JENNIE

JENNIE
49 - I don't Know


__ADS_3

Bukan tentang kalah saing, tapi lebih ke gatau sebenarnya aku kenapa. Tiba-tiba pengen narik perhatian laki-laki itu, lebih dari siapapun. —Rin.


...***...


"... Selanjutnya, saya akan dengan resmi membuka kegiatan maupun lomba-lomba mulai hari ini sampai tiga minggu ke depan, tanpa belajar, dan seluruh siswa-siswi SMA Starlight diharapkan untuk berpartisipasi mengikuti demi memeriahkan ulang tahun sekolah kita."


Sorak sorai seluruh lapangan terdengar, bertepuk tangan tanda antusias. Senyum lebar terpatri di wajah siswa-siswi, tak sabar menantikan.


"Selain itu, saya akan mengenalkan kalian pada seseorang." Pak Jhonson menoleh ke belakang, mempersilakan seorang laki-laki bermata biru dengan kumis dan jenggot tipis—sangat tipis—maju ke samping podium di mana pak Jhonson berpidato. "Nah, beliau ini mr. Achille, orang yang akan membimbing kalian dalam ekskul berkuda, seperti yang tadi diawal saya sudah jelaskan. Namun, beliau ini hanya bisa berbahasa Inggris, karena kalian hampir semuanya menguasai, jadi saya tidak ambil pusing."


Tepuk tangan terdengar dengan riuh, kehebohan terjadi sana-sini, tak lupa beberapa siswi yang memekik lebih keras karena rupawannya guru ekskul baru mereka. Seisi lapangan seketika hening begitu pak Jhonson memberi kode untuk diam. Beliau lantas turun sejenak dari podium, dan mempersilakan mr. Achille untuk naik dan memberi pidato sambutan.


"Well, good morning everyone."


"MORNING, SIR!"


"Wow, thank you for you all attention. Alright, let me introduce myself, my name is Achille Basten, you can call me mr. Achille, I'm from France, and now I live in South Jakarta, Gemilang housing."


Setelahnya mr. Achille menjelaskan secara basic apa itu equestrian sport—tentunya dalam bahasa Inggris. Rin sejak tadi menyimak baik-baik, gadis itu merasa ingin ikut ekskul berkuda saja. Menoleh pada empat temannya, yang kini sibuk bisik-bisik.


"Pelatihnya lumayan, ya, hahah!"


"Audey, please deh, ya," kata Megan malas sambil memutar bola mata.


"Tapi beneran mr. Achille nya cool banget. Umurnya berapa?"


Ruth menoyor kepala Audey dengan pelan. "Inget Galang."


"He is not my boyfriend. Status kita aja masih abu-abu. So, ngelirik yang lain gapapa!"


"Aku denger-denger, sih, umurnya udah 21 tahun," ucap Cellin mengingat-ingat biodata yang diberikan pembina OSIS. "Mr. Achille juga suka Boeuf Bourguignon and Quiche au Fr**omage. Kemarin ada dikasih dikit biodatanya. Jadi, buat di sesuain gitu masakannya selama event birthday party Starlight. Lidah orang luar kan ga terbiasa sama nasi, masakan rempah or somtehing like that yang kita makan biasa."


Audey mengangguk beberapa kali. "Oh, iya, nanti bakal ada dinner seantero sekolah lagi gak Lin kayak tahun kemaren?"


"Ada, di malam puncak birthday Starlight-nya."


"OMG! Gue gak sabar banget pake dress yang waktu itu gue beli!!"


Teringat sesuatu, Audey kembali murung. "Tapi udah gue pake buat nemenin Jessica ke pesta reunian temen SD-nya."


"Ya, gapapa kali Dey," kata Ruth sambil menggelengkan kepala.

__ADS_1


"No. Nanti temenin lagi beli, ya?"


"Kenapa gak pake yang kemaren itu aja?" tanya Rin yang sejak tadi diam menyimak.


"Udah gue pake."


"Ga ada yang tau juga."


"Kan gue mau yang spesial, liat noh si Dinda, dia pake outfit always baru semua. Saingan buat dapetin hati Galang kan dia, kandidat terkuat tau gak, sih kata Jessica buat dipilih Galang daripada gue."


"Dinda anak IPS?" tanya Ruth memastikan.


