JENNIE

JENNIE
65 - Date?


__ADS_3

Dia pergi, bersama sifat cerianya. —Rin.


...***...


"Rin."


Sang empunya nama menoleh. Gadis itu mengangkat satu alisnya begitu mendapati Raka berlari kecil menghampiri.


"Kenapa?"


Raka menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menyengir lucu. "Mau makan siang bareng sama gue gak? Mumpung pulang cepet."


Rin mengernyit samar. Melirik empat temannya yang melambai pelan sambil melangkah mundur perlahan secara teratur.


Sialan lo pada.


Rin kembali mendongak sedikit karena memang Raka jauh lebih tinggi darinya. "Ya, udah. Di mana?"


ANJIR SERIUSAN?! BENERAN DIA MAU??!


Raka menahan senyumnya mati-matian agar tidak terlihat terlalu salting. Jarinya terangkat menggaruk alisnya yang tidak gatal. "Sekarang?" tanyanya kikuk.


Duh, gue napa jadi oon gini!


Rin mengangkat satu alisnya. "Mau makan siang, kan?"


"Iya, hehe. Jadi sekarang, kan?"


Rin menghela napas. Berusaha sabar menanggapi Raka yang kelihatan sekali saltingnya itu.


"Iya, Raka."


"Naik mobil gue, ya? Mobil lo ntar dibawa sama Arga aja, ke basecamp. Gapapa?"


Rin tidak menyahut, gadis itu segera saja merogoh tasnya untuk mengambil kunci mobil kesayangan. Gadis itu menyodorkannya pada Raka, yang segera diterima.


"Arga sama yang lain udah di parkiran."


Keduanya melangkah menyusuri koridor beriringan. Raka berulang kali melirik ke arah Rin yang fokus menatap ke depan. "Rin," panggilnya pelan, nyaris tak terdengar.


Rin menoleh, meski samar ia dapat mendengarnya. "Iya?"


"Lo masih single aja, kan, ya?" tanya Raka kikuk seraya mengusap tengkuknya yang lagi-lagi tidak gatal. "Iya."


Okay, berarti Gaara bukan pacarnya.


Begitu sampai di parkiran, teman-teman Raka menahan senyum mereka. Entah apa yang lucu, Rin terus saja melangkah. Berhenti sejenak, membiarkan Raka membukakannya pintu mobil.


Raka memutari bagian depan mobil, sebelum masuk ke dalam, ia melemparkan kunci mobil Rin ke arah Arga yang dengan sigap ditangkap oleh pemilik netra biru itu. "Mobil lo aman sama gue, Buketu! Date-nya yang lancar, ya."


Kampret.


...*****...


Rin menyuapkan lemon herb roasted potatoes ke dalam mulutnya dengan perlahan. Sesekali melirik ke sembarang arah untuk mengurangi rasa canggung karena dia dan Raka duduk berhadapan.


Sementara Raka, laki-laki itu sejak tadi asik memakan garden veggie chickpea sandwich dengan lahap. Rin melirik sekilas, kemudian membuang pandang ke arah lain.


Kalo makan lucu juga.


Rin menyeruput orange juice yang dipesannya tadi untuk mengurangi salah tingkah. Abisan, si Raka gemoy banget kalau mengunyah begini. Suapannya kan banyak, pipinya jadi menggembung, mana ekspresi laki-laki itu yang terlihat polos.


Skjdbl—dia beneran ketua Deverald? Seriously?


"Makan, Rin. Jangan minum mulu. Lo udah abis lima gelas, tuh," ucap Raka bercanda membuat Rin mendelik mendengarnya. "Sembarangan! Baru juga gue minum."


Raka menahan senyumnya. Senang dengan respon Rin barusan.


"Ya, udah, lanjut makan."

__ADS_1


Rin mengembungkan pipinya kesal. Gadis itu hanya berdehem pelan kemudian menyantap French toast yang baru saja disajikan oleh waiter di restaurant tersebut.


Beberapa saat berlalu, keduanya makan ditemani dengan hening yang santai. Selesai makan, Raka segera memanggil salah seorang pelayan, kemudian menyerahkan kartu ATM berwarna hitam ke pelayan tersebut.


