
Hadirnya pelan-pelan membawa penerangan agar aku bisa menemukan cahaya. —Rin.
...***...
"Aku duluan, ya, ada rapat OSIS buat urus birthday school-nya." Cellin segera melangkah keluar ketika selesai mengucapkan kalimat tersebut, membuat empat temannya hanya mengangguk.
Cellin memang sekarang lagi sibuk-sibuknya, mulai hari selasa kemarin. Soalnya, acara pembukaan birthday Starlight-nya sudah dibuka mulai hari Jumat nanti.
"Guys, denger-denger dari Jessica, katanya bakal ada camping, loh!" Audey berucap dengan antusias, memulai percakapan sambil berjalan keluar menuju kantin.
"Seriously? Di mana?" tanya Ruth yang entah kenapa terlihat sedikit exicited.
"Hutan Forest."
"Berapa hari rencananya?"
"Gatau, ya. Jessica bilang tadi, sih, masih mau dibahas. Btw, kalian bertiga diem-diem aja, Jessica cuma ngasih tau circle-nya sama gue doang. Gamau buat keributan. So, tolong kerjasamanya."
Ruth mendengkus. "Ngapain juga bagi-bagi ke orang lain? Buang-buang energi."
"Iya, iya, Ruth." Audey memutar matanya malas. "Tapi kalo beneran, kalian ikut gak nih?"
"Lo sendiri?"
"Gue, sih ikut aja kalo ada temen. Misal kalian gak ikut, gue tetep ikut, ada Jessica. Jadi, fix ikut, sih, kalo gada halangan ntar. Lo?"
"Ikut, nyari pengalaman. Diem-diem jalan keliling hutan seru kayaknya," kata Ruth yang mendapat decakan dari Audey. "Lo tuh aneh-aneh, ngapain ngelilingin hutan?"
"Nyari semangat hidup, ya, Ruth?" tanya Megan sembari menyimpan ponselnya di mini slingbag berwarna pink baby yang selalu ia bawa kemana-mana itu.
"Iya, Meg. Gue depresi banget temenan sama Audey."
"Damn, kenapa gara-gara gue woi?!"
"Ngaca. Liat tingkah lo baik-baik," sahut Ruth malas.
Audey yang baru saja ingin berucap, tapi urung begitu panggilan dari arah belakang menyeru lebih dulu. "Mau bareng, Rin?"
Rin menoleh, mendapati Raka bersama enam temannya berjalan mendekat. Gadis itu menggeleng pelan. Masih kesal soal kemarin malam, di mana keluarga Raka mengira dia pacar laki-laki itu. Sialnya, Raka hanya mengangguk saja seolah menyetujui.
"Tajam banget matanya, Rin."
Audey memicingkan matanya curiga. "Kalian deket lagi?"
"Gak." Rin berkata cuek, kemudian kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda.
"Udah baikan, Dey."
"Gak."
Audey menahan senyumnya. Gadis itu melirik Ruth yang wajahnya kesal bukan main karena ditanya-tanya perihal tidak jelas oleh Iqbal. Audey akhirnya menyemburkan tawa.
__ADS_1
"Seriusan weh?" tanyanya pada Rin dan Raka, menatap mereka bergantian. "Yang bener yang mana? Baikan apa enggak?"
"Baikan."
"Gak."
Raka menghela napas pelan. Laki-laki itu tiba-tiba tersenyum menyebalkan. Ia menoleh pada Audey, lantas berkata, "Udah baikan, Dey. Kemarin ajx gue ajak dia dinner sama keluarga gue."
Setelah berucap seperti itu, Raka segera berlari pelan menjauhi Rin yang melotot kaget mendengar ucapannya. Tidak lama, enam teman Raka berlari menyusul sambil tertawa tidak jelas, sesekali menoleh ke arah Rin.
Ah, sialan!
Rin mengernyit, menyadari hawa di sekitarnya berubah, gadis itu dengan kaku menoleh ke arah tiga temannya. Ada Audey yang mendelik seperti ingin keluar biji matanya, lalu ada Ruth yang ternganga dengan kening mengernyit, kebingungan sendiri. Last, Rin melirik ke arah Megan, gadis itu menatapnya datar.
"Formal tingkat apa?"
"Gatau juga, intinya sama orang penting."
Orang penting. Garis bawahi.
ORANG PENTING.
Damn it, mampus gue!!
Baru ingin berucap, Audey lebih dulu angkat suara. "Jelasin, Rin. Lo ada hubungan apa sama kak Raka? Jangan bilang gak ada. Lo aja sampe dinner bareng keluarganya kak Raka."
