
Untuk waktu dan canda tawanya, terimakasih. Percayalah, ketika berhasil menemukan sosok sahabat yang tepat, akan mampu membawa kita pada diri kita yang dulu, mampu menghadirkan sebuah senyum agar muncul lagi, yang dulu dengan paksa kita sembunyikan. —Rin.
...***...
"Alright guys, we're arrived. So, kemana dulu nih?" tanya Audey sambil menatap tiga temannya yang lain. Keempat gadis cantik itu memutuskan duduk di kursi yang tersedia di depan salah satu store di mall tersebut ketika sampai karena belum tahu ingin melakukan apa lebih dulu.
"Beli minum dulu gimana? Aku haus, hehe," ucap Cellin seraya menyengir hingga matanya menyipit.
"Milk shake? Jelly potter? Coffee Milk? Or something like that?" tanya Audey memerhatikan dengan seksama satu-persatu store minuman terdekat.
"Jelly potter aja."
"There," kata Audey menunjuk dengan dagu store yang berada cukup jauh di hadapan mereka. "Gue juga mau beli."
Keempatnya lantas beranjak menuju tempat yang dimaksud. Mengantri beberapa saat, kemudian menunggu pesanan siap. Empat gadis cantik itu kini melangkah ke lantai dua, di mana berbagai store dari brand ternama berada.
"Bvlgari store?" Audey mengangkat satu alisnya, yang segera mendapat respon anggukan dari tiga temannya.
"Gue mau beli apaan ya?"
"Perhaps, dress, Ruth? Bentar lagi kan birthday Starlight, lumayan prepare outfit-nya dari sekarang."
"Gue Dior biasanya kalo dress, lainnya baru dari *other brand*s."
"Nanti kunjungin aja semua store, liat-liat siapa tau ada yang bikin lo tertarik."
...*****...
"Ivory blue bagus di lo Rin, muka dingin ditambah kulit pale sama rona merah alami di pipi, perpaduannya perfect banget, sih." Audey menatap Rin dari atas sampai bawah dengan tatapan menilai. Gadis itu maju beberapa langkah guna merapikan rambut Rin yang terurai indah, menjuntai hingga punggung. Sekali lagi, Rin dengan florals dress-nya berhasil memukau tiga temannya dan para staf yang membantu.
"Geez, you look sooo pretty!!" pekik Audey tidak tahan. "Kalo Raka liat, gak yakin gue dia bakal berani meluk cewek lain depan lo, Rin!"
Rin memutar matanya malas. "Gak usah bahas itu."
"Excuse me, Kak, ini beberapa dress yang Kakak pinta, semua yang berwarna hitam di store ini. Mau saya bantu untuk mencoba satu-satu?" tanya salah seorang staf perempuan pada Ruth, gadis itu mengangguk kecil dan mengikuti saja staf tersebut.
Sementara Cellin, gadis itu sibuk melihat-lihat koleksi tas mewah yang terpajang berjejer di dalam etalase. Cellin melirik satu tas yang memang sejak masuk ke dalam store sudah menarik perhatiannya. Ia lantas menoleh pada staf yang sejak tadi memandunya, gadis itu tersenyum cantik. "Excuse me, can you show to me the infinitum chain wallet? Yes, ivory color."
Audey sendiri, setelah membantu Rin memilih dress, gadis itu segera meminta tolong pada staf yang dari awal menemaninya untuk mencarikan beberapa model dress yang sesuai dengan dirinya di store tersebut.
Rin kini berada di ruang ganti. Gadis itu menatap dirinya di cermin fullbody berbentuk oval yang tersedia. Rin perlahan menerbitkan senyum cantiknya. Seseorang yang ada di pantulan kaca tersebut benar-benar memukau.
Gila, gue secantik ini?
Dibantu dua orang staf perempuan untuk melepaskan dress dan kembali memakai seragam sekolahnya, Rin hanya menurut saja. Sambil seragamnya dirapikan, gadis itu mengeluarkan dompet dari tasnya. Setelah rapi, Rin beranjak keluar bersama staf.
"I'll take this one," ucap Rin pada salah satu dari keduanya, sambil memberikan kartu ATM berwarna hitam.
