JENNIE

JENNIE
52 - Basketball


__ADS_3

Sikapnya yang selalu cuek, lalu tiba-tiba sedikit lebih perhatian dari biasanya, tentu membuat diri merasa kebingungan. —Raka.


...***...


"Hurry up, guys! They will start soon!" pekik Audey di depan pintu dengan heboh. Keempat temannya segera menyusul agar Audey tak menciptakan keributan lebih lagi dari ini.


Kelima gadis cantik sang primadona Starlight highschool itu pun melangkah beriringan, melewati kelas demi kelas yang kini kosong, jika ada orang, pasti hanya satu atau dua, si kutu buku atau anak ambis. Kebanyakan—perhaps, hampir seluruh siswa-siswi SMA ini—sedang berada di lapangan basket outdoor menyaksikan berlangsungnya pertandingan antara tim 12 IPS 2 yang diketuai Raka, dan 12 IPA 1 yang diketuai Baron.


Hari ini adalah pertandingan awal basketball, yang dibuka dengan dua tim dari dua kelas paling terkenal seantero sekolah. Namun, tetap saja, pendukung Raka—12 IPS 2—jauh lebih banyak dari tim Baron.


Antusias seluruh siswa-siswi yang kini bersorak heboh di luar garis lingkar lapangan membuat Raka yang masih bersiap-siap di salah satu side lapangan itu tersenyum dengan penuh pesona, menarik para siswi jatuh dalam pesonanya makin dalam, menggetarkan hati hingga detak jantung yang menggila.


Keriuhan pun tak terelakkan. Kedatangan Rin dan empat sahabatnya disambut dengan pekikan. Audey menarik lengan Rin dan Cellin menuju baris terdepan, berdesakkan tidak mau kalah. Ruth menyusul dengan sedikit kesusahan. Sementara Megan memutuskan untuk pergi ke ruang music di mana teman-teman ARMY-nya berada.


Kini Rin, Audey, Ruth dan Cellin berdiri paling depan, bersiap menyaksikan pertandingan seru yang tak lama lagi akan dimulai. Rin beberapa kali curi-curi pandang ke arah Raka. Laki-laki itu terlihat—ehm—cool dengan kaos putih tanpa lengan, pasangan celana pendek berwarna serasi, serta white sneakers. Ikat kepala hitam-putih menambah tingkat ketampanan Raka jadi berkali-kali lipat.


Ketika laki-laki itu melangkah maju melewati garis, memasuki area lapangan pertandingan, smirk mautnya terbit, berjalan dengan penuh kharisma hingga sampai di hadapan Baron. Raka mengangkat wajahnya tinggi penuh kepercayaan diri, dengan sorot intimidasi terkhusus untuk Jake.


"Yo." Raka menyapa, dengan kedua alis sengaja dipermainkan sekali.


"Raka." Jake balas menyapa.


Seorang laki-laki dengan pakaian khas seorang wasit melangkah ke tengah-tengah antara Raka dan Jake. Hingga ketiganya kini berada di dalam lingkaran yang berada di tengah lapangan. Sang wasit menoleh bergantian pada ketua dua regu di sampingnya, mendapat anggukan dari keduanya ia lantas melemparkan bola ke atas, melakukan jumpball yang segera Raka dan Jake melompat sementara wasit menjauh dari lingakaran.


Raka berhasil mendapatkan bolanya. Permainan pun dimulai. Babak atau kuarter pertama pun dimulai, lengkap dengan sorak-sorai penonton.


Di tengah keriuhan itu, Rin memerhatikan teman-temannya, menyadari Megan tidak bersama mereka berempat, Rin segera menoleh pada Ruth. "Where's Megan?" tanyanya berbisik.


"Kayaknya sama temen ARMY-nya, gue gatau juga. Sebelum nyusul kalian bertiga ke depan, Megan ngejauh gitu dari area lapangan."


Rin menganggukkan kepalanya beberapa kali, kemudian gadis itu kembali fokus pada pertandingan. Beberapa saat berlalu, dengan babak pertama yang dimenangkan oleh tim Raka.


