JENNIE

JENNIE
08 - Stalk


__ADS_3

Dia berbeda—dan mengenalnya juga harus dengan cara yang tidak biasa. Maka untuk seseorang yang spesial, cara mendekatinya harus berkelas. —Raka.


...*****...


"Ar, Bal," panggil Raka pada Arga dan Iqbal yang baru saja tiba di basecamp belakang sekolah. Kedua laki-laki itu mendekat dengan kerutan samar di dahi.


"Kenapa Rak?" tanya Arga menarik asal kursi didekatnya.


"Udah kalian cari tau?" tanya Raka memastikan, cowok itu melepas tiga kancing jas sekolahnya, memperlihatkan kaos hitam polos yang mencetak tubuhnya dengan sempurna.


Jangan tanya seragam berkerah warna putihnya ada di mana. Tentu saja, di dalam tas laki-laki itu.


"Udah, kemaren gue cek semua hal tentang tuh cewek. Dannnnnnnnnnn ... dia cuma anak biasa aja di sana. Gak ada hubungan apa-apa sama Alvaska atau apapun itu," jelas Iqbal sambil membuka bungkus permen dari Regan.


Arga menambahi, "Oh iya, Rin terkenal di SMA Holder cuma karena dia nyetak prestasi dalam berbagai olimpiade. Selalu juara satu, tanpa pernah dibalap atau dilangkahi siapa pun dari tiga angkatan sekaligus. Perlu lo tau, nilainya pas kenaikan kelas, tertinggi pertama dari semua sekolah di Jakarta."


Ucapan Arga barusan membuat empat orang di ruangan itu berdecak kagum. Raka menaikkan sebelah alisnya. Sepintar itu?


Alden mendekat pada ketiganya ketika dirasa obrolan mereka penting dan masih wajar bagi seluruh inti untuk mendengarnya.


"Mungkin itu alasan Starlight langsung nerima."


"Bener juga njir. Biasanya kan Starlight anti sama anak pindahan, lah ini langsung dikasih izin buat masuk aja," kata Galang sambil berlari kecil menghampiri yang lain, bersama Regan dan Arka yang tertawa cekikikan di belakangnya.


Entah apa yang mereka tertawakan.


"Emang bener-bener sekolah kita nih sekolah elite! Gak salah masuk gue, isinya anak-anak pinter semua," kata Iqbal memegang dadanya penuh drama.


"Alay njir," ucap Arga sewot.


"Nah loh, lagian yang pinter bukan lo, dasar numpang nama!" ketus Regan.


"Bodoamat wle!" Iqbal menjulingkan matanya sambil menjulurkan lidah. "Yang penting kalo mama gue cerita sama temen arisannya, ada rasa bangga karena anaknya masuk sekolah elite!!"


"Najong lo. Udah jelek makin jelek aja," sungut Arka melirik Iqbal dengan jijik.


Arga tertawa di kursinya. "Mulut lo tajem bener Ka. Ketularan Alden kayaknya nih bocah boboiboy."


"Anjir bocah boboiboy! Gak banget elah selera lo Ka," kata Galang sambil menoyor kepala Arka dengan kuat kemudian berlari menjauh dari jangkauan laki-laki itu sambil tertawa cekikikan.


"Tai. Cekikikan di datengin loh entar malem Lang. Hiiiii!" Arka menakut-nakuti.


"Woylah anjir, random banget dah. Tadi bahas apa, sekarang merembet ke sana!" kata Arga mengerutkan alis. "Niat gak lo pada bahas ini? Kena tampol Raka, gue ketawa paling kenceng. Ntar sambil lari-lari ke Korea muterin gedung Bighit bareng Megan! Hahahahahaha!!" Laki-laki itu kemudian tertawa ngakak di kursinya.


Ketawa sendirian.


Teman-temannya yang lain cuma merhatiin dia. Agak iba tapi nih si Arga emang aneh banget heran.


"Lo juga random banget bego!" kata Arka dan Galang bersamaan.


"Goblok boleh, tapi jangan," ucap Iqbal yang langsung mendapat toyoran dari Galang. "Gak nyambung lo!"


Alden yang sudah muak dengan semuanya, melirik ke arah Raka yang terlihat malas menanggapi anggota inti ini. "Rak," panggil Alden pelan membuat Raka menoleh padanya. "Kenapa Den?"


"Lanjut bahas tadi."