"Baik, Kak, saya siapkan siapkan terlebih dahulu."
Rin mengangguk singkat seraya tersenyum tipis. Gadis itu melangkah menuju kursi tunggu menghampiri Cellin dan Ruth yang masing-masing di antara mereka sudah menjinting goodie bag.
"Rinnnnn, aku seneng banget, nemu tas yang pengen aku beli dari kemaren-kemaren," ucap Cellin antusias seraya memeluk Rin erat. "Yeah, boleh liat?"
"Boleh." Cellin lantas menunjukkannya pada Rin dengan mata berbinar senang. "Ini tuh keluaran terbaru! Aku mau beli tapi ga ada temen pas udah ada di Indo, and finally hari ini kebeli! Seneng banget aaaa!!"
Rin tersenyum cantik, ikut senang melihat Cellin tersenyum lebar seperti sekarang. Gadis itu menoleh pada Ruth. "Lo beli apa?"
"Rose gold Bvlgari bracelet, bagus aja gitu di tangan gue. Kebetulan juga minggu sore keluarga mama dari Paris mau datang. By the way, nanti ke store sebelah bentar gapapa? Gue mau beli dress, malas kena judge yang enggak-enggak sama para aunty gue gara-gara bajunya itu-itu aja."
"Yes, gue juga mau liat-liat, sih."
Suara high heels terdengar mendekat membuat ketiga gadis cantik itu menolehkan kepala mereka. Audey dengan black dress di atas lutut lengkap dengan beberapa aksesoris pelengkap datang bersama dua staf.
__ADS_1
"Oh my gosh, you look gorgeous, Dey!" Rin memeluk Audey sebagai tanda pujian.
Cellin mengangguk setuju. "Cantik bangetttt, suka liatnya." Gadis itu ikut memeluk Audey.
Audey tersenyum manis pada dua temannya itu. "Thank you. Gue ke sini mau minta pendapat kalian, gimana cocok gak?"
"Warna hitamnya bagus Dey, tanned skin lo gak tenggelam dibuatnya," kata Ruth seraya mengacungkan satu jempolnya.
Audey memutarkan tubuhnya dengan pelan. "Seriusan?"
"Iya, lo perfect pake itu. Always cantik, sih, tapi kali ini aura lo keluar gitu. Warnanya cocok sama lo."
"Oke deh, gue ganti terus bayar dulu, ya."
...*****...
Rin, Audey, Cellin dan Ruth melangkah beriringan, dengan di masing-masing tangan mereka terdapat banyak sekali goodie bag dari berbagai brand ternama, mulai dari Louis Vuitton, Gucci, Dior, Channel, Tiffany, YSL, Fendi dan beberapa luxury brands yang ada di mall tersebut. Niatnya mereka cuma lihat-lihat, karena suka, jadi langsung beli deh. Abisan lucu-lucu, jadi mereka tidak bisa menahan diri untuk berhemat.
Kini keempatnya berniat untuk ke restaurant yang ada di lantai dua, karena cukup malas berbalik arah ke lantai satu. Jam di tangan mereka kini menunjukkan pukul delapan kurang lima menit, yang artinya ini merupakan dinner. Keasikan belanja, jadi lupa waktu, kan, hadeh!
Melewati Gucci store, salah satu staf yang ingin masuk sempat memberikan senyum ramah dan mengangguk pada empat gadis cantik dengan seragam SMA itu. Keempatnya ikut menganggukkan kepalanya dan tersenyum ramah sebagai balasan.
Rin memerhatikan orang-orang yang ada di dalam, pandangannya jatuh pada sosok laki-laki yang duduk di kursi tunggu sambil memainkan ponselnya. Di hadapan laki-laki itu, seorang perempuan dengan rambut hitam panjang menjuntai hingga ke pinggang terlihat mengambil tasnya yang berada di pangkuan laki-laki tersebut.
"Guys, tuh cowok keren banget gila, dari rambutnya, style-nya, tangannya juga wow gitu loh, nunduk gitu aja gantengnya gak ngotak, damn!" pekik Audey tertahan pada tiga temannya, yang ternyata juga sama-sama menatap sosok yang dimaksud.
