JENNIE

JENNIE
32 - Dangerous Situation


__ADS_3

Nyatanya, aku akan baik-baik saja jika bersamanya. —Rin.


...***...


Rin melangkah dengan lesu menyusuri koridor demi koridor menuju kelasnya. Pagi ini Rin sengaja berangkat lebih pagi dari siapa pun untuk menenangkan diri sejenak menikmati keheningan kelas sebelum pembelajaran dimulai seperti biasa.


Begitu sampai di kelas, Rin mengernyit samar, gadis itu dengan malas meletakkan tasnya di atas meja, lalu segera melangkah keluar. Rin berpikir kalau baiknya menghirup udara segar di luar. Tujuannya sekarang adalah taman belakang sekolah.


Rin menghampiri kursi yang tersedia, lalu melepas sepatu dan kaos kakinya, meninggalkan alas kaki di atas kursi. Gadis itu melangkah ke tengah lapangan, rumput hijau yang segar pagi ini menggelitik kakinya. Rin mengangkat wajahnya ke atas, memerhatikan langit biru yang awannya menutupi matahari sehingga teduh dirasa. Angin berembus membuat helai rambut indahnya berterbangan memanjakan mata.


Rin tersenyum lebar, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, senyum itu akhirnya muncul kembali. Salah satu best healing bagi Rin, ya seperti sekarang ini. Gadis itu kemudian menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan.


Sudah hampir satu bulan, dan Raka benar-benar menjauhinya. Tidak ada sarapan. Tidak ada sapaan. Bahkan ketika berada di kelas fisika, Raka fokus memerhatikan pelajaran. Bulan ini, Raka yang awalnya berada di peringkat ke-15 kini masuk sepuluh besar. Rin hanya melihat Raka ketika berada di kelas fisika, selebihnya ia tidak melihat Raka di mana-mana.


Rin tersenyum tipis, memandang langit dengan sorot yang sulit diartikan. Diam beberapa saat, guna menenangkan pikiran dan hati.


Dirasa cukup, Rin menepi mendatangi keran air yang berada di dekat lorong. Biasanya digunakan untuk menyirami tanaman. Gadis itu membasuh kakinya, lalu mendatangi kursi. Memasang kembali kaos kaki dan sepatunya.


Rin mengerutkan kening, ia melirik dengan ujung mata ke arah samping kanannya. Gadis itu merasa ada yang mendekatinya secara perlahan dari arah belakang. Rin menarik napas dengan berat, jantungnya berdenyut kencang menyebabkan mengalirnya keringat dingin dari pelipis gadis itu.


Pura-pura mengangkat tangan kirinya untuk melihat jam berapa sekarang, yang ternyata menunjukkan pukul 5.45 am. Starlight memang buka gerbang selalu pagi, karena ada guru yang setiap harinya selalu datang pagi-pagi buta. Dari pantulan kaca jam tersebut, Rin dapat melihat seorang laki-laki berpakaian serba hitam mendekatinya dengan hati-hati.


Rin berdiri, menolehkan kepalanya ke belakang sambil mengangkat salah satu alisnya. Gadis itu tahu, ini pasti jebakan. Mana mungkin ada orang se-ceroboh ini. Sementara laki-laki di hadapan Rin itu menyengir hingga matanya menyipit, yeah meski memakai masker kelihatan dari matanya.


"Sorry, lo pasti udah sadar dari awal, ya?"


Rin mengatur napasnya, berusaha untuk tetap tenang meski sebenarnya panik bukan main. Gadis itu melangkahkan kakinya memutari kursi, dan maju selangkah mendekati laki-laki di depannya yang kini menatapnya tajam. Perubahan ekspresi yang drastis, pikir Rin.


"Gue niat nyulik lo, tapi ternyata gak bisa, ya? Atau gue terlalu ceroboh? Harusnya tadi langsung ngasih obat bius gak, sih?"


Laki-laki itu kemudian tertawa keras layaknya psikopat menemukan mangsa. Rin berusaha mengabaikan debar jantungnya yang menggila tidak karuan. Gadis itu melangkah sekali ke depan, yang membuat laki-laki di depannya memundurkan langkah perlahan.