"Nanti gue minta nomor rekening lo," ucap Rin setelah si waiter pergi sejenak ke kasir.


"Buat apaan?" tanya Raka mengernyit seraya meminum apple juice-nya yang masih tersisa.


"Gue gak mau di bayarin."


Raka mengangguk beberapa kali. "Tapi gue mau bayarin. Udah, gapapa. Anggep aja permintaan maaf soal waktu itu."


"Yang mana? Emang lo pernah bikin salah?"


"Gue meluk Teresa."


Damn it?! Ngapain minta maaf?


"Gue bukan siapa-siapa lo, Rak?" Rin mengangkat satu alisnya. "Iya, emang bukan. Gue cuma mau minta maaf. Kan, kita lagi ada perjanjian kalo gue bisa di atas lo peringkatnya ntar, ehm, gitu."


"Iya, terus?"


"Ya, gue minta maaf aja. Rasanya kayak jahat gitu ke lo," ucap Raka menyengir lucu.


"Jahat apanya? Kita bukan siapa-siapa, Rak."


Raka menggeleng pelan. "Harusnya gue gak deket ke cewek selain lo. Kan gue lagi merjuangin lo, masa karna ditolak mulu, gue lari ke cewek lain. Maaf, ya."


Percayalah, Raka mengucapkannya tulus dari hati. Dan Rin yang mendengarnya dapat merasakan ketulusan Raka.


Nih cowok gentle banget, damn.


Rin berdehem pelan. "Iya, gapapa."


HEH, KOK GUE BILANG GAPAPA?! HARUSNYA KAN BILANG BUKAN URUSAN GUE?!!! KOK JADI GAPAPA, SIH!!


Rin mendumel sendiri. Salah ngomong dia, tuh! Ck, ah.


Rin tersenyum ramah. Gadis itu melangkah keluar lebih dulu kemudian disusul Raka. Laki-laki itu tampak keren dengan kacamata hitam yang bertengger di kedua mata indahnya.


Rin yang menyadari beberapa gadis seusianya yang juga masih berpakaian sekolah terlihat memerhatikan Raka diam-diam dengan penuh kekaguman. Rin yang entah kenapa tidak terima memelankan langkahnya. Begitu ia dan Raka beriringan, Rin segera saja menggandeng lengan Raka dengan sedikit kikuk.


Aduh, gue ngapain, sih?


"R—rin?" tanya Raka mengerjap polos. Rin mendatarkan wajahnya sedatar mungkin. "Gue gak mau, ya, kita pulang telat gara-gara diserbu beberapa pengagum lo."


Raka mengernyit. Melirik sekelilingnya sekilas, yang ternyata mereka hanya menatapnya penuh kekaguman, tidak berniat menghampiri.


Jealous-nya lucu njir.


"Oh, iya. Gandeng aja, gapapa."


...*****...


Raka menyodorkan sebotol air mineral pada Rin. Keduanya itu berhenti sejenak pada sebuah kursi taman yang dilewati, tempatnya tidak jauh dari perumahan Rin. Mereka hanya duduk sembari menikmati semilir angin yang menyejukkan.


Raka menunduk sesaat, kemudian menoleh pada Rin yang sibuk bermain-main dengan beberapa jenis bunga di taman itu. "Rin, lo suka bunga, ya?"


"Iya."


"Moth orchids, suka gak?"


Rin menoleh cepat Raka. "Suka banget. Di rumah, mama banyak banget nanemnya."


"Seriusan?"


"Iya!" Rin antusias menjawabnya. "Mama juga nanem lavender, gue suka banget ke taman belakang rumah. Wanginya enak, bikin candu gitu. Nenangin juga, sometimes."


"Wih, mama lo suka berkebun, ya? Mama gue juga, cuma gak terlalu kalo bunga, lebih ke tanaman hias gitu. Di samping rumah, ya, yang kemaren itu pas mama sama mbak Raya tunjukin ke lo."

__ADS_1


"Selera mama lo keren banget. Cantik tapi asri juga di tamannya."


