
Senyum lo manis. Gue suka liatnya. —Raka.
...*****...
Seorang laki-laki bersender di pagar pembatas lantai dua, kepalanya yang semula tertunduk menatap lantai keramik kini perlahan terangkat, menatap lurus ke arah jendela di depannya. Mengabaikan jeritan dan pekikan heboh para gadis di sekitarnya.
Tidak lama, kepala seorang gadis cantik terlihat dari jendela, membuat Raka mengangkat sedikit wajahnya, memberikan perhatian lebih, menunggu gadis itu akan mengangguk atau menggeleng. Ketika melihat teman gebetannya itu mengangguk beberapa kali sambil tersenyum yang artinya, Rin memakan habis sarapan darinya, Raka tersenyum puas.
Laki-laki itu berlalu dari sana, bersamaan dengan Audey yang kembali duduk. Raka membelah ramainya sekitar dengan langkahnya yang begitu gagah, membius setiap mata yang melihatnya. Ketika menuruni tangga, laki-laki itu berpapasan dengan Galang, Alden dan Arka.
"Mau kemana Rak?" tanya Galang tetapi langkah keempat cowok tampan itu tidak berhenti melainkan memelan.
"Pulang."
"Lah kenapa?" Kini giliran Arka yang bertanya, sambil menghentikan langkah dan menengok sedikit ke belakang karena Raka yang tidak ikut berhenti.
"Ganti mobil, tadi gue bawa motor."
Setelah mengatakan itu, Raka mempercepat langkahnya menuruni tangga. Dengan salah satu tangan berada di saku celana, dan satu tangannya menyisir rambut ke belakang ketika melewati lapangan, ditambah pantulan sinar matahari yang menambah kesan kharisma laki-laki itu menguar begitu kuat.
Tentunya, aura itu membuat heboh tiga angkatan sekaligus. Berbondong-bondong keluar hanya sekadar melihat langsung pesona seorang ketua Deverald.
Raka yang semula memasang wajah tanpa ekspresi, seketika tersenyum begitu netranya menangkap keberadaan seorang gadis bersama dua temannya yang baru saja sampai di sekolah. Gadis itu balas tersenyum pada Raka.
Senyum yang selalu mampu membuat Raka terpesona, bahkan tidak membuat ia bosan ketika melihatnya. Teresa Agnes. Teman kelas Raka, yang memiliki perhatian lebih dari setiap gadis yang mendekatinya.
Kalau gadis lain menginginkan Raka karena kekuasaan, jabatan, kekayaan, materi atau ketampanan Raka semata, maka Teresa memberikan hatinya, yang ditujukan untuk hati Raka seorang.
"Kamu mau kemana?" tanya Teresa lembut.
Raka menghentikan langkah di depan gadis berambut pirang alami di hadapannya ini. "Pulang ambil mobil, gue tadi bawa motor, kan udah janji mau nganter lo balik ntar."
Teresa mengerjap polos. "Eh? Gimana? Nganter aku?" Kemudian tertawa dengan anggun. "Gak usah repot-repot Raka, pake motor juga gapapa kok."
Raka menggeleng tegas. "Lo cewek, pake rok. Motor gue bukan matic, tapi sport."
Teresa tersenyum geli. "Dih, terserah kamu deh. Yang penting aku sampe rumah."
Tatapan Raka menajam. "Gak usah lebar-lebar senyumnya, kecantikan senyum lo gak boleh diliat sama cowok lain selain gue."
"Emang kamu siapa aku, sih?" tanya Teresa menggoda. Raka mendengkus. Melihatnya Teresa kembali berucap, "Sorry, sorry, aku bercanda. Lagian, kamu ... juga ngasih perhatian ke adek kelas."
Raka menahan senyumnya. "Siapa? Hati gue cuma buat lo," godanya.
"Raka ih! Itu loh anak kelas 11 yang dapet julukan putri es," jelas Teresa.
Mengembuskan napasnya perlahan, Raka kemudian berkata, "Gak usah khawatir. Aku deketin dia gak lebih dari sekedar jalanin misi. Kamu tetep di hati aku, Res."
Tangan laki-laki itu terulur mengacak rambut Teresa dengan perlahan. Membuat sang empunya tersenyum cantik. "Iyaaaaa. Udah sana balik, entar keburu bel bunyi loh. Aku gak mau ya kamu telat gara-gara aku." Teresa melipat tangan di depan dada.
