
💋💋 Dilarang julid!!! Cerita ini hanya untuk hiburan, bukan untuk top up dosa!! 💋💋
Bersikaplah untuk tidak mengemis minta ditemani, dan tidak takut untuk di musuhi.
💋💋 Sarangbeo 💋💋
• • • • •
Karena di percobaan ketiga Dewa juga belum mau bangun, Xena pun memberanikan diri mendekatkan wajahnya ke wajah Dewa.
Lalu....
"Haaaaaa..." Di depan wajah Dewa, Xena menyemburkan nafas naga-nya.
Berhasil. Dewa memberikan respon.
"Eugh..." lenguh Dewa.
"Kak, Kak Dewa, bangun Kak." Ucap Xena sambil menepuk-nepuk pelan pipi Dewa.
Mendengar suara Xena, Dewa pun mengerjapkan matanya.
"Ini beneran loe?" Tanya Dewa dengan suara lemah-nya. Ia masih tidak percaya kalau yang ada di hadapannya adalah wujud nyata Xena bukan sekedar halusinasi Dewa saja.
"Iya Kak, ini aku!!" Balas Xena dan untuk membuat Dewa percaya, Xena pun memencet hidung Dewa pelan.
"Auw." Ringis Dewa. Padahal Xena memencet hidungnya pelan tapi rasanya sakit sekali.
"Udah percaya sekarang?" Tanya Xena dan di balas dengan anggukkan kepala oleh Dewa.
"Xen, soal vi- ..."
"Ssst!!!" Tau apa yang hendak Dewa bicarakan, cepat-cepat Xena menempelkan jari telunjuknya di bibir Dewa agar Dewa tidak meneruskan kata-katanya.
"Nanti aja bahas tentang itu." Ucap Xena.
"Kak Dewa pasti belum makan kan?" Tanya Xena.
Dewa mengangguk.
__ADS_1
"Tunggu disini yah aku buatin bubur dulu."
"Beli aja Xen, biar gak repot."
Xena menggeleng tidak setuju dengan ide Dewa.
"Kak Dewa itu lagi sakit, jadi harus makan makanan sehat. Kalau beli di luar, kan kita gak tau cara masaknya gimana, bersih apa gak air yang di pakai, segar atau gak bahan-bahan yang di pakai. Kalau aku masak sendiri kan..." belum selesai Xena menasehati Dewa, Dewa sudah memotong kata-kata Xena.
"Iya.. iya.. iya, udah sana cepetan masak!!" Perintah Dewa. Mendengar nasehat Xena, kepala Dewa jadi pusing.
"Ya udah, tunggu disini. Gak usah ikut ke dapur." Balas Xena.
Xena pun berjalan keluar dari dalam kamarnya menuju dapur.
Sedangkan Dewa kembali melanjutkan tidurnya sembari menunggu Xena selesai membuatkan bubur untuknya.
• • • • •
Setengah jam kemudian.
Dengan nampan yang berisi satu mangkok bubur dan segelas air putih hangat, Xena berjalan menuju kamarnya.
Begitu masuk ke dalam kamar, Xena melihat Dewa yang sedang tidur.
Tapi Dewa tak merespon.
Xena menghela nafasnya, karena lagi dan lagi Dewa tak merespon panggilannya.
Xena pun meletakkan nampan di atas nakas dan hendak membangunkan Dewa dengan cara yang tadi Xena lakukan. Cara apalagi kalau bukan menyemburkan nafas naga.
Namun baru Xena membuka mulutnya lebar-lebar di depan wajah Xena, tiba-tiba Dewa membuka matanya. Mata Dewa dan Xena pun saling bertabrakan.
"Ngapain loe?" Tanya Dewa.
"Ng-ngak ngapa-ngapain." Jawab Xena kikuk sambil menjauhkan wajahnya dari wajah Dewa dan mengambil satu mangkok bubur yang tadi ia letakkan di nakas.
Setelah wajah Xena menjauh, Dewa pun berusaha mengubah posisi-nya menjadi duduk.
"Ini bubur-nya." Ucap Xena sambil menyodorkan satu mangkok bubur itu pada Dewa.
__ADS_1
"Tangan gue lemes, bisa suapin gak?" Pinta Dewa modus.
Dengan sukarela Xena pun menyuapi Dewa.
"Xen, gue-"
"Ssst!!! Habisin dulu bubur-nya, baru ngomong!!" Potong Xena.
Mau tak mau Dewa pun menunda mengungkapkan isi hatinya pada Xena sampai bubur itu habis.
Semangkok bubur pun sudah berhasil Dewa habiskan.
Xena pun berdiri dari tempat duduknya di pinggir ranjang hendak mengantar piring kotor ke dapur sekalian mencuci piring dan peralatan masak yang tadi Xena pakai untuk memasak bubur.
Melihat Xena yang hendak pergi, cepat-cepat Dewa menahan tangan Xena.
"Xen, ada yang mau gue omongin." Ucap Dewa.
"Sebentar yah Kak, aku cuci piring ini dulu." Balas Xena. Xena sedang berusaha mengulur waktu. Ia takut apa yang ingin Dewa bicarakan tidak sesuai dengan ekspektasinya.
"Gue tau itu cuma alasan loe doang untuk menghindar dari gue kan?" Curiga Dewa.
"Ya gak lah Kak, aku beneran mau cuci piring dulu. Nanti habis aku cuci piring, aku langsung ke sini." Jawab Xena.
Dewa pun melepaskan tangan Xena dan membiarkan Xena keluar dari kamar.
Sesampainya di dapur, Xena tidak langsung mencuci piring, ia memilih untuk membersihkan kompor terlebih dulu. Sengaja Xena melakukan itu untuk mengulur waktu.
Lima belas menit menunggu Xena, Dewa yang sudah tidak sabar menunggu kedatangan Xena pun memilih untuk langsung menyusul Xena di dapur.
Mendengar suara pintu kamar terbuka, Xena yang sedang duduk di kursi ruang makan cepat-cepat berjalan menuju wastafel pencucian piring yang ada di dapur dan mulai mencuci piring kotor yang belum tersentuh sama sekali.
Suara langkah kaki Dewa yang berjalan kearahnya semakin terdengar jelas di telinga Dewa.
Xena tidak menyangka setelah Dewa berada di dekatnya, Dewa langsung memeluk-nya dari belakang.
"Maafin gue Xen." Ucap Dewa di telinga Xena.
Deg..
__ADS_1
• • • • •
Bersambung...