
Karena pada dasarnya, penasaran dan suka itu beda tipis. Dari penasaran memang kadang hanya sekadar ingin tahu apa yang tidak kita tahu. Namun, seringnya, dari rasa penasaran itu menumbuhkan benih-benih yang di mana akan tumbuh perlahan menjadi rasa suka. —RAKARIN.
...***...
"Rak, jelasin."
Raka mengangkat satu alisnya. Menatap Galang dan lima sahabatnya yanh lain dengan bingung. "About what?"
Arga menghela napas panjang. Laki-laki itu menepuk pelan bahu Raka beberapa kali. "Lo pinternya beneran, kan, Rak, gak nyontek sama Alden?"
"Sial," umpat Raka pelan seraya menepis tangan Arga dari bahunya. "Gue harus jelasin apa? Lo pada kira gue dukun bisa baca pikiran orang?"
"Lo sama Teresa." Alden menatap serius sahabat sekaligus ketuanya itu.
"Why?"
Iqbal berdecak pelan. "Please, lah, Rak, jangan gini. Kita butuh kejelasan. Lo kan lagi dalam misi, kenapa tiba-tiba deketin Teresa? Rin pasti bakal risih sama lo. At least, kalo lo udah kebelet pengen jadian sama Teresa, tunggu dapet info lah, gak perlu sampe pacaran sama Rin."
"Setuju. Semakin cepat, semakin kita tau, harus ada dipihak yang mana," kata Regan menambahkan.
"And again, masalah ini gak cuma nyangkut antara lo, Rin sama Teresa aja, tapi satu anggota Deverald. Profesionalnya sebagai seorang ketua dipertaruhkan, Rak." Arga menatap tajam ke arah Raka. Kesal sendiri.
Arka mengangguk setuju, laki-laki itu maju mendekat lada Raka, kemudian menepuk pelan sebelah dada laki-laki itu sambil berucap, "Lo sebagai ketua, yang megang hampir seribu orang. Lo salah ambil langkah, seribu, Rak, seribu yang bakal ikut jatuh."
Raka menghela napas pelan. Laki-laki itu memejamkan matanya sesaat. "Gue mau tegasin, kalo gue bener-bener deketin Rin cuma karna misinya. Bukan gara-gara suka sama tuh cewek."
"Lo meluk Teresa di depan Rin? Are you crazy, Arfano Raka Arion?" tanya Galang tak habis pikir.
"Gue buktiin ke kalian semua. Butuh bukti kan? Salah satu pillar penting, kalian ngeraguin gue soal itu." Raka menatap teman-temannya dengan pandangan yang sulit diartikan. "Gue jelas marah pas tau dia disekap, karna kunci dari kasus kematian Barney itu Rin! Jam tangannya."
Galang menghela napas panjang. "Okay, gue ngewakilin yang lain buat minta maaf karena ngeraguin lo. Tapi Rak, gimana lo jelasin soal weekend kemaren?"
"What does that mean?" tanya Raka membuang muka.
"Buat apa nelpon Audey segala nanya Rin hari minggu kemaren mau kemana? Asal lo tau Rak, kemaren pas lo nelpon dia, gue lagi v-call sama dia. Gue denger juga, lo langsung jemput Teresa dan ke toko buku di mana ada Rin di sana."
Arga tertawa keras mendengarnya. "Udah, lah, Rak, akuin aja. Lo suka sama Rin, kan? No, lebih tepatnya, sejak awal pas tau dia biasa aja ke lo, lo tertarik, kan, Rak?" tembaknya tepat sasaran.
"Gak usah buat alasan lebih banyak, dam tunjukin aja lo ada dipihak mana, Raka." Alden berucap tegas.
__ADS_1
"Fine. Iya, gue tertarik sama Rin. Semingguan kemaren cuma buat mancing tuh cewek cemburu doang, mau liat gimana dia nanggepinnya. Gak lebih, bahkan gue gak mikirin soal misi. It's about me with her."
"Dan lo jadiin Teresa umpan?" tanya Arga dengan salah satu alisnya terangkat.
"Iya. Tapi gue tetep suka sama dia."
Iqbal mengernyit. "Terus Rin?"
"Just curious."
...*****...
Rin melangkah memecah keheningan pagi di sepanjang koridor kelas yang ia lewati. Terdengar helaan napas berulang kali dan juga decakan pelan. Hari ini jadwal kelas fisika, Rin entah kenapa jadi sedikit trauma karena minggu kemarin ia dapati Teresa duduk di depan kursi kelas menunggu Raka.
