JENNIE

JENNIE
15 - Ragu


__ADS_3

Ragu itu hal wajar. Tapi entah kenapa, kali ini benar-benar berbeda. Rasa ragu yang menyelimuti itu, bukan seperti yang kemarin-kemarin. —Rin.


...*****...


Istirahat, satu kata yang membuat dunia serasa ikut jungkir balik bersama anak-anak 11 IPA-1. Setelah belajar fisika bersama pak Holden—guru ter-killer seantero SMA Starlight, jam istirahat inilah yang dinanti-nanti sejak tadi. Menunggu sampai lumutan, akhirnya senyum bahagia yang sempat sirna tiga jam tadi muncul kembali dari wajah seluruh siswa-siswi di kelas 11 IPA-1.


Ketika pak Holden sudah jauh dari kelas mereka, seisi kelas langsung berteriak heboh. Ada juga yang teriak-teriak seperti orang kerasukan, sampai sujud syukur karena uji jantung tiga jam telah usai. Kebahagiaan itu tidak luput juga dari Megan dan kawan-kawan, tetapi mereka tidak seberlebihan teman sekelas yang lain.


"Kantin yok, laper banget gue, si papi makin hari makin ngeri! Depresot lama-lama gue tiap jam pelajaran dia," cerocos Audey sambil memijiti kening.


Pak Holden atau yang biasa dipanggil papi oleh anak IPA, guru yang usianya sudah menginjak kepala empat itu mengajar tiga pelajaran sekaligus. Lebih jelas, di setiap tingkatan, ada pak Holden yang mengajar.


Kalau di kelas 10 kemarin, beliau mengajar matematika wajib. Dan itu benar-benar bikin mental jadi baja!


Gimana enggak? Papi ini orangnya tegas, ditambah wajahnya terlihat seram alami, belum lagi suara dan auranya yang begitu mencekam ketika mengajar. Tidak, tidak, bahkan di luar mengajar sekali pun. Kelas bandel seperti IPS-4 saja yang biasanya ribut walau ada guru, kalau pak Holden lewat kelas mereka, langsung senyap. Padahal nih ya, beliau tidak mengajar di kelas IPS hanya IPA.


Bisa kalian bayangkan sendiri kan, semengerikan apa guru ini?


"Kelas 12 ntar bakal ngajar apa ya si papi? Gue jantungan mulu kalo udah pelajaran fisika tuh!" kata Megan keringat dingin.


"Anjir, si Megan aja sampe keringetan begini!" pekik Audey tertahan ketika telapak tangannya ia letakkan di pipi Megan. "Gak tau, sih ya, tapi dari yang gue denger bahasa Inggris," lanjutnya lagi membuat Megan terbelalak.


"GEEZ! Kalian ingat gak pas kelas 10 kemaren? Yang pas Bayu gak bisa mimpin pulang gara-gara dia belibet mulu ngomong bahasa Inggris?"


Audey dan Cellin berseru secara bersamaan, "Inget banget!"


"Asli ya, kena mental tuh si Bayu!" seru Audey sambil geleng-geleng kepala.


Ruth memutar matanya malas. "Jadi kantin gak, sih? Malah ngebacot gak jelas!" ketusnya.


Rin yang tidak mengerti alur pembicaraan empat temannya yang lain hanya bisa menyimak tanpa mengerti apa yang dimaksud. Kalau pun dia tahu arah pembicaraan, gadis itu juga mungkin akan tetap diam.


"Iya-iya maaf, ayok deh ke kantin," ajak Megan, tapi gadis itu masih duduk di kursinya.


"Ya udah ayo," sahut Audey sudah berdiri dan menggandeng lengan Rin.


"Ayo," kata Megan.


"Ayo, ayo doang lo ah, tapi gak gerak-gerak juga," kata Audey kesal.


"Tau nih, geser otaknya," ucap Ruth menambahi.


Megan cengengesan. "Males tau, tapi pengen ke kantin. Jadi ya udah deh paksa jalan aja. Tarik tapii," katanya sambil mengulurkan tangan pada Audey.


