JENNIE

JENNIE
35 - Perasaan Berbeda


__ADS_3

Pada akhirnya, kita akan terbiasa dengan yang selalu ada hingga melupakan tujuan atau rencana awal. —RAKARIN.


...***...


Brak!


Pintu tua berkarat di hadapan Raka dan ketiga temannya itu terlepas dari engsel, jatuh ke lantai keramik tua menyebabkan bunyi dengung tak tertahankan. Raka melangkah masuk dengan aura penuh intimidasi, tatapan setajam elang, juga raut wajah yang datar.


Setiap langkah yang Raka ambil, seolah menambah karisma laki-laki itu. Namun, siapa sangka, jauh di dalam dirinya, ada sisi gelap yang memberontak untuk dilepaskan sejenak. Emosi yang meluap, tapi sayangnya dipaksa untuk tetap tenang tentu memberikan efek ledakan atau semacam gejolak amarah tidak tertahan di dalam sana.


Raka sendiri juga tidak tahu ada apa dengan dirinya. Kenapa dia harus semarah ini ketika menyangkut keselamatan Rin? Padahal ini permainan yang Raka buat sendiri, dia yang memutuskan untuk mendekati Rin, itu semua idenya tanpa ada campur tangan anggota.


Raka menggeleng pelan. Laki-laki itu menghela napas dengan berat. Sebelum membuka pintu yang sepertinya terhubung ke ruang tengah ini, Raka menoleh sejenak pada Arga.


"Posisi ponsel mereka, sih masih di dalam," bisik Arga sambil menunjukkan semacam titik koordinat. Di layar ponselnyaz, terpampang enam titik di satu ruangan membentuk lingkaran.


Raka mengangguk pelan. Actually, laki-laki itu sedikit ragu. Suara pintu besi yang beradu dengan lantai keramik tadi tidak pelan, sangat nyaring bahkan bergema. Kenapa tidak ada tanda-tanda keterkejutan pihak Zegior? Little bit?


"Alden, kita sepemikiran, kan?" Raka menoleh pada Alden, laki-laki itu mengangguk singkat, ia kemudian menepuk bahu Arga dan Regan bergantian. "Keep cautious."


"Calm."


Raka mendorong buka pintu kayu dengan ukiran dedaunan di hadapannya. Sepertinya, satu-satunya ruangan di gedung tua ini yang memakai pintu kayu ya yang ini. That's why, Raka tertarik untuk mengetahui ada apa dibalik pintu ini.


Setelah pintu terbuka, keempatnya disuguhkan dengan koridor panjang yang gelap. Arga reflek menelan ludah.


"Sial, napa jadi horor weh?!"


Tanpa mendengar gerutuan Arga, Raka segera saja melangkah menyusuri koridor, disusul Alden kemudian Regan, and then, mau tak mau Arga ikut menyusul tiga temannya. Dari pandangan mereka yang terbatas karena gelap, di dinding terdapat banyak goresan-goresan, yang tentu menambah suasana makin mengerikan.


Raka berjalan paling depan tanpa rasa takut, begitu netranya menemukan sedikit sumber cahaya, ia lantas berlari pelan penuh waspada. Di hadapannya kini sebuah pintu besi ukiran abstract yang usang sedikit terbuka. Samar-samar telinganya mendengar suara dari dalam. Dua, tiga, empat orang saling menyahut satu sama lain.


Arga menepuk pelan bahu Raka, ia menunjukkan ponselnya kemudian berbisik pada sang ketua, "Mereka di dalem."


Raka ber-smirk. Tanpa banyak suara, laki-laki itu segera mendorong buka pintu dengan keras. Ia melangkah masuk, pemandangan empat laki-laki tengah bersulang menyambut pandangannya.


Salah seorang yang duduk di atas meja menoleh, ia tersenyum tipis. "Coba tebak, siapa yang datang," ucapnya dengan seringai menyeramkan.


"Dan coba lihat, siapa yang baru saja membangunkan seekor singa," ucap Arga menyahuti perkataan ketua Zegior itu.


