
Dia beda, maka cara mendekatinya juga harus beda dari biasanya. —Raka.
...*****...
Suara deruman ratusan motor besar terdengar riuh mengisi setiap sudut jalanan. Jalan yang tadinya sudah macet kini semakin penuh diisi oleh gerombolan anak SMA yang sama-sama mengenakan jaket kulit berwarna hitam dengan tulisan Deverald di bagian punggung.
Di barisan terdepan seorang laki-laki bernetra hijau memimpin dengan sport hitamnya. Di belakang sedikit, ada keenam temannya yang juga memakai motor sport dengan warna berbeda.
Jauh di depan, mobil putih seorang gadis tengah melaju dengan kecepatan sedang. Decakan pelan terdengar saat samar-samar telinganya menangkap suara gaduh luar biasa dari belakang. Melirik lewat kaca spion, kepulan asap putih muncul yang tidak lama memperlihatkan gerombolan motor. Segera saja gadis itu melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata, membelah ramainya jalan ibukota dengan tidak sabaran.
"****!" umpatnya saat mendapati rambu berubah warna jadi merah.
Rin melebarkan matanya ketika seorang kakek-kakek mulai melangkah untuk menyeberangi jalan. Matanya bergulir, memerhatikan gerombolan motor yang di pimpin Raka semakin dekat.
Dengan pasti ia membuka pintu mobil, lalu berlari kecil pura-pura menghampiri seseorang di belakang kakek tadi. Setelah berjalan sedikit lebih jauh ke belakang si pria yang tak lagi muda itu, Rin memutarbalikkan badannya dan mulai melangkah dengan pelan mengikuti pria berambut putih itu. Mengeluarkan ponsel dari saku seragamnya, Rin lantas berpura-pura memainkan aplikasi yang ada di ponsel padahal ia hanya membuka lalu menutup aplikasi yang ada.
Lewat lirikan mata, gadis itu dapat melihat Raka memberhentikan motor besar miliknya, tepat di samping mobil Rin, kemudian membuka visor helm full face-nya. Menatap dengan tatapan setajam elang ke depan, membuat Rin mati-matian tidak memutar mata.
Gadis itu kembali menatap ponselnya, melirik ke arah si kakek yang berdiam diri di tengah jalan, memegangi dadanya sambil terbatuk-batuk. Ketika bersebelahan, Rin segera berjongkok dengan satu kaki ke depan, dan satu kaki lain menopang dengan lutut. Ia berpura-pura merapikan tali white sneakers-nya. Ketika kakek itu kembali melangkah dengan bantuan tongkat kayu, selang lima detik Rin bangkit dan mengambil langkah kecil.
Damn.
Rin melirik dengan perasaan was-was ke arah gerombolan motor saat lampu rambu itu berubah warna jadi hijau. Suara motor yang di gas rem terdengar sana-sini. Kakek tadi terlihat mempercepat langkah dengan sedikit terpincang.
Ketika langkahnya tepat di depan mobilnya sendiri, Rin setidaknya dapat menarik napas lega karena ia maupun si kakek tidak menganggu pengendara lain—tepatnya gerombolan motor. Kakek itu sedikit kesusahan untuk menaiki sisi jalan tepat di samping mobil Rin, membuat gadis itu berlari kecil dan membantunya naik dengan hati-hati.
"Te—terimakasih, Nak," ujar si kakek ngos-ngosan. Rin mengangguk kecil tanpa ekspresi.
Gadis itu menengok ke belakang, mengumpat kesal dalam hati karena Raka tak kunjung jalan walaupun lampu sudah berubah warna sejak tadi. Tentunya, jalan di lampu merah kini dipenuhi oleh anak-anak motor yang membuat pengap. Anggota tidak mungkin bergerak jika ketuanya saja tidak. Yeah, at least itulah yang Rin tahu.
Damn.
Rin yakin, kakak kelasnya itu pasti ingin mengganggunya. Bukannya gadis itu kepedean, tapi akhir-akhir ini Raka memang suka sekali menghampiri dia ke kelas.
"Anu, Kak, terimakasih udah bantuin kakek aku tadi." Rin terkesiap lalu secepat kilat menoleh ke sumber suara. Di depannya seorang gadis berseragam putih-putih yang menaiki motor matic merah tersenyum canggung ke arahnya.
"Iya," sahut Rin dingin.
Gadis SMP itu kemudian turun dari motor dan membantu kakeknya berjalan. Ketika keduanya sudah menaiki motor, Rin berniat kembali masuk ke mobilnya. Namun, suara lembut yang terdengar sangat tulus itu membuatnya mengurungkan niat tersebut.