"Ribet banget, sih lo, tinggal berdiri juga," balas Audey tapi tetap membantu Megan berdiri.


Kelimanya yang baru ingin melangkah keluar kelas, tidak jadi ketika Agi—ketua kelas 11 IPA-1, muncul dari balik pintu. Melangkah masuk ke dalam dengan satu tangan di saku celana, dan tangan lain memegang sebuah map coklat. Laki-laki itu berjalan menghampiri Megan dan menyodorkan map coklat tersebut.

__ADS_1


"Apa?" tanya Megan mengangkat salah satu alis, dengan masih membiarkan map itu berada di tangan Agi.


"UKS," balas Agi singkat. Laki-laki itu kemudian menatap Rin. "Lo disuruh ke ruang bu Stevi bentar."


Agi lalu keluar kelas dengan lari kecil, menghampiri tiga temannya yang menyender di depan pintu, dan keempatnya keluar entah kemana. Megan memejamkan mata sambil menarik napas dalam-dalam lalu membuka matanya bersamaan dengan mengembuskan napasnya perlahan.


"IIIHHHH!! KENAPA ACARA DIPANGGIL SEGALA, SIH?! Kan kita mau ke kantin. Mana istirahatnya cuma tiga puluh menit doang, eh malah di suruh ke ruangan. Dikira bentar apa ya ke ruang guru? Hell, butuh setidaknya lima belas menit bolak-balik!! Please lah ya, ini kita abis pelajaran fisika sama papi! Bu Stevi kenapa gak pengertian banget, sih jadi guru?!" kata Megan menggebu dengan pelafalan cepat.


Udah kayak rapper aja. Biasa mau jadi Yoongi dulu, mau ngalahin rekornya. Siapa tahu dilirik Jimin. Eh?


Cellin mengusap bahu Megan pelan. "Udah gapapa, siapa tau bu Stevi emang ada perlu sama Rin, iya, kan?"


"Ribet banget elah tu guru," kata Audey memberengut. "Kenapa gak istirahat kedua aja coba? Gue laper nih!!"


Rin meringis dalam hati. Tidak enak sendiri.


"Gak usah, biar gue aja. Kalian duluan," kata Rin membuat empat temannya menatap gadis itu.


"Hah? Kok duluan, sih? Enggak ah, bareng-bareng ke kantinnya!" kata Audey sambil melangkah membuat Rin tertarik maju dan ikut melangkahkan kaki.


"Katanya laper."


"Lo juga pasti laper, kan Rin? Jadi sama-sama aja. Nunggu lo dulu baru kita ke kantin," ucap Megan yang melangkah di belakang Rin.


"Gak usah. Gak sempet," kata Rin sambil menoleh pada Ruth. Yang sialnya, gadis itu hanya mengedikkan bahu tak acuh. Padahal kan Rin mau minta bantuan Ruth, ah elah!


...*****...


"Untung lo cuma disuruh ngisi biodata, jadi masih sempet ke kantin," ucap Audey sambil menusukkan garpu ke kentang goreng yang di pesannya beberapa detik lalu, kemudian mencolekkannya ke saus sambal.


"Hu'um, untung si ibu pengertian, bisa deh gue makan ice cream!" sahut Megan sambil tersenyum bahagia. Otak kan lagi panas-panasnya nih, butuh di dinginkan dong!


"Lo tuh ice cream mulu Meg, gak bosen apa?" tanya Audey jengah sendiri.


"Nope. Biar gue ikutan manis, terus bisa jadi masa depan Enchim deh! My Chim-chim kan tipe cewek idealnya manis gemesin gitu," kata Megan memasang ekspresi imut.


Audey berlagak ingin muntah. "Najong!"


"Udah, udah jangan ribut lagi. Lanjut aja makan, nanti kesedak," kata Cellin melerai. Kedua gadis cantik itu mengangguk lalu memakan pesanan mereka dalam diam.


