Jerat Cinta Gadis Tengil

Jerat Cinta Gadis Tengil
J C G T 77


__ADS_3

💋💋 Dilarang julid!!! Cerita ini hanya untuk hiburan, bukan untuk top up dosa!! 💋💋


Tidak ada yang asyik selain mengkhayal.


💋💋 Sarangbeo 💋💋


• • • • •


Sudah hampir satu jam Dewa dan Xena berada dalam ranjang yang sama, tapi keduanya tidak melakukan apa-apa dan hanya berbaring sembari melihat langit-langit kamar.


Padahal tadi Xena sudah mengantuk berat, tapi begitu berada di ranjang yang sama dengan Dewa, rasa kantuknya langsung menguar dan berganti dengan rasa canggung.


Mungkin karena mereka sekarang sudah baikan, makanya ada rasa canggung dalam diri mereka saat berada dalam satu ranjang. Tidak seperti saat mereka masih seperti Tom & Jerry, bergelut pun di ranjang.


Jangankan bergelut, untuk bernafas saja mereka harus mengaturnya agar terdengar tidak fales.


"Ekhem.." dehem Dewa.


"Ekhem.." balas Xena.


Entah sudah berapa kali mereka hanya saling bersahut-sahutan deheman. Sampai-sampai cicak cicak didinding dan para gerombolan nyamuk bubar barisan karena bosan menunggu Dewa dan Xena bersahut-sahutan racauan dan erangan.


"Kak. Xen.." panggil Xena dan Dewa berbarengan.


"Ekhem.. Kak Dewa duluan deh." Ucap Xena mengalah.


"Kok aku? Kamu duluan aja." Balas Dewa.

__ADS_1


"Kakak duluan aja." Tolak Xena.


"Kamu aja. Ladies first." Balas Dewa.


"Mm... lampu-nya udah bisa di matiin belum? Aku mau..."


KLAAAK. Belum selesai Xena bicara, Dewa sudah langsung memadamkan lampu kamar yang ada di langit-langit kamar dengan remote dan kini hanya lampu tidur yang ada di nakas dekat Xena dan Dewa yang menyala.


"Makasih." Ucap Xena setelah Dewa memadamkan lampu kamarnya.


"Aku tidur duluan yah Kak." Ucap Xena lalu membalikkan tubuhnya hendak mematikan lampu tidur yang ada disebelahnya.


Namun belum juga tombol lampu tidur sempat ia gapai, Dewa langsung membalikkan tubuh Xena.


Mata Xena membulat lebar saat wajah Dewa hanya berjarak setengah jengkal dari wajahnya. Jantungnya juga berdetak tiga kali lebih cepat dari detakan normal.


"Hemh.."


"Mm.. aku.. aku.. mmm.. aku izin cium kamu sebelum tidur, boleh yah?" Ucap Dewa. Padahal bukan itu yang ingin Dewa katakan pada Xena.


"Bego!!! Kenapa gue ngomong gitu?!" Geram Dewa dalam hati.


Karena Xena pikir Dewa akan mencium keningnya, Xena menganggukkan kepalanya lemah tanda ia mengizinkan Dewa mencium-nya.


Pelan tapi pasti bibir Dewa pun mendekat ke kening Xena, namun begitu bibir itu hampir menempel, Dewa membelokkan bibirnya ke bibir Xena.


Xena yang sedang memejamkan matanya, menunggu kecupan Dewa di keningnya langsung membuka matanya lebar-lebar.

__ADS_1


Xena mematung saat merasakan Dewa mengunyah bibirnya dengan lembut. Memang ini bukanlah ciuman pertamanya dengan Dewa tapi baru kali ini lah Xena merasakan hal yang berbeda dalam tubuhnya.


Dan hal yang sama juga Dewa rasakan, saat sedang mengunyah bibir Xena dengan lembut, Dewa merasakan ada rasa yang begitu besar ia salurkan di setiap kunyahan-nya.


Xena yang tadinya hanya mematung, perlahan menikmati dan membalas kunyahan demi kunyahan bibir Dewa. Sangking menikmatinya, Xena sampai tidak sadar telah mengalungkan kedua tangannya di leher Dewa dan tidak berontak saat Dewa mulai menindih tubuhnya.


Ciuman yang tadinya lembut semakin lama semakin rakus karena sudah di bumbui dengan gairah. Bahkan saat ciuman Dewa turun ke leher Xena, Xena terlihat menikmatinya.


Kini hasrat yang bergairah lah yang menguasai diri mereka. Tangan Dewa pun sudah menyusup ke balik piyama yang Xena pakai demi mencapai gunung Xenabung yang masih di lapisi kacamata kain.


"Ssh.. ah.." tanpa sadar Xena mengeluarkan suara seksi yang makin membakar gairah Dewa begitu tangan besar Dewa sampai ke salah satu gunung Xenabungnya.


Merasa kacamata kain penutup gunung Xenabung sangat menghalangi aktifitas tangannya, tangan Dewa pun beralih ke punggung Xena untuk melepaskan pengait kacamata kain itu.


Cletak. Pengait pun terlepas.


Dewa tak langsung menarik kacamata kain itu, melainkan dengan gerakan cepat, Dewa membuka piyama Xena terlebih dulu dan barulah ia melepaskan kacamata kain itu dan membuangnya kesembarang arah.


Xena yang sudah di selimuti gairah hasrat yang membara, hanya bisa pasrah dengan apa yang hendak ia lakukan. Logika Xena juga sudah tidak bekerja.


Kini Dewa bisa melihat dengan jelas bagian atas tubuh Xena yang sudah polos.


Dewa berkali-kali menelan salivanya melihat penampakan gunung Xenabung milik istrinya itu. Puncak gunung yang masih merah muda dan bentuk gunung yang masih padat karena belum pernah kena longsor, membuat jiwa kelaki-lakian Dewa makin berkobar.


Tidak usah ditanya lagi bagaimana dengan si Hudin sekarang, karena sekarang Hudin sudah berubah menjadi Huluk dan sedang meronta-ronta di bawah sana karena sesak nafas. Huluk sudah tidak sabar terlepas dari jeruji kainnya dan menghirup udara segar dari dalam goa lembab


• • • • •

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2