
Singkirkan yang tidak berguna, bantai yang menghalangi, musnahkan yang mencurangi. —Deverald.
...*****...
BRAK!
Lima orang dilemparkan di hadapan Raka yang kini baru saja datang. Menatap Galang, Alden dan Arka dengan sebelah alis terangkat. "Jam tujuh pas. Sekarang masih jam tujuh kurang dua menit. Biarin napas dulu bentar," kata Raka sambil melempar asal tasnya didekat kursi.
Membuka seluruh kancing seragam abu-abunya, memperlihatkan kaos hitam yang mencetak tubuh Raka dengan sempurna. Cowok itu bersiul sambil memerhatikan lima orang yang kini meringkuk ketakutan. Raka tertawa pelan melihatnya.
Sekarang basecamp Deverald yang ada di SMA Starlight sudah ramai. Para anggota yang sudah tahu permasalahannya segera mengambil duduk yang cukup jauh, agar bisa menonton adegan action sebentar lagi tanpa takut ikut terkena amukan Raka. Bahkan anggota luar sekolah pun nekat bolos untuk melihat ini.
Arga baru saja datang bersama Iqbal dan Regan, ketiganya segera mendatangi yang lain. "Ebuset kemaren story lo happy-happy aja, cheers segala bro! Sekarang kenapa kayak sekarat gitu?" tanya Arga terkekeh hingga bahunya bergetar.
"Mana gak ada nongol kan lo pas Alvaska nantangin," tambah Regan sambil meletakkan satu tangannya di bahu Arga.
"Gimana mau nongol, gue kan pengkhinat," ucap Arka mengejek dengan ekspresi julid.
Nova hanya diam. Sebelum kesini tadi dia dan empat anggota Zegior diserempet karena nekat kabur. Ingin lari dari jangkauan, tapi malah kena apes. Laki-laki itu tidak menduga kalau dia akan ketahuan secepat ini. Padahal dia sudah menyewa jasa agen intelijen kelas dunia, loh.
"Lagi ngerayain kematian sendiri, ya, Nov? Hehe nyesel gue gak ikut!" kata Iqbal sambil berjongkok, lalu menoyor kepala Nova dengan kuat.
Ting.
Jam tujuh pas.
Raka berdiri dari duduknya membuat yang lain memberikan jalan. Wajahnya yang semula santai langsung berubah menjadi datar, menatap setajam elang pada lima orang di hadapannya itu. Berjongkok, Raka menarik kerah seragam Nova membuat cowok itu terangkat sedikit.
"Kenapa?" tanya Raka penuh intimidasi.
Nova menggeleng susah payah. Napasnya tercekat, pasokan udara di sekitarnya terasa makin tipis. Laki-laki itu takut. Sangat malah.
"Jawab!" kata Raka lagi, masih berusah santai.
"A—anu ...," Nova menelan salivanya kesusahan. "Anu apa?!" desak Raka jengkel.
"Gu—gue suka ... sa—sama cewek SMA Ga—galaksi." Nova menatap takut-takut pada Raka yang menatapnya seperti ingin membunuhnya saat ini juga. "Ronald, di—dia janji bakal de—deketin gue sama Ni—ta kalo gue ... ga—gabung sama mereka."
Hening beberapa saat sampai akhirnya suara tawa menggelegar memenuhi seluruh ruangan. Bahkan ada yang sampai terpingkal-pingkal, terguling, terjun bebas, kayang, jalan di atas api dan sebagainya saking tidak tahan tertawa akan ucapan Nova barusan.
"GOBLOK!" kata Iqbal yang wajahnya sudah memerah. "Otak lo isinya apaan anjir!"
"MAU BANGET DI BODOHIN!" teriak salah satu anggota Deverald diikuti seruan lain yang membuat bising.
Raka sendiri tersenyum miring. Ketika laki-laki itu membuka mulut, satu ruangan hening, sadar saatnya untuk tidak bercanda lagi.
"Besar nyali?" tanya Raka sambil terkekeh. Sedetik kemudian berbisik pada Arga dengan suara yang begitu dingin, "Udah siap menempuh kehidupan setelah kematian?" Nova menelan salivanya susah payah.
Raka memundurkan wajahnya. "Nyesel gue pernah percaya sama lo," kata Raka, sorot matanya memancarkan kekecewaan.
"Gu—gue minta ma—"
BUGH!
__ADS_1
BUGH!
BUGH!
Raka memberi bogem mentah di wajah Nova. Tidak ingin mendengar kata maaf dari laki-laki itu.
"Selain berkhianat karena cewek, lo juga udah bikin nama Deverald jelek," kata Raka tajam. "Sebanyak apa informasi yang udah lo kasih? Cowok lo kayak gini? Gak guna banget hidup!" imbuhnya.
KRAK!
Raka memukuli Nova dengan membabi buta. Bahkan sampai suara patahan tulang terdengar.
"Rak, udah deh kayaknya. Entar mati gimana dong?" tanya Arga cemberut, pura-pura tidak tega. Padahal mah sebenarnya laki-laki itu ikhlas lahir batin!
Raka mendesis pelan. Kemudian melempar tubuh Nova hingga menghantup dinding membuat yang lain meringis, ikut merasakan sakitnya.
"Urus," kata Raka tegas, menoleh pada Alden. Laki-laki itu mengangguk singkat lalu menyeret tubuh Nova ikut keluar bersamanya.
Raka menatap anggota biasa dan inti Deverald dengan sorot mata yang memancarkan kesungguhan. "Gue benci pengkhianat. Siapa aja yang berkhianat, itu akibatnya."