"Sekali lagi makasih, Kak. Terimakasih banyak," ucap gadis SMP itu dengan sedikit membungkukkan badan, sambil menampilkan senyumnya. Rin hanya merespon dengan anggukan, terasa sulit sekadar untuk tersenyum kecil.
"Maaf ya Nak ngerepotin. Kakek banyak-banyak makasih. Hati-hati di jalan ya," ucap pria yang tak lagi muda itu.
Dengan memaksa diri sendiri, Rin menampilkan senyum ramahnya yang memesona sambil mengangguk kecil. "Sama-sama, Kek. Buat kamu," telunjuk gadis itu mengarah pada cucu si kakek. "Lain kali, kakeknya jangan ditinggal sendiri."
"Iya, Kak. Tadi aku cuma mau ngisi bensin aja, kirain Kakek masih lama. Ta—tapi engga ternyata." Dengan wajah penuh rasa bersalah ia menoleh ke arah kakeknya dan meminta maaf, lalu kembali menoleh pada Rin. "Maaf dan makasih, Kak."
"Iya, sama-sama. Hati-hati."
Gadis SMP di depan Rin itu kemudian menyalakan motornya lalu menjalankannya dengan kecepatan sedang. Sebelum benar-benar pergi, ia kembali melempar senyum ramah pada Rin. Setelah cukup lama, Rin kemudian membalikkan badan.
Damn it. Raka masih aja ada di situ? Ngapain, sih?
Tanpa mau repot-repot menatap ke arah laki-laki bermanik hijau yang sejak tadi memerhatikan, Rin segera saja masuk ke mobilnya. Hampir memekik senang, saat lampu rambu lalu lintas masih hijau. Dengan melajukan mobil ke kecepatan tertinggi, gadis itu membelah jalanan dengan gila-gilaan.
Rin melirik ke belakang, motor Raka dan keenam temannya menyusul, yang tidak lama ratusan motor lain juga mengikuti. Rin rasanya mau jumpalitan sekarang. Bener kan, kakak kelasnya itu gangguin dia! Fyi, Raka ngikutin dia gini aja tuh, udah ganggu banget menurutnya.
Gapapa Rin, bentar lagi nyampe sekolah. Gak mungkin semua anak Deverald rame-rame markir di parkiran. Rusak gerbangnya ntar yang ada!
Rin mengembuskan napas saat beberapa meter lagi sampai di SMA Starlight. Dengan cekatan, tangannya memutar setir berbelok masuk ke gerbang, dan melepas pijakannya pada pedal, beralih menginjak rem. Dengan sisa kecepatan, gadis itu membelokkan mobilnya masuk ke tempat parkir. Tepat hampir ingin menabrak tembok, mobil mewah berwarna putih itu berhenti. Rin memarkirkannya dengan sempurna.
Ia melirik gerbang, mendapati Raka menutup kembali visor helmnya, lalu melajukan motor dengan kecepatan penuh memutari gedung SMA, hendak memarkirkan motor di basecamp Deverald yang terletak di belakang sekolah, bersebelahan dengan gudang tua yang tak terpakai.
Rin tersenyum puas sambil turun dari mobilnya, lalu menutup pintu dengan keras.
Berasa tawanan aja gue dikejar-kejar.
...*****...
Jadwal kelas tambahan Rin hari ini itu fisika. Mau tahu gak, sebelumnya gadis itu belajar apa? Matematika peminatan dong!!
Double kill gak tuh?
Jujur, Rin udah stres berat hari ini. Matematika tadi yang dipelajari, ngebut satu BAB, yang bahkan tembus lima puluh halaman. Mana materinya tentang Limit Fungsi Aljabar lagi. Belum lagi soal-soal latihan yang harus dikumpul langsung.
__ADS_1
Ditambah, dia belum makan siang, sarapan pagi aja Rin sekadar minum segelas susu saja. Perut yang keroncongan, kepala yang berdenyut nyeri, dan teriknya matahari yang tepat seperti berada di atas kepala membuat gadis itu rasanya ingin merebahkan diri di atas kasur.
Seandainya selama satu bulan ke depan Bu Stevi tidak berangkat ke luar negeri—entah mengurus apa, mungkin kejadian tiga jam lalu tidak ada. Mereka belajar seperti biasa, dengan Bu Stevi yang mengajari pelan-pelan.
Kepala Rin yang semula tertunduk lemas, ia dongakkan. Dari kejauhan, ia dapat melihat tujuh laki-laki sedang duduk berkerumun di sekitaran anak tangga paling bawah.
