
Memangnya berharap apa? Bukannya gue sama dia sama aja? —Rin.
...***...
Rambut hitam legam sepunggung milik Rin berterbangan indah tertiup angin. Menari-nari yang membuat candu dilihat. Merentangkan kedua tangannya dengan mata terpejam, menikmati semilir angin yang sesekali menerpa wajah.
Gadis cantik itu kini berada di rooftops, menunggu Raka menemuinya. Wait, jangan kira Rin akan mau-mau saja diperintah Raka ke basecamp-nya. Memang laki-laki itu siapa sampai menyuruhnya segala?
Rin mungkin boleh membiarkan dirinya sendiri jatuh pada pesona Raka, tertarik untuk terus didekat laki-laki itu, tapi dia tidak akan membiarkan dirinya terlihat bodoh dengan menuruti perintah pemilik netra hijau itu. Anyway, kalau boleh jujur, Rin akhir-akhir ini sering sekali kepikiran mengenai Raka. Gadis itu bahkan melupakan sosok laki-laki yang mengisi hari-harinya sebelum ini.
Namun, tidak pasti juga, sih. Rin masih bingung sama perasaannya sendiri. Setiap bersama Raka, yang gadis itu rasakan, seperti ingin mengenggam tangan laki-laki itu dan melangkah bersama. Rin berusaha menepis hal tersebut, karena takut kalau perasaan itu datang hanya ingin menjadikan Raka pelarian dari masa lalunya.
Rin menunduk, memerhatikan kakinya yang terbalut white sneakers dengan tatapan sulit diartikan. Dadanya tiba-tiba terasa sesak tanpa sebab. Rin selalu saja kebingungan dan berakhir panic attack jika mencoba menyelami perasaannya sendiri.
Rin mengangkat pandangan, menoleh ke belakang begitu mendengar suara langkah kaki mendekat. "Kena—" Gadis itu tak melanjutkan satu kata yang ingin keluar, saat mengetahui bukan Raka yang menghampirinya, tetapi lima anggota inti Deverald—Galang, Alden, Arga, Iqbal dan Regan.
Rin mengernyit samar. Bukannya tadi dia sempat menyuruh Victor—yang merupakan ketua perwakilan Deverald dari kelas 11—untuk meminta Raka menemuinya di rooftops saja? Lagian, teman seangkatannya itu bilang Raka yang ingin bertemu dengannya, bukan teman-temannya.
Melirik ke arah belakang kelimanya, Rin mendapati Victor menghampirinya sambil tersenyum tidak enak. Omong-omong, Rin sedikit kaget saat tahu nama laki-laki ini Victor, soalnya sama dengan nama salah satu anggota inti Zegior. Untung mukanya beda, ye, kan. Kalau sama, waduh, bisa-bisa salah sasaran kalau lagi war.
"Sorry, Kak—"
"Panggil Rin aja. Kita seangkatan, right?" Rin menyela sejenak, karena cukup risi dipanggil 'kak' oleh teman seangkatan yang faktanya seumuran.
"Gak enak aja tadi mau manggil nama."
"Santai aja, gue gak gigit orang. Tadi mau ngomog apa? Kok bukan Raka yang kesini?"
"Emang bukan Raka, Rin. Dia lagi ngurus something sama Arka, terus Yutha juga ikut di SMA Holder." Galang menepuk bahu Victor beberapa kali sambil menoleh pada adik tingkatnya itu. "Gue ada perlu, thank's."
Rin menahan pergelangan tangan kiri Victor yang berniat pergi itu. Tatapannya menuntut penjelasan.
"Sorry, Rin. Gue juga gatau, tadi disuruh sama bang Alden buat nyuruh lo ke basecamp, bang Raka mau ketemu—"
"Kalo gak bawa Raka, lo gak bakal mau nemuin kita." Alden memotong ucapan Victor. Rin spontan menoleh ke arah laki-laki itu yang kini melemparkannya tatapan tajam.
Kalau dipikir-pikir, Raka tidak pernah menyuruhnya untuk menemui laki-laki terlebih dahulu, pasti Raka yang akan menghampirinya. Rin menghela napas pelan. Melirik ke arah Victor, kemudian ia melepas pegangannya pada teman seangkatannya itu.
"Sorry, Rin. Gue bener-bener gatau."
"Iya."