Got it!


Rin bisa melarikan diri. Karena kalau dia melakukan perlawanan, gadis itu tidak tahu akan ada seberapa banyak kawanan yang digendong pihak musuh. Maka, jalan satu-satunya adalah menyelamatkan diri, berlari sejauh yang di bisa menuju keramaian.


Rin mengambil ancang-ancang, lantas segera berlari cepat meninggalkan laki-laki itu. Terdengar makian sebelum akhirnya ia dikejar. Rin berhenti tiba-tiba di sudut lorong yang memiliki belokan, ada beberapa orang yang memakai topeng putih dengan pakaian serba hitam menghalanginya. Gadis itu menoleh ke belakang. Sial, laki-laki itu kembali tertawa karena niat Rin untuk lari menjauh gagal.


"Mau lo apa?" tanya Rin pada akhirnya. Segera saja laki-laki dengan undercut hairstyle itu mengulurkan tangannya pada Rin, kemudian membungkuk hormat. "Ikut gue dengan cara baik-baik atau paksaan?" tanyanya sambil mengangkat wajah menatap Rin sedatar tembok.


Rin yang kesal mendengarnya, lantas menendang bahu laki-laki itu cukup keras hingga jatuh terduduk. Sekali lagi, suara tawa menggelegar memenuhi koridor. Rin melirik ke belakang, empat orang bertopeng itu tidak memberikan perlawanan padanya. Rin jadi makin dibuat berdebar khawatir.


Melihat laki-laki di hadapannya ini berdiri, Rin memasang posisi kuda-kuda dengan tatapan penuh waspada. Dia belum tahu musuh memiliki kekuatan fisik seberapa.


"Ternyata mau pake cara kedua, ya, Alena Rin Gracia?" tanya laki-laki itu dengan suara rendah menusuk, membuat Rin merinding seketika.


Sial, gue kenal ini suara siapa!


"Gue udah gak ada hubungan apa-apa lagi sama mereka. Lo mau nyandra gue buat apa?"


"Iya, sih, gak ada sama mereka, tapi sama Deverald ada. Maksud gue, ketuanya." Rin dapat merasakan laki-laki itu ber-smirk dibalik masker hitamnya.


"What do you mean?"


"Rin, lo mungkin gak nganggep dia. Tapi dia nganggep lo, kan?"

__ADS_1


Rin menajamkan tatapannya. Gadis itu berusaha tenang. Kemudian ia tersenyum tipis, menatap lurus manik kecoklatan di hadapannya. "Pengecut, ya?"


"Sialan." Laki-laki itu tertawa terbahak-bahak. Kemudian berhenti seketika. Ia melangkah maju perlahan mendekati Rin. Segera saja, ia melayangkan bogem mentah yang tertuju ke perut Rin, yang dengan cepat gadis itu hindari. Rin balas melepaskan tinjunya ke dagu laki-laki itu.


Rin menoleh sekilas pada empat laki-laki bertopeng tadi, tapi mereka tidak melakukan perlawanan pada dirinya. Gadis itu kembali melirik laki-laki di hadapannya ini. "Gak usah pura-pura lemah, Gilang. Apapun rencana lo, gue gak bakal kalah."


Laki-laki yang dipanggil Gilang itu tadinya memegangi dagunya dengan ekspresi kesakitan penuh drama, tapi setelah Rin angkat suara barusan, Gilang segera menegapkan tubuhnya, ia tersenyum menatap Rin dari balik maskernya. Pujaan hatinya ini memang tidak pernah gagal menganalisa sekitar.


"Gitu, ya? Jadi, mau pake paksaan nih? Gue berusaha buat ngasih lo kesempatan biar gak nyakitin diri lo. Lo tau kan Rin, gue masih suka sama lo?"


Rin tersenyum miring. "I don't care about it." Gilang menghela napas. "Apa boleh buat."


Gilang segera bergerak maju sambil melayangkan pukulan, yang lagi-lagi berhasil Rin hindari. Keduanya terus melakukan serangan sambil menghindar.


