
Melukainya sedikit saja, maka akan berurusan denganku. —Raka.
...***...
"Rak, ini data lengkap tentang enam orang itu. Kalo lo mau liat cctv di depan basecamp ini yang keliatan dikit kejadiannya di lorong belakang ini, boleh-boleh aja. Cuma, ya, gue gak nyaranin, sih. Buat jaga kestabilan emosi lo." Arga berucap sambil menyodorkan iPad apple pada Raka, yang kini di layar tersedia sebuah halaman dokumen yang sudah Arga rangkum informasi mengenai siapa-siapa saja yang terlibat dalam penculikan Rin.
Raka mengangguk singkat. Manik hijaunya bergulir membaca beberapa hal mengenai geng motor Zegior yang kini dipimpin seorang laki-laki tingkatan 12 di SMA Pelita Jaya, Gilang Maheni Cakra. Kemudian ada Delon Manopo Dwiangga selaku tangan kanan. Dimas Sargaqi wakil ketua, Viktor Abimanyu sang panglima perang, Rama Tiara Putra dan terakhir Dava Brawijaya yang masih termasuk sebagai anggota inti. Terdapat foto-foto dari setiap anggota.
Iqbal yang ikut mengintip membaca dokumen tersebut menyeletuk, "Pantes pake masker, emang mainnya dibalik layar anjir."
"Zegior. Jarang ada yang bicarain mereka." Alden angkat suara.
"Mereka cuma dikenal sesama anggota geng motor aja. Cinta damai. Gue gak tau kalo mereka jadi nyulik-nyulik gini," kata Regan geleng-geleng.
"Mereka juga lumayan, ada yang jago editing, hack data. Jadi bunglon buat ambil informasi, ngamatin pihak musuh, gak bisa di remehin, sih emang." Arga menatap enam temannya yang lain dengan serius.
Raka diam beberapa saat setelah membaca beberapa informasi penting bersifat rahasia dan privasi yang sudah dirangkum Arga. Laki-laki itu kemudian berdiri, mendekati komputer yang kini menampilkan video zoom yang sedikit blur tapi tetap terlihat jelas. Melihat itu, Galang mendekat pada Raka.
"Wait, Rak. Lo seriusan mau liat?"
Raka melemparkan tatapan skeptis pada Galang. Laki-laki itu jadi makin penasaran, kenapa dia tidak boleh lihat?
"Minggir."
Galang melirik yang lain, mendapat anggukan pasrah, ia lantas mempersilahkan Raka untuk melihat. Raka segera saja menekan tombol play, dan video samar-samar tapi cukup jelas terpampang di layar besar.
Terlihat di sana, laki-laki yang seingat Raka bernama Delon melingkarkan tangannya di pinggang Rin. Melihat itu Raka mengepalkan tangan dengan kuat. Video berlanjut, salah seorang laki-laki bertopeng menyodorkan kain putih yang tidak lama Rin pingsan di senderan bahu Delon.
Alden melirik Raka, mengamati ekspresi ketuanya itu diam-diam. Tatapannya jatuh pada kepalan tangan sang pemilik manik hijau itu. Nampak urat terlihat yang menandakan ada emosi di dalamnya. Alden mendekat, menepuk pelan bahu Raka. Mengingatkan agar jangan sampai lepas kendali.
Cuplikan video di menit terakhir sebelum Rin dibawa pergi, Raka benar-benar tidak bisa mengontrol dirinya. Laki-laki itu reflek memukul meja dinding di sampingnya dengan kuat hingga membuat retakan di sana. Galang segera menahan tubuh Raka agar tidak makin membabi buta.
Arga melirik lagi layar komputer di hadapannya yang menampilkan video di mana Rin digendong ala bridal style oleh ketua Zegior dengan masker hitam, Gilang. Laki-laki itu tersenyum tipis.
Lang, lo gak bakal selamat, sih, gue yakin.
...*****...