Raka mengangguk patuh. Kemudian tanpa banyak bicara lagi laki-laki itu memasuki mobilnya yang terparkir di samping mobil Carenina—teman Teresa yang membawa mobil.
"Cie elah, ada yang mesem-mesem nih," ucap Carenina menggoda sambil memainkan kedua alisnya.
Maudy teman Teresa yang lain menimbrung, "Enak ya di baperin Raka. Tapi tuh cowok bisanya bikin baper doang, tanggung jawab ama perasaan orang gak mau!"
Carenina tertawa pelan. "Siapa, sih yang bisa kesel sama dia? Gak ada lah! Pesonanya bikin mau marah tapi gak jadi."
"Iya, sih, tapi kasian Resaaa, masa gak ditembak-tembak sama Raka?? Udah hampir tiga tahun loh mereka deket!" serunya heboh sendiri.
"Gue biasa aja tuh tapi. Lo-nya aja yang kepikiran banget," kata Teresa sambil menggelengkan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Ya gimana ya Res, Raka kan sekarang ... lo tau sendiri lah dia lagi deket sama adek kelas yang namanya Rin itu sebulanan ini. Dari nyiapin sarapan, nemenin tuh dekel sampe selesai kelas tambahan, lo gak cemburu gitu?"
Teresa tersenyum tipis. "Raka bilang, perhatian dia emang ke Rin, tapi hati dia buat gue. So, kalau rumahnya Raka itu gue, si Rin, Rin itu bisa apa?"
"Mantap anjir! Gue suka kata-kata lo Res," ucap Carenina sambil mencubit gemas pipi Teresa.
"Iya deh rumahnya Raka," goda Maudy sambil menggandeng lengan Teresa.
Teresa masih mempertahankan senyumnya. Walau dalam hati, berusaha keras meyakinkan dirinya sendiri akan kata-katanya barusan.
Iya, gue emang rumahnya Raka. Dan Rin, cuma sekedar tugas buat Raka jalanin, gak lebih.
...*****...
"Buset bidadari gue semua tuh!" Iqbal geleng-geleng takjub melihat lima gadis cantik yang kini berada di rooftop, berdiri dengan ponsel yang ditaruh menyender pada botol mengarah pada kelimanya, menyebabkan rambut mereka berkibar indah, menari-nari membuat candu untuk dilihat.
Galang dan Arga reflek menoyor kepala Iqbal dengan kuat. "Bidadari lo darimana? Orang Megan punya gue!" sungut Arga tidak terima.
"Gue becanda njir, lo bedua main noyor aja," keluh Iqbal yang kemudian memilih segera duduk di kursi menyusul Raka dan Alden yang sudah lebih dulu duduk di salah satu kursi, berjarak tidak terlalu dekat dari lima gadis cantik tadi, tapi tetap masih terlihat di pandangan.
"Baru nyampe udah di suguhin yang bening aja nih gue," gumam Regan tak lepas memandang kelimanya. "Pesonanya kuat banget njir. Pengen jadiin pacar salah satunya, tapi kayak gak mungkin banget mereka mau sama gue."
Arga cengengesan, sementara Iqbal sudah tertawa lepas. Yang lain hanya geleng-geleng kepala.
"Gue yang ganteng parah gini aja gak bisa menangin hati Megan, apalagi lo Gan," ucap Arga super pede.
"Sok paling iye aja lo, muka juga pas-pasan, gue yang paling ganteng asal lo tau!"
"Bullshit lo Gan, kemana-mana gantengan gue lah, ya kali modelan lo lebih ganteng."
"Yeee anak dugong! Gantengan gue juga," kekeh Regan.
Galang mengusap wajah laki-laki itu yang duduk di depannya. "Ngaca jir. Eh jangan, ntar tu kaca pecah. Orang gantengan gue daripada lo semua, buktinya cuma gue yang bisa mikat salah satu dari kelimanya."
Arka mendecak. "Kebelet pengen diakui ganteng banget, sih lo pada. Gue yang titisan pangeran aja gak banyak gaya."
"Kenapa jadi rebutan anying," ucap Regan mengerutkan alis. Arga tertawa menyahuti. "Tau nih, pada ikutan pede aja lo pada."
"Pa—"
Raka dengan cepat memotong perkataan Iqbal. "Diem lo semua. Gue yang paling ganteng."
Iqbal mengelus dada.
Pengen hujat, tapi emang bener dia yang paling ganteng. Gimana dong?
