Jerat Cinta Gadis Tengil

Jerat Cinta Gadis Tengil
J C G T 30


__ADS_3

💋💋 Dilarang julid!!! Cerita ini hanya untuk hiburan, bukan untuk top up dosa!! 💋💋


Uang memang tidak bisa menjamin kebahagiaan seseorang.


Tapi kalau kamu tidak punya uang, sudah pasti kebahagiaan mu tidak terjamin.


💋💋 Sarangbeo 💋💋


• • • • •


Keesokan paginya.


Pukul 07.00


"Eugh..." Dewa melenguh.


"Jam berapa ini." Lirih Dewa dengan suara yang serak dan berat.


"Astaga!!! Jam tujuh!!" Pekik Dewa sambil mendudukkan dirinya.


Dewa pun beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamarnya.


BRAAK. Dewa membuka pintu kamarnya kasar.


"Dia malah enak-enakan tidur!!" Geram Dewa.


Dewa yang kesal pun berjalan mendekati jendela dan membuka tirai jendela kamarnya.


SREEET..


"Xena bangun!!!" Teriak Dewa.


Xena yang kaget karena teriakan Dewa pun langsung membuka matanya dan mendudukkan dirinya.


"Kak Dewa apaan sih, masih pagi udah teriak-teriak!!" Protes Xena sambil mengucek-ngucek matanya.


"Kamu yang apa-apaan!! Jam segini masih tidur!! Istri model apa kayak begitu?!" Balas Dewa. Tanpa Dewa sadari Dewa memgakui Xena sebagai istrinya.

__ADS_1


"Cie... Kak Dewa udah ngakuin aku istri ni ye sekarang." Goda Xena.


Dewa mengambil bantal, dan..


PLUUG. Dewa melempar bantal ke wajah Xena.


"Gak usah bikin orang emosi pagi-pagi!! Cepetan bangun, siapin sarapan buat gue!! Gue mau pergi kerja!" Ucap Dewa.


Setelah mengatakan itu, Dewa pun berjalan menuju kamar mandi.


"Mau sarapan apa?! Kan di kulkas gak ada apa-apa Kak!!" Teriak Xena karena baru ingat kalau di kulkas tidak ada bahan makanan.


"Beli di luar!!" Balas Dewa tak kalah berteriak karena dirinya sudah di dalam kamar mandi.


"Uangnya?"


"Ambil aja uangnya di dompet gue!!" Jawab Dewa.


"Dompetnya Kak Dewa dimana?!"


"Lihat di meja yang ada diruang ganti!!"


Dompet pun berhasil Xena temukan. Xena pun membawa dompet itu menuju kamar mandi, karena ia tak berani membuka dompet Dewa.


Tok.. Tok.. Tok..


Xena mengetuk pintu kamar mandi.


"Kak, Kak Dewa."


"Apalagi?"


"Ini dompetnya."


"Ambil aja uangnya di dalem."


"Takut akh, nanti uang Kakak berkurang lima lembar, aku lagi yang Kakak tuduh!!"

__ADS_1


"Gak!! Orang cuma ada tiga ratus ribu doang kok uang cash gue di dompet. Udah ambil saja seratus ribu."


"Bener yah. Aku ambil yah."


"Iya!!"


Xena pun membuka dompet Dewa.


Mata Xena membulat sempurna saat melihat foto Sagita begitu Xena membuka dompet.


"Kenapa masih di pajang disini sih foto si ulet burik!!" Geram Xena.


Tak lama ide jahil melintas di kepala Xena.


Xena pun berjalan mengambil tasnya dan mengambil dompetnya. Ia membuka dompetnya dan mencari uang hijau yang bergambar monyet.


Meski uang itu sudah tidak berlaku karena keluaran lama, tapi Xena masih menyimpannya di dalam dompetnya. Untuk kenang-kenangan katanya.


Xena mengambil selembar uang hijau bergambar monyet itu lalu menukar foto Sagita dengan uang bergambar monyet itu dan pastinya gambar monyetnya lah yang Xena pampang.


"Nah gini kan lebih enak di pandang. Jadi nanti pas Kak Dewa buka dompet langsung ngeliat kembarannya sendiri. Hihihihi." Gumam Xena sambil cekikikan.


Xena pun mengambil uang seratus ribu lalu menutup kembali dompet Dewa dan meletakkannya di nakas samping sofa yang ada di depan ranjang. Sedangkan foto Sagita, Xena lipat-lipat sampai kecil lalu Xena masukkan ke dalam dompetnya.


"Kak dompetnya aku taro di nakas yah."


"Iya."


"Oh iya, Kakak mau di beliin sarapan apa?"


"Lontong sayur aja. Di seberang apartemen gerobak warna hijau disitu lontong sayur sama nasi uduknya enak. Loe beli aja disitu."


"Oke." Jawab Xena.


Xena pun keluar dari unit apartemen Dewa tanpa mencuci muka atau pun sekedar berkumur. Xena tidak sadar kalau selain membawa uang seratus ribu, Xena juga membawa belek khatulistiwa dan aliran iler yang mengering di pinggir bibirnya.


• • • • •

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2