Rin mengerjapkan matanya beberapa kali secara perlahan. Dinding tua yang berlumut menyambut pandangannya ketika kesadaran berhasil ia dapat. Rin memerhatikan sekeliling, bau rumput basah yang khas membuatnya reflek mengernyitkan hidung. Tangannya ingin bergerak menutup indera penciuman, tapi urung begitu ia menyadari sesuatu. Tangan dan kakinya kini terikat rantai pada sebuah kursi dari besi.
Rin memejamkan matanya sesaat, menarik napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya perlahan. Manik kuning keemasannya perlahan terlihat ketika kelopaknya membuka. Gadis itu menenangkan diri tadi, dan sialnya ketika membuka mata, justru malah membuatnya jadi gelisah kembali. Karena, satu-satunya pintu di ruangan itu terbuka, menampilkan enam orang laki-laki tak asing menghampiri.
Gilang membungkuk sedikit menyamakan wajahnya dengan Rin, sementara lima orang lain siap di posisinya masing-masing untuk menjalankan tugas. Rin memerhatikan Rama—lak-laki yang kini memegang kamera—dengan curiga.
"Gak usah ngeliatin dia, Rin. Yang suka sama lo itu gue."
__ADS_1
Sial, masih terobsesi sama gue ternyata nih orang.
Rin hanya memutar matanya sebagai respon. Hal itu membuat Gilang tertawa keras. Kemudian terhenti, tatapannya liar memerhatikan wajah Rin. Gilang kemudian mendekat, berbisik.
"Mau liat kucing berubah jadi singa gak, Rin?"
Rin berdecak, berusaha sebisa mungkin menjauhkan wajahnya dari Gilang. "Agak mundur bisa? Gue eneg," ucapnya mengerutkan kening.
Gilang menganggukkan kepalanya beberapa kali. Menoleh pada Rama yang kini sudah menyalakan kamera. Rin makin bingung, meski ekspresinya tetap datar hingga semua yang di ruangan itu mengira dia biasa saja.
Secara tidak terduga, Gilang mengelus pipi Rin, membuat gadis itu mendelik kaget. Ia berusaha sekuat tenaga melepaskan jeratan kaki dan tangannya agar bisa melayangkan serangan pada laki-laki gila di hadapannya itu.
"Don't touch me, ****!" Rin menatap tajam Gilang.
Bukannya berhenti, Gilang justru tertawa keras dengan puas, tangannya kembali bergerak mengusap seluruh wajah Rin, hingga terakhir terhenti pada bibir gadis itu. Jantung Rin serasa mau lompat, gadis itu masih berusaha menjauhkan wajahnya. Begitu dilihatnya Gilang mendekat, Rin spontan menunduk.
Sialan.
Gilang memegang dagu Rin, kemudian mengangkat wajah gadis itu agar menatap matanya. "Cantik banget ya lo? Coba aja lo gak nolak gue, Rin, lo pasti gue jadiin ratu."
Rin memasang ekspresi jijik. Ia melirik ke arah Rama sekilas, yang stand by memvideo.
Jangan bilang kalau mau dikirim ke Raka?
Gilang menatap Rin tajam. Ia melepas pegangannya dari dagu Rin, beralih mencubit gemas pipinya. "Gak mau, Rin."
Laki-laki itu kemudian berdiri, melepas kancing seragam sekolahnya satu-persatu, hingga terlihat kaos hitam polos yang mencetak jelas tubuh atletisnya. Gilang menatap Rin sejenak, melemparkan tatapan lekat penuh kekecewaan. Perlahan, laki-laki itu mendekatkan wajahnya pada Rin, yang kini melemparkan tatapan membunuh.
"Jangan dekati gue."
Gilang menggubris itu. Ia justru melirik bibir Rin tertarik.
"Jangan dekati gue!"
"Jauh-jauh, Lang."
"Jangan deket-deket gue sialan!"
"Pengecut damn, lepasin rantainya, by one kalo berani!"
"Terus ngoceh Rin, apa aja. Ekspresinya buat lebih ketakutan lagi, videonya mau gue kirimin ke Raka soalnya."
