
Membuka lembar baru dan mencoba melupakan kisah lama memang sulit, tapi bukan berarti tidak mampu dilakukan. —Rin.
...***...
Rin memerhatikan sekali lagi penampilannya di cermin rias berbentuk oval. Gadis itu ingin memastikan bahwa dia terlihat seperti biasa, meski sekarang di bahu kirinya tergantung totebag kanvas berwarna krem. Rasanya sudah lama sekali terakhir kali dia memakai totebag, jadi agak gimana gitu.
Tas ransel yang biasa Rin kenakan masih berada di sekolah, di laci mejanya, lengkap dengan ponsel dan macbook gadis itu. Rin hanya bisa harap-harap cemas, semoga barang-barangmya masih berada di tempat semula. Bukan masalah harganya, tapi data yang tersimpan, juga catatan materinya yang ia khawatirkan.
Rin menghela napas panjang. Gadis yang rambutnya kini dicepol asal itu beranjak keluar dari kamar, menuruni anak tangga satu-persatu dan menghampiri mamanya yang sibuk berkutat di dapur.
"Mama masak apa?"
"Eh, Rin, udah mau berangkat?"
Rin terlihat berpikir sejenak, kemudian menggeleng pelan seraya menarik salah satu kursi meja makan. "Aku mau sarapan."
"Loh? Tumben." Ara menatap putri tunggalnya itu dengan kerutan samar di dahi.
"Gak boleh ya?"
"Boleh dong, Mama cuma bingung aja. Biasanya kan kamu gak sarapan di rumah, di sekolah sama temen-temen kamu."
Rin hanya tersenyum tipis mendengarnya. Gadis itu kemudian mengambil satu buah red velvet macaron with cream cheese yang tersaji di meja makan. Rin tersenyum hingga matanya menyipit.
"Kenapa?" tanya Ara khawatir, takut rasanya tidak enak. Jarang-jarang putrinya ini senyum lebar begini. "Enak, Ma. Mama bikin sendiri?"
"Iya dong, baru aja kemaren belajar sama temen arisan Mama. Rasanya omong-omong gimana nih?"
"Enak, Ma, aku bawa ke sekolah, ya?"
"Bawa aja. Jangan lupa susu kotak di kulkas, ya, mumpung kamu bekal. "
Rin mengangguk patuh, gadis itu segera melangkah menghampiri rak dan mengambil kotak bekal lalu memasukkan beberapa macarons. Tidak lupa ikut menambahkan satu kotak susu full cream ke dalam box bekalnya.
Tidak berapa lama, Reksa datang lengkap dengan setelan jas mahalnya. Pria itu menarik kursi dan segera menyantap sarapan berupa roti dengan selai nutella yang sudah disiapkan Ara. Rin berjalan perlahan, kemudian mendudukkan dirinya di sebelah Reksa.
"Kamu ikut sarapan?"
"Iya."
Mendengar itu, Reksa segera meletakkan sepotong roti bakar ke atas piring milik Rin, kemudian menuangkan susu ke dalam gelas yang berada di hadapan putrinya.
"Ayo, makan."
Rin tersenyum lembut. "Iya, Pa, Makasih."
Finally, setelah hampir satu tahun, Rin kini bisa sedikit melawan egonya yang membuat ia kembali merasakan kehangatan pagi bersama mama papanya di atas meja makan. Gadis itu melahap rotinya dengan semangat, sesekali memerhatikan Ara dan Reksa bergantian, yang kadang tertawa karena papanya bercerita tentang hal random, tentu Rin juga ikut tertawa pelan.
Mungkin ini awal bagi Rin, untuk bisa kembali mengakrabkan diri bersama mama, papanya.
Kak, finally aku bisa damai juga sama diri aku sendiri. Kakak kira-kira damai gak ya di sana karna tiba-tiba ninggalin aku tanpa kejelasan?
...*****...
"OH MY GOSH, RIN!! LO KEMAREN KEMANA AJA, SIH? DI TELPON GAK NGANGKAT JUGA PADAHAL ONLINE LOH, MANA GA ADA KABAR!!"
Rin menghela napas pelan, baru saja dirinya melangkah masuk ke dalam kelas, teriakan Audey sudah menyambutnya. Gadis itu dengan malas melangkah menuju kursinya.
"Lo kemaren kemana?" tanya Ruth yang kini menyenderkan tubuhnya ke dinding sambil menghadap Rin.
__ADS_1
"Ada urusan," ucap Rin seraya mendudukkan dirinya, gadis itu kemudian meraba laci mejanya, tiba-tiba terdiam begitu tasnya tidak lagi berada di laci.