Rin memerhatikan laki-laki itu dengan seksama, setiap langkahnya menuju salah satu side lapangan, entah kenapa membuat debar jantungnya menggila tidak terkontrol. Bahkan ketika Raka meneguk mineral water sekalipun, berhasil membuat Rin nge-blush tanpa alasan jelas.


"Sialan," gumam Rin sambil menunduk memerhatikan ankle boots-nya. Lengan kiri gadis itu disenggol pelan oleh Audey, membuatnya mengangkat pandangan. "Kenapa?"


"Raka merhatiin ke arah lo dong!" seru Audey sambil berbinar menatapnya, tak lupa senyum sumringah kebahagiaan.


Rin hanya mengedikkan bahu tak acuh, meski dalam hati memekik kebingungan karena takut salting. Di tengah dirinya yang sok pura-pura bodo amat, seorang perempuan di belakangnya berteriak nyaring memekakkan sambil mendorong Rin hingga termaju beberapa langkah ke depan. Gadis itu melirik tajam ke arah perempuan berbando merah polkadot yang masih saja teriak-teriak.


"OMG, KAK RAKA NGELIAT KE ARAH GUE!!!"


"WOI KAK RAKA NGELIAT GUE!!"

__ADS_1


"GILA, SIH, KAK RAKAAAA!!!"


Audey yang juga sama jengahnya seperti Rin mendoring gadis itu ke belakang—tempatnya berdiri diawal, dan Rin kembali berjalan beberapa langkah ke samping Audey. "Padahal kak Raka ngeliatin lo, nih cewek pede banget."


"Girl, tukar tempat boleh? Raka mau ngeliat gue, loh, lo ngalangin pandangan dia dari gue," ucap perempuan tadi. Rin menghiraukan itu.


Apaan, sih.


"Please, ya, minggir dikit, dong. Lo ngalangin pandangan Raka dari gue!" ucapnya tak santai.


"Lo apaan, sih? Norak banget kelakuan." Audey melirik sengit ke arah perempuan yang ia duga adik kelasnya itu.


"Dih, gue gak ada urusan sama lo." Gadis dengan nametag Dinda Ayu Saputri itu kembali menoleh pada Rin. "Lo tuli, ya?"


"Dih, mulut lo. Yang di liatin kak Raka itu temen gue, bukan lo!"


"Siapa? Nih cewek?" tanyanya menunjuk Rin dengan dagu. Kemudian tertawa remeh. "Biasa aja anjir dia, ngayalnya kebangetan. Lagian, udah jelas banget kak Raka ngeliat gue."


"Minimal cantik, sih," kata Ruth sambil mengedikkan bahu tak acuh.


Audey yang mendengar itu menyemburkan tawanya. "Denger gak lo?" tanyanya melirik dari atas sampai bawah gadis dengan long curls berwarna hitam kecoklatan itu.


"Kalo mau ngomong gitu, seenggaknya diakui cantik sama beberapa siswi lain, sih, ya." Dinda kemudian menoleh pada Ruth. "Minimal punya kaca, Kak."


"Enough." Rin bersuara dengan dingin. Matanya melirik tajam ke arah Dinda, membuat adik kelasnya itu mendengkus dan mengalah untuk tetap berdiri di belakang Rin.


Pertandingan selama kurang lebih sembilan puluh menit berakhir, dengan tim 12 IPS 2 yang memenangkan babak akhir. Seluruh penonton berteriak puas, merasa lega dan senang karena Raka bersama timnya akan kembali bertanding minggu depan.


...*****...


Rin melangkah perlahan ke arah kursi taman yang kini kumpulan laki-laki asik bercerita di sana. Gadis itu menggenggam kuat botol mineral di tangannya guna menghilangkan rasa gugup.


"Excuse me," kata Rin tersenyum tipis, menghentikan Iqbal yang baru saja ingin angkat suara untuk menyahuti perkataan Arga.


Raka yang tadinya sibuk bermain ponsel, segera menegapkan tubuhnya, memfokuskan diri pada Rin. "Kenapa?" tanyanya mengangkat kedua alis.


