
Boleh pura-pura lupa aja gak, sih sama janji yang waktu itu? Takut kemakan omongan sendiri, damn. —Rin.
...***...
Rin melangkah keluar kelas bersama empat sahabatnya. Kelima gadis cantik itu berniat ke kantin setelah semenit lalu bel istirahat berbunyi.
"Eh, ntar jalan-jalan lagi, yok! Gue bosen di rumah," ucap Audey memberengut. "Mama sama papa lagi ada urusan juga beberapa hari ini. Jadi gue sendirian di rumah. Eh, enggak, sih, ada bi Atih juga."
"Jadi?" tanya Ruth dengan sebelah alis terangkat.
"Kalian nginep rumah gue yok, beberapa hari ini sampe mama sama papa gue balik. Perang bantal kayaknya seru, deh. Ayok!!"
"Gue, sih oke aja." Ruth mengedikkan bahunya.
"Aku juga ikut, hehe."
Rin berpikir sejenak, kemudian mengangguk pelan. "Gue ikut."
Keempatnya lantas menoleh pada Megan, gadis itu menyengir lucu. "Maaf, kayanya enggak, deh. Ga bakal diizinin juga. "
"Ya, udah, gapapa." Audey merangkul Megan agar tidak berkecil hati. "Anyway, ntar sore sekalian kalian bawa barang-barang ke rumah gue, kita mampir ke mall bentar, ya? Kita ke fun zone-nya aja gimana?"
"Ih, boleh-boleh! Aku mau mainan jugaaa!!" seru Cellin antusias.
"Good, lo berdua gimana? Ikut juga, ya?" Audey memasang wajah lucu.
"Ew." Ruth memutar matanya. "Kita jelas ikut, sih, btw. Jelas-jelas yang punya rumah pergi, ya kali gue sama Rin diem di rumah lo. Stupid."
"Siapa tau, hehe." Audey kemudian menyenggol lengan Rin pelan. "Ehm, yang kemaren date uwu sama kak Raka, BWAHAHAH!!"
Rin sontak membekap mulut Audey. "Jangan nyaring-nyaring, please!"
"Gosh, kok gak bilang-bilang ke kita?!" tanya Ruth menuntut penjelasan.
"How could you, Rin?!" pekik Megan ekspresif.
"Duh, bukan gitu. Nanti gue jelasin pas di kantin. Tapi respon kalian jangan heboh banget, ya? Gue gak mau diserang fans Raka. Bisa abis gue!"
"Wow, Rin udah bener-bener cair, ye. Ngomongnya gak satu dua kata lagi, langsung banyak gini!" seru Audey cengengesan yang mendapat toyoran pelan dari Ruth. "Lo kira Rin selamanya jadi es?"
"Yeee, siapa tau!"
"Kutub aja mencair perlahan, masa Rin mau jadi Neptunus?!" kata Megan bercanda. Sayangnya, tidak ada yang mengerti candaan gadis itu.
"Jujur, Meg. Saking pinternya lo, gue gak nyampe sama bahasa lo."
"It was just a joke, guys!" Megan mengibaskan tangannya di depan wajahnya sendiri. "Gak usah di pikirin."
"Bukan gitu anjir, bahasa lo ketinggian!" ucap Audey tak santai. "Mana gue paham artinya."
"Iya, kayak yang aku bilang barusan. Gak usah di pikirin."
"Tapi kan gue keburu penasaran!"
__ADS_1
"Duh, ribet banget lo berdua." Ruth melerai sambil memutar matanya malas. "Perkara gituan doang juga."
"Iya, iya, maaf." Megan merengut sementara Audey mendengkus. Cellin sendiri berjalan di tengah-tengah keduanya. "Udah, ya, jangan ribut lagi."
Rin menahan tawanya. Sejujurnya, ia juga tidak paham candaan Megan barusan.
"Meg, emang artinya joke lo barusan apa?"
Keempat gadis cantik itu menoleh kaget ke arah Rin yang kini mengerjap polos. "Ada yang salah dari pertanyaan gue?"
Audey dan Megan saling berpandangan, kemudian Audey ber-smirk. "GEEZ! RIN AJA GAK PAHAM, EMANG LO TUH BAHASANYA NEMBUS KELUAR BUMI!!"
"Anjir," ceplos Ruth tertawa pelan.
Megan berdecak. "Jadi artinya tuh, kutub aja yang semuanya es gitu, perlahan cair. Masa Rin mau jadi Neptunus yang selamanya mancarin suhu atau aura dingin terus?"
Hening.
Keempatnya paham. Cuma, emang ngebug aja gatau kenapa.
"Ahaha." Cellin memecah keheningan dengan tawa canggungnya. "Paham, paham."
Megan menghela napas. "Udah, ah, emang paling bener gue sama Jimina aja! Ngomong sama lo berempat responnya lama. Masa gak paham-paham?!"
"Abisan, gue gak ngerti letak lucunya di mana," kata Audey merengut.
"Ih! Kan gue gak bilang lucu."
Okay, enough. Ruth menutuskan menghentikan percakapan atau bisa disebut perdebatan itu dengan memberikan empat temannya itu permen loli.
Kelimanya lantas memakan loli mereka hingga sampai di kantin. Dan Rin memutuskan untuk lebih terbuka pada empat gadis ini yang sekarang sudah jadi sahabatnya.
...*****...