Kalau gini ceritanya, gimana dia mau masuk ke kelas fisika coba? Lagian, ya, Raka sama teman-temannya kenapa kayaknya suka banget nongkrong di situ, sih? Bikin Rin repot aja.
"Muka lo kenapa pucat?" Pertanyaan itu membuat langkah Rin terhenti di anak tangga pertama. Ia menoleh pada Raka yang kini menatapnya tajam.
"Panas, kan?" Rin balik bertanya, lalu kembali melanjutkan langkahnya. Tidak membiarkan Rin pergi tanpa penjelasan yang jelas, Raka mengikuti gadis itu. Membuat enam temannya yang lain bersorak heboh.
Iya, Alden juga.
Eh, enggak, sih, dia cuma ngelirik-lirik sambil senyum. Tipis banget.
"Lo kenapa?" tanya Raka yang kini berjalan di samping Rin. Gadis itu menoleh sambil menghela napas kasar. "Panas."
Raka tidak ingin ambil pusing lagi. Cowok itu mengganti topik pembicaraan. "Lo masuk kelas apa aja?"
"Lingkup IPA. Semua," balas Rin singkat. Raka mengernyit. "Matematika, fisika, kimia, biologi?" tanya cowok itu yang dibalas anggukan kecil dari gadis di sampingnya ini.
"Pinter juga lo. Kirain otak lo gak nyampe," kata Rin, agak ketus.
"Lo ngeremehin gue? Kakak kelas lo?"
"Iya."
Hening beberapa saat, Raka masih mencerna perkataan Rin. Tidak habis pikir, gadis itu berani sekali. "Pinter ya lo masuk empat kelas sekaligus," ujar Raka mengganti topik pembicaraan singkat tadi.
"Ya."
Tidak menyerah, Raka kembali bersuara, "Lo gak tanya gue masuk kelas apa? Kan udah dua kali ketemu."
"Tiga kali, lo jodoh gue."
"Apa?" tanya Rin tidak ingin memperpanjang urusan. Lebih baik mengiyakan cowok itu.
"Enggak ada."
Raka menoleh ke samping. "Lo gak mau tanya, gue ngapain?"
Rin mendengkus. "Apa?"
"Nemenin Alden. Dia ikut kelas fisika sama biologi. Mau jadi Dokter katanya," sahut Raka tak mengalihkan pandangannya pada Rin.
"O."
Rin membelokkan badannya ke salah satu ruangan. Mendudukkan diri di kursi terdepan, tepat berhadapan dengan papan tulis. Raka menarik kursi di sebelah gadis itu.
"Mulai sekarang gue duduk sini. Gue masuk kelas fisika. Sekelas sama lo."
Rin menutup matanya sebentar, lalu membukanya lagi. Entah bagaimana ke depannya, gadis itu hanya akan mengikuti alur.
Ingin menghindar, kenapa malah terjebak, sih?
Oh iya, sekadar informasi agar tidak bingung, kelas tambahan dari empat inti materi IPA ini hanya disediakan dua ruangan tiap satu materinya, yang artinya hanya ada delapan kelas. Mengingat yang berminat mengikuti kelas tambahan dengan poin utamanya menghitung, maka dapat dipastikan hanya ada sedikit saja. Rasanya, dua kelas sudah cukup mencakup tiga tingkatan, 10, 11 dan 12.
Karena ada dua kelas di setiap satu materinya, maka kelas pertama, itu untuk yang tercepat, lalu kelas kedua, untuk mereka yang belakangan mendaftar. Masalah fasilitas, semua sama, tidak dibedakan sedikit pun.
Karena Rin baru saja masuk, dan Raka yang baru ingin memberitahu bu Agatha—selaku pengajar kelas fisika—maka mereka bisa satu kelas walau beda tingkatan.
Untuk materinya, membahas mulai dari dasar yang paling mudah, lalu ke tingkat tertinggi. Dan untuk yang ketinggalan, cukup melihat punya teman yang lain saja.
Ketika tahun ajaran baru, materi tetap dilanjutkan, tapi masih sedikit menyinggung materi yang diawal-awal. Sistemnya seperti itu, berputar tanpa henti.
Tepat jam 14.00 WIB, Agatha masuk membawa beberapa tumpukan lembar soal latihan. Mata guru berwajah manis itu memicing, dengan kening yang dikerutkan, bingung.
"Loh Raka? Kamu masuk kelas fisika?"
"Iya."
Dahi bu Agatha berkerut semakin dalam. "Sejak kapan? Kok Ibu baru liat?"