Begitu mengangkat pandangan karena dimintai pendapat oleh perempuan di hadapannya, Rin, Audey, Cellin dan Ruth melebarkan mata mereka—terkejut begitu tahu laki-laki itu adalah Arga. Namun, tidak bisa ditampik, laki-laki itu memang memiliki aura luar biasa yang selalu berhasil menjerat gadis-gadis remaja untuk jatuh hati padanya.
Spontan saja mendapati fakta tersebut, empat gadis cantik itu saling berpandangan satu sama lain dan segera mengalihkan pandangan mereka begitu Arga ingin melihat ke arah mereka. Melewati store tersebut cukup jauh, barulah keempatnya menghela napas lega.
"Gila kak Arga ternyata. Cool banget askjdblfgh!!" Audey kemudian menoleh pada tiga temannya sambil tersenyum meggoda dan menyipitkan mata penuh kecurigaan. "Ngaku lo bertiga, pada terpesona kan sama kak Arga?!"
Rin mengangguk. "Iya. Bahkan auranya berhasil ngalahin aura ketua mereka."
"Kak Alden lewat gak Lin?" tanya Audey seraya menaik-turunkan kedua alisnya menggoda.
"Jujur, lewat jauh, sih. Tapi aku tetep suka kak Alden, mau suka kak Arga, kan ga mungkin?" Cellin meringis dengan sedikit mengerutkan alis. "He is so loyal."
"Kalo kak Arga gak suka sama Megan, lo masih like sama kak Alden?"
Cellin diam beberapa saat, tidak langsung menjawab. Gadis itu hanya tersenyum tipis seraya mengedikkan bahunya. "Gatau, ya, hehe."
"Okay." Audey mengangguk paham. Gadis itu menoleh pada Ruth. "So, what do you think about him?"
"Cool, and I like," kata Ruth tidak munafik.
Audey mengangkat satu alisnya. "But?"
"Gak tertarik deketin."
"Btw, guys, kalian nyadar something gak, sih? Kita kayak leluasa ketawa kan hari ini? Inget pas tadi beli ice cream? Nyobain cake? Milih-milih belanjaan. Ekspresi kalian juga gak satu atau dua aja yang kalian tunjukin, ada banyak ekspresi."
"Jangan lupa cowo yang tadi salting sendiri pas kamu senyumin Dey, haha, padahal kan niatnya biar sopan karena papasan, eh dianya malah baper. Kasian tapi lucu. Senasib soalnya."
"Ah, yang itu. Gue jadi trauma senyum ke cowok, sial. Tapi ganteng banget, sih, tapi gue gak tertarik. Auranya terlalu gak ada, kayak dia oke ganteng tapi sekedar ganteng aja. Gak kayak kak Arga, hahah!!"
"Anjir lo bahas Arga mulu."
Rin ikut tertawa begitu teman-temannya tertawa. Seketika, Audey, Cellin dan Ruth menatap Rin sambil mengerjap beberapa kali, terkejut. Namun, karena Rin masih saja tertawa kecil, membuat ketiga gadis cantik itu melanjutkan tawa mereka. Kebersamaannya terasa, meski di sekolah terkadang cuek dan terlalu bersikap kaku.
"Gue berharap ada Megan di sini, sayangnya dia ada urusan," kata Audey membuat tawa tiga temannya terhenti perlahan. Cellin murung dalam sekejap mata. "Semoga lain kali dia bisa ikut."
"You hope. Satu-satunya di antara kita, yang gak bisa gue tebak gimana dia. Kek, auranya Megan tuh terlalu mahal untuk kita kepoin. Kayak ada batas, yang gak setiap orang bisa lalui termasuk kita."
__ADS_1
Ruth mengangguk setuju. "Dia terlalu banyak ekspresi, terlalu banyak tertawa, terlalu banyak kebahagiaan yang terpancar di wajahnya. Dan, gue yakin kalo dia lagi sendiri, senyum lebarnya itu bakal tetep ada atau hilang sekejap."
"Setau gue, dia bahkan gak pernah senyum selebar itu ke orang lain selain kita. At least, ada satu gerbang, dan dia ngizinin kita buat masuk. Selebihnya, ya gerbang lagi. But, it's just to me, my opinion about her, yeah."