Setelah laki-laki itu menuruni rooftops, Rin melirik sekeliling sekilas. Ia baru menyadari kalau di sini tidak ada siapa-siapa selain dia dan lima anggota inti Devarld ini.
"Alright," ucap Galang seraya menarik kursi tunggal untuk diduduki. Sementara Arga, Iqbal dan Regan bekerjasama menarik kursi panjang agar mereka bisa duduk bersama.
"Kenapa, ya?" tanya Rin berusaha bersikap santai, padahal jantungnya sedang marathon karena tahu dengan pasti apa yang akan di bicarakan.
"To the point aja, ya, Rin. Kita mau bahas soal Ale."
Untuk pertama kalinya Rin melihat ekspresi Galang yang seserius ini. Gadis itu menarik napas panjang sejenak, kemudian mengembuskannya perlahan. Baru ingin bersuara, Alden yang kini menyender pada pagar pembatas itu lebih dulu menyela.
"And then, soal private dinner lo sama Gaara, beberapa minggu lalu."
Rin berdecak pelan. Tatapannya berubah tajam. Ekspresinya ikut berubah menjadi sedatar mungkin. Gadis itu tidak ingin terintimidasi.
__ADS_1
"Satu-satu, ya, Kak."
"Duh, jangan tegang-tegang, dong. Santai aja, kita kan friend, hehe." Arga tertawa pelan mencairkan suasana di sekitarnya.
"Langsung aja. Who is she?" tanya Galang menatap tepat di kedua manik Rin.
"Who?"
"Ale." Regan menjawab cepat.
"Wait, emang kenapa sama Ale? Kemaren Raka juga nanya gitu ke gue. Malamnya Arka suddenly chat gue, nanya soal Ale juga. What's wrong with her?"
Iqbal menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Lo jawab pertanyaan kita dulu, ya, Bu—I mean, Rin, habis itu kita gantian jawab pertanyaan lo. Tapi tolong jujur, Rin."
"Okay."
Galang, Alden, Arga, Iqbal dan Regan saling pandang satu sama lain. Kemudian serempak menatap ke arah Rin.
"First of all, tentang 'temen deket' lo itu." Galang menekankan beberapa kata. "Who is Ale? Please, tell us the truth."
"Best friend."
"Lo tau something soal dia?" tanya Arga penuh makna.
"About what?"
"Gak mau bertele-tele, tapi di Deverald kita punya 'kunci' buat tau identitas seseorang." Galang menarik napas panjang sejenak. "Setelah kita cari tau soal Ale, dia emang seterkenal itu di SMA Holder. That's too bad, satu pun informasi tentang data diri tuh cewek, gak ada di laman atau web pribadi sekolah kalian."
Rin melemparkan tatapan tajam. "Kalian buka web rahasia mereka?"
"So?" Alden mengangkat satu alisnya, menuntut penjelasan.
"Dia sekolah di SMA Holder. Perhaps, karena hilang tiba-tiba tanpa kejelasan, bisa aja masuk black list sekolah."
Alden memicingkan matanya. Dia dan teman-temannya tidak menyebutkan soal Ale yang tiba-tiba hilang.
"Ale gak ke data di semua web SMA Holder." Galang berujar tegas.
"Tunggu," ucap Alden menyelingi. "Like you said, Ale hilang tiba-tiba, kan? Maksudnya gimana?"
Sial. Pertanyaan jebakan.
Rin memutar otaknya dengan cepat. Berusaha keras memikirkan kata-kata yang tepat.
"Dia hilang gitu aja. Gatau kemana."
"Spesifiknya, Rin?" tanya Galang mengambil alih situasi.
"Tanggal lima bulan May kemaren, sehari sebelum pergi, dia emang keliatan capek banget. Dugaan terkuat, karena di-bully tiga tingkatan sekaligus. Gue rasa kalian tau soal ini, I know right?"
"Enggak. Lanjut," ucap Alden dingin.
Rin menghela napas. Kening gadis itu mengerut samar begitu melihat Arga berlari ke sudut rooftops untuk mengambil kursi tunggal, dan menaruhnya di hadapan Rin.
"Duduk aja, Rin. Ntar lo capek lagi."
__ADS_1
Rin tersenyum tipis. Ragu-ragu ia duduk. Mau menolak, tidak tega pada Arga yang sudah capek-capek mengambilkannya kursi.
