
Gengsi memang nomor satu, tapi itu wajar, kok. Setiap manusia yang terlahir di dunia, tak lepas dari sifat gengsi dalam dirinya. Entah disadari atau tidak, tapi pasti ada.
...*****...
Jam menunjukkan pukul 06.12 WIB, dan seorang gadis cantik sudah siap untuk pergi ke sekolahnya. Rin menuruni anak tangga dan menghampiri mama, papanya yang berada di dapur. Melihat keduanya sudah mulai sarapan, membuat secuil keinginan di hati Rin untuk ikut bergabung.
Hanya saja ego dan masa lalu seakan melarang dengan mengirim sinyal berupa teriakan keras di otak, menyebabkan semua sistem terganggu. Hingga pada akhirnya, Rin hanya memerhatikan saja dan menolak ketika diajak sarapan.
Ara yang menyadari kehadiran putrinya langsung tersenyum manis. Mengelap mulutnya yang tidak kotor menggunakan tisu, lalu berdiri dan menghampiri Rin.
"Mau makan sayang?" tanya Ara lembut, menuntun Rin untuk duduk.
"Emm, di sekolah aja, Ma, biasa. Bareng temen."
Reksa menoleh. "Temen apa temen?" goda pria bersetelan kantor itu.
"Udah deh Pa, gak usah godain Rin, makan aja yang bener."
"Mama minum dulu baru berangkat, ya," kata Ara sambil menyuapkan sesendok oatmeal yang terakhir, kemudian meminum segelas air.
Ketika wanita itu berdiri, Reksa ikut berdiri. "Papa juga udah selesai ini. Berangkat sama Papa aja, ya? Pulangnya jadi ntar langsung pergi ke tempat opa sama oma." Reksa menoleh pada Rin yang kebingungan menatapnya.
"Kok dadakan, Pa?"
Reksa meminum caramel macchiato yang dibuatkan Ara terlebih dahulu sebelum menjawab. "Oma Irma baru pagi tadi nelpon Mama kamu."
Rin mengangguk. "Oke, deh."
"Masih pagi banget, emang gapapa? Papa kamu ada meeting penting sayang jadi pagi buta gini berangkatnya," ucap Ara sambil melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 06.25 am.
"Gapapa, Ma. Udah biasa juga ke sekolah pagi. Sekalian belajar."
Ara menatapnya tak yakin. Rin tersenyum menenangkan ketika menyadari hal tersebut. "Bener Maaa. Bahkan Rin pernah berangkat jam lima kurang, pas Mama sama Papa ke tempat Oma waktu itu."
Ara mengerjap. "Astaga sayang, pagi bangetttttt."
"Hehe, abis Rin gak tau mau ngapain kalo di rumah," ucapnya cemberut.
__ADS_1
"Jangan khawatir sama Rin Ma, nih anak emang suka banget berangkat pagi kan? Paling sampai sana jam tujuh udah. Lima kurang aja pernah, masa jam segini enggak."
Rin memang sepagi itu kalau ke sekolah. Bukan tanpa alasan, melainkan ia tidak ingin sendirian di rumah. Mama, papanya kan kalau pagi sudah bekerja.
Akan tetapi tenang saja, perhatian kedua orang tuanya tidak pernah berkurang, bahkan sebisa mungkin mereka tetap membimbing Rin agar tidak salah dalam pergaulan, tidak lupa menuntun gadis itu dalam menentukan masa depannya, tanpa mengekang.
Emm, kalau dibilang Rin itu kaya, iya. Sangat. Bahkan gaji papanya saja sudah lebih dari cukup memberikan sebuah kemewahan di hidup Ara dan Rin.
Hanya saja, wanita yang sudah melahirkan Rin enam belas tahun lalu itu, ingin terus melakukan hobinya, sekaligus ingin menjadi wanita mandiri seperti apa yang selalu diucapkannya ketika masih remaja. Ara merupakan seorang fashion designer di salah satu butik ternama Jakarta.
Menurut Ara juga, dengan terus melakukan apa yang di suka membuatnya lebih bisa mengendalikan emosi, karena dia melakukan apa yang di suka juga termasuk salah satu cara menghilangkan stres sehingga mampu menjadi pendengar dan pemberi masukan ketika suami dan anaknya membutuhkan saran.
"Iya udah, berangkat sana. Mama lima menit lagi juga mau ke butik," ucap Ara sambil menempelkan pipinya ke pipi Rin.
"Nih dasi, belum di pasangin," kata Reksa memajukan bibirnya membuat Ara tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya. Kemudian mendekat dan memasangkan dasi berwarna hitam pada sang suami.
Keluarga Rin tidak selalu harmonis. Masalah, perdebatan kecil atau apapun itu juga pernah terjadi. Karena maklum, namanya juga sebuah rumah tangga, berisikan tidak hanya satu orang saja di dalam rumah. Ada dua pendapat berbeda dengan mereka.
Namun, baik Reksa maupun Ara sama-sama tahu porsinya. Membuat Rin yang selalu memerhatikan diam-diam bagaimana hubungan mama, papanya paham akan satu hal.