"Rin, lo tau gue masih pura-pura lemah, kan? Lo kok kewalahan?" Rin berdecak pelan, ia dan Gilang kini saling berhadapan menahan serangan satu sama lain. "Gue masih ladenin lo. Ternyata lo selemah itu sekarang."


Rin mengambil celah dari Gilang yang berceloteh bodoh, gadis itu tanpa membuang waktu menggerakkan lututnya ke atas, tepat mengenai perut Gilang dengan keras. Laki-laki itu termundur ke belakang, tidak memberikan kesempatan Gilang menyerang balik, Rin segera menendang aset laki-laki itu yang membuat Gilang guling-guling kesakitan.


Lang, lo ga nyadar ya gue pura-pura lemah?


LMAO.


"SIALAN!"


Rin berlari dengaj arah berlawanan, melirik ke belakang, empat laki-laki bertopeng itu mengejarnya. Rin tersenyum penuh kemenangan. Ia berniat melarikan diri ke basecamp Deverald.


Bruk!


Rin menoleh cepat ke depan, seorang laki-laki berwajah datar menyambut pandangannya. Rin bergerak mundur, yang sialnya pergelangan tangan kanan gadis itu digenggam erat. Berusaha meloloskan diri, laki-laki itu justru merengkuh perutnya, membuat tubuh Rin termaju. Rin menatap tajam, berusaha untuk bisa kabur meski dirinya sadar kalau tenaganya kalah telak.


Laki-laki itu merunduk menyamakan wajahnya dengan Rin, kemudian maju perlahan, ia membisikkan sesuatu tepat di telinga Rin. "Tidur bentar, ya." Delon melepaskan rengkuhannya dari perut Rin.


Rin mengerutkan keningnya, ia menoleh ke belakang, bersamaan dengan itu salah seorang dari empat laki-laki bertopeng itu menyodorkan lap berwarna putih ke hidungnya. Kesadaran Rin perlahan hilang, gadis itu jatuh yang segera Delon tahan.


Sebelum benar-benar hilang kesadaran, Rin dapat melihat Gilang berjalan mendekat dengan tertatih dengan ekspresi kesal bukan main. Samar-samar Rin melihat dibalik dinding tersembunyi, ada laki-laki mengintip. Di tubuhnya melekat jaket kebanggan Deverald. Tanpa sadar gadis itu menghela napas lega kemudian tersenyum tipis. Dia masih memiliki harapan. Rin akhirnya jatuh pingsan, dalam keadaan tenang dan tidak panik.


...*****...


"Rin belom turun juga? Tumben banget loh, dia gak pernah izin kan ya? Ini masa gak ada keterangan apa-apa dia." Audey bolak-balik di depan pintu kelasnya, sembari menunggu Rin yang tak kunjung tiba.


"Di telponin juga gak ngangkat. Perasaan kemaren dia baik-baik aja, kan?" tanya Megan yang duduk di kursi panjang depan kelas dengan Cellin di sampingnya. Sementara Ruth yang menyender di pagar pembatas menghela napas. "Bentar lagi bel. Mending kita masuk. Kasih Rin izin aja, kalau dia ada urusan."


Audey menggeleng pelan. "Gak. Kita tunggu sampe ada guru yang mau masuk baru masuk." Megan dan Cellin serempak mengangguk. Melihat itu, Ruth ikut menganggukkan kepalanya.


Tidak berapa lama, Audey melihat kehadiran segerombol laki-laki yang dipimpin Raka. Pandangannya jatuh pada Galang yang kini menyodorkannya sebuah coklat berbentuk hati. Audey sebenarnya ingin heboh di dalam hati, tapi urung mengingat Rin belum juga memberi kabar bahkan sampai sekarang belum tiba juga.


Menyadari raut Audey yang murung, Galang menghentikan langkahnya. Membuat enam temannya ikut menunggu laki-laki itu di dekat tangga.


"Kamu kenapa?"


Audey dapat merasakan jantungnya terhenti sejenak sebelum akhirnya berdetak layaknya orang yang habis lari jauh. Semburat merah perlahan terlihat di wajah cantiknya. Galang baru pertama kali menyebutnya dengan kata 'kamu'.


"Gapapa."


"Beneran?"

