
Karena nyawa dan keselamatan seseorang berada di atas daripada kekuasaan. —Deverald.
...***...
Gerombolan motor besar memenuhi jalanan ibukota pagi ini. Ratusan laki-laki berjaket hitam kulit dengan tulisan DEVERALD di bagian punggung mereka itu menjalankan motor sport masing-masing, membuat suara knalpot nyaring terdengar sana-sini.
Di baris terdepan, ada Raka dengan ducati merahnya, memimpin selayaknya ketua. Di belakang sedikit, ada enam motor besar yang beriringan sebagai tanda kalau mereka merupakan anggota inti.
Raka terus memacu kendaraannya yang membuat semua mengikuti. Laki-laki itu menghela napas pelan begitu bayangan wajah Rin yang menatapnya tajam terlintas tiba-tiba di pikirannya.
Rin, you are different. Izinin gue buat beneran berjuang, ya?
Jauh di belakang gerombolan anggota Deverald, ada mobil putih kesayangan milik seorang gadis yang tengah melaju membelah keramaian jalan. Mobil mahalnya itu menjadi pusat perhatian dari para pengguna jalan yang lain begitu ia menyalip. Melirik ke belakang melalui kaca mobil, dapat ia lihat mobil ambulance lengkap dengan suara khasnya terdengar. Rin spontan menggerakkan setirnya ke kiri, membiarkan mobil yang kini mengangkut orang sekarat yang butuh pertolongan cepat itu untuk mendahului.
Menatap ke depan, mata gadis itu sedikit melebar begitu melihat gerombolan motor anak-anak Deverald memenuhi jalan. Ambulance makin dekat, dan secara mengejutkan gerombolan itu perlahan memisah menjadi dua barisan, yang di mana di tengah dibiarkan kosong. Ratusan motor itu menyingkir secara teratur tanpa perintah atau aba-aba dalam sekejap begitu mendengar sirine mobil tanda butuh pertolongan cepat.
Raka yang berada di paling depan memencet klakson berulang kali, membuat beberapa mobil di hadapannya menyingkir. Tidak lama ambulance menyalip motornya, dan melaju cepat tanpa hambatan di depan sana. Laki-laki itu tersenyum, melirik ke belakang melalu spion, senyumnya berubah menjadi smirk begitu gerombolan motor anggota-anggotanya kembali menutup. Raka kembali fokus ke depan, ada kebanggan tersendiri begitu ia berhasil membawa Deverald pada titik di mana mereka tahu apa yang harus dilakukan tanpa perlu menunggu perintahnya. Simpel, tapi tak semua orang punya sifat kepedulian seperti itu.
Rin yang menyaksikan apa yang di hadapannya secara perlahan bulu kuduknya berdiri, gadis itu merinding. Banyak rumor sebelum ia masuk ke SMA Starlight, kalau Deverald adalah geng motor berisi kumpulan badboy yang tidak punya hati pada siapa pun, bahkan orang yang tidak bersalah. Nyatanya Deverald tidak seperti itu.
Rin menghela napas. Ia menginjak rem dan melepas sejenak pijakan kakinya pada rem. Gadis itu memilih menepi dan membiarkan gerombolan Deverald melaju cepat di depan sana. Niatnya yang tadi ingin membalap, urung seketika. Gadis itu memejamkan matanya sambil menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan.
Banyak hal buruk yang gue denger tentang mereka, tapi sampai sekarang, satu pun gak ada yang terbukti.
...*****...
"Guys, listen to me!!" seru Audey seraya menunjukkan ponselnya yang kini menampilkan sebuah artikel panjang dengan judul; Deverald is the Best motorcycle gang in Indonesia. Audey kemudian melanjutkan perkataannya. "Di paragraf pertama di sini tertulis gini, Beberapa orang termasuk saya sendiri menjadi saksi bagaimana besarnya jiwa kepedulian dan respect pada setiap individu yang terbentuk dalam geng motor Deverald, yang tentu tidak asing lagi didengar namanya. Deverald tadi pagi mengejutkan banyak orang dengan sikap mereka yang langsung membuka barisan begitu mendengar suara sirine mobil ambulance terdengar dari arah belakang padahal posisi mereka saat itu berjumlah ratusan orang."