"No basa-basi, tujuan kalian apa?" tanya Dava seraya mengangkat gelas ke arah Raka dan tiga temannya.


"Gak usah pura-pura gatau njir. Rin mana?" Arga to the point.


Victor mengernyit. "What do you mean? I don't understand what you said. Who's Rin?"


"Gue bilang jangan pura-pura damn."


"Singkatnya, Rin diculik. Temen kita," kata Regan mengikuti permainan pihak Zegior.


"What's that supposed to mean?! Lo pada nuduh kita?" Gilang tertawa sinis. "Are you kidding?"


"Rin mana?" tanya Raka dengan suara rendah penuh intimidasi lengkap tatapan membunuh yang ketara. Aura laki-laki itu menyeruak penuh kebencian, membuat Gilang yang tadinya cengengesan bungkam seketika.


Alden yang sejak tadi memerhatikan situasi, mengernyit. Di tengah emosi ketiga temannya, laki-laki itu baru menyadari satu hal. Di hadapannya kini hanya ada empat orang, padahal seharusnya enam.


Alden menyenggol pelan lengan Arga, membuat laki-laki itu menoleh. Alden kemudian melirik ponsel di tangan Arga, yang segera dipahami. Arga diam-diam melirik ponselnya. Di layar benda kecil tersebut terdapat enam titik koordinat, tapi di ruangan itu hanya terdapat empat orang.


Arga memfokuskan pandangannya ke depan, matanya menajam, sedetik kemudian membulat sempurna. Terdapat enam hp melingkar di atas meja bundar yang kini berada di tengah-tengah empat inti Zegior.


"Sial," desis Arga pelan, ia melirik Alden, laki-laki itu mengangguk membuat Arga segera mengambil tindakan. Ia menoleh pada Raka, baru ingin berucap, ketuanya itu lebih dulu bersuara.


"Gue tau."


Iya, Raka sudah sadar dari awal. Dari ketika ia membawa serta tiga anggota inti ke gedung ini. Gilang, sosok ketua dari geng motor yang bekerja dibalik layar, tepatnya menjual jasa atas kemampuan yang dimiliki per-individu. Memiliki seorang anggota inti bernama Victor, hacker andal, Raka sempat membaca itu dari informasi yang dirangkum Arga. Tidak mungkin jika nomornya tidak terlacak, dan koordinat titik keberadaannya dari ponsel tidak diketahui.


Meski kemampuan Victor jauh di bawah Arga, melacak keberadaannya dari nomor ponsel tentu tidak bisa dilakukan seorang hacker, right?


"Mana?" Raka mengulang pertanyaannya, kali ini suaranya terdengar lebih dingin dari sebelumnya.


Gilang tersenyum tipis. "Lewati gue—"


Belum sempat berkata, Raka segera maju memberikan tendangan ke meja membuat empat anggota Zegior reflek menjauh. Raka menoleh pada tiga temannya yang kini mengambil ancang-ancang. Laki-laki itu kemudian menoleh pada Gilang, ia tersenyum miring.


"Lemah aja gak usah belagu anjng!" ucapnya dengan sorot membunuh, dan segera menyerang Gilang. Bersamaan dengan itu, Arga, Alden dan Regan maju melawan pihak Zegior—Rama, Victor dan Dava.


Raka mendominasi pertarungan. Sedikit pun tidak memberikan celah bagi Gilang melawannya. Raka memegang kendali, memukuli tanpa ampun Gilang, hingga sampai di puncak emosi, Raka meloloskan satu tinju dengan teramat kuat yang sukses membuat mulut Gilang Robek.


Belum puas, Raka berdiri, menginjak tangan Gilang dengan sepatunya dengan kuat. Alden yang sadar jika Raka benar-benar akan membunuh musuhnya segera berlari menghampiri sahabatnya itu untuk menghentikan.


"Udah, Rak."


Raka memberontak, ia masih melayangkan pukulan-pukulan pada Gilang yang nyaris kehilangan kesadaran.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


"Rak, udah!"