"Eh iya, aduh lupa gue kita lagi bahas Rin hehehe." Iqbal menyengir dengan wajah tanpa dosa. Penyebab yang lain ganti pembahasan kan dia!


"Jadi gimana Rak? Mungkin aja jam tangannya ada banyak model begitu. Toh sekarang ke bukti ada dua," kata Galang bertanya dan menjawab sendiri. Laki-laki itu merogoh tasnya dan menyerahkan jam hitam bertuliskan A rait di bagian atas, seakan menegaskan itu adalah merk-nya.


"Emang ada jam tangan merk A?" tanya Raka membuat yang lain bungkam.


"Punyanya Rin ... ada tulisan huruf A juga apa dari brand lain?" tanya Arga setelah tercipta keheningan beberapa sekon. Raka mengedikkan bahunya tak acuh.


"Gak ada, eh tapi gatau juga. Abu-abu masih sekarang kita," sahut Regan yang berdiri di sebelah Arga.


"Jadi gimana dong?" tanya Iqbal dengan wajah cengo.


"Ya gak gimana-gimana!" ucap Galang, Regan, Arka dan Arga bersamaan dengan kesal.


"Anjir samaan."


"Udah, udah. Langkah selanjutnya, ada di tangan lo Rak. Kita udah ngasi sedikit info karena emang cuma segitu yang kita dapat," kata Arga serius.


"Jam tangan merk A," tambah Alden yang sejak tadi diam.


Raka mengangguk paham. "Gue lagi mikir cara lain. Tenang aja."


...*****...


"Woi Meg, nugas gak lo! Enak aja di UKS gak ngapa-ngapain."


Megan yang tadinya sibuk streaming itu mengangkat wajahnya. Mengernyit samar ketika mendapati Angel anak IPS 2 berada di kelasnya sambil marah-marah tidak jelas.


"Tugas apaan?" tanya Megan menyender di kursi.


"Bagiin tablet tambah darah. Gue gak mau tau, ya. Enak aja numpang nama," kata Angel ketus.


"Bacot banget dah lo, berasa paling iye aja jadi orang," celetuk Audey sambil memutar matanya malas.


Angel berdecak pelan. "Gak usah ikut campur lo. Sebagai calon kandidat ketua U—"


"Gue bagiin kelas berapa?" tanya Megan sambil bangkit dari duduknya. Gadis itu tidak mau tercipta keributan yang terkesan sangat drama jika debat dengan Angel.

__ADS_1


"Dua belas. Lo ajak Rin juga. Gak usah semena-mena. Kalian cuma menang tampang bukan pres—"


"Mana tabletnya?" tanya Rin dingin. Wajahnya sedatar tembok menatap penuh kerendahan yang ditujukan untuk Angel, membuat gadis itu mendadak hilang keberanian, menciut.


Rin bangkit dan menyusul Megan yang menyender di papan tulis, menunggu Angel memberikan tablet berwarna merah. Gadis dengan rambut sebahu lebih dengan wajah memerah di pipi secara alami itu buru-buru memberikan kotak p3k pada Rin.


Rin hanya diam. Tidak berniat mengambilnya. Angel yang semula ciut jadi merasa jengkel karena Rin seakan mempermainkan dirinya.


"Ambil nih. Lo ngapa—"


"Taro aja." Rin melirik meja di depannya yang jadi penghalang dia dengan Angel. "Gak bawa hand sanitizer."


Wajah Angel merah padam. Tanpa banyak bicara gadis itu keluar dari kelas IPA 1 dengan suara sorak-sorai meremehkan terdengar.


"Gila lo. Baru anak baru udah belagu," sinis Suci sambil berlalu dari sana, menyusul sang sahabat.


"Gila, gila, lo tuh sakit jiwa! Sarap!" kata Audey dari jendela ketika Angel dan Suci melewati.


Megan menghela napas lalu mengeluarkan botol berisikan cairan pembersih dari saku seragamnya. Menyemprotkannya ke tangannya sendiri, lalu tangan Rin dan juga kotak p3k-nya.


"Udah, yuk, ke lantai tiga," ajak Megan sambil menggandeng lengan Rin, dan satu tangannya yang lain menjinting p3k mini tersebut.


"Guys, mau jalanin misi dulu. Jangan kangen yaaaaaa, byee!!"


Audey merotasikan matanya. "Apaan dih."