...*****...
"Guyssss, kita bikin video dari filter tiktok yang album cover itu yok," ajak Audey pada empat sahabat cantiknya.
"Boleh, boleh," Megan menyahuti, lalu dengan segera menyimpan ponsel mahalnya di saku seragam abu-abu. Kemudian berdiri dari duduk dan menggandeng lengan Audey.
Cellin ikut berdiri. "Aku ikutt," ucapnya tercengir sambil memeluk Megan gemas.
"Ayo lo bedua," ucap Audey sambil menarik pergelangan tangan Rin dan Ruth agar berdiri. Keduanya saling pandang sebelum akhirnya mengangguk kecil pada Audey.
"Terus yang pegangin nanti siapa?" tanya Cellin sambil merapikan rambutnya yang tidak berantakan.
"Gak usah, tinggal senderin di botol minum Megan aja nih," sahut Audey sambil mengambil botol kaca berisi strawberry milk dari tangan Megan. Gadis itu kemudian menggeser dengan hati-hati satu pot bunga yang memang diletakkan di tepian gedung rooftop, lalu menaruh botol di sana, dan meletakkan ponsel miliknya menyender pada botol kaca tersebut.
"Posenya ini gimana?" tanya Cellin menyengir. "Bebas aja. Siap ya lo semua?" Mendapat anggukan dari keempatnya, Audey segera memencet play.
__ADS_1
Gadis itu memundurkan langkahnya lalu membungkuk sedikit dengan satu tumpuan tangan, tangannya yang lain membentuk peace ditempelkan pada pipi, salah satu matanya tertutup, tidak lupa tersenyum manis.
Megan dan Cellin berdiri di paling belakang, keduanya saling merangkul. Kalau Megan mengerucutkan bibir pink alaminya sambil melihat ke arah lain, Cellin hanya tersenyum menyipitkan mata.
Lalu Ruth tersenyum tipis, memperlihatkan separuh tubuhnya yang memiring akibat posisinya, sementara Rin menempelkan dagu di bahu Ruth.
Tangkapan foto kedua dari video filter, Audey peace memanyunkan bibirnya dengan alis mengerut. Di belakang, Megan dan Cellin saling berpelukan, dengan Megan yang tersenyum manis memasang ekspresi imut, dan Cellin memanyunkan bibir. Ruth menjulurkan lidah, dan Rin mengambil posisi di depan sendiri dengan ekspresi yang tertangkap yaitu mencebikkan bibir melirik ke arah lain.
Tangkapan foto ketiga Audey membungkuk dengan sebagian tubuhnya mengarah pada kamera, membiarkan rambut panjangnya terjuntai ke bawah. Kali ini Ruth menggendong Megan, gadis itu tercengir lebar menunjukkan gigi putihnya, sementara Ruth tersenyum geli. Rin hanya memerhatikan dari layar ponsel sambil tersenyum tipis, sementara Cellin menutup mulutnya, tertawa memerhatikan Megan dan Ruth.
Kemudian pose selanjutnya yang tertangkap adalah di mana Audey memasang wajah dingin, Megan yang tersenyum menyipitkan mata dengan ekspresi imut, dan Cellin yang tercengir, mengarahkan telapak tangannya ke kamera. Rin sendiri hanya diam, dirangkul oleh Ruth yang tersenyum lebar.
Pose kelima Audey melompat dengan hasil tangkapan gambar sedikit buram yang terlihat candid. Ruth menongolkan kepalanya setelah sempat melirik ponsel, gadis itu menipiskan bibir.
Lalu dari video lima detik sebelum tangkapan gambar, Megan memajukan bibirnya menghadap ke Cellin, dengan posisi menyampingi kamera. Cellin yang semula ingin peace menghadap kamera, langsung segera menghadap Megan. Gadis itu juga memajukan bibirnya, tetapi segera menutupnya menggunakan satu tangan saat menyadari mereka terlalu dekat.
Hal itu membuat Megan menyemburkan tawa, dan reflek menutup mulutnya menggunakan kedua tangan, dengan mata terpejam akibat tertawa. Melihat itu dari layar ponsel, Rin tanpa bisa menahan tawanya, yang tertangkap jepretan video filter. Terdapat jeda, Megan dan Cellin melepaskan tawa mereka.