"Suka suasana damai gitu. Btw, kapan-kapan gue boleh liat taman yang dibikin aunty Ara gak?"


Rin berpikir sejenak. Kemudian mengangguk pelan. "Boleh aja."


"Makasih, Rin."


"Gak usah makasih, sih. Gue yang makasih, karna lo mau liat taman mama. Soalnya mama pasti seneng banget kalo ada yang penasaran sama bunga-bunga yang dirawatnya. Mama tuh suka ngenalin bunga-bunga langka juga, kayak buat nambah knowledge gitu ke orang lain. Kalo ada orang antusias, mama pasti bakal lebih antusias lagi nunjukinnya!"


Raka tersenyum. "Nanti gue ke rumah, ya. Gatau kapan, sih. Biar surprise. Selalu ada di rumah, kan?"


"Iya. Jarang keluar, kok."


Raka memerhatikan Rin lekat ketika gadis itu kembali fokus bermain bersama bunga berwarna-warni. Di hari ini, di sore yang tidao terlj terik, Raka menemukan fakta baru tentang gadis di sampingnya ini.


Rin itu gadis yang bisa diajak cerita panjang lebar, kalau kita tahu apa yang di sukanya.


Bunga, ya, Rin? Cantik, kayak lo.


...*****...


"Thank's for today, Rak." Rin tersenyum tipis tapi tulus pada Raka. Gadis itu kemudian dengan segera melepas seatbelt-nya.


"Makasih juga, mau nemenin gue tadi. Mobil lo ntar diantar Arga."


"Bilang makasih ke dia, ya, Rak. Gue ngerepotin banget."


Raka menggeleng pelan. "Dia sama Regan juga ntar. Mereka emang hobi ngelilingin negara, jadi santai aja."


Mendengar itu, tanpa bisa ditahan Rin menyemburkan tawanya. "Dih, bisa gitu?"


Raka untuk beberapa saat terbius dengan aura Rin yang seakan menghangatkan hatinya yang beku selama ini. Laki-laki itu lantas tersenyum lebar hingga matanya menyipit. "Iya lah bisa. Arga udah pernah ngelilingin Inggris, sejam aja."


"Please, lah, ya." Rin memutar matanya ke atas dengan senyuman yang masih terpatri. "Anyway, ntar hati-hati, ya. Jangan ngebut-ngebut, malam, gelap soalnya."


"Siap!" Raka menyahut sambil memberikan hormat pada Rin. Sebelum gadis itu membuka pintu, Raka kembali bersuara. "Em, Rin. Gue mau nanya sesuatu boleh?"


Rin menoleh. "Boleh. Tanya aja."


"Who is Ale?"


Rin yang tadinya senyum, perlahan senyum itu luntur. Berganti wajah tanpa ekspresi seperti biasa.


Sial.


Raka menahan napasnya beberapa saat. Laki-laki itu sudah menduga Rin pasti akan kembali cuek. Ini pertama kalinya ia mencoba bertanya pada Rin mengenai hal pribadi.


"Gak usah dijawab juga gapapa, Rin. Gue iseng doang, hehe."


Rin menatap Raka dengan tatapan yang sulit diartikan, kemudian menghela napas panjang. "Apa yang lo pengen tau tentang Ale?"


"Boleh?" tanya Raka mengerjap polos.


"Iya. Tanya aja."


"Dia siapa lo?"


Hening beberapa saat, sampai akhirnya Rin melembutkan ekspresinya dan tersenyum samar. "Bisa dibilang, teman."


"Temen dekat?" tanya Raka memastikan.


"Deket banget. Cuma dia pergi, hilang bersama sifat cerianya."


Raka sebenarnya ingin bertanya lebih lanjut, hanya saja, tidak tega melihat perubahan suara Rin yang terdengar sendu meski tidak terlalu ditampakkan gadis itu. Raka memberanikan diri menepuk bahu Rin beberapa kali dengan pelan.


"Maaf, kalo nyinggung soal perasaan pribadi. Gue mau nanya itu aja, kok. Makasih udah jawab."


Rin menatap Raka lekat.

__ADS_1


Makasih juga udah percaya sama gue.


__ADS_2