Rin menyendokkan sesuap nasi goreng yang terakhir ke mulutnya. Gadis itu terdiam cukup lama. Tidak seharusnya Rin terlalu meremehkan orang lain, iya kan? Raka bisa saja melampauinya jika laki-laki itu punya niat dan tekad yang kuat. Rin menggigit bibir bawahnya pelan. Khawatir sendiri akan idenya kemarin.


"Kenapa lo Rin?" tanya Ruth dengan dahi berkerut, tangannya bergerak mengaduk-aduk jus apelnya menggunakan sedotan.


Rin mengerjap, ketika mengangkat pandang, empat pasang mata menatapnya penuh tanya sekaligus khawatir. "Emang kenapa?"


"Muka lo kayak ada beban berat aja gitu," jawab Megan tersenyum kikuk setelah lima menit lalu tercipta keheningan.

__ADS_1


Rin memainkan lidah, sepertinya menanyakan sesuatu pada empat gadis yang sudah jadi sahabatnya ini tidak masalah.


"Gue mau nanya, tapi kalian jangan baper," ucap Rin membuat empat gadis cantik di hadapannya mengangguk. Rin menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.


"Raka itu—"


"WHAT?! LO MAU NANYA SOAL DIA??" tanya Audey menyela dengan mata terbelalak kaget. Sengaja tidak menyebutkan nama, karena tidak ingin membuat Rin risi. Karena suaranya dia tuh kalau kaget nyaringnya ujung ke ujung denger.


"Husst, jangan teriak-teriak Dey, semua pada ngeliatin kita!" tegur Megan.


Audey menyengir lebar. Gadis itu kemudian pura-pura menyeruput minumannya untuk menghilangkan rasa malu akibat ditatap oleh seisi kantin. Kantinnya rame banget lagi! Sial.


"Udah lanjut Rin, abaikan aja nih si anak cempreng," kata Ruth melirik Audey tajam.


"Gak cempreng banget ah suara gue," bela Audey.


Rin menanggapinya dengan senyum tipis. Sebenarnya tidak ingin bercerita, tapi takut Audey tersinggung. Jadi, Rin melanjutkan ucapannya yang tersela tadi. Gadis itu berusaha mewajarkan respon Audey barusan.


"Dia pintar?" tanya Rin tanpa basa-basi.


Kening Cellin mengerut. "Dia siapa?" tanyanya polos.


"Raka," bisik Megan membuat Cellin mengangguk-angguk. Kedua gadis itu tentunya terkejut, tapi mereka sama-sama mampu mengendalikan ekspresi agar tidak membuat Rin jadi malas bercerita.


Audey sebenarnya sudah ingin teriak-teriak, cuma gadis itu tahan, dan hanya kalimat inilah yang keluar dari bibir merahnya, "Kenapa? Tumben nanya Raka, eh nanya soal cowok begitu."


Rin menggeleng pelan. "Jawab aja."


"Okay, menurut gue, sih pinter ya. Soalnya selalu masuk lima besar nilai rapornya," balas Audey membuat keyakinan dan kepercayaan diri Rin yang kemarin melambung tinggi langsung ambruk seketika.


"Tepatnya?"


"Hah? Tepatnya? Tepatnya apaan?" Audey balik bertanya karena bingung sendiri. Ya abisan, si Rin kalo ngomong kayak kehilangan ribuan kalori! Di hemat banget.


Ruth berdecak kesal. "Peringkat berapa."


"Ohhhh," kata Audey panjang. "Gak tau gue, gak terlalu ngikutin kalo soal gituan."


Megan memutar matanya. "Lo taunya cuma Galang."


"Dih, emang lo tau?" tanya Audey menantang. Megan tercengir lebar hingga matanya menyipit. "Enggak."


"Stupid." kata Ruth pada keduanya. Gadis itu kemudian menatap Rin. "Kalo gue tau Rin, gak bakal ribet begini."


Rin mengangguk kecil.


"Udah, udah jangan ribut. Aku tau kok. Kalau gak salah kak Raka itu peringkat dua, yang peringkat pertama kak Alden."

__ADS_1


Oh great. Welcome to your own game, Rin.


__ADS_2