JENNIE

JENNIE
10 - Deverald vs Alvaska


__ADS_3

Bukan salah kami. Karena siapa aja yang mengganggu ketenangan Deverald atau Starlight—sekolah tercinta untuk menempuh pendidikan, itu artinya kalian siap mati, rata dengan tanah. —Deverald.


...*****...


"Ada yang liat bakwan gue gak?!" teriak Iqbal sambil mencak-mencak mencari piring gorengannya yang tadi disembunyikan Arga. Sementara sang pelaku hanya tertawa melihat penderitaan Iqbal. Senang sekali rasanya mengganggu cowok itu kalau sedang makan.


"Anjir woi gue laper banget, aelah Arga kampret!"


"Berisik banget lo Bal, dikira hutan kali teriak-teriak kayak orang utan gitu!" cerca Arka yang kini rebahan di sofa sambil memainkan ponselnya.


Saat ini anggota inti Deverald sedang duduk santai di basecamp kedua mereka yang letaknya tepat di samping gedung belakang SMA Starlight. Bel pulang sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu. Namun ketujuh laki-laki tampan itu sepertinya masih ingin santai-santai di sana, dan alhasil menjadikan basecamp sebagai tempat makan siang.


Bukan mendapat ketenangan dalam makan, Iqbal justru menjadi sasaran empuk dikerjain. Semua bermula dari dia yang pergi ke toilet dan saat balik, piring plastik berisi bakwan itu tahu-tahu sudah tidak ada di tempatnya.


Hanya satu nama yang dipikirkan Iqbal sebagai pelakunya. Siapa lagi kalau bukan Arga? Ditambah cowok itu cengengesan gak jelas lagi!


"Woi Ar balikin anjir, gue belom ada makan dari sebulan yang lalu. Lo kayak orang susah aja segala nyolong bakwan gue," kata Iqbal kesal.


"Lah kenapa gak mati-mati lo Bal?" tanya Regan sambil tersenyum miring.


Arga tertawa keras. "Mana gue tau, tanya Galang noh. Orang gue niatnya sembunyiin doang, eh dimakan sama dia."


"Siapa suruh naro deket gue?"


"ANJING!"


"Kalem bro. Kayak orang susah aja, tinggal beli di bu Febbi sono," ucap Arga.


Iqbal mengernyit. "Bu Febbi siapa?"


Arga berdecak malas. "Itu loh ibu-ibu yang jualannya di ujung kantin sekolah. Lo kan tadi beli di sana! Pikun."


"ANJIR BU EBBI WOI! LAIN BU FEBBI!!" pekik Iqbal dan Regan bersamaan dengan kesal.


"Goblok emang si Arga," kata Arka jengkel, nyaris membanting ponselnya.


Arga cengengesan. "Gue gak srek kalo manggil bu Ebbi. Kayak KBBI aje!"


"Arganjing!" umpat Galang yang sejak tadi mengikuti alur pembicaraan. "Seenak jidat aja lo ganti nama orang."


"Ya maap!" Arga menoleh pada Iqbal. "Beli lagi sana Bal, daripada lo marah-marah gak jelas."


"Masalahnya tu warungnya dia udah tutup bego!" balas Iqbal tak santai. "Ya udah, sih derita lo. Siapa suruh naro bakwan sembarangan."

__ADS_1


Iqbal tersenyum kalem. "Bngst."


Alden melirik cowok itu tajam. "Mulut dijaga."


"Iya sayang," Iqbal tersenyum jahil sambil beranjak mendekati Alden dan menyender di lengan laki-laki itu.


Bentar, ngilangin stres dulu.


Namun tidak berapa lama, dengan cepat pemilik mata tajam itu menghempaskan tangan Iqbal, lalu mendorong laki-laki itu hingga jatuh. "Aduh, sakit Den! Jahat banget sama pacar sendiri," Iqbal mengerucutkan bibir.


"Anjir si Iqbal belok gara-gara ditolak mulu sama Ruth," ucap Galang memasang ekspresi jijik.


"Tau tuh, gue yang juga gak di-notice aja masih normal. Makanya Bal, kalo suka sama cewek, jangan sampe obsesi!" tambah Arga sambil menghela napas, iba melihat soulmate-nya hampir kehilangan kewarasan karena seorang perempuan bernama Ruth.


"Jahat lo bedua, gue bercanda juga!"


"Modelan gini, bukan temen gue," kata Arka setelah meneguk segelas air dingin.


Raka menghela napas lelah. Tidak habis pikir dengan kelakuan teman-temannya. Cowok itu kembali memainkan benda pipih di tangannya. Satu notifikasi dari nomor tidak dikenal muncul di bagian teratas dari aplikasi bergambar hijau di layar ponselnya.


Alvaska depan starlight, gaara.


Kening Raka mengernyit. Cowok itu melempar hpnya ke arah Galang yang dengan reflek ditangkap. "Apaan nih?" tanya Galang sembari membuka ponsel Raka. Matanya terbelalak kaget saat mendapati nama Gaara, dan geng motor yang di-handle laki-laki itu.


Raka berdiri dari duduknya, menangkap kembali ponsel berlogo apel setengah gigit yang dilemparkan balik padanya. Cowok itu mengambil jaket kulit hitam bertuliskan DEVERALD di bagian punggung, dan bordiran kecil di bagian dada sebelah kiri yang juga bertuliskan nama geng motor tersebut. Ditambah mahkota dan bendera hitam di bagian atas dari tulisan tersebut. Melihat itu, Galang, Alden, Arka, Arga, Iqbal dan Regan mengikuti apa yang ketua mereka lakukan.


...*****...