...*****...


"Padahal tadi niatnya pas jamkos mau nonton run-nya Bangtan. Si Angel napa ngerepotin, sih jadi orang! Calon aja bangga," gerutu Megan sambil mencebikkan bibir tak suka. Rin yang sejak tadi sudah mendengar gerutuan Megan memilih tidak menanggapi apa-apa, hanya mendengarkan dengan seksama, sesekali mengangguk ketika keduanya se-pemikiran.


Kedua gadis cantik itu kini tinggal membagikan tablet tambah darah untuk kakak kelas mereka di kelas 12 IPS 1, 2, 3 dan 4. Keempat kelas itu sama-sama agak jauh karena melewati belokan yang bisa dibilang cukup memakan waktu. Walaupun satu lantai, tapi tetap ada pembeda antara IPA dan IPS, selain hanya dari nama kelas yang tertera di pintu.


Ketika hampir sampai di kelas 12 IPS 1, samar-samar telinga Rin dan Megan mendengar suara gaduh luar biasa dari kelas di sebelahnya, IPS 2. "Astaga ribut banget," gumam Megan sebelum akhirnya ia dan Rin berbelok di kelas IPS 1.


...*****...


"Ebuset panas banget njir! Mentang-mentang kita kelas IPS, ac mati gak dibeliin baru!" dumel Iqbal sambil mengipas dirinya dengan buku tulis kuat-kuat.


Arga yang duduk di sebelah Iqbal menoleh. Dahinya berkerut samar. "Woi Bal, lo kan inti Deverald, kenapa gak minjem kipas ke anak cewek? Pasti mau lah kalau pun muka lo gak seganteng gue," katanya pede.


"Anjir iya juga. Thank's infonya bro! Eitsss, tapi gue gak terima ya, bisa-bisanya lo lebih ganteng!" Iqbal kemudian berdiri mendekati salah satu perempuan di kelasnya, setelah memberikan jari tengah pada Arga.


Laki-laki bermanik biru itu hanya tersenyum miring. "Kasian gue sama lo. Gak sadar diri."


Galang dan Regan yang duduk di belakang kedua laki-laki pecicilan tadi itu hanya menggeleng pelan melihat tingkah keduanya. "Apaan, orang gantengan gue juga, masih aja ngaku-ngaku tuh dua bocah," gumam Regan dengan malas.


Galang yang tidak sengaja mendengarnya terkekeh sinis. "Ganteng kalo lo berada di antara sekumpulan monyet."


"Enak aja!" balas Regan tidak terima.


"Berisik!"


Itu suara Raka.


Dingin, tapi candu—bagi perempuan.


Galang memberi peace, sementara Regan menyengir, membuat Raka mendengkus. Laki-laki itu kemudian kembali sibuk memainkan ponselnya. Di sebelah Raka ada Alden yang kini menelungkupkan kepalanya di lipatan tangan.


Ngapain? Tidurlah. Ya kali kayang.


Jangan tanya Arka duduk di mana, cowok itu duduk bersama Diva—salah satu primadona-nya SMA Starlight di angkatan mereka. Keduanya duduk di meja depan Arga dan Iqbal.


Dari meja yang berada di ujung sana, sorang gadis cantik mendekati meja Raka. Seulas senyum memesonanya mampu membuat Galang, Regan, maupun Arka curi-curi pandang. Bahkan menjerat para laki-laki di kelas itu dengan pesonanya yang kuat.


Arga hanya melirik gadis itu sekilas lalu menopang dagu memerhatikan pintu, melakukan rutinitasnya di setiap hari saat di kelas. Menunggu Megan, berharap gadis itu datang ke kelasnya.


Sementara Iqbal yang di tangannya sudah ada kipas angin mini itu bersiul menggoda. Disusul siulan Regan dan Galang.


"Alden, gue mau duduk sini. Pindah bentar boleh?" ucap gadis dengan bando kain berwarna hitam-putih volkadot itu sambil menyengir tidak enak.


Alden yang tidak beneran tidur itu hanya diam tidak menyahut, lalu dengan malas bangkit dari kursi dan duduk di kursi seberangnya yang kosong. Kemudian menelungkupkan lagi kepalanya di atas meja.


"Kenapa Res?" tanya Raka meletakkan ponsel, dan memberi seluruh perhatiannya pada gadis di sebelahnya.