__ADS_1
"Wait. What's the special?" tanya Rin menyela. Mendengar itu, Audey dibuat berdecak pelan. "Resepct. Mereka peduli gitu."
"Bukannya wajib minggir kalau ambulance lewat?"
"Bukan gitu, Rin. Ini ratusan motor. Terus tiba-tiba kebuka barisannya. Puluhan, sih masih oke dan wajar aja. Kalo ratusan, itu keren banget loh. Mana cepet dan rapi lagi, berarti jiwa setiap individu anggotanya itu loh." Ruth menjelaskan, kali ini ia ikut kagum dengan Deverald.
Cellin mengangguk antusias. "Aku setuju. Barengan juga, kan? Ga ada perintah. Like, mereka keren banget ga, sih? Aku denger beritanya aja kayak wow gitu, gimana kalo liat langsung?"
Audey tersenyum puas, ia melirik Rin kemudian menyenggol bahu gadis itu pelan. "Mereka emang keren banget, sih. Apalagi masa kepemimpinan Raka sebagai ketua, bener-bener berada diambang keemasan Deverald!"
Rin berdecak pelan, gadis itu kemudian melanjutkan aktivitas membaca bukunya yang sempat tertunda. Sedikit terganggu karena Audey yang heboh sendiri membahas tentang Deverald.
Megan yang sama muaknya dengan Rin, segera angkat suara. "Di depan Starlight ini, gue tadi liat ada peresmian minimarket, ya? Wanna check it out?"
Rin yang pertama berdiri dari kursinya. "Ayo."
"Thank's, Megan."
Megan tersenyum tipis, paham yang dimaksud. "You're welcome, Rin."
Rin itu kurang nyaman membahas tentang Deverald, dan memang, di antara empat temannya, yang memiliki tingkat kepekaan tinggi, hanya Megan. Rin melirik Megan sekali lagi, kemudian tersenyum tulus.
Makasih, Meg.
...*****...
Rin dan Megan kini saling pandang satu sama lain. Keduanya memutuskan untuk menepi sejenak di parkiran roda dua, begitu di gerbang ada Raka dan enam temannya yang duduk-duduk santai. Rin yang niatnya keluar kelas karena ingin menghindari celoteh Audey tentang Deverald, eh, malah ternyata bertemu ketuanya.
__ADS_1
"Balik aja, Rin?" tanya Megan peka.
"Gak. Terobos aja."
Keduanya lantas segera melanjutkan langkah yang sempat tertunda. Begitu ketujuh laki-laki tampan itu menyadari kehadiran Rin dan Megan, mereka yang tadinya asik mengobrol seketika diam. Ekspresi tawa yang tadi terlihat jelas, dalam sekejap berubah datar.
Di tengah keheningan itu, Arga menyapa Megan. "Pagi, Megan. Mau kemana?" tanya laki-laki itu hangat seraya berdiri mendekati Megan, tak lupa tersenyum ramah.
"Minimarket."
"Gue ikut, ya?"
Megan melirik Rin, gadis itu hanya diam menatapnya datar. Megan kembali melihat Arga. "Ga usah, sih, kayaknya. Lo ikut mau ngapain, Kak?"
"Beli ice cream. Lo juga ambil banyak-banyak, tenang, it's on me."
Megan mengerutkan kening. Menyadari ekspresi gadis itu yang terlihat curiga, Arga segera berucap, "Gue mau nepatin janji yang waktu itu doang, Meg, gak ada niat yang lain. Serius. Trust me, okay?"
"Oh? Em, jangan sekarang, sih. Lain kali aja, ya."
Arga mengangguk beberapa kali. Memilih menurut, meski setiap dia ingin mentraktir Megan ice cream, gadis itu selalu berkata lain kali aja, ya.
"Gue duluan, Kak." Setelah mendapat respon anggukan, Megan dan Rin segera melangkah menyebrangi jalan.
Rin sempat melirik Raka tadi, laki-laki itu sedikit pun tidak ada meliriknya. Rin menghela napas.
Emang lo berharap apa, Rin?
__ADS_1