JENNIE

JENNIE
05 - Penyusup


__ADS_3

Siapa saja yang mencari masalah, tentu kami tidak akan tinggal diam. —Raka.


...*****...


"Eh woi, lo pada ada liat si anak baru itu gak?" tanya Galang membuka suara. Cowok itu bersama enam inti Deverald kini berada di basecamp yang letaknya di belakang gudang sekolah.


Fyi, basecamp utama Deverald itu bukan di sini, karena pasti gak akan cukup kalau seluruh anggotanya pada ngumpul. Secara, hampir seluruh sekolah di Jakarta memiliki murid yang merupakan bagian dari Deverald.


Oleh karena anggota yang sangat banyak itu, basecamp utama Deverald tentunya jauh lebih besar. Berkali-kali lipat dari ini.


"Otak lo si anak baru mulu Lang, inget dekel yang setahun lo baperin mulu," sindir Arga yang kini tengah bermain PlayStation bersama Iqbal dan Regan.


"Gue penasaran anjir, denger dari Tasya, tuh dekel kita dinginnya gak ada obat. Lagian, gue gak ada maksud apa-apa, mau fokus sama yang sekarang," bela cowok itu.


Arka yang tadinya fokus main hp, langsung berdiri sambil berjoget ria, tidak lupa tertawa membahana membuat yang lain memerhatikan cowok itu aneh.


"Najis si Galang mau fokus sama cewek, pagi tadi aja video call-an sama Bitha, anak 10 IPA!" ucap Arka, masih joget-joget tidak jelas—bermaksud mengejek Galang.


"Setuju, najis Lang! Fokus, fokus pala lo peyang," ketus Iqbal. "Btw, Tasya siapa? Banyak banget gila gebetan lo!"


Galang berdecak pelan. "Yang kemaren gue anter pulang." Arga melempar keripik ke arah Galang, yang berhasil mengenai jidat cowok itu.


"Bilang tadi mau fokus sama dekel 11 IPA, eh kemaren malah pulang berdua bareng anak kelas 10 IPS. Playboy lo kurangin Lang," tegur Regan.


"Kan kemaren. Gue ngomong mau fokus sama Audey baru tadi," kilah Galang.


"Oh iya namanya Audey. Lupa gue jir. Lo, sih kebanyakan cewek. Yang gue inget Audey tuh body-nya beuh, goals banget," ucap Regan sambil menyengir.


Galang melempar sepatunya ke arah Regan. "Gak usah macem-macem," kata cowok itu tajam.


Arka tertawa keras. "Makanya kalo udah ada satu, satu aja, gak usah lirik yang lain. Mata buaya dasar!"


"ANJIR HAHAHAHAHAH!!" Arga melempari Galang dengan keripik. "Dog eyes kali ah."


"Anjing aja lah, gak perlu pake mata. Kan anaknya emang anjing, mainin cewek," celetuk Iqbal sambil mencomot keripik Arga.


"Btw Lang, lo kejebak sama pesona Audey kan? Inget gak setahun lalu perjanjian kita apa?" tembak Arka dengan salah satu sudut bibirnya yang terangkat naik.


Arga, Iqbal, dan Regan saling pandang satu sama lain. "Apa nih?" tanya Iqbal mewakilkan yang lain.


Arka menoleh pada ketiga cowok yang duduk di lantai bermain playstation itu. "Galang kentut, bau banget," jawabnya asal.

__ADS_1


"Anjing," umpat Galang.


"Lang, lo sama Audey sebenernya pacaran gak, sih? Kalo iya apa gak sakit hati si Audey liat lo gonta-ganti cewek mulu buat digonceng tiap pulang," kata Arga tak habis pikir dengan kelakuan sahabatnya itu.


Galang menghela napas panjang. "Gue udah bilang, kok. Dia yang paling spesial, boleh ngaku ke temen-temennya kalo gue pacarnya, tapi tetep sadar fakta kalo gue sama dia sebatas deket."


Mendengar itu Arga spontan menabok kepala Galang. "Lo ngasih harapan woi! Gila nih anak satu." Laki-laki itu kemudian menoleh pada Raka. "Rak, waketu lo nih, bisa-bisanya ngasih harapan begitu ke cewek."


"Nakal boleh, brengsek jangan, Lang," peringat Raka dengan lirikan tajam.


Galang tersenyum tipis. "Iya, Lang. Gue cuma gak tega aja. Dia kayaknya serius suka ke gue."


"Bego," celetuk Alden yang kini ada di posisi rebahan di sofa.