Raka menyentak tangan Alden yang menahan tubuhnya. Laki-laki itu menyisir sejenak rambutnya, kemudian menoleh pada tiga orang inti Zegior yang juga sudah tergeletak.

__ADS_1


"Sakit gila pipi gue, besok Megan nanya gue jawab apa njir? Sialan emang si Victor-Victor ini," gerutu Arga sembari memegangi pipinya. Ia menatap sinis Victor yang sudah terbaring tidak berdaya.


"Ho'oh, apaan dah muka gue sakit nih Bambang gara-gara ditonjok tuh bocah!" Regan ikut menggerutu.


Raka melirik Dava, satu-satunya yang tidak mendapat luka serius dan masih memiliki kesadaran. Laki-laki itu berjalan mendekat, membuat Dava yang duduk memulihkan staminanya itu bergetar ketakutan.


"Di mana?"


Dava dengan susah payah berkata, "G—gue gak ta—tau."


"Mana?"


"Gak di si—sini." Raka menatapnya tajam, membuat Dava kembali berkata, "Pe—pergi tadi."


"Gue bilang, mana."


Dava menelan ludahnya susah payah. "Di—dibawa Delon sama Dimas."


"Iya, kemanaaaaaa?" tanya Arga gemas sendiri. "Lama-lama gue mandiin air panas lo ye. Mancing emosi banget."


"Itu—"


"CEPETAN NJIR!" Regan mendelik menatap Dava. "Lo cowo napa gagap?!"


"Di rumah tua. Di belakang sana. Jalan aja, lu—lurus. Nanti ada jalan setapak, ngarah ke sungai. Rumah tu—tua."


"Rumah tua apaan?" tanya Arga mengerutkan kening.


"Warna coklat."


"Oke, lo gak di butuhin lagi," kata Regan berdecih pelan, tiba-tiba jadi kesal sendiri.


Alden menarik kerah Dava hingga tubuh laki-laki itu terangkat. Tanpa basa-basi, Alden segera melayangkan pukulan tepat di wajah Dava.


"Regan, lo suruh beberapa anggota Deverald yang di luar Starlight ke sini. Bawa ke markas." Raka memberi perintah yang segera Regan patuhi.


Raka kemudian berlari secepat mungkin menuju ke tempat yang dimaksud.


Rin, gue ke sana.


...*****...


"Pemandangannya indah, kan, Rin?"


Rin hanya diam, tidak menyahut atau merespon apa-apa. Gadis itu memandangi sungai yang airnya jernih, di depan sana terdapat air terjun yang makin memanjakan mata. Rin rasanya ingin main air sekarang juga, pasti seru.


Gadis itu menghela napas. Melirik sekilas ke arah Delon yang kini menatapnya. Rin juga tidak mengerti, kenapa laki-laki itu sejak tadi terus memerhatikan dia. Ia risi, to be honest. This situation really annoying to her.


"Rin?"


"Ya?"


"Jujur aja, gue sedikit tertarik sama lo."


Rin mengangkat salah satu alisnya. Melihat itu, Delon tersenyum—yang untuk pertama kalinya dilihat Rin.


"For some reason, lo biarin Raka masuk ke hidup lo. Padahal di sisi lain, lo punya sosok yang lo tunggu."


Rin menajamkan tatapannya. Gadis itu paham dengan amat sangat, arti dari perkataan Delon.


"Sebagai orang yang cuma tau dari mengamati di kejauhan tanpa tau sebenarnya, lo cukup punya muka buat berasumsi mengenai gue tepat di hadapan gue."


"C'mon Rin, di 'dunia bawah' banyak yang tau lo, apalagi sekarang."


Rin tersenyum tipis. "Keren ya, berita aneh-anehnya gak sampe ke atas."


"Karena yang ada di bawah, mainnya uang buat nutupin something yang mereka tau."


"Terus gue?"


"Backingan lo."


"What does that mean?"


"Gilang salah. Lo tetep punya kekuasaan, pemegang kendali meski sekarang kalian renggang. Yeah, keliatannya, who knows?"