"Specific." Alden mengingatkan.
"Alright, lima bulan sebelumnya, Ale cerita, dia break sama—" Rin memerhatikan kelima kakak kelasnya sejenak dengan ragu. Menyadari itu, Galang segera berucap, "Sebut aja siapa."
"—Al. Ale bilang berulang kali, 'ini semua jebakan yang bakal bikin kesalahpahaman dan dendam'."
Rin mengalihkan pandangannya ke samping, mengatur napasnya diam-diam agar tetap terlihat tenang.
"Seperti yang kalian tau, Ale jadi salah satu most wanted girl di SMA Holder. Bukan karena prestasinya, tapi karna dia jadi girlfriend salah satu laki-laki paling diincar. Punya banyak teman? Hell, Ale baru tau kalau siswi-siswi yang temenan sama dia cuma karna pengen di-notice Al sama teman-temannya. Lagian, kalau mau di-bully, mereka gak seberani itu buat berhadapan sama Al nantinya. Dari awal juga, semua gak suka sama Ale. Yang berprestasi bakal paling dibenci, sih."
Galang membuka mulutnya, kemudian menutupnya rapat lagi. Dia dapat satu fakta baru.
"Kok kita gatau?" tanya Iqbal dengan polosnya. "Maksud gue, alasan mereka nge-bully Ale."
Rin tersenyum tipis. "Karna bukan kalian yang ngerasain."
"Oh, okay, sorry."
"Ada lagi yang mau di tanyain?" tanya Rin mengangkat sebelah alisnya.
"Lo tau cerita detail kenapa Al sama Ale—"
"Al pergi gitu aja. Ale di-bully habis-habisan selama kurang lebih lima bulan karena udah gak ada lagi yang ngelindungin dia. Ale ikut hilang tiba-tiba bersama sifat cerianya setelah lima bulan itu. Dan gue mutusin pindah di hari seninnya, karena setelah Ale pindah, sasaran bully mereka, gue." Rin menghela napas panjang. "Sebagai teman dekat Ale."
"Oh, gituuu." Arga mengangguk-anggukkan kepalanya dengan lucu beberapa kali.
"Udah gue ringkas. Ngerti, kan, pasti."
Alden menatap Rin sesaat dengan tatapan yang sulit diartikan. Kemudian menghela napas. "Kenapa data Ale gak ada satupun di laman SMA Holder?" tanyanya tajam.
"I don't know. Gue bukan staf TU di sana." Rin menjawabnya dengan datar.
"Okay, soal Ale beres." Iqbal memberikan kode pada teman-temannya, kemudian yang lain hanya menganggukkan kepala.
Regan berdehem pelan. "Soal Gaara. Lo ada hubungan apa sama dia?"
"Raka nyuruh nanya soal ini?" tanya Rin menatap kelimanya skeptis.
"Raka gak ada hubungannya sama ini, Rin. Kita nekat mau nyelesain something biar gak berbelit karna keterlibatan perasaan." Regan berucap sok misterius.
"Btw, Raka terus, ye, Rin," ucap Iqbal sambil tertawa pelan, yang segera disenggol Arga dengan sikunya. "Liat situasi woi."
"Gaara asked me to be his girlfriend, tapi gue tolak." Rin berkata tegas, menyela Iqbal yang sepertinya ingin bersuara menyahuti Arga. "Hubungan? Nothing. Cuma kakel, kenal gue karna Ale sama Al."
Kelima laki-laki berwajah tampan itu terdiam dengan pemikirannya masing-masing. Sampai akhirnya Rin berdiri dari duduknya, dan berucap dengan sangat jelas masuk ke telinga, "Satu lagi. Sebelum pergi, Ale sempet ngasih gue jam tangan sebagai kenangan."
Rin melangkah pergi dari sana, sebelum benar-benar jauh dari pandangan, Galang mengucapkan beberapa kalimat, yang membuat Rin speechless .
"Awalnya kita curiga sama lo karna jam tangan itu. Jadi Raka berusaha nyari tau, dan thank's udah jawab jujur barusan."
Rin menoleh. "What does that mean?" tanyanya memastikan.
"Raka deketin lo cuma buat nyari tau soal Ale." Alden berucap final yang membuat Rin serasa tertohok begitu dalam.
__ADS_1
Ou, really?