Di depan gerbang SMA Starlight, di bawah teriknya matahari, ratusan anak motor memenuhi yang membuat pengap, tapi terasa biasa karena sesuatu yang bergejolak dalam dada mereka. Sebuah perasaan yang sulit dijelaskan, karena saat ini mereka tengah memperjuangkan nama geng motor masing-masing.


Raka melangkahkan kaki—yang sialnya begitu gagah. Setiap langkah yang dilakukannya membuat aura intimidasi menguar makin kuat. Mendapati Raka yang berjalan maju, anggota Deverald yang lain pun mengikuti jejak pemimpin mereka.


Dari kubu sebelah—Alvaska—melakukan hal yang sama. Hingga masing-masing ketua dari kedua geng motor itu saling berhadapan.


"Mau ngapain lo ke sini anjing?!" tanya Raka tak santai.


Alvaska, salah satu geng motor yang paling Raka benci. Selain kelicikan mereka, ada hal lain juga yang membuat laki-laki bermanik hijau itu makin tidak suka dengan Alvaska.


Butuh bukti kuat, untuk menyamaratakan seluruh anggota Alvaska dengan tanah. Dan Raka, akan berjuang dengan sekuat tenaga untuk mendapatkan bukti tersebut.


Laki-laki dengan tato di pelipis bertuliskan Gaara itu tertawa sinis. Ia menolehkan kepalanya pertanda menyuruh pasukannya yang sejak tadi berisik untuk diam. Keadaan hening meliputi, membuat laki-laki bernama Gaara itu menyeringai. "Mau cek situasi."


Tidak menggubris perkataan tak masuk akal Gaara, Raka segera saja mengangkat salah satu tangannya. Seluruh anggota Deverald yang ada mempersiapkan diri, karena itu tandanya penyerangan siap dilakukan. Perlahan, tangan laki-laki itu mengarah ke depan bersamaan dengan seruan, "MAJU!!"

__ADS_1


...*****...


"Odeyyy buru deh, udah gak terik lagi kok," ucap Megan dari depan pintu kelas.


Audey yang duduk santai di kursi guru itu menoleh. "Bentaran napa."


"Ayo pulang iiihh, masalahnya ini udah setengah jam, telat nyuruh mami jemput bisa abis gue. Lagian juga, gue udah nelpon mami barusannn," kata Megan dengan ekspresi tidak tenang sendiri.


Audey memutar matanya malas. Gadis itu bangkit dari kursi dan mendatangi Rin yang senderan di kursinya.


Kelima gadis cantik itu sengaja pulang sekolah sedikit lebih lama, karena cuaca yang teriknya tidak seperti hari-hari lain. Dengan menumpang ac, membuat kelimanya menghabiskan waktu hingga setengah jam di dalam kelas.


"Bentar, gue re-apply sunscreen dulu. Lo udah belum?" tanya Audey sembari membongkar isi tasnya, mencari salah satu produk skincare wajib itu.


Megan menepuk keningnya pelan. "Oh iya!! Astagaaaa, mana gue makenya pas istirahat kedua tadi. Tiga jam dong udah? Untung lo ingetin." Gadis itu kembali ke tempat duduknya.


Audey berdecak. "Buru-buru, sih lo."


"Ya gimana, entar mami nungguinnya kelamaan lagi," ucap Megan dengan tangan yang sibuk mengaplikasikan sunscreen ke wajahnya.


"Kelamaan gimana? Orang lo baru nelpon, terus rumah lo jaraknya lumayan jauh juga dari sini," ucap Audey memutar mata.


Cellin menoleh ke belakang. "Sepi banget ya, tapi samar-samar kaya ada suara gaduh, kalian denger ga?" tanyanya sedikit takut.


"Emang kenapa, sih? Lagian ya, paling suara berisik guru aja. Biasalah, nyaringnya ampe sini," sahut Audey menenangkan walaupun dia sendiri juga takut.


Ruth yang sejak tadi menelungkupkan wajahnya di lipatan tangan segera mendongak. Gadis itu berdiri dari duduknya lalu menyampir tas di salah satu bahu.


"Buruan lo bedua makenya. Gue ngantuk, mau tidur."


"Iya, iya, sabar kek. Dikira bentar apa?"


Ruth memutar matanya. "Tinggal re-apply doang."


Megan ikut berdiri dari duduknya, gadis itu mendekati Cellin yang—entah kenapa—raut wajahnya terlihat khawatir. "Kenapa Cel?"


"Kamu ada dengar suara teriakan gitu ga? Atau aku salah denger?" tanya gadis itu. Megan mengangguk menyetujui. "Denger, kok. Cuma, ya udahlah, paling televisi guru. Positive thinking aja, okay," katanya menenangkan, padahal hati Megan sudah berdetak tak karuan.


"Eh, lo bedua ngapain masih di situ? Ayo balik ah," ucap Audey yang saat ini sudah berdiri menyender di pintu dengan tangan terlipat di depan dada. Di sampingnya ada Rin dan Ruth.


Cellin bangkit dari duduk, menggandeng lengan Megan lalu keduanya melangkah beriringan. Dari depan, Rin memerhatikan kedua gadis itu, tadi ia juga tidak sengaja mendengar pembicaraan keduanya. Kalau boleh jujur, apa yang dikhawatirkan Cellin benar adanya. Karena samar-samar telinganya menangkap suara teriakan gaduh luar biasa, bersahut-sahutan dengan benda tajam yang saling beradu.


Kalau diingat-ingat lagi, para guru hari ini berencana mendatangi pesta ulang tahun dari anak kepala sekolah. Tentu, tidak ada acara televisi, atau kegaduhan guru-guru, kan?

__ADS_1


Rin membuang napas gusar.


Alvaska cari gara-gara?


__ADS_2