Melihat wajah Rin yang mengerut dalam, membuat Cellin bangkit dari kursinya dan duduk di kursi Megan. "Rin, kamu cari apa?"
"Tas."
"Loh, emang ada tas? Lo kata ada urusan?" Audey balik bertanya dengan bingung. Hal itu membuat Rin panik, kemana pergi tasnya? Please lah ya, di dalam ransel biru muda yang biasa Rin pakai ke sekolah itu, banyak hal penting.
"Lo kemaren sempet ke sekolah?" tanya Ruth, sebelah alisnya terangkat. Rin mengangguk sebagai jawaban. "Terus pulang dan lupa bawa tas lo karena ada urusan?" Ruth memastikan.
"Iya."
Rin berdecak pelan, rasanya ingin jungkir balik saja. Antara kesal dan mau menangis, tahu tidak?
"Lo seriusan lupa ambil tas lo?" tanya Audey seraya memeriksa laci Rin.
"Iya, mendadak."
"Ada apa aja di dalamnya? Kalau emang penting-penting semua, coba lapor guru. Di kelas kita kan ada CCTV, coba cek," kata Audey memberi usul. Rin terdiam lama, kemudian mengangguk pelan. "Makasih, Dey."
Rin berdiri dari duduknya, sebelum melangkah keluar, Cellin menahan pergelangan tangan gadis itu sejenak. "Mau ditemani?"
Rin menggeleng pelan. "Sendiri aja." Setelah mengatakan itu, Rin segera melanjutkan langkahnya yang tertunda. Menyusuri lorong menuju ke lantai satu, Rin menyipitkan mata begitu netranya menangkap keberadaan gadis yang kini dirinya memakai bomber jacket berwarna lilac, tengah menggendong peluk tas milik Rin.
Rin mempercepat langkah, dan menepuk pelan beberapa kali bahu Megan yang kini asik mengobrol dengan teman sesama ARMY-nya. Mendapat gangguan di tengah cerita, Megan lantas menoleh. Gadis itu mengernyit begitu melihat Rin menatapnya datar.
"Kenapa, Rin? Oh, iya, kemaren kenapa gak masuk?"
"Tas gue."
Megan diam sesaat, ngebug, kemudian menyengir begitu menyadari tas ransel yang digendongnya. "Eh, iya, hehe. Maaf kalo gak sopan, gue cuma bawa pulang ke rumah aja, kok. Kemaren lagi piket, gak sengaja liat tas lo, jadi gue bawa pulang."
"Eh, enggak, kok." Megan kemudian menoleh pada teman ARMY-nya. Gadis itu tersenyum manis. "Aku duluan, ya. Ceritanya lanjut di kantin aja nanti, istirahat pertama."
Setelah mengatakan itu, Megan bersama Rin segera melangkah menuju kelas mereka yang terletak paling ujung. Megan menoleh sekilas ke arah Rin.
"Lo kemaren di telponin gak ngangkat-ngangkat, kenapa?"
Rin mengangkat tasnya dengan satu tangan, sementara satu tangan yang lain menunjuk tas tersebut. Megan yang paham ber-oh ria sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Hening beberapa saat, sampai akhirnya Megan kembali bersuara yang membuat jantung Rin berdetak kencang untuk beberapa sekon. "Em, Rin, lo gapapa, kan? Pas lo ngangkat tangan tadi, pergelangan tangan kanan lo kayak ada bekas rantai gitu."
"Gapa—"
"Keliatan banget loh."
Rin menatap Megan lekat, gadis itu kemudian menghela napas panjang. Rin sedikit susah berbohong pada Megan, temannya yang satu ini terlalu peka dengan sekitar.
"Kemaren gue disekap, tapi Raka dateng nyelametin," bisik Rin, gadis itu berterus terang dengan jujur, karena dia percaya, Megan tidak akan menyebarkan ke siapa pun.
"Keep it yourself, okay? Gue gak mau yang lain pada heboh."
Megan diam beberapa saat, lalu tersenyum tipis. "Aman. Tapi lo gapapa, kan?"
"Gue gapapa. Masalahnya udah beres kemaren. Gatau Raka, Arga sama Alden bisa nemuin gue gimana, yang gue sadari cuma gue belum bilang makasih ke mereka."
"Datengin ke kelasnya."
"Niatnya gitu."
__ADS_1
Megan mengangguk pelan. "Omong-omong, siapa yang nyekap? Kok bisa? Yang nyekap lo itu datengin ke kelas? Berarti Starlight gak aman dong?"