Rin menyipitkan matanya. Baru ingin bersuara, Dimas lebih dulu bersuara. "Kirain sama-sama dingin gak bakal ada obrolan, ternyata ada, ya. Gue ampe diem gak berkutik, haha!!"


Ruangan itu seketika senyap. Dimas mendatarkan wajahnya seketika. "Sial, langsung pada diem pas gue ngomong."


Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Suara dobrakan pintu dari arah pintu utama membuat ketiga orang di ruangan itu saling tatap satu sama lain. Tidak berapa lama, suara langkah kaki tergesa terdengar makin dekat. Jantung Rin serasa mau lompat begitu dari pintu di hadapannya tiba-tiba muncul Raka bersama Alden dan Arga.


Manik kecoklatan Rin beradu pandang untuk beberapa sekon dengan manik hijau Raka. Laki-laki itu kemudian menoleh pada Delon, mengingat sang tangan kanan Zegior itu merengkuh Rin, membuat emosi Raka kembali menguap.


"Kok lo bertiga kesini njir? Gilang ama yang lain mana??" tanya Dimas kebingungan.


Alden menepuk pelan bahu Raka, memperingatkan. "Kendalikan emosi lo, ada Rin."


Memejamkan mata sejenak, Raka akhirnya mengambil langkah maju, yang sontak membuat Delon dan Dimas siaga. Menyadari arah pandang Raka, Delon segera menarik kursi Rin, Raka yang melihat itu segera berlari kemudian melompat untuk memberikan tendangan ke arah Delon hingga laki-laki itu jatuh terbaring.


Alden melawan Dimas dan Arga menghampiri Rin. "Lo aman."


Rin memerhatikan Arga yang membuka jeratan rantai. Kuncinya entah darimana laki-laki itu mendapatkannya. Seingat Rin, kunci itu berada di tangan Gilang.

__ADS_1


Atau jangan-jangan, Gilang ...?


"Ayo, keluar." Arga mengulurkan tangan untuk membantu Rin berdiri, yang segera gadis itu terima. "Makasih."


Sebelum meninggalkan ruangan itu, Rin sempat melirik perkelahian imbang antara dua inti Deverald dengan dua inti Zegior. Rin memerhatikan dengan seksama, setiap gerakan yang Raka lakukan. Gadis itu kemudian tersenyum tipis.


Not bad. Lagian, wajar, sih, kan ketua.


Begitu menginjakkan kaki di lantai dasar, Rin dapat mendengar jelas suara jeritan penuh kesakitan dari Delon. Rin menahan langkahnya sejenak, membuat Arga yang berjalan di depannya menoleh sambil tersenyum kikuk padanya.


"Abaikan aja Rin, anggep gak denger apa-apa."


Rin mengangguk pelan. Gadis itu kemudian kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda bersama Arga. Sialnya, suara jeritan Delon makin keras, hal itu membuat Rin nekat berlari naik kembali ke atas.


Arga meringis, ikut menyusul Rin. "Duh, mampus gue!"


Rin mendorong buka pintu di hadapannya. Aksi Raka yang berada di posisi berdiri dan menginjak punggung Delon sambil menarik kedua tangan laki-laki itu yang kini posisinya tiarap menyambut gadis itu. Raka menarik kedua tangan Delon makin keras hingga patahan tulang terdengar.


Alden tidak bisa menghentikannya. Sementara Arga membujuk Rin agar segera keluar.


"RAK, UDAH! LO MAU BUNUH ANAK ORANG?!"


"RAK!"


Raka tidak menggubrisnya, justru makin kalap. Hingga suara lembut terdengar menghentikan Raka seketika.


"Raka, udah."


Raka melirik sekilas, ada Rin yang berdiri di depan pintu memerhatikan. Laki-laki itu menunduk, ia menatap Alden penuh arti.


"Nanti mereka kesini," bisik Alden yang mengerti arti tatapan itu.


Raka kemudian menoleh pada Rin. "Lo gapapa?"


