
💋💋 Dilarang julid!!! Cerita ini hanya untuk hiburan, bukan untuk top up dosa!! 💋💋
Cincin pernikahan hanyalah sebuah simbol kebahagiaan, karena kebahagiaan sesungguhnya ada dalam bahtera rumah tangga.
💋💋 Sarangbeo 💋💋
• • • • •
Sesampainya di kawasan puncak, Dewa pun memberhentikan mobilnya di sebuah kedai yang biasa menjadi tempat pemberhentian para wisatawan. Kedai yang menjual ubi bakar dan jagung bakar. Dan di belakang kedai itu terhampar pemandangan kebun teh yang sangat luas.
Dewa dan Sagita pun keluar dari dalam mobil dan berjalan memasuki kedai.
"Kamu mau ubi bakar atau jagung bakar?" Tanya Sagita.
"Ubi bakar aja." Jawab Dewa.
"Minumnya mau teh apa kopi?" Tanya Sagita lagi.
"Kopi hitam, gula-nya satu sendok teh." Jawab Dewa.
"Ya udah kamu cari tempat sana, biar aku yang pesanin." Suruh Sagita.
Begitu di dalam kedai, Dewa langsung mencari tempat duduk sedangkan Sagita berhenti di tempat penjual yang sedang membakar ubi.
Karena ingin melihat pemandangan kebun teh yang menyegarkan mata dan pikiran, Dewa pun memilih untuk mencari tempat duduk di belakang kedai.
Karena hari itu bukanlah hari libur, jadi tidak banyak pengunjung yang datang dan tempat duduk di belakang kedai pun masih banyak yang kosong.
__ADS_1
Dewa pun duduk disalah satu bangku yang kosong itu.
Meninggalkan Dewa yang sudah duduk sambil menghirup udara segar puncak dan memandang hamparan kebun teh, Sagita sedang sibuk mencari apotik terdekat yang ia dapatkan informasinya dari penjual ubi bakar.
Sagita menanyakan letak apotik dengan alasan ingin membeli obat sakit perut dan tanpa rasa curiga si penjual menunjukkan letak apotik itu.
Sebelum pergi ke apotik, Sagita pun meminta si penjual ubi bakar itu mengantar ubi bakar dan kopi hitam pesanan Dewa ketempat Dewa duduk.
Karena jaraknya cukup jauh jika ditempuh dengan jalan kaki, maka dari itu Sagita pun menggunakan ojek yang mangkal tak jauh dari kedai menuju apotik.
Sesampainya di apotik, Sagita bingung obat apa yang harus ia beli untuk membuat Dewa jatuh kepelukannya kembali.
"Kalau obat perangsang yang aku beli, takutnya nanti Dewa lebih milih melampiaskannya sama perempuan lain daripada sama aku." Gumam Sagita.
"Apa aku beli obat tidur aja yah? Jadi pas Dewa tidur aku bisa bebas mau ngapain Dewa, nanti tinggal di foto terus dikirim deh sama istrinya Dewa yang tengil itu. Terus si bocah minta cerai deh." Gumam Sagita lagi sambil cekikikan membayangkan kalau rencananya akan berhasil.
"Aku beli obat tidur aja deh kalau gitu." Gumam Sagita memutuskan.
Saat sedang berpikir, tiba-tiba saja seorang apoteker laki-laki keluar dari dalam apotik sambil membawa satu kantong plastik hitam besar yang sepertinya berisi sampah.
Sagita pun tersenyum licik melihat apoteker itu lalu cepat-cepat menghampiri si apoteker yang sedang membuang sampah.
"Mas... Mas..." panggil Sagita.
Apoteker laki-laki itu pun menoleh.
"Iya Mbak." Jawab si apoteker.
__ADS_1
"Saya bisa minta tolong gak Mas?"
"Minta tolong apa yah Mbak? Selagi bukan minjem duit, saya usahain nolobgin Mbak." Jawab si apoteker.
"Ya gak lah Mas." Protes Sagita sambil memutar bola matanya malas.
"Di apotik itu ada jual obat tidur gak, Mas?" Tanya Sagita.
"Ada Mbak, C*T*M." Jawab si apoteker.
"Bukan obat tidur itu Mas, tapi ini obat tidur dosis tinggi."
"Oh.. ada sih Mbak. Tapi yah harus make resep dokter."
"Nah itu dia Mas masalahnya, saya mau beli obat itu tapi resepnya gak saya bawa ketinggalan di Jakarta."
"Ya udah, Mbaknya beli aja nanti pas udah balik ke Jakarta."
"Ya gak bisa Mas, soalnya saya sama suami saya mau honeymoon disini. Suami saya itu punya masalah insomnia, kasihan dia Mas udah nyetir berjam-jam, matanya udah ngantuk banget tapi gak bisa di ajak tidur juga. Udah malah obat insomnya ketinggalan lagi di Jakarta."
"Masa mau honeymoon suaminya dicekokin obat tidur Mbak? Justru habis olahraga ranjang nanti suaminya bisa langsung tidur pules Mbak."
"Untuk jaga-jaga aja Mas, saya gak minta banyak kok cuma satu atau dua butir aja. Tolongin saya Mas, kasihan suami saya. Nanti kalau dia gak tidur-tidur kan bisa bahaya Mas pas perjalanan pulang nanti. Tolong lah Mas." Bujuk Sagita.
"Tenang aja Mas, ada komisi besar kok dari saya." Rayu Sagita lagi.
Si apoteker tidak bodoh, ia mengerti apa maksud kata komisi yang Sagita ucapkan.
__ADS_1
• • • • •
Bersambung...