BRAK!


Suara pintu didobrak kasar mengalihkan atensi ketujuh laki-laki itu. Menatap dengan tajam, Victor—ketua perwakilan kelas 11—membuat cowok itu segera menunduk menyadari kesalahannya.


Sekadar informasi saja, dengan jumlah anggota yang amat banyak, tentu harus ada perwakilan ketua dari setiap kelas. Namun, itu terkhusus untuk anggota Deverald yang bersekolah di Starlight. Kalau sekolah lain, ketua perwakilannya cukup satu saja, dan yang akan memegang adalah orang kepercayaan Raka.


"Maaf Bang gak sopan, gue reflek tadi," ucap Victor yang dibalas embusan napas kasar dari Raka. "Ada apa?" tanyanya langsung.


Raka mengenal Victor, sangat malahan. Adik kelasnya itu, menjunjung tinggi rasa hormatnya pada dia dan enam temannya. Jadi, ketika Victor bersikap tidak sopan—contohnya seperti tadi—maka pasti ada sesuatu yang buruk.


Mendengar itu, Raka mengeraskan rahangnya, kedua tangan cowok itu terkepal kuat, berusaha meredam emosi yang memaksa ingin keluar.


"Di mana?" tanya Raka dingin, penuh penekanan yang berhasil membuat bulu kuduk Victor berdiri. Tidak hanya cowok itu saja, melainkan enam temannya yang lain.


"Udah dibawa ke belakang sekolah Bang."


Raka ber-smirk. "Let's go and see," ucapnya dengan bibir bawah yang ia basahi.


...*****...


BUGH!


BUGH!


BUGH!


Canva—si penyusup—kini babak belur dengan luka lebam yang mengeluarkan darah memenuhi wajahnya.

__ADS_1


"Ngaku ke gue siapa yang nyuruh!" bentak Raka sambil menendang perut Canva dengan kuat. Jujur, Raka gemes banget udah sama si Canva ini, daritadi masih saja tutup mulut mengenai siapa yang menyuruhnya ke SMA Starlight.


Buang-buang waktu tahu gak?


Canva terkekeh sambil mengelap ujung bibirnya yang mengeluarkan darah. Sambil terlentang di tanah berumput, cowok itu berujar, "Gue gak bakal ngomong."


Raka mendengkus. Berusaha menahan emosinya agar tidak lepas kendali.


"Tinggal ngomong aja apa susahnya, sih? Bikin susah orang sama diri sendiri aja lo," kata Arga sambil berjongkok di dekat Canva.


"Tau nih, ngaku gak lo?!" Galang menarik kerah baju Canva membuat cowok itu sedikit terangkat ke atas.


BUGH!


"Lo ngaku gak bakal mati. Paling patah tulang doang," lanjut Galang setelah memberikan pukulan tepat di wajah Canva.


Iqbal cengengesan. "Bedanya apa anjir? Mending tenggelamin ke sungai aja lah, kasian udah diambang napas."


"Diem lo, lagi serius juga," kata Regan yang berdiri di sebelah cowok itu.


"NGAKU GAK LO?!"


Mendengar bentakan Raka disertai tatapan tajam menusuk dari cowok itu, Canva dibuat bergidik ngeri.


BUGH!


"ANJIR HAHAHAH MUKA LO KAYAK BADUT!" ucap Arka meledek. Tatapan meremehkan ia tujukan pada Canva. Wajah anak SMA Galaksi itu kini babak belur. Merah dan lebam di seluruh wajahnya. Siapa suruh cari masalah sama Deverald.


Raka berjongkok, memegang kerah Canva dan menariknya kasar. "Mau mati gimana?"


Canva menggeleng dengan susah payah. Baru ditatap saja ia sudah ketakutan. Apalagi denger Raka ngomong gitu?


Udahlah gue bunuh diri aja.


"Gu—gue ba—kal ngo—ngomong si—siapa ya—yang nyu—ruh," ucap Canva terbata. Takut yang melingkupi hati serta sakit di seluruh tubuh membuat suaranya bergetar.


"Yaudah cepetan ngomong! Lelet banget," Arga menjambak rambut Canva dengan gemas.


Meski awalnya ragu, Canva akhirnya jujur. "D—dia bentar lagi balik. L—lo pasti tau siapa yang nyu—nyuruh gue, kan, Rak?"


****!

__ADS_1


"Regan, lo punya tugas. Buat dia gak bisa jalan selamanya." Raka beralih menatap Alden. "Hilangin jejak."


__ADS_2