Jantung Rin serasa mencelos dari tempatnya. Sosok yang cukup membuat Rin uring-uringan karena menjauh secara tiba-tiba selama sebulan itu, kini bertanya mengenai kondisinya dengan penuh perhatian. Gadis itu hanya dapat menjawab dengan anggukan.


"Lo duluan aja sama Arga. Gue gak bakal mukul dia lagi, tenang."


Rin menatap Raka dengan tatapan yang sulit diartikan. Tak lama, gadis itu kembali mengangguk.


"Keluar sekarang Rin?" tanya Arga hati-hati, Rin hanya merespon dengan gumaman pelan. Keduanya pun melangkah menjauh dari sana.


Rin merenung. Fokusnya ada dua sekarang. First, untuk ke depannya, Rin pastikan, dia tidak akan terlalu underestimated Raka, sang ketua Deverald. Will never again.


And second, it's about Raka. Mengenai pertahanan hati gadis itu yang mulai goyah.


...*****...


"Lo pulang sama gue," ucap Raka seraya menarik pelan pergelangan tangan kanan Rin agar mengikutinya. Rin memilih menurut saja. Di depannya kini sebuah lamborghini putih terparkir rapi di tepi jalan.


Raka membukakan pintu, kemudian melirik Rin. Gadis itu memberanikan menatap mata Raka yang tajam. "Mobil lo?"


"Kenapa emang?"


Rin menggigit pelan pipi bagian dalamnya. Gadis itu sebenarnya tahu ini bukan mobil Raka, plat nomornya tidak sama seperti yang kadang dipakai Raka.


Rin menghela napas pelan, memilih untuk segera masuk. Kalau dia jawab jujur, Raka pasti akan besar kepala mengira dia memerhatikan laki-laki itu. Kalau mencari alasan, terlihat sangat bodoh sekali.


Setelah memastikan Rin duduk dengan sabuk pengaman, Raka segera menutup pintunya, ia melirik Arga dan Alden penuh arti, yang keduanya serempak mengangguk. Raka lantas memutari bagian depan mobil, dan tak lama mengemudikannya ke jalan raya.


Rin hanya diam menatap keluar. Perasaannya campur aduk, dan semua terasa datar baginya. Tidak, bukan datar, tapi Rin yang menepis paksa pikiran-pikiran mengenai Raka dari kepalanya.


Mobil tiba-tiba berhenti di minimarket, Rin dengan tatapan bingung menoleh pada Raka. "Kok mampir?" tanya gadis itu dengan polosnya.


"Beli fash wash."


"Lo?"


Raka menatap Rin lekat dari kaca mobil cukup lama, kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. "Lo."


Rin mengerutkan kening. "Kenapa?" Pertanyaannya itu membuat Raka menghela napas panjang. "Rin? Muka lo—"


"Okay, I know," kata gadis itu cepat seraya turun dari mobil. Dia baru ingat juga. Sial sekali. Wajahnya ini harus sampai double cleansing to make sure wajahnya benar-benar bersih.


Gilang sialan.


Beberapa menit berlalu, Rin akhirnya kembali masuk ke mobil menenteng kantong plastik kecil. Kendaraan roda empat ini pun kembali melaju di jalan raya. Rin mengernyit, begitu Raka memberhentikan mobilnya di sebuah gedung besar yang sedikit pun tidak terpikir olehnya kalau Raka akan membawanya kemari.


Basecamp utama Deverald.


Are you kidding, Rak?


"Di mana?" tanya Rin pura-pura tidak tahu. "Cuci muka. Di sini aja. Gue yang pastiin."


Raka kemudian turun dan membukakan pintu untuk Rin. Laki-laki itu kemudian mengulurkan tangan membantu Rin berdiri.


"Makasih."


Raka tersenyum tipis mendengarnya.


Lampu hijau?


"Ayo, anggep istana aja. Lo ratunya."

__ADS_1


Rin terdiam memandang punggung Raka yang berada di depannya. Gadis itu menghela napas panjang dengan sedikit kesusahan.


Rak, kalo lo tau siapa gue, lo pasti nyesel bawa gue kesini.


__ADS_2