Teresa menggeleng pelan. Melihat raut tidak enak sendiri gadis itu, membuat Raka tersenyum lembut. "Ngomong aja. Gue gak gigit."


"Hehe. Emm, nanti kamu pulang sama siapa?"


Melihat Raka yang terlihat berpikir keras, membuat teman-temannya bersorak.


"YA KALI GAK PEKA RAK!" sungut Iqbal sambil memukul meja dengan gregetan.


"Andai lo Iqbal, gue ceburin ke kolam buaya, biar ngerti caranya jadi buaya," gumam Arka lalu memilih menghadap pada Diva, teman kecilnya.


"Anjir," ceplos Galang sambil tertawa ngakak.


Iqbal mendengkus. "Yang buaya kan si Galang, napa jadi gue yang dibawa-bawa?!" ucapnya tidak terima.


"Ya karena lo bukan buaya melainkan nak dugong, makanya kalo si Raka itu lo, lo bakal diceburin ke buaya, biar jadi buaya!" kata Arga greget pengen cubit ginjal Iqbal biar laki-laki itu tidak terlalu cengo. Asli, tuh muka pengen banget Arga tampol.


Iqbal sendiri kebingungan, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Lo ngomong apa, sih Ar?"


"ANJIIR AHAHAHAHAH!! GUE PAHAM ARGA NGOMONG APA!!" pekik Regan dengan bangga setelah sebelumnya berpikir keras.

__ADS_1


"Apaan emang?" tanya Galang.


"Intinya, si Iqbal jadi siluman buaya ijo!" tawa Regan menggelegar memenuhi setiap sudut ruangan.


"Buto ijo aja deh, biar jadi buto." Semua memerhatikan Galang dengan satu tatapan dengan makna yang sama, gila ni orang.


Bahkan Regan yang tadinya tertawa lepas langsung terdiam. Ngebug.


"Gak nyambung goblok!" umpat Arga, Iqbal, dan Arka bersamaan.


Arga kemudian menatap Regan yang cekikikan tidak jelas, mengolok Galang. "Lo juga gak nyambung! Mana ada siluman buaya ijo, gue gak ada ngomong gitu!!" kata Arga kesal.


"Tapi nyerempet sama kan artinya?" Regan menaik-turunkan alisnya. Laki-laki itu melirik Galang. "Daripada dia, kepleset ke jurang. Gak nyambung samsek. Dasar otak shirp lo Lang!"


"Lah ijo kan buto ijo." Galang membela diri.


Arka berdecak kesal. "Bodoh banget lo bedua! Gue bahas buaya ngapa jadi nyambung ke buto ijo!!" ucapnya emosi.


"Gak pantes banget jadi waketu sama Ald inti!" imbuh Arka.


"EHHH ENAK AJA!!" Galang protes tidak terima.


Iqbal berdiri lalu memukul kepala Arka dengan kipas dan berlari menjauh sambil tertawa kesetanan. "Sialan!" umpat Arka dengan wajah memerah, marah.


Teresa tertawa dengan anggun memerhatikan teman-teman Raka. Kemudian menoleh ke samping, yang ternyata pemilik netra hijau itu menatapnya lekat.


"Kenapa?" tanya Teresa mengerjap lucu. Raka menggeleng. "Pulang sama gue. Besok, lusa, atau kapan aja lo mau pulang sama gue."


Teresa mengernyit. "Emang selalu ada waktu buat aku?"


Raka tertawa pelan, tangannya terulur mengacak pelan rambut Teresa. "Iya."


Tangan gadis itu terulur ke atas, ingin merapikan rambut Raka, namun segera cowok itu memundurkan kepalanya sambil memegang tangan Teresa yang terulur.


"Kamu masih aja gamau dipegang rambutnya," ucap gadis itu dengan pelan.


Raka menanggapinya dengan senyum tipis. Laki-laki itu memang tidak suka jika kepalanya disentuh orang lain. Hanya boleh mama, papa, dan kakak perempuannya saja. Karena ketiga orang itu adalah, seseorang yang berharga. Iya, hanya keluarganya yang boleh menyentuh rambut indah Raka.


Menyadari raut kecewa yang berusaha Teresa sembunyikan, membuat Raka tidak tega. Dia melepas genggaman tangannya di tangan Teresa, beralih mencubit pipi gadis itu dengan gemas.


