JENNIE

JENNIE
53 - The Piano


__ADS_3

Gue pilih dia, sosok pengendali ekspresi, yang gak cuma sifatnya aja yang bikin gue penasaran, tapi juga dengan pembawaan dirinya yang berkelas. And now, poin plus buat dia, yang berhasil memporak-porandakan semua keyakinan gue buat gak bakal tertarik, jadi tertarik, bahkan mungkin suka. —Raka.


...***...


Selembar banner di papan mading baru saja ditempelkan oleh pihak OSIS yang bertugas sebagai pemberi informasi. Tadi pagi ketika apel berlangsung, kepala sekolah memberikan pidato mengenai akan adanya lomba baru.


Karena penasaran setengah mampus, seluruh papan mading yang ada di Starlight highschool penuh dikerumuni siswa-siswi, tidak terkecuali Rin dan empat sahabatnya. Di banner tersebut tertera jelas, tulisan huruf times new roman yang di-bold untuk memperjelas.


PIANO CONTEST IS OPEN!


Sign up now. We are waiting for you to show your talent. Good luck!


Rin tersenyum sumringah, gadis itu lantas memotret banner tersebut dan segera kembali ke kelas. Tiga temannya mengikuti di belakang dengan bingung, sementara Megan memutuskan menemui sahabat AMRY-nya.


...*****...


"So, lo mau ikut piano contest-nya?"


Rin mengangguk pelan pada Audey. Gadis itu menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Ia kemudian membuka pintu kaca buram di hadapannya, dan memasuki ruangan dengan design khas kerajaan di tahun 80-an itu.


Ekskul musik satu ini memang sudah ada sejak awal berdirinya Starlight highschool, dan kontes piano selalu diadakan tiap tahun untuk merayakan birthday sekolah. Rin yang selama di SMA Holder tidak ada ekskul ini, tentu saja antusias karena bermain piano merupakan hobi gadis itu dari kecil. Bahkan ia pernah les khusus.


Namun, ketika menginjak bangku SMA, Rin tidak lagi terlalu peduli tentang hobinya. Gadis itu hanya berpikir untuk jadi juara di semua mata pelajaran demi menggapai mimpinya.


"Atas nama siapa?" tanya salah seorang panitia pendaftaran. Rin tersenyum tipis. "Rin. Alena Rin Gracia."


Setelah namanya dicatat dengan baik, Rin segera beranjak pergi menemui teman-temannya di luar ruangan. Baru beberapa langkah, samar-sama ia mendengar suara tak asing menyebutkan nama lengkapnya.


"Teresa Queen Magnificent."


Damn.


...*****...


"Alright guys, tanpa berlama-lama kita mulai saja round pertama!" seru pembawa acara dengan semangat, kemudian gadis itu membaca dua nama di secarik kertas dalam genggamannya. "Wow, interesting. Beritanya agak panas akhir-akhir ini, ya, antara dua perempuan yang akan bertanding. Gak cuma buat dapetin hatinya ketua Deverald, tapi juga buat menangin sesi kali ini."

__ADS_1


Siswa-siswi yang menyaksikan itu kemudian bisik-bisik, seratus persen tahu siapa yang dimaksud sang host yang bernama lengkap Intan Permata Sari itu. Intan tersenyum sumringah, lantas mengumumkan dua nama dengan lantang, "TERESA QUEEN MAGNIFICENT MELAWAN ALENA RIN GRACIA!!"


Rin menahan napas beberapa saat begitu namanya disebut. Melirik ke arah Teresa di sisi seberang, yang tampak tenang dan santai.


Ruth menepuk pelan bahu Rin, membuat gadis itu menoleh dengan satu alis terangkat. "You're gonna be fine, alright? So, keep calm."


"Baiklah, peserta pertama atas nama Teresa silahkan naik ke panggung, dan tunjukkan skill terbaik kamu!!"


Teresa tersenyum ramah, kemudian melangkah maju ke depan dengan percaya diri. Gadis itu membuka pertandingan dengan suasana damai yang menenangkan, membawakan instrumen lagu Mesin Penenun Hujan.


Detik demi detik berlalu, melewati beberapa menit hingga giliran Rin untuk menunjukkan kelihaiannya. Gadis itu melangkah ke depan yang berhasil menarik atensi seisi ruangan, tertuju dan hanya terfokus padanya.


Rin mendudukkan diri di kursi piano. Jarinya yang lentik perlahan tapi pasti, menekan tuts demi tuts, memainkan Fur Elise by Beethoven. Naik-turunnya nada yang dimainkan berhasil Rin bawa dengan sangat baik, mengundang tepuk tangan meriah di akhir penampilan.