"Iya! Katanya Galang suka dia."


"Makanya gak usah suka-sukaan. Fokus aja buat ngejar cita-cita lo." Megan kemudian kembali fokus ke depan diikuti teman-temannya.


Di podium, kini pak Jhonson sudah mengambil alih atensi. Setelah mengucapkan beberapa kata, beliau lantas membubarkan barisan.


"Guys, temenin ke lapangan belakang yok. Gue mau daftar equestrian."


"Loh, emang disuruh?" tanya Audey mewakili tiga temannya yang juga terlihat bingung.


"Iya, elah banyak banget omong lo," kata Audey ketus.


"Udah, udah, yok sekarang ke lapangan belakang. Megan sama Cellin mau daftar." Ruth segera angkat suara, menghentikan perdebatan yang pasti akan terjadi jika tidak segera dihalangi.


...*****...


Rin memerhatikan sekelilingnya, gadis itu berdecak kagum dalam hati. Pandangannya kini tertuju pada Megan yang menunggangi seekor kuda berwarna putih dengan posisi duduk miring. Gadis itu membawa kudanya mengelilingi lapangan dengan kelajuan yang cukup cepat.


Lalu tepat di belakang Megan, ada Cellin dengan kaos putih dan celana panjang tak lupa boots tengah memacu kudanya. Rin mengerjap pelan begitu mendapati ternyata Prima juga pandai berkuda. Laki-laki itu melirik Rin, ia tersenyum dengan gagah di atas kuda coklat yang dinaikinya.


"KAK! LOOK AT ME!!"


Rin tertawa pelan. "I see you, Prim!"


Tawa gadis itu luntur seketika saat tahu Teresa juga bisa menaiki kuda. Rin membuang pandang ke arah lain, ia menatap Audey yang nampak tidak minat, lalu melirik Ruth yang sibuk memandangi sekeliling.


Rin menggandeng lengan kedua temannya itu. "Kantin, mau gak?" tanyanya yang mendapat anggukan antusias dari keduanya.


Audey menghentikan sejenak langkahnya. "Megan sama Cellin tapi gimana?"

__ADS_1


"Kita kantin buat beli aja, baru kesini. Di ujung sana, ada kursi tuh," kata Rin seraya kembali melanjutkan langkah.


"Kak!"


Rin menolehkan kepalanya, ada Prima yang berlari pelan menyusulnya. "Kenapa?"


"Gue keren kan tadi, Kak?" tanya Prima dengan tampang menyebalkan.


"Gak."


Prima yang tadinya tersenyum penuh percaya diri itu langsung merengut. "Bilang iya kek, Kak."


"Gak."


"Au, ah. Btw, Kak, temen lo yang pake pake rok itu siapa? Duduk miring gitu tuh," ucapnya seraya menunjuk ke arah Megan.


"Megan."


"Gila! Tuh temen Kak Rin dapat privillage dari mr. Achille gara-gara bikin beliau terpukau. Mau tau apa privillage-nya?"


"Apa?" tanya Rin, sedikit penasaran.


"Kuda putih yang sekarang dia naikin, 100% jadi hak milik dia selama masih sekolah di sini!!"


"Interesting." Rin memerhatikan Megan dengan pandangan yang sulit diartikan, kemudian menoleh pada Prima. "Mau ajarin gue biar bisa berkuda gak?"


"Hah?"


Rin kembali melirik ke arah Megan, tapi atensinya seketika teralih pada Teresa yang kini dihampiri tujuh inti Deverald dan dua orang perempuan yang masing-masing bersalaman dengan gadis itu. Rin menajamkan tatapannya. Awalnya gadis itu ingin bisa berkuda seperti Megan, tapi kini niatnya berganti.


Rin kembali menoleh pada Prima. "Ajarin gue berkuda, ya?"


"Eh, gue gak bisa, Kak. Daftar aja dulu ke pak Gerald, dia yang ngurus pendaftaran, baru nanti diajarin mr. Achille."


Rin menggeleng pelan. "Basic-nya aja, please?"


"O—oke," ucap Prima seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tidak enak jika menolak, Rin bahkan sampai berkata please.


"Wait, lo mau ikut ekskul kuda?" tanya Audey mengernyit.


"Iya."

__ADS_1


__ADS_2