"GOSH! JADI SELAMA INI KALIAN BUAT PERJANJIAN?!! SWEET BANGET, SIAL!!!"
Rin spontan menutup wajahnya menggunakan kedua tangan. Ruth dengan cepat menarik Audey agar kembali duduk.
"Stupid, jangan teriak-teriak! Lo tuh emang paling gak bisa ngontrol diri. Di liatin satu kantin kan gara-gara teriakan lo barusan." Ruth mendengkus malas, sementara Audey hanya menyengir lucu sambil meminum jus apelnya sedikit canggung karena malu sendiri ditatap seisi kantin.
"Rin padahal belum selesai cerita," ucap Megan memutar matanya malas.
"Iya, iya, maaf. Gue kaget banget soalnya."
Rin melipat tangannya di atas meja. Menatap tajam ke arah Audey. "Sekali lagi lo teriak, gue gak lanjutin cerita."
"Eh, iyaaaaa, maaf! Gue kunci rapat mulut gue, kok." Audey membekap mulutnya sendiri.
"Jadi karna Raka belum juga berhasil di atas lo rank-nya, kalian masih dalam masa pdkt, gitu?" tanya Ruth memastikan.
"Pdkt? Enggak, lah. Gue gak pdkt-an sama dia. Kita gak ada hubungan spesial apa-apa, please." Rin menghela napas pelan.
"Oh, gue inget. Yang waktu itu lo nanya soal Raka, pinter apa enggak, itu kalian udah buat perjanjiannya?" tanya Audey yang dibalas anggukan pelan dari Rin. "Kemarennya, sih. Pas kelas fisika selesai."
__ADS_1
"Gosh," gumam Megan pelan, kemudian meminum strawberry milk-nya.
"Denger-denger dari Galang, kak Raka emang dua bulan terakhir ini rajin banget belajarnya. Nilainya naik drastis."
Rin menipiskan bibirnya mendengar ucapan Audey barusan. Ruth memicingkan matanya. "Lo kenapa buat perjanjian kayak gini kalo emang gak suka sama Raka?"
"Waktu itu gue yakin, Raka gak bakal bisa ngebalap gue. Tapi makin kesini, dia berhasil buat gue ragu."
"Kalo dia berhasil, lo bakal terima Raka, Rin?" tanya Megan hati-hati.
"Gatau."
"Duh, gue gregetan. Pengen jungkir balik aja rasanya." Audey mendengkus malas. "Gini ya, Rin, perjanjian itu ada karena tercetus dari mulut lo sendiri, dan kalo kak Raka berhasil menuhin, lo harus nerima dia, dong."
"Rin gak bakal bikin perjanjian gitu, kalo Raka-nya gak suddenly maksa Rin buat pacaran." Megan membela Rin.
"Tapi bikin perjanjian gitu juga sama aja ngasih harapan ke kak Raka. Makanya dia sampe berjuang segitu keras buat belajar. Waktunya yang biasa buat main, ngumpul-ngumpul bareng anggota Deverald, harus di relain buat belajar biar bisa menangin hati Rin."
"Udah, udah. Jangan debat lagi, dong. Makan yang tenang aja, ya?" Cellin menghentikan Megan yang seperti ingin berkata sesuatu. "Sebagai temennya Rin, harusnya kasih saran, kalo ga bisa, minimal dengerin dia cerita. Jangan debat, atau nyudutin Rin."
Rin tersenyum tulus pada Cellin. Gadis itu kemudian mencubit gemas pipi Megan dan Audey berbarengan.
"Udah, ya? Lanjut makan, habis ini papi ngajar, kan? Fisika."
"Gosh." Megan menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. "Pusing banget. Mana nanti suruh maju satu-satu, jelasin tugas yang kemaren."
"Duh, gue izin ke UKS aja, deh. Gak paham materinya gue, tuh!" Audey merengut.
"No!" cegah Ruth cepat. "Enak aja mau santai-santai di UKS. Lo minggu kemaren belom maju. Lo haris ngerasain yang gue rasain pas maju waktu itu!"
"Bener. Aku juga maju, takut banget sampe keringetan. Audey pokoknya harus maju juga. Rin sama Megan juga ga boleh lolos!"
"Anjir," ceplos Audey mendelik.
"Permisi, Kak."
Kelima gadis cantik itu mengalihkan pandangan mereka pada seorang laki-laki berjaket kulit yang kini tersenyum sopan. Ruth pertama kali angkat suara setelah tercipta keheningan beberapa saat.
"Kenapa?"
"Kak Rin, mau ke basecamp bentar, gak? Di cariin bang Raka."
"DAMN IT, RIN?!!" pekik empat sahabatnya terkejut setengah mampus.
Audey reflek merangkul empat temannya itu untuk mendekatnya wajah mereka ke tengah-tengah meja agar hanya mereka berlima yang dapat mendengar.
"Kita tadi bicarain soal perjanjian lo sama Raka, gak ada mata-mata anak Deverald, kan?!"
Ruth melebarkan matanya. "Bener juga. Kita kan ngomongnya nyaring banget tadi."
"Emang ada mata-matanya Raka?" tanya Rin polos.
"Ada, Rin. Kan anggota Deverald banyak banget," jawab Cellin dengan ekspresi panik.
__ADS_1
Ah, sial. Ntar kepedean lagi tuh cowok gara-gara gue omongin gini.