__ADS_1


"Dih. 'Kamu gapapa?' 'Beneran?' sweet amat, Kak," sewot Iqbal dengan tampang yang rasanya Galang ingin menampolnya.


"AHAHHAH!! 'Gapapa' 'Aku gapapa, Kak'." Regan ikut mengoloki Galang.


Galang melirik sinis pada teman-temannya yang justru membuat mereka tertawa brutal kecuali Raka dan Alden. Laki-laki itu kembali melirik Audey. "Ngomong aja."


Audey melirik Ruth, gadis itu menggeleng. Audey kembali menatap manik coklat Galang. "Gapapa, Kak. Gue—"


"Aku."


"Ah, iya. Aku—aku gapapa, hehe." Audey memegang tengkuknya, gadis itu canggung sendiri.


Megan yang sejak tadi memerhatikan akhirnya angkat suara. "Dey, lo belum nyalin tugas pkn, kan? Kerjain sana."


Audey menghela napas, dia terbebas dari situasi mendebarkan yang membuat jantung serasa ingin meledak. Ia berulang kali mengucap kata makasih pada Megan dalam hati.


Peka banget emang si Megan!!


"Aku ke dalam ya, Kak." Pamit Audey yang dibalas anggukan Galang. Melihat itu membuat Arga, Iqbal dan Regan menertawakannya. Entah apa yang lucu.


Ruth menyusul masuk, membuat Cellin dan Megan ikut melangkah masuk ke dalam. Sebelum benar-benar masuk, suara serak milik Raka membuat Megan mau tidak mau menoleh. Karena namanya disebut-sebut.


"Rin mana?"


"Belum berangkat."


Kening Raka mengerut. Tumben. "Gak ada chat lo apa-apa?"


"Nothing."


Raka makin mengerutkan keningnya. Ketika asik tenggelam dalam lamunannya, suara Megan membuatnya kembali tertarik pada kenyataan. "Sebenarnya daritadi nunggu Rin. Gue masuk, udah gak ada yang mau di tanyain, kan?"


Raka menggeleng pelan. Sementara Arga segera berucap. "Megan gue udah bawain lo ice cream banyak, gue titipin ke wamade. Ntar gue temenin ambil," ucapnya sambil tersenyum.


"Oh? Okay, thank you so much. Gue izin masuk, permisi."


Setelah Megan masuk, enam inti Deverald mengerumuni Raka. "Kita sepemikiran, kan?" tanya Iqbal yang dibalas anggukan enam orang itu. "Rin ini setau gue always masuk. Apalagi gak ada kabar."


Ketika ketujuhnya terdiam merenung, suara salah satu anggota Deverald menggema memanggil nama Raka. Sontak ketujuh laki-laki yang duduk di anak tangga itu menolehkan kepalanya.


"BANG RAKA!! GUE DARITADI NUNGGUIN!"


"Apaan?"


"Gue tadi ngeliat cewek yang sering Bang Raka deketin itu dibawa enam laki-laki. Gue gak tau mereka siapa. Pada pake masker, satunya gak pake masker tapi gue juga gak—"


"Sialan." Raka mendesis tajam. Tatapannya menajam, begitu mematikan. Zero—sang adik kelas—seketika terdiam tidak berani melanjutkan ucapannya.


"Arga." Raka melirik laki-laki itu, paham, Arga mengangguk. "Aman, Rak."


Raka berdiri dari duduknya. "Ke markas belakang." Interupsi laki-laki itu yang diangguki patuh enam inti Deverald yang lain. Aura Raka menguar penuh intimidasi, orang-orang di sekitarnya menyadari satu hal, Raka sedang tidak baik-baik saja. Jika ada yang menganggu, pasti akan terkena amukan. Sementara Zero kembali ke kelasnya atas perintah Alden.


Raka menggigit bibir bawahnya pelan, pihak musuh pasti sudah lama memerhatikannya dan mencari celah untuk memanfaatkan kelemahan Raka.


"Ah, sial."

__ADS_1


Arga bergidik, satu yang dia tahu, siapa pun yang berani menculik Rin, pasti akan habis sama Raka.


__ADS_2