"Gatau. Gue pas di taman belakang kemaren. Tiba-tiba datang. Starlight tetap aman, kok, mereka ngincer gue aja, buat jatuhin Raka." Rin menjawab dengan jujur—kecuali untuk pertanyaan pertama yang di lontarkan. Bukan tidak percaya Megan, Rin hanya tidak ingin membuka terlalu banyak informasi, yang ujung-ujungnya ikut membuka informasi rahasi mengenai dirinya sendiri.
"Mulai sekarang lo hati-hati Rin. Kalo berangkat pagi-pagi, mending tunggu di mobil atau ke minimarket depan aja. Jangan ke tempat yang sepi. Atau kalau bisa, berangkatnya siangan dikit biar rame."
Rin tersenyum tulus mendengarnya. "Makasih, Megan."
...*****...
Rin menyuapkan sesendok beef wellington ke dalam mulutnya. Gadis itu kini tengah berada di kantin bersama empat sahabatnya. Saling sharing cerita, dan terkadang bersifat random membuat gelak tawa tercipta. Rin memang terlihat diam dari luar, tapi di dalam hatinya, ia tersenyum lebar melihat interaksi yang ada.
"Guys, besok sore kita ke mall gimana? Kita udah hampir lima bulan temenan, dan sama sekali belum pernah keluar buat main bareng," kata Audey yang segera mendapat lirikan sinis dari Ruth. "Mager gue. Lagian gak masalah ah, mau satu dekade juga kita temenan terus gak main keluar bareng gapapa."
"Bukan gitu elah! I mean, kita jalan-jalan, makan bareng, belanja bareng, hangout or something like that gitu loh! Healing dari lelahnya belajar."
"Mager banget kalo besok. Kenapa gak minggu aja, kan libur."
Audey mengangguk setuju dengan antusias. "Okedeh, fix minggu kita jalan ya? Ketemuan di rumah Cellin, ya, soalnya deket mall. Eh, lo ikut kan Lin?"
"Ikut, kok."
"Rin gimana?" Audey beralih pada Rin.
Rin berpikir sejenak, tidak buruk untuk dicoba. Beberapa saat berlalu, Rin memutuskan untuk mengangguk. "Ikut."
Audey memekik heboh, ia menoleh pada Megan. "Lo gimana Meg?"
"Gue pasti gak bakal diizinin." Megan merengut.
"Dih, emang udah nanya? Nanya dulu lah, lo mah main bilang gak diizinin aja." Ruth mengangguk setuju dengan ucapan Audey. "Iya, Meg. Ya kali tiap keluar gak boleh. Belum juga nanya udah bilang gitu. Bukan lo-nya kan yang gak mau main bareng kita?"
Megan tersenyum tipis. "Yeah, actually gue kalo tiap minggu ada agenda wajib, ke rumah oma, jadi gitu deh, hehe."
"Kita pernah ngajak lo selain hari minggu, dan lo bilang lo gak diizinin juga."
"Kan ada something. Udah tenang, gue bukannya gamau main bareng kalian, emang gabisa aja. Maaf, ya," kata Megan tersenyum tidak enak pada empat temannya.
Cellin tersenyum manis. "Gapapa, Megan. Kita ngerti, kok."
"Ya udah, have fun ya kalian hari minggu nanti!!"
Audey menghela napas. "Gak usah minta maaf Meg, gue yang harusnya minta maaf. Lo gak ikut main bareng, maaf, ya."
Megan mengangguk sambil tersenyum menyipitkan mata. "Gapapa, gapapa."
"Nanti kita v-call sama lo, biar kayak ikut jalan juga. Lo harus aktif, ya!" kata Audey menyipitkan matanya, Megan tertawa pelan. "Okay, dokey, captain!"
"Mau nitip sesuatu?" tanya Ruth membuat Megan menggeleng pelan. "Enggak usah deh kayaknya, gak ada yang habis di rumah. Tapi kalo bisa, nitip Park Jimin, ya!!"
"Meg, Meg, kalo bisa, gue bawain lo BTS sama gedung-gedungnya!" kata Audey tak santai.
"Gak usah repot-repot, beliin gue tiket konsernya aja gapapa, sama lightstick juga tapi, hehe," ucap Megan menyengir.
"Gue rugi lah Megalodon!"
Megan memberengut dengan pipi digembungkan dan alis yang mengerut begitu Audey menyebutnya Megalodon. Gak banget??! Sementara Ruth dan Cellin serempak tertawa mendengarnya.
Rin sendiri, gadis itu hanya diam tidak merespon. Melainkan hanya memerhatikan dalam diam sosok Megan yang kini tersenyum lebar hingga matanya menyipit. Entah kenapa, di mata Rin, senyum Megan itu terlihat ... fake.
__ADS_1
Makin lebar senyum seseorang, makin dalam luka yang ditutupinya.