
Perhaps, kita ditakdirkan untuk sebuah pilihan sulit, yang memaksa diri untuk mengikuti alur saja. —Rin.
...***...
Rin melajukan Ferrari putihnya dengan kecepatan di atas rata-rata, membelah sepinya jalan ibukota yang dilewati. Sejujurnya, gadis itu lewat jalan tembusan, sih, karena kalau lewat jalan raya, macetnya tidak tertolong.
Memarkirkan mobil kesayangan di tempat parkir khusus roda empat, gadis itu mengerutkan kening begitu mendapati hanya ada mobilnya di sini. Tidak berapa lama, seorang pelayan laki-laki mengetukkan kaca, Rin segera keluar.
"Iya?"
Pelayan tersebut tersenyum ramah. "Mari ikut saya." Lelaki itu lantas menuntun Rin menuju pintu utama restaurant.
Rin memilih untuk mengikuti saja. Tiba di pintu utama, dua orang pelayan perempuan menyambutnya, dan pelayan laki-laki tadi pamit undur diri. Dua perempuan ini lantas membawa Rin menuju lantai dua, sebelum menaiki anak tangga, keduanya membungkuk untuk berpamitan.
Rin hanya tersenyum tipis. Begitu menolehkan kepalanya, ada tiga pelayan perempuan mengulurkan tangan di anak tangga terbawah. Gadis itu mendekati mereka, dan ketiganya segera menuntun Rin. Satu berdiri memipin jalan, dan dua lainnya berdiri di kanan-kiri Rin.
Sampai di lantai dua, satu orang pelayan perempuan membungkuk pada Rin, kemudian mengulurkan tangan yang segera saja gadis itu terima. Keduanya akhirnya berjalan beriringan, mendatangi sebuah ruangan. Di depan ruangan tersebut, terdapat dua orang pelayan laki-laki, yang masing-masing berdiri di kedua sisi pintu.
Begitu sampai, pelayan perempuan di samping Rin ini membungkuk sopan sekali lagi, lantas pergi bersamaan dengan dua pintu di hadapannya ini dibuka. Satu orang laki-laki berjas berdiri dan mempersilakan Rin masuk.
"Silakan, Nona."
Rin tersenyum tipis. Kakinya segera membawa ia masuk ke dalam, dituntun kembali menghampiri sofa panjang yang kini terdapat seorang laki-laki berbaring memainkan game online. Menyadari kehadirannya, laki-laki itu segera bangkit dan memberikan senyum terbaiknya, yang dibalas Rin dengan wajah tanpa ekspresi.
"Makanannya sudah siap, Tuan. Anda bisa memanggil saya cukup dengan menekan tombol yang ada di dekat meja, sudah kami siapkan jika Anda butuh bantuan. Saya permisi." Laki-laki berjas tadi membungkuk bergantian pada laki-laki di hadapannya dan juga Rin. "Tuan, Nona."
Setelah kepergian sang pelayan, Rin mengambil langkah menuju meja makan yang kini tersaji berbagai hidangan mahal yang menggoda untuk disantap. Mengangkat pandangan, laki-laki dengan atasan kaos hitam polos dan celana legging hitam serta sneakers putih itu mendudukkan diri tepat berhadapan dengan Rin.
"Morning."
Rin mati-matian menahan tawanya. "Yeah, good evening."
"Oh, udah malam? Gue kira masih pagi. Nungguin lo, sih kelamaan."
"Sorry, tapi janjiannya emang jam segini."
Laki-laki itu mengipas angin di depannya beberapa kali, pertanda tak ingin ambil pusing. "Makan dulu, gapapa?"
"Sebelum itu, gue mau nanya satu hal." Rin menajamkan tatapannya. "Lo nyewa satu restaurant bintang lima ini, cuma buat makan malam private ngebahas dia?"
"Iya."
Rin menggelengkan kepalanya pelan. "Lo kenapa, sih?"
__ADS_1
"You're special, jadi gue spesialin juga." Laki-laki itu menghela napas panjang. "Makan aja, yok? Gak usah ngobrol apa-apa. Gue laper asli."
Rin mengangguk pelan. Kemudian mulai menyantap roast meat yang sudah tersaji di piringnya. Sesekali meneguk orange juice untuk menghilangkan kegugupan dalam dirinya yang tiba-tiba muncul.
Selesai dengan makan berat, Rin mengambil satu muffin cake coklat. Gadis itu kemudian meneguk mineral water yang memang sudah ada sejak awal.