"Tadi."
__ADS_1
Agatha menggeleng takjub. Tak menyangka seorang Arfano Raka Arion, murid kelas 12 IPS-1, yang terkenal dengan keberingasannya itu masuk kelas fisika.
...*****...
Kalau biasanya selesai kelas Rin ingin pulang belakangan, maka sekarang semenjak ia satu ruangan dengan Raka, gadis itu ingin pulang paling awal dari siapa pun.
Niat awalnya, sih gitu. Cuma, ni ponsel kesayangannya kenapa tiba-tiba hilang?? Padahal gadis itu tadi menaruhnya di atas meja.
Rin melirik Raka, cowok itu menelungkupkan wajahnya di lipatan tangan. Menghela napas pelan, pasti kakak kelasnya itu yang menyembunyikan. Gadis bermata hitam legam itu memerhatikan sekitar ruangan, tinggal dia dan Raka. Ngeselin banget emang.
"Balikin," kata Rin dingin, berhasil membuat Raka mengangkat wajah. Melihat sekitaran kelas, baru cowok itu menoleh pada Rin.
"Apa?"
"Hp."
"Hah?"
"Budeg?"
"Enggak," ucap Raka menyugar rambutnya ke atas sambil tersenyum mematikan.
Rin menghela napas kasar. "Balikin."
"Apanya?"
"Hp gue."
"Ha—"
Rin berdiri lalu menggebrak meja Raka dengan kuat, membuat cowok bernetra hijau itu mengangkat sebelah alisnya. "Lo kenapa?" tanya Raka sambil meletakkan salah satu kakinya ke atas paha.
Rin memutar matanya malas. "Hp."
"Oh, bilang daritadi."
NI COWOK NGESELIN BANGET, SIH!
Raka kemudian meraba laci mejanya, memberikan benda persegi empat tersebut ke sang pemilik. "Bilang kalau mau ambil hp gue jagain, takut ilang."
"Lo yang tuli. Gue udah bilang daritadi."
Rin yang baru saja ingin melangkah, tidak jadi saat Raka ikut berdiri, membuatnya tersudut hingga mau tidak mau, Rin melangkah mundur. Gadis itu kini bersender di meja, dengan kedua tangan yang memegang kedua sisi benda persegi tersebut.
"Sebelum pulang, gue mau lo jadi pacar gue."
Hening beberapa saat, Rin memasang ekspresi yang seakan menyiratkan, najis.
"Lo gila?"
"Enggak," balas Raka sambil mengedikkan bahu.
"Kalo gitu, gue enggak mau jadi pacar lo."
"Iya, gue gila," kata Raka cepat.
Rin menipiskan bibir. "Sadar ternyata."
Raka berdecak. "Kita pacaran."
Rin mengangkat sebelah alisnya, melirik laki-laki di depannya dari atas sampai bawah, lalu kembali menatap manik cowok itu. "Boleh." Mata Raka mengerjap dengan kerutan samar di dahi. "Tapi sebelum itu, gue punya syarat."
"Gak bisa lah!" tolak Raka kesal.
Rin melangkah maju, membuat Raka mundur. Bahkan cowok itu sampai terduduk di atas meja.
Mengibas pelan rambutnya, Rin melipat tangan di depan dada. "Kalo lo seenaknya, gue punya aturan biar terarah."
Mendengar itu, Raka menahan senyum. "Apaan?"
Sekali lagi, Rin memerhatikan cowok di depannya lamat-lamat. Gadis itu tersenyum penuh kemenangan dalam hati. Dengan wajah datarnya itu, ia berkata, "Rapot fisika lo harus di atas gue nilainya."
Fyi, di setiap kelas tambahan, memang ada rapot untuk menunjukkan perkembangan. Lebih detail dan komplit, dengan keterangan mana yang harus dipelajari lagi.
Dan yap! Rin yakin—bahkan sangat yakin—Raka tidak mengerti materi Fisika. Cowok itu hanya asal masuk saja. Kalau pun mengerti, mustahil bagi Raka untuk melampaui dirinya. Sesuai dugaan, wajah laki-laki di depannya ini yang semula senyum-senyum sendiri, langsung berubah datar.
__ADS_1
Rin menjulurkan tangannya pada Raka. Cowok itu terdiam cukup lama, dan akhirnya menerima uluran tangan Rin. Tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan, yang Raka tahu sekarang, dia harus bisa mengambil hati Rin. Tatapannya menajam, bendera perjuangan sudah laki-laki itu kibarkan dalam dadanya, kala mendengar ucapan Rin, "Deal."