Rin menghela napas lega karena berhasil menyelesaikan babak awal. Gadis itu membungkuk sesaat, sebelum akhirnya kembali turun. Namun, atensinya tidak sengaja mendapati Raka berdiri di pojok ruangan memandanginya sambil tersenyum samar.


Dia merhatiin?


"Karena dua-duanya sama-sama bagus banget mainnya, kita memakai sistem penilaian dari para penonton yang ada di sini. Gimana? Setuju, ya?" tanya Intan sambil mengangkat tangan, yang kemudian satu-persatu seluruh siswa yang ada di ruangan itu ikut melakukan hal serupa seperti Intan.


Beberapa saat menunggu, akhirnya vote dari siswa-siswi diumumkan. "Ya, hasilnya seri."


Rin menghela napas. Padahal gadis itu sudah menunggu lama, ditemanu debar jantung menggila, takut Teresa mengungguli. Namun, ada baiknya, sih, seri. Soalnya Rin juga ragu sama kemampuan dia. Secara, hampir dua tahun tidak pernah bermain piano lagi.


"Kenapa gak pake juri aja, sih? Biar gak ribet," ucap salah satu siswi yang berada di barisan terdepan hingga suaranya terdengar Intan.


"Duh, gimana, ya? Sebenarnya, pihak ekskul musik bagian piano ini sudah menyewa jasa empat orang bersertifikat, bahkan salah satunya dari luar negeri untuk memberikan penilaian. Namun, karena kalian terlihat antusias, sementara para juri masih dalam perjalanan, dan waktu birthday sekolah dua minggu lagi, mereka berempat memberikan kami saran untuk memulai saja lombanya lebih dulu. Untuk satu atau dua round, putuskan pemenang lewat penonton. Sekarang seri, dan saya juga bingung ini gimana. Jadi, bukannya kami mau bikin ribet."


Di tengah kebingungan itu, seorang perempuan yang merupakan salah satu panitia mengangkat tangannya. Setelah dipersilakan untuk bersuara, gadis itu lantas berucap, "Gue ada liat Raka nonton tadi, tapi kayaknya dia belum vote. Soalnya, gue sama yang lain nandain, Raka bakal pilih Rin atau Teresa gitu."


Intan tersenyum sumringah, matanya bergerak menelisik setiap sudut ruangan, hingga menemukan sosok Raka bersama enam temannya tengah duduk di pojok ruangan. Tampak tidak acuh terhadap sekitar.


"RAKA!!"


Sang empu pemilik nama menoleh begitu namanya disebut. Menatap Intan, teman sekelasnya itu dengan kerutan samar di dahi.

__ADS_1


"Please, maju, ya? Lo harus pilih antara Rin atau Teresa, yang mana yang paling lo suka. Hasil mereka seri, dan kita butuh lo buat nentuin hasil akhirnya."


Deg!


Sial, jantung Rin serasa berdetak lebih kencang dari biasanya. Sialnya lagi, tangan gadis itu mulai berkeringat, mendadak panik sendiri. Untungnya ia pandai memainkan ekspresi, jadi orang-orang masig menganggapnya tak acuh.


"Kenapa gue?"


"Satu-satunya yang belum milih, itu lo, Rak."


"Lah, mereka?" tanya Raka seraya menunjuk enam temannya.


Iqbal mewakili yang lain sambil menyengir. "Kita udah milih tadi, Rak. Kita milih Rin, sih bagus banget soalnya dia main tadi," bisik laki-laki itu.


"Gimana, Raka?"


Raka menghela napas panjang. "Gue langsung sebut aja. Gak terima penawaran."


"Iya, up to you aja maunya gimana, yang penting gue dapet pemenangnya."


Seisi ruangan seketika hening. Tidak sabar menunggu satu nama yang akan keluar dari mulut Raka. Tidak hanya mereka, tapi Rin juga jadi ikutan deg-degan parah.


"Trust me, kak Raka bakal milih lo, Rin!" Audey berbisik heboh di sebelah Rin.


"Okay, Raka, siapa yang lo pilih?"


"Teresa ...."


Hati Rin serasa mencelos, melompat bebas keluar tubuh, menyebabkan kekosongan pikiran yang menganggu konsentrasi. Begitupun para siswi yang keningungan dengan pilihan Raka. Mereka semua mengira, kalau Rin yang akan dipilih Raka, karena laki-laki itu selalu menunjukkan rasa suka. Bahkan teman-temannya saja terkejut.


Namun, tidak berapa lama dari kebingungan semua orang di ruangan itu, Raka kembali melanjutkan ucapannya, yang membuat seisi ruangan gaduh tidak terkendali. Sementara Teresa hanya tersenyum simpul.


Rin sendiri berhasil dibuat senyum-senyum sendiri.


"Teresa, sorry, gue pilih Rin."

__ADS_1


Damn, Rak do you know, you make me blush now!


__ADS_2