Melirik pada empat orang anggota Zegior yang menyusup di hadapannya, Raka tanpa banyak basa-basi melontarkan sebuah perintah yang tak ingin dibantah.
"Lepas. Jaket Deverald gak pantes lo berempat pake."
"ANJING!" umpat salah satu dari keempatnya sambil berdiri lalu memukul wajah Raka. Laki-laki itu yang belum siap, jelas tidak bisa menghindar. Menoleh cepat dengan tatapan membunuh, dan balas memukul wajah orang tersebut.
"LO GAK USAH SOK NGERASA BERKUASA YA ANJ—"
Perkataannya terpotong dengan Raka yang langsung menyerang dan memukuli anggota Zegior itu tanpa ampun. Melihat Raka lepas kendali, Galang dan Arka langsung menahan tubuh pemimpin Deverald itu. Tidak ingin ditahan emosi yang sejak kemarin membuncah, Raka menyentak kedua temannya itu dan berlalu menghampiri tiga orang lagi yang terlihat pasrah.
Arga cengengesan. "Gue gak mau lo masuk penjara, entar yang jagain gue siapa?" tanyanya cemberut memasang puppy eyes.
Biar Raka melunak gitu ngeliat betapa lucunya Arga ini. Padahal mah, mau kayang udah si Raka saking gelinya.
"Najis!"
"Ah jangan gitu Rakkkk," kata Arga panjang dengan nada suara begitu menyebalkan di telinga Raka.
"******. Pergi lo jauh-jauh," umpat Raka kesal.
Salah satu anggota Deverald dari SMA Davior—Yutha, menimbrung, "Aciee go public nih Paketu ama anak dugong." cengengesnya.
"Kampret!! Seenak jantung lo ngatain gue!" kata Arga tidak terima.
Raka mendengkus. Menoleh pada empat orang yang sudah sekarat itu. Ia berjalan mendekati salah satu di antara mereka yang masih punya kesadaran.
Bye world, gue gak lama lagi ini mah.
Mencengkram erat kerah baju laki-laki itu, Raka berujar dengan sangat tegas, "Bilangin ke Ronald. Mau merebut kekuasaan orang dengan cara rendah kayak gini, mending bubar aja."
Lalu, laki-laki itu menutup mata dengan sempurna.
Raka berdiri. "Bawa pergi."
__ADS_1
Galang dan Arka mengangguk lalu menyeret masing-masing dua orang menuju di mana Alden pasti sudah menunggu. Mereka akan membawa kelima orang itu ke SMA Galaksi, tempat di mana ada Ronald di sana.
Ngapain? Ya bikin malu mereka lah! Orang Deverald juga udah dipermalukan depan Alvaska.
"Nih Rak, jaketnya di apain?" tanya seorang anggota sambil menyerahkan lima jaket kebanggaan Deverald.
"Taro aja di atas motor Galang," balas Raka sambil mengambil tasnya.
"Emang mau di apain ntar?"
Raka berdecak pelan.
Kepo njir.
"Buang. Udah kotor."
"Lah, lambangnya gimane?" tanya Regan berdiri di sebelah Raka.
Mendegkus jengkel, "Di gunting dulu lah! Baru disimpen. Ya kali ikut dibakar. Mikir."
"Mampus. Itu, sih kalo cuma bodoh doang yang di punya," ledek Arga sambil tertawa puas.
"Kayak lo pinter aja," cibir Regan.
Arga tersenyum miring. "Enggak lah. Makanya gue sekolah. Mikir. M-i-k-i-r, mi-kir! Bodoh."
"Kok lo ngegas anjir!"
Raka menatap keduanya jengah. "Diem."
Arga merengut, kemudian tangannya bergerak masuk ke celah lengan Raka dan menggandengnya. "Galak ih, jadi takut."
"Bngst!" umpat Raka sambil menghempaskan tangannya. "Gila."
"Udeh-udeh daripada kelai. Lo gak nyamperin Rin apa Rak? Gak lo siapin sarapan dia?" tanya Iqbal menengahi.
Raka menepuk kening. Sial. Laki-laki itu kelupaan! Emang beban banget dah si Nova segala berkhianat gara-gara cewek. Kena imbas juga kan Raka! Rin pasti sekarang lagi nungguin dia banget. Dengan gerakan kilat dan tanpa berbicara apapun, Raka melesat keluar membuat satu ruangan kebingungan.
Regan berdehem keras. "Kita mau kantin."
"Iye, makanya si Raka ampe lari-lari kayak dikejar ikan piranha. Takut ke balap dia." Arga kemudian tersenyum usil.
"WOI ANJIR, YANG TERAKHIR KELUAR DARI SINI, JADI SIMPENANNYA NOVA!!" teriak Arga sambil berlari keluar dengan tawa menggelegar. Mendapati yang lain masih belum mengerti juga, ia menambahkan, "Dasar belok lo pada, bukannya lari malah diem! Jadi simpenan Nova gak mau tau pokoknya yang keluar terakhir. Titik."
Mendengar perkataan Arga barusan, semuanya langsung berbondong-bondong keluar dengan heboh. Meninggalkan markas dalam keadaan berantakan.
"YANG PIKET JANGAN LUPA BERESIN DARAHNYA!!" pekik Iqbal tertawa setan, mengingat bukan hari ini jadwalnya membersihkan basecamp.
"Sial. Itu gue akh!!" teriak Yutha ftrustasi.
Regan menoleh ke belakang. "Hiii simpenan Nova!"
Yutha mendelik. "NAJIS ANJING! GUE NORMAL YE SIALAN!"
__ADS_1
"BWAHAHAHAHAHAH!!"