Jerat Cinta Gadis Tengil

Jerat Cinta Gadis Tengil
J C G T 80


__ADS_3

πŸ’‹πŸ’‹ Dilarang julid!!! Cerita ini hanya untuk hiburan, bukan untuk top up dosa!! πŸ’‹πŸ’‹


Perpisahan semanis apapun, seindah apapun tetap lah perpisahan. Ada cerita yang sejak detik itu harus berubah menjadi kenangan.


πŸ’‹πŸ’‹ Sarangbeo πŸ’‹πŸ’‹


β€’ β€’ β€’ β€’ β€’


FLASHBACK ON.


Setelah menyuruh kurir mengantar paket ke rumah orang tua Dewa dan ke apartemen Dewa, Sagita pun kembali ke unit apartemennya.


Namun saat ia sudah berada dalam lift, tiba-tiba ada seorang pria bertubuh besar menahan pintu lift.


Mata Sagita membulat sempurna.


"Kak Arka.." lirih Sagita saat melihat mantan kekasih kakak-nya menahan pintu lift.


"Hai Git.." sapa Arka seraya masuk ke dalam lift.


"Hai Kak." Balas Gita dengan suara yang gugup. Bagaimana tidak gugup, karena Sagita tahu kalau mantan kekasih Kakak-nya itu seorang psikopat.


Tidak ada yang percaya kalau mantan kekasih Kakak-nya itu seorang psikopat karena dari penampilan luarnya Arka seperti seorang kutu buku.


"Kak Arka tinggal gedung ini juga?" Tanya Sagita karena ini pertama kalinya Sagita melihat dirinya.


Arka menggelengkan kepalanya.


"Aku kesini mau ketemu sama kamu." Jawab Arka.


Deg.


Jantung Sagita makin berdegup tidak beraturan.

__ADS_1


"Ketemu sama aku? Memangnya ada perlu apa Kak?" Tanya Sagita dengan suara yang makin bergetar.


Ting. Belum sempat Arka menjawab, pintu lift sudah terbuka.


Cepat-cepat Arka menutupnya kembali dan menekan tombol angka satu.


"Loh.. kok turun lagi?" Tanya Sagita semakin takut.


"Gak baik kan kalau laki-laki dan perempuan bicara di dalam apartemen hanya berdua. Nanti orang mikirnya kita ngapa-ngapain lagi. Jadi kita ngobrolnya di luar aja yah." Jawab Arka.


Mendengar jawaban Arka, Sagita pun mencoba untuk berpikir positif dan membuang jauh-jauh kecurigaannya pada mantan kekasih Kakak-nya itu.


Sesampainya di lantai bawah, Arka pun mengajak Sagita menuju parkiran mobil dimana dirinya memarkirkan mobil.


Mereka pun masuk ke dalam mobil.


Kita mau kemana Kak?" Tanya Sagita seraya memasang sabuk pengamannya.


Tapi tanpa Sagita duga, Arka malah mengeluarkan sapu tangan yang sudah di tetesi obat bius lalu membekap mulut Sagita dengan sapu tangan itu. Tak sampai satu menit, Sagita pun langsung tak sadarkan diri.


Setelah membenarkan posisi tidur Sagita, barulah Arka melajukan mobilnya keluar dari area gedung apartmen Sagita.


Arka membawa Sagita ke sebuah gudang kosong yang jauh dari pemukiman warga.


Pukul 19.00


Hari semakin malam, efek obat bius membuat Sagita lama sadarkan diri.


"Eugh..." Sagita melenguh. Akhirnya setelah berjam-jam tidak sadarkan diri, Sagita pun bangun.


"Dimana ini." Lirih Sagita seraya melihat kesekelilingnya.


"Kamu di gudang kosong milik keluarga aku." Jawab Arka seraya berjalan menghampiri Sagita.

__ADS_1


Sontak Sagita menoleh ke arah Arka.


"Kak Arka." Lirih Sagita. Wajahnya langsung memucat saat melihat penampilan Arka yang memperlihatkan sisi psikopatnya.


"Udah lama yah Git, kita gak ketemu." Ucap Arka seraya duduk disebelah Sagita.


Sagita tidak menjawab, jangankan menjawab, untuk bernafas saja Sagita tidak berani.


"Udah berapa lama yah kira-kira kita gak ketemu. Oh.. iya, udah sekitar enam tahunan yah." Lanjut Arka.


"Kak Arka mau apa? Aku mohon Kak, jangan sakitin aku." Mohon Sagita. Ia sudah sangat-sangat takut. Karena feeling Sagita mengatakan kalau Arka ingin balas dendam padanya karena penyebab putusnya Arka dengan Kakak-nya adalah karena dirinya.


Karena waktu itu Sagita melaporkan perbuatan keji Arka pada kedua orangtuanya. Dan kedua orangtuanya melaporkan perbuatan Arka kepada polisi. Arka yang notabene bukan berwarganegara Indonesia pun langsung di deportasi dari Indonesia.


Dan butuh waktu sekitar enam tahun untuk Arka bisa kembali ke Indonesia untuk membalaskan dendamnya pada Sagita.


"Yang mau nyakitin kamu siapa, anak manis?!" Balas Arka seraya mengelus pipi Sagita.


"Aku cuma mau ngajak kamu bermain kok." Kata Arka lagi.


"Gak terasa yah, sekarang kamu sudah besar. Lekuk-lekuk tubuh mu juga sudah menggoda dan membangkitkan birβ€’ahi." Kata Arka lagi seraya menurunkan tangannya ke leher Sagita tapi matanya melihat ke arah dada Sagita. Apalagi pakaian yang Sagita pakai saat ini bermodel crop, membuat Arka makin terkesan pada bentuk tubuh adik mantan kekasihnya.


Ingin sekali Sagita menepis tangan Arka yang sedang sedang menjalar ke dada-nya, tapi tidak bisa karena Arka sudah mengikat kedua tangannya.


Sagita yang dalam posisi berbaring di sebuah meja dan tangan kanan dan kirinya yang di rentangkan lalu di ikat dengan tali lalu tali itu diikat lagi ke besi, membuat Sagita tidak bisa bergerak.


"Tolong.. tolong.. tolong.." hanya teriakan minta tolong lah yang bisa keluar dari mulut Sagita.


PLAAAK..


Tak suka mendengar teriakan Sagita, Arka langsung menβ€’ampar Sagita dengan sangat keras.


β€’ β€’ β€’ β€’ β€’

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2