lo playboy. Jauh-jauh sana."
"Playboy cap badak nih. Asli," kata Regan seraya menepuk bahu Galang beberapa kali.
"Sial."
Iqbal tertawa renyah kemudian perlahan terhenti begitu melihat Arha hanya diam, tidak banyak omong seperti biasanya. "Ar, kenapa?"
Arga menoleh, tersenyum tipis kemudian menggeleng pelan. "Ngantuk doang. Semalam abis begadang, baca buku."
"Wih, tumben?" tanya Arka dengan nada mengejek. Arga menendang kursi laki-laki itu dengan pelan sebagai bentuk protes. "Tumben, tumben, gue emang sering belajar anjir. Gak kayak lo."
"Dih. Ya, bodo amat, sih. Lagian Ar, bentar lagi lulus, fokus buat belajar utbk aja."
"Sorry, nih ye, gue mau masuk ugm lewat jalur snm. Enak aja lo mau nyesatin gue pake nyuruh gak usah belajar, siap-siap utbk aja. Lo sama Iqbal noh."
"Napa jadi gue njir?!"
Galang tertawa keras dibuatnya. Sementara Raka dan Alden kembali lanjut main game online. Regan ikut bergabung ke pojok tidak berapa lama.
"Btw, lo fix ugm Ar?" tanya Iqbal, tiba-tiba sedih sendiri karena rencananya laki-laki itu mau ambil ui, deket sama perumahannya soalnya.
"Iya. Kenapa?"
"Lo tuh soulmate gue Ar! Gue kagak punya temen curhat gimana dong di ui ntar? Lo satu-satunya yang bisa mahamin gue," kata Iqbal drama.
"Dih, Bal. Gue kan juga ui, kita berenam ui rencananya," kata Arka seraya menoyor pelan kepala Iqbal.
"Diem napa Ka! Gue mau menghayati peran njir."
"Peran apaan?" tanya Arga bingung.
"Peran sebagai seorang soulmate sejati!"
"Stres," timpal Regan dengan malas.
"Dih, nyaut aja lo."
"Omong-omong, Rak lo kok bisa ngajak Rin dinner bareng mama, papa, sama mbak Raya juga?"
"Iya," sahut Raka cuek.
"Kok bisa?" Kali ini Regan yang bertanya, Raka menghela napas dibuatnya. "Ya bisa lah. Lo pada ngira pesona gue ilang?"
"Bukan, gitu, Rin kan dingin, masa mau?"
"Pas ngajak, gue bilang gini, 'gue gak terima penolakan' selesai."
"Buset. Terus Rin? Langsung nerima gitu?"
"Protes dulu, tapi gue gak tanggepin."
Iqbal seketika tersenyum lebar. "Mau gue coba ah sama Ruth!"
Galang sontak menyemburkan tawanya. "Woi Bambang! Lo mau ditendang nyampe mana? Antartika?"
"Stupid," ucap Regan dan Arka berbarengan.
"Lah, kenapa emang? Rin sama Ruth kan sama, sama-sama dingin, cuek, kurang lebih."
"Bukan gitu, masalahnya, cewek gue punya hati, cewek lo hatinya diumpetin jadi gak bakal luluh."
__ADS_1
Iqbal tersenyum mendengar jawaban dari Raka. Sementara Arga, Regan, Galang, dan Arka tertawa keras memenuhi ruangan.
"Sialan lo semua."