JENNIE

JENNIE
62 - Nothing To Do


__ADS_3

Pura-pura lemot merupakan jalan terakhir dan satu-satunya yang bisa menyelamatkan diri ketika didesak. —RAKARIN.


...***...


"Rin!"


Sang empunya nama menoleh, memutar matanya malas kemudian kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda begitu mendapati Raka yang tertawa renyah itu berlari pelan menyusulnya.


Raka tadi ketika kelas fisika selesai, ponsel Rin malah disembunyikan, menyebabkan tidak hanya gadis itu sendiri yang kerepotan mencarinya, melainkan enam teman Raka yang lain juga turut membantunya! Eh, si netra hijau ini malah asik pura-pura tidur menahan tawa. Ngeselin banget sifat aslinya, duh!


Can you imagine?


Ketika laki-laki itu berhasil mengejar, pergelangan tangan Rin ditahan sejenak hingga gadis itu terpaksa menghentikan langkahnya. Menoleh dengan malas, Rin memasang ekspresi sedatar mungkin. "Apa?"


Raka tercengir lucu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Laki-laki itu kemudian melirik sekeliling tak tentu. Kesal karena tak kunjung berucap, Rin kembali berkata, "Ngomong aja. Sama gue juga, kan? Ngapain salting?"


Raka mendelik. "Enak aja! Gue gak salting, ya. Bingung doang mau ngomongnya gimana." Laki-laki itu beralasan.


"Iya udah, apa?"


"Belajar bareng, mau gak?" tanya Raka, wajahnya seketika merah padam. Rin menyeringai jahat dalam hati.


"Lo seriusan ketua Deverald? Masa mukanya merah?" tanya Rin mengerjap polos dengan sengaja.


Sial, balas dendam ternyata dia.


"Anjir, Raka diragukan. Keren buketu, gue dukung lo!" teriak Iqbal di belakang dengan antusias. Teman-teman Raka yang lain hanya menahan tawanya, membuat Raka jadi kesal sekaligus malu juga.


Rin melirik sekilas ke arah enam laki-laki berwajah rupawan itu. Rin kembali menatap Raka, yang kini menatapnya tajam.


"Kok diem?"


"Jadi mau gak?" tanya Raka memastikan, tidak, sih, mengalihkan pembicaraan.


"Bukannya udah di jelasin? Kenapa harus belajar bareng lagi? Kita ini saingan, Rak, ya kali gue bantuin lo?"


PUAS BANGET GUE GILA!!


LO NGERJAIN GUE SEKALI, GUE BALAS BERKALI-KALI BWAHAHAHAH!!!


"Tugas nomor tiga yang b, gue itu bingung gimana ngerjainnya. Kasih tau caranya aja, deh, ya?" bujuk Raka memasang wajah imut.


"Jibang." Rin memutar matanya, yang seketika mendapat seruan lantang dari Arga. "RIN WOI! CALON BUKETU GUE!! JIJIK BANGET EMANG SI PAKETU, PFFT BWAHAHAH!!"


"Gue gak ikutan, ya, Rak!" teriak Iqbal dari tangga. Jarak teman-teman Raka dengan Rin berdiri itu tidak terlalu jauh, jadi teriakan Iqbal sangat amat terdengar bahkan menggema.


"Diem." Raka memberikan peringatan lewat tatapan mata, yang seketika membuat Arka, Galang dan Regan yant sejak tadi cengengesan terdiam.

__ADS_1


"Gini, ya, Rin, gue kan ambil referensi youtube juga. Caranya bu Agatha sama di youtube ini hasilnya beda. Mereka ada ngasih contoh yang sama persis, beda cara, hasil akhir juga beda."


"Tinggal ikutin punya ibu, kan, beres." Rin tak ingin ambil pusing.


"Masalahnya, gue gak paham cara yang di ajarin bu Agatha, tapi dari youtube gue paham. Cuma takut hasilnya salah."


Rin mendengkus. "Hitung-hitung itu ilmu pasti. Gue, sih lebih ke bu Agatha, beliau masuk jejeran mahasiswi lulusan terbaik universitas Oxford jurusan fisika, loh."


Raka memejamkan matanya sejenak. Rin pasti sengaja pura-pura lemot biar Raka kesal sendiri, lalu membatalkan niatnya untuk belajar bareng.


Gue gak bakal kalah dari lo, Rin. Gue yang menang kali ini.


"Iya, Rin. Gue juga tau, lo udah jelasin berulang kali—"


"Baru tadi?"


"Iya, baru tadi." Raka menarik napas panjang, kemudian memaksa senyum. "Masalahnya, gue gak paham cara bu Agatha."


"Tadi udah gue jelasin, please, otak lo terlalu gak bisa nangkep, ya. Menurut gue personally, caranya bu Agatha ngejelasin udah gampang banget dicerna. Masa tetep gak masuk di otal lo, sih?" Rin tidak mau kalah.