Lima detik sebelum tangkapan foto selanjutnya, memperlihatkan Megan dan Cellin dengan wajah memerah akibat tertawa, terekam dalam video. Di detik ingin menangkap gambar, Megan segera membelakangi Cellin sambil menghadapkan wajahnya yang memasang ekspresi datar ke kamera. Lalu Cellin memeluk gemas Megan, ekspresi gadis itu tersenyum lembut menatap kamera ponsel.
Lalu sang empu pemilik ponsel mahal itu mengangkat kedua tangan membentuk love dengan senyum lebar. Ruth sendiri tertawa lepas dengan posisi memeluk gadis es di depannya dari samping.
Pada hasil tangkapan gambar, Rin tertangkap kamera sedang memperlihatkan senyum lebarnya lagi, juga deretan rapi gigi-gigi putih miliknya. Gadis itu tidak bisa menahan senyum mengingat Megan dan Cellin wajahnya memerah karena tawa.
Ketika selesai berpose dengan filter, mereka tertawa bersama.
"Meg, Cel, lo bedua kalo belok jangan di sini," ucap Audey sambil menghapus air matanya yang keluar di ujung mata.
Megan yang masih ketawa berusaha mengendalikan diri. "Aku enggak—pfftt." Gadis itu kembali menyemburkan tawa, mengingat hal tadi membuatnya receh seketika.
Ih ngeselin tahu, gak?! Tapi gak bisa marah karena ngakak. Kesel doang, orang dia mau ngomong tapi malah ketahan gara-gara ketawa. Sebenarnya tidak kesal juga, sih. Tidak tahulah, intinya gitu, kalian pasti paham.
"Aku tadi—" Cellin tidak dapat melanjutkan ucapannya, mata gadis itu bahkan banjir karena sejak tadi tertawa.
Bahu Ruth bergetar melihat teman-temannya tertawa. Padahal tidak tahu sekarang mereka menertawakan apa.
Melihat ekspresi Audey yang berusaha mengendalikan diri dengan menahan tawa, yang sialnya terlihat seperti menahan buang angin di keramaian saat sepi tak ada suara, membuat Megan membungkuk, rasanya tidak kuat menahan tawa. Satu tangannya memegangi perut.
Please lah ya, Megan rasanya mau guling-guling saking tidak kuat ketawa sudah. "Diem wee, aku sakit perut," kata Megan sambil mengelap matanya yang mengeluarkan air.
Mendengar itu membuat Audey dan Ruth ikutan membungkuk, menahan hasrat ingin salto karena tidak kuat tertawa. Cellin yang sudah tidak kuat berdiri langsung menghampiri Rin yang duduk di kursi. Teman esnya ini hanya tersenyum memerhatikan yang lain.
Ketika kesadaran mengambil alih, ketiganya lantas bergegas menghampiri Rin dan Cellin. Audey yang pertama angkat suara. "Kaget gue Rin ketawa."
Megan mendudukkan diri di sebelah Cellin. "Lo kira Rin batu?"
"Batu es," celetuk Ruth asal.
"Tapi, senyum Rin manis banget," kata Cellin memuji, yang mendapat anggukan dari yang lain.
"Foto dulu yuk, kan gaada foto yang Rin senyum," Megan mengeluarkan ponselnya, lalu mengangkat tinggi benda pipih tersebut.
Dalam satu layar, menampilkan wajah mereka berlima. Audey yang menjulurkan lidah. Ruth yang posisi tubuhnya membungkuk dengan kepala mendongak. Cellin yang mengangkat kedua tangannya, lalu menautkannya jadi satu. Megan sendiri memasang ekspresi imut andalannya. Last, ada Rin yang tersenyum manis.
Sekali-kali tersenyum tidak apa, kan?
Kelima gadis cantik itu segera merubah ekspresi mereka menjadi datar seketika saat melihat gerombolan Raka mendekat. Ketua Deverald itu tetap melangkah walau enam temannya menghentikan langkah. Raka terus maju sampai akhirnya berhadapan dengan Rin yang sudah bangkit dari duduknya, hendak ke kelas, tetapi lebih dulu ditahan Raka. Sorak-sorai inti Deverald terdengar di kursi rooftop yang letaknya memang sedikit lebih menepi dari yang lain.
Rin menghentakkan tangannya. Menatap Raka teramat tajam. Tidak gentar, Raka justru menyungging senyum miring yang mematikan, dengan pesona yang begitu kuat.
"Senyum lo manis," ucap Raka dengan deep voice-nya, dan mata yang menatap lekat manik legam seorang Alena Rin Gracia.
__ADS_1