"BYE MAU KAYANG!!" pekik salah seorang gadis yang diam-diam memerhatikan keduanya. Tidak lama seruan-seruan lain terdengar.


"HUAAAAA MAMA KAPAN ANAKMU INI DI GITUIN COGAN???"


"RAKA IH!!—tapi emang cocok sama Teresa, gimana dongg??"


"MAU KESEL TAPI SAINGAN GUE RESA, OKEH GUE CABUT KE MARS AJA!!"


"Jika jalan biasa tak mempan, maka PELET ADALAH JALAN TERAKHIR!!"


Kemudian tawa seorang perempuan menggelegar dengan begitu menyeramkan di dengar. Engga deng, bikin pengang telinga.


Tidak mau kalah dengan para perempuan, Iqbal baru saja ingin berteriak melebihi suara perempuan yang bernyanyi lagu klasik hingga kaca pecah. Namun urung, saat suara lembut seorang perempuan diambang pintu menyapu indera pendengaran. Membuat satu kelas hening seketika.


Mengalihkan pandangan, ada dua orang adik kelas yang mengetuk pintu dengan salah satu dari mereka tersenyum tipis. Sangat tipis. "Permisi, izin masuk," ucap Megan dengan sopan.


Arga berdiri dari duduknya. "MEG! AAAAA!! SENENG BAT GUE GILA!!" Laki-laki itu kemudian dengan heboh maju ke depan.


"Masuk aja, Tuan Putri," Arga membungkuk sopan dengan tangan terulur mengizinkan Megan maupun Rin masuk.


Kedua gadis cantik itu kemudian melangkah ke dalam, yang langsung disambut berbagai tatapan takjub, kagum, binar bahagia, dan tentunya beberapa kakak kelas perempuan menatap keduanya dengan pandangan tidak bersahabat.


Teresa bangkit dari duduknya dan kembali ke kursinya. Alden yang sadar gadis itu sudah pindah, bangun dan mendudukkan diri di sebelah Raka. Pandangannya menatap lurus-lurus pada kedua gadis di depan papan tulis.


Alden lalu menoleh pada Raka, yang sejak tadi memerhatikan salah satu dari dua adik kelas perempuan itu dengan seksama. Senyum penuh arti terbit di wajah Alden. Ia menepuk pelan bahu Raka, membuat cowok bermanik hijau itu hanya berdehem sebagai balasan.


"Yang diperhatiin jamnya, bukan orangnya."


Raka buru-buru mengalihkan pandangan. Sepersekian detik, laki-laki itu menelungkupkan kepalanya di lipatan tangan.


"Maaf mengganggu waktunya, tujuan saya dan teman saya ingin membagikan tablet tambah darah," ucap Megan, berusaha biasa saja, padahal risi setengah mati dengan pandangan laki-laki di kelas ini.


"Boleh kami tau, jumlah siswi perempuan di kelas ini?" tanya Megan dengan sopan.


Arga yang duduk di meja guru, buru-buru melihat buku absen, kemudian menjawab, "19 orang dari 30 siswa."


Megan tersenyum tipis. "19? Okay. Itu saja yang saya tanya, Kak."


Rin mengangkat sebelah alisnya. "Ketua kelas?" tanya gadis itu dengan wajah datarnya seperti biasa, serta suara sedingin salju.


Teresa melangkah maju. "Ketua kelas gak masuk. Gue aja, bawa sini."


Megan mengeluarkan tablet tambah darah dalam jumlah yang pas, meletakkannya hati-hati di atas tangan kakak kelas di hadapannya.


"Atas perhatiannya, kami ucapkan terimakasih. Permisi."


Kedua gadis cantik itu lantas keluar. Membuat kelas yang tadinya sepi langsung gaduh seketika. Mereka ingin menggoda keduanya, hanya saja, seperti ada tembok tinggi yang menghalangi. Percayalah, aura yang begitu kuat dan tak tertandingi dua gadis itu benar-benar tidak bisa ditampik.


Dan Raka, mengakui itu. Selain hal tersebut, Raka juga menyadari sesuatu, kalau Rin adalah sosok Ice Princess—seperti kebanyakan yang dikatakan siswa-siswi SMA Starlight.


Leader of Deverald and Ice Queen.


Tidak buruk.

__ADS_1


Dalam diam, laki-laki itu menyungging senyum miring. Raka mendapatkan sebuah rencana di otak cerdasnya.


__ADS_2