"We know, and I think so too," ucap Ruth yang diangguki Audey dan Cellin.
"But, despite all that, gue cukup dibuat greget ama si Megan, kak Arga yang cool-nya gak ada lawan itu masa ditolak mulu? I know dia like Jimin so much, but it's not normal. Nolak cowok real dengan alasan loyal sama Jimin?"
Ruth memutar matanya malas. "Stop, Dey. Dia gak sama kita. Besok aja lo lampiasin kekesalan lo itu langsung depan dia. Jangan di belakang gini."
Menyadari kesalahannya, Audey segera berucap maaf berulang kali. "Maaf, serius. Gue reflek," kata gadis itu merasa bersalah. "Tapi intinya besok mau nuntut dia, kok kak Arga ditolak mulu!!"
"Hadeh, terserah lo Dey," kata Ruth malas. "Gak sekalian lo kasih tau kalo kita berempat pada tertarik."
Audey memekik tertahan sambil lompat-lompat tidak jelas membuat tiga temannya mengernyit. "Napa lo?"
"Yang tadi ide bagus, Ruth, AHAHAH!!"
...*****...
"Semenjak kak Raka gak nyiapin lo sarapan lagi, kalian jadi renggang gitu gak, sih Rin?" tanya Audey sembari menyuapkan beef wellington ke mulutnya.
"Kita gak pernah deket."
"Jujur, gue kaget pas Raka tiba-tiba meluk cewek yang tadi pagi. Kaget banget malah. Kalian kan sempet duduk sebelahan, gue kira baikan—"
"Kita gak pernah deket, Dey. Apanya yang baikan?" tanya Rin mengangkat salah satu alisnya.
"Yeah, who knows? Raka yang always siapin lo sarapan tiap pagi tiba-tiba enggak. Pasti ada something di antara kalian, I know that."
"Giliran gini aja lo paham bener Dey, kalo soal pelajaran aja, otak lo kayak tiba-tiba ilang," kata Ruth menoyor pelan kepala Audey.
"Damn it."
"Rin, tapi lo gapapa, kan?"
Satu alis Rin terangkat, menatap Ruth penuh tanya. Tumben temannya yang satu itu ikut penasaran bagaimana isi hatinya.
"Soal tadi pagi."
"Trust me, I'm really fine." Rin mengucapkannya dengan tegas membuat tiga temannya hanya saling pandang meski dari sorot mata mereka Rin melihat keraguan di dalamnya. Gadis itu memilih untuk tidak ambil pusing.
Setelah menyelsaikan makan malam, keempat gadis cantik itu segera menghampiri mobil mahal mereka masing-masing, kecuali Cellin yang masih menunggu jemputan. Beberapa menit berlalu, akhirnya supir pribadi gadis itu tiba.
Mereka berempat lantas menghampiri mobil, sebelum benar-benar masuk ke mobil masing-masing, Audey berseru dengan lantang, "Thank's for today, guys!"
"You're welcome!"
"Thank's too."
"Yeah."
Rin segera masuk ke dalam mobilnya, menjalankan dengan cepat di tengah ramai dan padatnya jalanan ibukota. Mendapati macet, Rin mengambil kesempatan untuk memerhatikan gedung-gedung pencakar langit yang tampak indah dengan kerlap-kerlip cahaya.
Sampai di rumah, Ara dan Reksa menyambut di ruang tamu. Meski sudah izin, Rin kembali menjelaskan dengan detail apa-apa saja yang dilakukannya hari ini bersama tiga temannya hingga jam sembilan lewat baru sampai di rumah.
"Good night, dear, langsung tidur, ya, jalan seharian pasti capek."
"Night, Mom." Rin menempelkan pipinya pada Ara dan segera berlari pelan menuju lantai atas. Gadis itu lantas meletakkan barang belanjaannya di atas sofa panjang yang ada di kamarnya.
Rin menghampiri meja rias, gadis itu menatap pantulan dirinya dengan tatapan kosong. Menghela napas panjang, Rin dengan malas beranjak menuju kamar mandi.
Aku berhasil nemuin diriku yang lama, ya? Atau sekedar nyaris dan masih berjuang?
__ADS_1