"Makan aja lagi Rin, gue pengen ngemilin cheese balls-nya."
"No."
"Ya, udah, tungguin gue bentar, ya?"
Rin menghela napas. Dengan berat hati ia menganggukkan kepalanya. Sambil menunggu laki-laki itu yang justru asik bermain hp sambil mengemil, Rin menyantap eton mess cheesecake.
Beberapa menit berlalu dengan cepat, Rin yang menopang dagu memandang kerlap-kerlip setiap gedung yang terlihat. Melirik jam tangan yang kini terpasang rapi di pergelangan kanannya, gadis itu segera menegapkan duduknya.
"Excuse me?"
Laki-laki itu menatap Rin sekilas kemudian larut dalam game online-nya lagi. Rin sontak memutar mata.
"Jadi gak bahasnya? Lo kenapa jadi asik sendiri?!"
Tidak ada tanggapan, justru wajah laki-laki di hadapan Rin ini makin serius menatap layar ponselnya. "Kalo gajadi, gue pulang."
Masih tidak ada tanggapan. Rin menghela napas.
Laki-laki itu menyimpan ponselnya segera, dan menegapkan tubuhnya. Tatapan laki-laki itu lurus, menatap Rin lekat.
"Sorry. Sengaja, sih, biar bisa lama-lama sama lo."
"Please, to the point."
"Oke-oke. Sebelumnya, gue mau nanya, lo tau sedikit info kenapa dia pergi?"
"Tiba-tiba. Gak ada kabar apa-apa. Sampai sekarang pun gue gatau dia di mana. Lo mau bahas apalagi soal dia? Emang dia ada ngabarin lo? Enggak, kan?"
"Calm, Rin."
"Bukannya gitu, lo maksa banget nyuruh gue ngelakuin hal gak jelas. Dia gak sepengecut itu, please."
"Who knows, Rin?"
Rin memejamkan matanya sejenak, berusaha mengendalikan emosinya. Kemudian membuka mata perlahan, melemparkan tatapan dingin untuk Gaara.
__ADS_1
"Jadi sekarang harus gimana?"
"Lo lakuin apa yang gue suruh waktu itu. Karena itu juga udah gue bahas bareng empat inti lain."
"You crazy."
"You idiot."
Hening sesaat sampai akhirnya Gaara kembali bersuara. "Actually, Rin, gue punya rekaman suara sehari sebelum dia hilang gitu aja. Dia yang nyuruh ngerekam. Gue gak tau maksudnya apa, tapi please listen this." Gaara menyodorkan sebuah ponsel usang. Laki-laki itu menekan tanda play, suara tak asing langsung saja menyambut Rin, membuat degup jantung gadis itu terhenti sejenak karena kaget.
Perlahan-lahan, ia berhasil mengontrol dirinya. Melihat itu, Gaara kembali melanjutkan rekaman suara tersebut setelah tadi sempat ia pause.
"Gar, udah?"
"Udah."
"Nanti tolong kasih tau Rin, ya. Gue mau pergi bentar."
"Lo pergi kemana anjir? Jangan bikin gue panik! Ini juga, segala minta direkam. What does that mean, huh?!"
"Calm, Gar. Gue ada something buat diurus. Titip Rin, ya, jagain dia."
"Stres. Something apaan? Lo kasih tau sendiri lah!"
"Ada."
"Gak usah senyum gitu, serem damn!"
"Gaara. Serius. Jaga Rin, ya. Gue titip dia sampe balik."
"Lo napa, sih?"
"Oh, iya, gue ada tugas khusus buat Rin, jangan lupa kasih tau, Gar."
...*****...
"Jadi, gimana, Rin?"
Gadis itu hanya diam. Matanya masih setia memandang langit-langit, berusaha sekuat mungkin menahan bulir air yang hendak turun dari matanya.
"Gue tau lo pasti kaget, tapi ini gak bisa nunggu, Rin. Gue udah kasih dua pilihan buat lo tadi. Pilih yang pertama aja, okay?"
Gaara menuangkan teh manis dari teko ke secangkir mungil di hadapannya, kemudian menyodorkan cangkir tersebut ke arah Rin. Tanpa laki-laki itu menjelaskan, Rin tahu, kalau ia meminum teh tersebut, artinya ia setuju untuk menerima pilihan pertama.
__ADS_1
Rin menarik napas panjang, kemudian mengembuskan napasnya perlahan. "Alright." Gadis itu menatap lurus ke manik Gaara, yang kini membulat kaget.
"Seriously?"