Jerat Cinta Gadis Tengil

Jerat Cinta Gadis Tengil
J C G T 49


__ADS_3

💋💋 Dilarang julid!!! Cerita ini hanya untuk hiburan, bukan untuk top up dosa!! 💋💋


Menilai orang baik bukan dinilai dari ilmu agamanya,


Karena banyak orang yang ahli agama yang terus menerus menyebut nama Tuhan, tapi malah suka menggibahi orang lain.


💋💋 Sarangbeo 💋💋


• • • • •


Keesokan Harinya.


Kini Dewa dan Xena sedang dalam perjalanan ke kampus baru Xena.


"Hooooaaaam.." entah sudah berapa kali Dewa menguap sambil mengendarai mobilnya.


"Kak Dewa ngantuk? Kalau ngantuk biar aku naik ojek aja." Ucap Xena.


"Udah di pertengahan jalan baru loe minta naik ojek!! Harusnya dari apartemen tadi loe minta naik ojek!!" Balas Dewa.


"Ya kan Kak Dewa gak bilang kalau Kakak ngantuk. Emangnya tadi malam Kak Dewa jam berapa tidur?"


"Jam dua." Jawab Dewa.


"Ngapain aja Kak Dewa sampe tidur jam segitu?!"


"Bukan masalah ngapain-nya, tapi kenapa-nya sampe gue bisa tidur jam segitu!! Gara-gara tangan Thannos yang gak bertanggung jawab, gue jadi tidur jam segitu."


"Tangan Thannos?" Tanya Xena tak mengerti apa maksud ucapan Dewa. Padahal yang di maksud tangan Thannos oleh Dewa adalah tangan Xena yang semalam mengunyel-unyel si Hudin.


"Akh udah lah loe gak perlu tau!! Gue kasih tau juga loe gak bakalan ngerti." Balas Dewa.


Xena menaikkan sudut bibirnya mendengar jawaban Dewa.


• • • • •


Lima belas menit kemudian.


Kini Dewa dan Xena sudah berada di kampus baru Xena. Dimana kampus itu juga menjadi tempat Kakak ipar Dewa bekerja.


"Gue anter sampe sini." Ucap Dewa saat mereka sampai di depan pintu masuk kampus.


"Kok nganter sampe sini, Papa bilang kan Kakak harus nganter sampe ruangan."


"Loe kayak anak SD yang baru masuk sekolah deh harus dianter sampe kelas, sekalian aja loe minta gue tungguin!!" Balas Dewa.


"Udah sana loe masuk!!" Kata Dewa lagi.


"Cih... ya udah aku masuk dulu." Cebik Xena lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Dewa.


Dewa pun membalas uluran tangan Xena dan Xena pun mencium punggung tangan Dewa.


"Kuliah loe yang bener!!" Ucap Dewa saat Xena mencium punggung tangannya.


"Iya." Balas Xena.


"Ya udah sana masuk." Ucap Dewa.


"Dadah..." balas Xena sambil melambaikan tangannya lalu memutar tubuhnya dan hendak berjalan memasuki gedung kampus.


Namun baru saja kaki Xena hendak melangkah dan Dewa pun juga baru mau memutar tubuhnya, tiba-tiba...

__ADS_1


"Xena..." panggil seorang pria dari arah parkiran motor.


Sontak Dewa dan Xena pun menoleh kearah sumber suara.


"Bima." Lirih Xena pelan tapi masih bisa didengar Dewa.


"Bima?" Gumam Dewa dalam hati.


"Oh.. jadi ini laki-laki itu." Gumam Dewa lagi dalam hatinya tapi tatapan matanya melihat tidak suka pada Bima.


"Loh kamu kuliah di kampus ini juga?" Tanya Xena saat Bima sudah berada tepat di hadapan Xena.


Bima menganggukkan kepalanya.


"Gak nyangka bisa ketemu lagi sama kamu disini. Apa mungkin kita jodoh yah?" Balas Bima. Ia tidak tahu kalau yang disamping Xena saat ini adalah suami Xena.


"Ekhem.." Dewa berdehem seolah memberi kode pada Xena untuk memperkenalkan dirinya pada Bima.


Dan deheman Dewa itu membuat Xena melirik Dewa sesaat dan Xena tahu apa arti deheman Dewa itu tapi Xena memilih untuk pura-pura tidak mengerti maksud deheman Dewa.


"Ya udah yuk kita masuk." Ajak Xena pada Bima.


Sontak Dewa pun menoleh ke arah Xena dan memberi tatapan tajam pada Xena.


"Ayo." Balas Bima.


"Eits tunggu!!" Cegah Dewa sambil menarik tangan Xrna saat Xena dan Bima hendak meninggalkannya.


"Apaan sih Kak? Kan udah salim tadi." Protes Xena.


"Siapa yang nyuruh salim?" Geram Dewa lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Xena.


"Loe gak ngenalin gue ke dia?" Bisik Dewa.