"Tiap orang kan beda—"


"I know. Tapi semua paham aja, lo sendiri yang kebingungan."


Skak.


"Atau niat awal lo cuma mau modus?" tembak Rin tepat sasaran.


"Jangan langsung ulti dong, buketu." Galang memanyunkan bibirnya sengaja. Raka melirik temannya itu tajam, yang dibalas Galang dengan cengiran kikuk.


"Tau ah!" Raka ngambek. Laki-laki itu segera melangkah pergi lebih dulu membuat Rin mengerjap bingung. Melirik enam teman Raka, yang justru responnya agak berlebihan. Mereka mendelik kaget dengan mulut ternganga—kecuali Alden.


Arga berlari pelan menghampiri Rin. "Samperin dong, buketu Raka-nya. Bisa abis kena amuk kita.


"Iya, buketu huhu!!" Iqbal men-drama di samping Arga.


"Tapi itu ngambeknya lucu, masa iya kalian kena amuk?" tanya Rin bingung.


"Duh, susah jelasinnya. Emang rada gesrek si Raka mah, ngambekan. Tapi dia gak pernah nunjukin sisi lucunya ke cewek selain mama sama mbaknya."


"Terus hubungannya sama gue apa? Kenapa harus nyamperin dia? Alasan utama kalian diamuk Raka apaan?" tanya Rin menatap Arga skeptis.


"Aduh, ini tuh harus berhasil." Iqbal menyahut dengan wajah panik.


"Apanya, sih?"


"Raka mau belajar sama lo, sekalian—"

__ADS_1


Galang segera membekap mulut Alden yang hendak berkata sejujur-jujurnya. Laki-laki itu kemudian menyengir kikuk pada Rin. "Gak usah di peduliin Rin. Emang nih anak main ceplas-ceplos aja."


Alden menepis kasar tangan Galang dari mulutnya, kemudian melirik Rin datar. Alden lantas berlalu pergi menyusul Raka ke parkiran.


"Jangan sakit hati, ya, Rin. Emang gitu dia," kata Arga sambil menepuk bahu Rin beberapa kali, takut kalau gadis itu merasa tersinggung atas sikap Alden barusan.


"Ya."


"Btw, ayo balik, ah. Jangan lama-lama di sini. Kita kan belum tau, lawan atau kawan." Arka beranjak menyusul dua temannya dengan langkah santai menyusuri lorong.


Rin melirik Arga. Satu-satunya yang ia percaya 100% dalam inti Deverald. Tidak pernah melakukan percakapan serius maupun santai secara berdua, tapi laki-laki bernetra biru itu selalu menatapnya seperti teman, tidak seperti teman Raka yang lain.


Satu-persatu teman Raka mulai dari Galang, Regan dan terakhir Iqbal pamit untuk ke parkiran lebih dulu. Tinggal dia dan Arga saja sekarang.


"Kak, gue punya salah, ya?" tanya Rin to the point.


"Hah? Enggak." Arga menjawab cepat.


"So? Kak Alden tadi bilang sekalian, sekalian apa?" Rin mengangkat satu alisnya. Arga yang dituntut penjelasan itu gelabakan, otaknya berpikir keras untuk mengucapkan apa.


Pura-pura lemot aja kali, ya, gue.


"Itu mereka pada buru-buru ke rumah Raka."


Rin mengernyit bingung. Kok, daritadi percakapannya selalu tidak ada hubungannya, ya. Misal, tanya singa, eh, malah bahas kuda.


"Okay, thank's."


Rin dan Arga pun segera ke parkiran dengan melangkah beriringan dalam hening. Keduanya sama-sama diam. Setibanya di parkiran, mereka disambut tatapan tajam Raka.


"Enak bener jadi Arga, gue yang berusaha narik perhatian lo, eh dia yang lo perhatiin."


Rin mengernyit. Namun, memilih mengabaikan itu. Rin terus melangkah hingga gadis itu berada tepat di hadapan Raka.


"Belajarnya di mana?"


Raka yang tadinya merasa kesal, tiba-tiba bingung tapi senang juga. "Lo mau belajar bareng sama gue?"


"Gak jadi? Ya, udah."


Rin baru ingin beranjak pergi, Raka lebih dulu menahannya. "Jadi, jadi. Di rumah gue, mau? Ada mbak Raya sama mama, kok."


"Okay." Rin melirik sekilas teman-teman Raka yang menatapnya penuh curiga, kemudian masuk ke dalam mobil milik Raka begitu laki-laki itu membukakan pintu.


"Gue titip mobil Rin, Ar!" Raka melempar kunci mobil milik Rin pada Arga. "Ke rumah gue ntar sore."


Rin menunduk sejenak, tiba-tiba merasa tak nyaman dengan tatapan tajam dari Alden. Gadis itu mendengkus ketika mengingat pertemuan dengan Gaara beberapa waktu lalu.

__ADS_1


Dia tau, ya?


__ADS_2