
ππ Dilarang julid!!! Cerita ini hanya untuk hiburan, bukan untuk top up dosa!! ππ
Dompet ku saat ini seperti bawang.
Setiap membukanya selalu membuat ku menangis.
ππ Sarangbeo ππ
β’ β’ β’ β’ β’
Dua jam kemudian.
Saat Dewa sedang fokus dengan layar laptopnya, tiba-tiba ponselnya berdering.
Ia melirik sesaat layar ponselnya.
SI TENGIL π. Itulah nama yang tertera di layar ponselnya.
"Nelpon juga nih orang." Geram Dewa.
Dewa pun hendak menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Eits.. jangan langsung di jawab." Cegah Sagita.
Saat mendengar bunyi ponsel Dewa, Sagita yang curiga itu pesan dari Xena pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju meja kerja Dewa.
"Kenapa?"
"Biarin aja dulu sampe tiga atau empat kali. Terus nanti pas kamu jawab teleponnya nanti aku tiba-tiba buka suara. Jadi dia nanti mikirnya kamu lama jawab telepon karena lagi mesra-mesraan sama aku."
"Iya juga yah." Gumam Dewa dalam hati.
Dewa pun mengikuti anjuran Sagita.
Ia membiarkan ponselnya berdering terus menerus hingga nada dering itu dua kali terhenti.
Dan di panggilan ke tiga, barulah Dewa menjawab panggilan Xena.
__ADS_1
"Halo, kenapa?" Jawab Dewa dengan nada tidak suka.
"Kak, uang belanja yang Kakak transfer kurang, kirimin lagi dong." Ucap Xena dengan suara yang di buat manja.
"Kok bisa? Loe belanja apaan aja uang lima juta gak cukup?!" Balas Dewa.
"Ya belanja...."
"Cepetan dong Wa masukin, gak tahan nih." Tiba-tiba Sagita membuka suaranya.
Dewa langsung menoleh kearah Sagita sambil membulatkan matanya selebar-lebar mungkin.
"Kak Dewa itu-" lirih Xena.
Bisa Dewa pastikan kalau Xena bisa mendengar kata-kata Sagita tadi.
"Siapa sih Wa? Si bocah? Udah lah Wa matiin aja, aku udah gak tahan." Kata Sagita lagi sambil tangannya meraβ’ba paha Dewa.
Sambil menyelam minum Boba, begitulah pikir Sagita. Sambil membuat Xena panas, ia sekalian ingin menggoda Dewa.
"Kamu apa-apaan sih Git, kok ngomong kayak gitu?" Bentak Dewa.
"Loh, kan mau manas-manasin istri kamu!"
"Tapi gak ngomong kayak gitu juga!! Dengan kamu panggil Dewa Sayang aja pasti Xena udah mikir yang aneh-aneh, gak harus dengan kata-kata kamu yang menjijikkan itu!!"
"Iya deh maaf. Terus gimana dong? Udah terlanjur istri kamu denger."
"Ya udah lah, mau gimana lagi!! Tapi lain kali gak usah ngomong kayak gitu!! Paham kamu!!"
"Iya paham."
"Udah sana duduk lagi!! Aku mau lanjut kerja!!"
Sagita pun membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju sofa. Sambil berjalan, ia senyam-senyum sendiri, tak ada sama sekali penyesalan dalam diri Sagita karena sudah membuat Dewa marah, di pikiran Sagita yang penting ia berhasil membuat Xena panas.
Sedangkan di kursinya, Dewa kembali melanjutkan pekerjaannya. Meski marah pada Sagita karena berbicara yang tidak-tidak, tapi ia juga tidak punya niat untuk mengklarifikasi pada Xena.
__ADS_1
β’ β’ β’ β’ β’
Kembali ke Mall tempat Xena dan Bima berada.
Saat Xena sedang menatap Bima, tiba-tiba pelayan datang membawa pesanan Xena dan Bima.
"Gelato Espresso Latte dan Rolled Ice Cream." Ucap si pelayan untuk memastikan kalau yang ia bawa memang lah pesanan Bima dan Xena.
"Iya Mbak." Jawab Bima dan Xena bersamaan.
Si pelayan pun meletakkan pesanan Bima dan Xena itu ke atas meja.
"Selamat menikmati." Ucap si pelayan.
"Terimakasih Mbak." Balas Bima dan Xena.
Pelayan itu pun pergi dari hadapan Xena dan Bima.
"Bim..." panggil Xena setelah pelayan itu pergi.
"Mmmm.." jawab Bima yang sudah merinding.
"Pegang tangan aku!" Pinta Xena.
Mata Bima membulat.
"Untuk apa?"
"Udah gak usah banyak tanya, cepetan pegang!" Paksa Xena.
Mau tak mau Bima pun menuruti permintaan Xena dengan memegang tangan Xena.
Kira-kira, apa yah yang sedang direncanakan Xena?
β’ β’ β’ β’ β’
Bersambung...
__ADS_1