"Loe!!" Geram Dewa sambil membulatkan matanya lebar-lebar dan rahang yang menggertak.


Dewa menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya kasar untuk mengontrol emosinya.


"Kenalin, Dewa, suami-nya Xena." Ucap Dewa memperkenalkan dirinya dengan lantang sambil mengulurkan tangannya pada Bima.


Mata Xena membulat mendengar Dewa memperkenalkan dirinya pada Bima sebagai suaminya.


"Oh.. suaminya Xena. Kenalin, calon masa depannya Xena." Balas Bima tak mau kalah dan tak tahu malu sambil membalas uluran tangan Dewa


Gigi Dewa menggertak mendengar jawaban Bima, Dewa pun mengeratkan tangannya yang sedang menggenggam tangan Bima dan Bima yang tak mau kalah pun membalasnya.


Dewa dan Bima pun saling menggenggam tangan satu sama lain dengan sangat erat.


Tau kalau jabatan tangan Dewa dan Bima bukan hanya sekedar berjabat tangan, Xena pun memukul tangan mereka agar jabatan tangan dua laki-laki itu saling terlepas.


PLAAK..


Bima dan Dewa pun melepaskan jabatan tangan mereka.


"Udah yuk Bim, kita masuk. Anter aku ke ruangan aku yah." Ucap Xena sambil menarik tangan Bima.


Melihat Xena memegang tangan Bima, Dewa pun menyentak tangan Xena agar melepaskan pegangan tangannya pada Bima.


"Biar gue yang nganter!!" Ucap Dewa sambil menarik tangan Xena berjalan lebih dulu meninggalkan Bima.


"Loh, tadi Kakak bilang gak mau nganter aku?" Protes Xena.

__ADS_1


"Itu tadi, karena gue lagi ngantuk!! Sekarang mata gue udah seger." Balas Dewa.


Xena tersenyum tipis mendengar jawaban Dewa. Xena yakin yang membuat mata Dewa kembali segar karena Dewa cemburu pada Bima.


"Xen.. tunggu Xen." Teriak Bima dari belakang. Ia tak mau kalah dari Dewa karena Bima yakin hubungan Dewa dan Xena tidak lah baik.


Sesampainya di dekat Xena, Bima pun menarik tangan Xena yang satu lagi.


Melihat itu, Dewa pun menyentak tangan Bima lalu menggenggam kedua tangan Xena.


Dewa membawa Xena berjalan lebih cepat agar menjauhi Bima.


"Iiikh.. Kak Dewa apaan sih, pelan-pelan jalannya!!!" Protes Xena.


"Diem, gak usah banyak protes." Balas Dewa.


"Ruang mata kuliah pertama kamu?" Tanya Dewa.


"Ruang C-3." Jawab Xena.


Mata Dewa berkeliling mencari petunjuk dimana ruang C berada.


"Oh.. disana." lirih Dewa setelah melihat petunjuk ruang C berada.


Dewa pun membawa Xena menuju tempat yang ia lihat.


Sedangkan di belakang, Bima terpaksa tidak mengejar Xena dan Dewa karena ia tak mau menjadi pusat perhatian. Pikir Bima, nanti juga bisa ketemuan lagi, toh nomor ponsel Xena ada padanya. Bima pun berjalan menuju ruangannya di ruangan A.


• • • •


Kini Dewa dan Xena sudah berada di dalam ruangan Xena.


Bukan hanya mengantar sampai di depan pintu, tapi Dewa juga mengantar sampai di tempat duduk Xena. Bahkan Dewa enggan beranjak dari samping Xena sebelum bel masuk berbunyi.


Alasannya apalagi kalau bukan karena Dewa tak ingin sampai Bima menyusul Xena kalau nanti Dewa keluar disaat jam mata kuliah pertama dimulai.


"Udah sana keluar Kak!!" Protes Xena.


"Nanti, kalau jam kuliah udah mulai!!" Balas Dewa sambil terus melihat ke arah pintu.


"Cie.. udah mulai posesif nih ye." Goda Xena.


"Siapa yang posesif! Gue hanya menjalankan amanah bokap gue yang HARUS mengantar loe sampai kelas!!" Balas Dewa.


"Tapi Papa mertua kan nyuruhnya cuma nganter bukan nungguin!!" Balas Xena.


"Udah deh, bilang aja kalau Kak Dewa cemburu karena aku sama Bima sekampus." Goda Xena sambil menoel dagu Dewa.


"Apaan sih loe!! Udah di bilang gak!!" Balas Dewa.


Teeeeeet...


Tak lama bel pun berbunyi, tanda mata kuliah pertama akan segera di mulai.


"Udah sana keluar, udah bel." Usir Xena.


"Iya bawel!!" Dewa pun melangkah hendak keluar dari ruangan Xena.


Tapi baru selangkah Dewa melangkah, Dewa memutar tubuhnya dan kembali mendekati Xena.


Kira-kira Dewa mau ngapain yah?

__ADS_1


• • • • •


Bersambung...


__ADS_2