Sial, ganteng banget!


"Bukan hal penting."


Raka mengerutkan kening. Baru ingin berucap, Iqbal lebih dulu angkat suara. "Gapapa Rin, ngomong aja. Raka mah, mau lo ngitungin air jumlahnya ada berapa, tetep bakal ditungguin abis itu bilang, seru banget! Trust me, Rin."


"Jangankan ngitung air, mau lo cerita kalo lo bisa kayang di atas air juga, Raka bakal nanggepin heboh!" Arga menambahkan.

__ADS_1


"Satu lagi! Satu lagi!" Regan mengangkat tangannya membuat seluruh atensi teralih padanya. "Lo mau nyebrangi atlantis sambil berenang juga, Raka bakal turutin!"


Kelima teman Raka tertawa keras sementara Alden hanya menerbitkan senyum tipis, pertanda itu benar adanya. Raka sendiri mendengkus malas. Laki-laki itu kembali menatap Rin yang hanya tersenyum canggung tidak nyaman.


"Abaikan aja. Mereka emang agak miring." Raka melirik sekilas teman-temannya dengan tajam. Kemudian menoleh pada Rin, sambil bertanya dengan suara serak rendahnya yang candu didengar. "Mau bilang apa tadi?"


"Buset, lembut amat nanyanya," sindir Arga memegangi dadanya penuh drama.


"Hu'um, saking lembutnya, gue ampe kecekik gajah dengernya!" tambah Iqbal nge-reog.


Tidak ingin ketinggalan, Regan turut berkata, "Gabisa, gabisa, ini terlalu uwu!" Laki-laki itu kemudian bertingkah aneh. "Jadi Madara dulu!"


"Anjir," ceplos Galang tertawa ngakak di kursinya.


"Lo pada diem njir," kata Raka menginterupsi dengan kesal.


"Bukan apa-apa. Gue cuma mau ngasih ini," ucap Rin seraya menyodorkan botol mineral yang tadi digenggamnya.


Raka tidak langsung mengambil, laki-laki itu memerhatikan dengan lekat. "Buat gue?"


"IYA LAH BAMBANG!" seru Galang, Arga, Regan, Iqbal dan Arka bersamaan karena Raka malah celingak-celinguk kebingungan.


Raka mengambil botol tersebut dengan canggung. "Tumben?"


"Gak usah besar kepala. Itu ucapan maaf karna nolak ajakan lo kemaren. Lain kali tinggal ambil, gak usah pake drama ngambilnya. Misi." Rin kemudian meninggalkan Raka dan enak temannya.


Arga, Iqbal, dan Regan menahan tawanya. Arka dan Galang berpandangan penuh makna. Alden sendiri tersenyum tipis. Sementara Raka, laki-laki itu mendadak blank, tak bisa memikirkan apa-apa.


Galang menepuk bahu Raka beberapa kali. "Kata kuncinya, 'lain kali'. Lo paham, kan?"


Raka menggeleng pelan. Iqbal mendengkus. "Lo napa jadi lemot Rak?"


"Diem lo." Raka kemudian menoleh pada Galang yang menatapnya tak semangat. "Gak usah kode-kodean anjir, langsung ngomong aja. What does that mean?"


"Artinya dia ada rencana mau ngasih lo minum."


"Bukan lo yang berhasil bikin Rin tertarik Rak, tapi lo yang terjerat pesona dia. Ampe lemot gini," ucap Arka menggelengkan kepalanya beberapa kali.


Raka mendengkus malas. "Gak ada anjir. Kaget aja, tiba-tiba ngasih gue minum."


"Lo lebay amat, Rak. Biasa kan dapet dari ciwi-ciwi," kata Galang mengerutkan kening.


"Gue jadi ragu lo bisa selesain misinya atau enggak." Iqbal memasang wajah sok serius membuat Raka menoyor kepala laki-laki itu kesal.

__ADS_1


"Lo ngomong sekali lagi, Bal, gue tenggelamin juga ke pasir."


"Sial!"


__ADS_2