Memasuki kelas dengan tidak semangat, keningnya mengernyit mendapati Raka sudah berada di dalam sementara Teresa tidak ada di luar. Sadar akan kehadiran Rin diambang pintu, Raka yang tadinya membaca buku segera menghampiri Rin.
"Hai."
Whut?
Rin menatap datar ke arah Raka. "To the point, please?"
"What for?"
"Gue gak nyapa lo."
"Seriously?" Rin melangkah masuk menghampiri kursinya, sementara Raka mengikuti di belakang.
"Gue ngerasa harus minta maaf aja gitu ke lo." Raka menatap Rin sendu. Gadis itu hanya merespon dengan anggukan tanpa mau menciptakan eye contact diantara mereka. "Okay, biar cepet, I forgive you."
"Gak marah kan Rin?"
Rin segera membuka buku paket fisika, membaca setiap kata demi kata yang tertera, mengingat rumus demi rumus yang tertulis, hingga akhirnya gadis itu berhasil tenggelam ke dalam materi, melupakan sejenak Raka yang sejak tadi memerhatikannya lekat.
Tidak lama, kelas mulai ramai, pelajaran pun dimulai begitu bel pertanda seluruh siswa-siswi yang mengambil jam tambahan pelajaran yang mereka ambil akan segera mulai. Rin kesulitan berfokus pada materi, berulang kali ia mencuri-curi lirik ke arah Raka. Laki-laki itu benar-benar memerhatikan apa yany dijelaskan di papan tulis. Rin khawatir, kalau tiba saatnya, Raka mampu meraih peringkat satu, merebut kedudukannya, dan mengambil hatinya.
Sial.
Rin menunduk, menggeleng kuat beberapa kali. Gadis itu sedikit tersentak begitu sebuah tangan menepuk punggungnya. Begitu mengangkat kepala, bu Agatha menatapnya khawatir.
__ADS_1
"Kamu gapapa?"
"Ah, gapapa, Bu." Rin segera menegapkan tubuhnya.
Agatha menatap Rin cemas. "Kalau ngerasa gak enak badan, bilang Ibu, ya, nanti ke UKS."
"Iya, Bu."
...*****...
Selesai materi, Rin segera bangkit dari duduknya, berusaha untuk keluar kelas lebih awal dari Raka. Namun, baru ingin melangkah ke arah pintu, enam orang laki-laki yang sukses membuat siswi di ruangan itu memekik heboh dan para siswa yang seketika bersikap segan masuk ke dalam. Spontan saja Rin langsung merubah langkahnya, mendekat ke meja guru untuk mengambil penghapus papan tulis. Dengan malas ia menghapus spidol yang tercoret sana-sini.
Raka yang sejak tadi memerhatikan Rin menyungging senyum miring memesona. Laki-laki itu duduk di atas meja dengan tangan bersedekap dada, menatap gadis yang kini rambutnya dicepol asal itu dengan seksama.
"Butuh bantuan, Tuan Puteri?"
Rin memutar matanya. Kemarin Ice Princess, sekarang Tuan Puteri, besok apa?
"Your Majesty, saya siap menanti perintah Anda." Raka membungkukkan tubuhnya layaknya seorang pelayan terhadap ratu. Hal itu sontak membuat enam temannya mendelik.
"Lo ngapain anjir Rak," kata Iqbal keheranan.
Rin menghela napas. Gadis itu dengan segera meletakkan penghapus ke tempat asalnya, lalu keluar kelas dengan tampang kesal yang tidak terlalu tampak. Ia menerobos saja gerombolan enam laki-laki inti Deverald ini, meski sebenarnya malu juga.
Raka tersenyum tipis. Regan mengernyit mendapati ketuanya senyum-senyum sendiri. "Napa lo Rak? Tumben gak dikejar."
"Makanya cari cewek buat disukain. Biar kepekaan lo ningkat dikit."
"Sial."
Arga tertawa paling keras di antara yang lain. Sementara Galang menggaruk kepalanya bingung. "Emang kenapa Rak?" Kelima temannya ikut menatap Raka serius membuat laki-laki itu menghela napas panjang.
"Dia mau keluar, ada lo pada, jadi pura-pura bersihin papan tulis. Gue kerjain biar kesel, dia kalo kesel jadi bodo amat. Bisa keluar kelas tanpa mikirin pendapat lo pasa tentang dia yang bikin risih."
Keenamnya menatap satu sama lain bergantian dengan tatapan penuh arti. Iqbal kemudian tersenyum penuh arti. "Peka banget, ya, Rak, tau sifat Rin gimana yang asli."
Alden mengangguk setuju. "Yakin cuma penasaran aja?" tanyanya dengan satu alis terangkat tak lupa senyum miring mengejek.
Damn.
__ADS_1