"Di kantin aja weh, sambil makan." Megan memberi saran, gadis itu kemudian melangkah lebih dulu.
Di sepanjang jalan, Megan tak henti-hentinya bergumam 'orang penting'. Untungnya yang berjalan di sebelah Megan itu Rin, jadi hanya dia yang bisa mendengarnya.
"Gak usah Rin, gue iseng aja, haha. Gak bakal gue kasih tau yang lain, kok. Gak usah jelasin, kecuali emang lo mau jelasin bukan karena buat nyuruh nutup mulut."
Rin termenung. Memandang wajah Megan yang fokus ke depan, ketika gadis itu menoleh padanya, Rin menampilkan senyum tulus. "Makasih, Megan," ucapnya tanpa suara.
Megan balas tersenyum. "Sama-sama." Gadis itu membalasnya dengan tanpa suara juga.
...*****...
"Jadi Raka ngancem kalo dia bakal bunuh diri?" tanya Ruth dengan kening berkerut. "Tuh cowok gila apa gimana?"
"Seriusan? Kayak, Kak Raka masa gitu, sih?" Audey terlihat sangat shock mendengar penjelasan Rin soal alasan kenapa dia menerima tawaran dinner Raka yang tentu saja hanya bualan.
"Lo pake baju apa terus?"
"Tidur."
Audey mendelik. "Gila ya lo?! Rin? Oh my gosh, how come, Rin??"
"Gue bukan mau ketemu sama—"
"Orang penting." Megan menyela sejenak kemudian lanjut menyalakan kembali music video Bangtan, Mic Drop.
__ADS_1
Rin berusaha bersikap biasa saja. "Iya itu."
Audey menghela napas panjang. Benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran Rin.
"Beneran pake baju tidur?" tanya Ruth, terlihat ragu-ragu.
"Iya. Buat apa formal-formal."
Buset, lain di mulut lain faktanya.
"Tau ah, Rin, gue yang malu anjir."
Ruth mengangguk setuju. "Gue jadi lo, gue mending biarin aja, bodo amat ama hidupnya. Gak jelas banget."
"Heh, lo tuh gabole gitu." Audey menyenggol pelan lengan Ruth, memperingatkan. Gadis itu kemudian menatap ketiga temannya bergantian. "Btw, kak Raka kayaknya kena mental gitu gak, sih gara-gara ditolak mulu sama Rin? I mean, keberadaannya diaggap gak penting. Duh, kasihan banget, gantengnya gak ngotak padahal, sayang banget."
Rin mengernyit. "Hak gue."
"Ya, jangan gitu juga lah. Lain kali dia ngomong apa, dengerin, ya, Rin biar kak Raka gak makin parah."
Megan menyemburkan tawanya. "Pabo."
"Meg, lo ngetawain apa?" tanya Audey dengan mata memicing. "Kak Raka, ya?"
Megan mendongak. "Whut?"
"Dia sama dunianya." Ruth mengibas tangannya pada Megan, menyuruh gadis itu kembali ke aktivitas awalnya.
"Rin—"
"Stop bahas Raka."
Audey merengut. "Tapi gue gak tega."
Rin menghela napas panjang. Niat hati ingin menjelekkan Raka dan membuat Audey ilfeel, eh malah jadi kasihan, dibahas terus lagi. Damn it.
"Biarin aja, lagian ancamannya si Raka juga paling cuma nakut-nakutin Rin." Ruth menoleh pada Rin. "Lo ternyata anaknya panikan, ya."
"Alright, alright, but please stop talking about this, yeah?"
"Seriusan kak Raka niatnya cuma boongan?"
Rin menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Gadis itu tersenyum tipis. "Iya."
"Singkatnya gini, Raka cuma ngancem biasa, gak bener-bener mau ngelakuin itu, tapi Rin yang panikan, otomatis menyetujui ikut ajakan dinner bareng keluarga Raka. Paham?
"Hehe, iya, paham Ruth. Abisan, gue juga sakit hati kalo Raka jadi stres gara-gara Rin."
"Gak, lah."
"Tapi Raka beneran gapapa, kan?"
__ADS_1
Ruth berdecak malas. "Iyaaaaaa," ucapnya gregetan.
Rin menghela napas lelah entah untuk ke berapa kali. Gue capek banget, damn. Thank's to you, Ruth, kalo gak lo jelasin gitu, Audey pasti bahas Raka terus. Nambah bikin kesel denger nama Raka gue, sial.