Rin menoleh ke samping, di mana Gilang membisikinya dengan suara rendah yang berhasil membuat bulu kuduk gadis itu berdiri. Gilang kembali berdiri, ia melepas kaos hitamnya membuat Rin menggigit bibir bawahnya penuh kepanikan.
Gilang melirik ke arah kamera sekilas, kemudian tersenyum penuh kemenangan. "Dia milik gue, Rak." Setelah mengucapkan itu, Rama segera menutup kamera dengan penutupnya. Gilang menoleh pada Rin, gadis itu menatapnya tajam, seperti awal bertemu tadi pagi. Yeah, Rin ini memang pandai sekali mengendalikan dirinya.
__ADS_1
Gilang menyentuh lembut pipi Rin, mengelusnya kemudian berucap dengan pelan, "Teriak apa aja. Cepetan!"
Rin melirik kamera, masih dalam keadaan menyala. Gadis itu tahu, pasti untuk mempermainkan emosi Raka, kan?
Sial. Sial. Sial.
"CEPETAN TERIAK!"
Rin memilih diam saja. Muak, Gilang lantas mendekatkan tubuhnya dengan smirk mengerikan yang reflek membuat Rin berteriak ketakutan bercampur panik—untuk pertama kalinya.
"JAUH-JAUH DARI GUE SIAL!"
"Cut!" Rama berseru dengan lantang tiba-tiba. "Gue tinggal edit bagian akhir yang lo teriak aja Lang, sisanya tinggal kirim. Mungkin gue pake voice effect juga, kecuali suara Rin, real. Sama muka lo gue edit dikit."
"Gue juga udah dapet nomor Raka," ucap Dava menyeletuk.
Gilang tersenyum puas. Ia kembali memakai kaos hitam dan juga seragamnya. Laki-laki itu mendudukkan diri di dekat Rin yang masih mengatur napasnya.
Rin menunduk, berusaha memutar otak agar bisa melepaskan ikatan rantai di kursi besi ini pada tangan dan kakinya. Gadis itu benar-benar kaget, jujur saja. Gilang tiba-tiba ingin memeluknya, dan itu membuat Rin spontan berteriak. Ingin melawan, sayangnya Gilang terlalu pengecut sehingga dirinya diikat.
".... Mereka udah nyiapin pasukan. Udah gue aturin gimana-gimananya, tinggal Raka sama anggotanya aja."
Rin mengangkat pandangannya. Keenam laki-laki anggota inti Zegior ini sedang membentuk lingkaran, dan samar-samar Rin dapat mendengar obrolan mereka.
"Videonya udah gue kirim juga. Lokasi kita udah gue lindungi. Di Deverald setau gue gak ada hacker, jadi kita aman."
Rin menghela napas pelan, Zegior ternyata masih menjadi licik dengan bermain di dunia bawah—kegelapan, *da*rk, or someting like that. Rin menatap Gilang lama, kemudian kembali menghela napas.
"Pihak Delvaros udah ngirim satu miliar ke rekening."
"Tuh ketuanya bank berjalan anjir, tapi gak kuat. Gapapa, sih, jadi kita ada pemasukan, BWAHAHAH!!"
Delvaros? Ketuanya Michael bukan, sih?
Rin mengerjap pelan, begitu tiba-tiba keenam anggota inti menoleh padanya secara bersamaan. "Apaan?" tanya gadis itu berusaha bersikap biasa saja.
"Calon pacar gue lagi nyimak, ya?"
"Nyimak gak nyimak, dia juga tau siapa-siapa aja yang terlibat di dunia bawah anjir." Viktor tertawa setelahnya.
Rin mengerutkan kening. "Gue muak serius. Lo pada bisa lepasin gue gak, sih? Kalo tau soal barusan, berarti tau siapa backingan gue, kan? Gilang?"
Gilang tersenyum penuh arti mendengarnya. "Itu kan dulu, Rin?"
Damn it.
__ADS_1