Pertengkaran sekecil apapun masalahnya memang tidak bisa dihindarkan, tapi dengan kedewasaan masing-masing individu mampu mempertahankan keharmonisan. Dan dari kesimpulan yang ia dapat dari kelas sembilan itu, Rin mencoba untuk berpikir dewasa. Selalu positif dalam menilai dia, yang pergi begitu saja tanpa kejelasan.
Rin menatap wajah kedua orang tuanya yang kini tercipta sebuah tawa karena lelucon yang dibuat papanya. Sadar atau tidak, senyum lebar juga terbit di wajah Rin.
Gue gak perlu bertahan dari apapun, dan lo gak perlu takut gue bakal punya nama lain di hati. Karena pada dasarnya, lo punya tempat khusus, Kak.
"Berangkatnya pake mobil kamu ya Rin, biar bisa laju dikit," ucap Reksa kemudian dengan langkah panjang keluar dari dapur.
"Iya." Rin menyusul bersama Ara di belakang, tentunya dengan langkah yang tertinggal jauh.
"Kamu jangan lupa sarapan, ya? Jangan karena dia pergi, gak mau sarapan. Mungkin aja ada sesuatu yang penting banget, tapi dia gak mau ngerepotin kamu? Jangan nethink ya sayang, Mama aja percaya sama dia. Kamu juga harus. Kan kamu pacarnya," ucap Ara sambil tersenyum cantik di sebelah Rin.
"Emm, udah putus, Ma," jawab Rin sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Ara tertawa anggun. "Gitu, ya? Ya udah, fokus belajar aja. Tunggu dia balik."
Rin mengangguk pelan. Iya, I'm waiting you, Kak.
__ADS_1
...*****...
"Morning, Rin," sapa Raka dengan seulas senyum menawan.
Rin yang baru saja duduk, menoleh dengan sebelah alis terangkat. Gadis itu mendudukkan dirinya dan menaruh tas ranselnya di laci. Raka tanpa banyak omong, menyodorkan sebotol berisikan susu hangat dan sekotak bekal berupa sandwich. Rin mengabaikannya. Gadis itu lebih memilih memainkan ponsel.
Raka berdecak. "Makan."
Rin menghela napasnya. Meletakkan kembali ponselnya di atas meja, dan balik menatap Raka yang kini menatapnya tajam.
Rin sebenarnya juga mau makan, sih, ta—tapi kan dia maluuu.
"Nope."
"Gue suapin deh, mau?" tawar Raka. Melihat raut tak yakin Rin, Raka kembali berucap, "Lain yang kayak kemaren. Lo gak bakal bosen. Ntar setiap minggu menunya gue ganti. Yang penting lo makan pagi."
Geez! Malu banget, damn.
"Makan, ya?" tanya Raka sambil membuka tutup kotak bekal, dan menyodorkan benda persegi itu pada Rin.
Mau ngambil, sih, tapi, maaf banget ini, Rin malu woi! Kemarin-kemarin ada Raka emang gak malu-malu banget kayak sekarang, soalnya kan laki-laki itu tidak tahu kalau Rin tipe cewek yang gampang bosen sama menu sarapan. Nah, Raka pasti sekarang ngeh kalau Rin ini sarapan harus menu yang beda di tiap harinya.
Gemas melihat Rin yang tak kunjung menerima sarapan darinya, dan malah melirik sana-sini dengan gelisah, Raka langsung saja bangkit dari duduknya. Laki-laki itu paham kalau Rin lagi malu-malu anjing mau makan sarapan dari dia.
Sebelum benar-benar keluar dari kelas, laki-laki itu berhenti sejenak di depan pintu. Menoleh pada Rin yang kini menatapnya datar. Senyum miring tercipta di wajah Raka. "Gue tau lo tadi dianter. Pulang sama gue."
Raka keluar.
Meninggalkan Rin sendirian di kelas.
Anjir, kalo beneran dia nganter gimana? Papa? Mampus gue.
Pusing-pusing memikirkan hal yang akan terjadi nanti, Rin memilih mengambil dan memakan sarapan dari Raka. Belum ada lima detik mengunyah, suara yang entah kenapa begitu menyebalkan di telinga Rin terdengar. Membuat gadis itu menoleh cepat ke samping jendela.
"Malu-malu lo. Udah ah, santai aja, gak usah sampe merah gitu mukanya. Gue ke bawah, ya, lo makanannya abisin. Entar pulang aja gue ambil lagi tuh botol ama kotak bekalnya. Love you, Rin," kata Raka sambil tersenyum jahil.
Laki-laki itu kemudian pergi. Benar-benar meninggalkan Rin sendirian di dalam kelas, dengan suara langkah kaki samar-samar yang kian menjauh. Rin meminum susu yang dibawakan Raka, kemudian menenggelamkan wajahnya dalam lipatan tangan.
__ADS_1
AAAAAAAAA MALU BANGET SIAL!! BISA-BISANYA GUE GAK NYADAR ADA DIA! KAMPRET. KAMPRET. KAMPRET. AAAAAA SKSKSKSKKSKSKSK!!