Jerat Cinta Gadis Tengil

Jerat Cinta Gadis Tengil
J C G T 81


__ADS_3

πŸ’‹πŸ’‹ Dilarang julid!!! Cerita ini hanya untuk hiburan, bukan untuk top up dosa!! πŸ’‹πŸ’‹


Saat kau berpikir Tuhan itu tidak adil, kau salah!! Bukankah Tuhan itu Maha Adil? Karena yang sebenarnya, Tuhan hanya menginginkan yang terbaik untuk mu. Ingat, yang terbaik untuk mu belum tentu terbaik untuk-Nya.


πŸ’‹πŸ’‹ Sarangbeo πŸ’‹πŸ’‹


β€’ β€’ β€’ β€’ β€’


"Tolong.. tolong.. tolong.." hanya teriakan minta tolong lah yang bisa keluar dari mulut Sagita.


PLAAAK..


Tak suka mendengar teriakan Sagita, Arka langsung menβ€’ampar Sagita dengan sangat keras.


"Jangan berteriak!!! Itu hanya membuat tenaga mu habis!! Karena percuma saja kamu berteriak, tidak akan ada yang mendengar mu!!" Ucap Arka.


"Dari pada kamu berteriak minta tolong, bagaimana kalau kamu berteriak minta yang lain." Katanya lagi dengan tatapan liar.


Sagita menelan salivanya susah payah. Melihat tatapan mata Arka, ia tahu apa yang ada di otak Arka sekarang.


"K-kak.. aku mohon Kak lepaskan aku." Mohon Sagita.

__ADS_1


Arka tidak memperdulikan permohonan Sagita. Ia malah berdiri dari duduknya lalu melepas celana jeans yang Sagita pakai.


"Jangan Kak, aku mohon jangan Kak!!! Tolong.. siapa pun tolong aku... tolong...!!!" Teriak Sagita seraya meronta menendang-nendang Arka.


Tapi tetap saja, gerakannya terbatasi karena tenaga Arka yang terlalu kuat menahan kaki Sagita yang sedang menendang-nendang.


Arka pun berhasil melepaskan celana Sagita hingga kini bagian bawah Sagita sudah tidak tertutup dengan satu helai benang pun.


Melihat itu, hasrat Arka makin menjadi-jadi.


Arka pun melepas celana-nya juga. Setelah bagian bawah Arka sudah dalam keadaan polos, Arka pun naik ke atas meja dan menindih tubuh Sagita. Tanpa pemanasan terlebih dahulu, Arka langsung menghujamkan batang beruratnya ke dalam lubang sensitif Sagita yang ternyata masih perawan.


"Aaaargh...." jeritan pilu bercampur kesakitan keluar dari mulut Sagita saat batang berurat itu merobek selaput dara-nya.


Arka pun mulai menggerakkan pinggulnya dengan kasar, tidak peduli bagaimana kesakitannya Sagita di bawahnya.


Bukan hanya sekali Arka menyetubuhi Sagita dengan paksa, bahkan sampai Sagita tidak sadarkan diri karena lemas karena kekerasan sekβ€’sual dan kekerasan fisik yang Arka masih saja terus menyetubuhinya.


Sampai akhirnya Sagita menghembuskan nafas terakhir karena kekerasan yang Arka lakukan padanya.


Mengetahui Sagita yang sudah tidak bernyawa, dengan santai dan tanpa rasa bersalah sekalipun, Arka membawa jasad Sagita beserta barang-barang Sagita ke tempat pembuangan akhir sampah dan membuangnya disana.

__ADS_1


FLASHBACK OFF.


β€’ β€’ β€’ β€’ β€’


Setelah memberikan keterangan pada polisi, Dewa pun pulang ke rumah orangtuanya karena orangtuanya meminta Dewa untuk pulang kerumah mereka jika sudah selesai pemeriksaan di kantor polisi.


Sesampainya di ruma orangtuanya, Dewa langsung di sambut dengan raut wajah khawatir oleh seluruh anggota keluarga Dewa, termasuk Arthur dan Nancy yang juga sudah menunggu kedatangan Dewa.


Mereka khawatir kalau polisi malah mencurigai Dewa atas meninggalnya Sagita.


"Gimana Wa hasil pemeriksaannya?" Tanya Mama Dewa.


"Kasih minum dulu Ma, biarkan Dewa duduk dulu." Tegur Papa Dewa karena istrinya yang tidak sabaran padahal Dewa duduk saja pun belum.


"Ayo Wa." Arthur merangkul Dewa seraya menggiring Dewa ke ruang keluarga.


Dan anggota keluarga yang lainnya juga menyusul dari belakang.


Sedangkan Xena yang sejak tadi berdiri di pojokan hanya memasang raut wajah sedih saat melihat wajah sedih Dewa. Kelihatan sekali kalau Dewa terpukul dengan kematian Sagita yang tiba-tiba. Dari ekspresi Dewa yang seperti itu, Xena berasumsi kalau Dewa masih ssngat mencintai Sagita sedangkan ungkapan cinta Dewa yang kemaren Dewa katakan itu hanya karena Dewa ingin melampiaskan hasratnya pada-nya saja.


β€’ β€’ β€’ β€’ β€’

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2