Jerat Cinta Gadis Tengil

Jerat Cinta Gadis Tengil
J C G T 79


__ADS_3

πŸ’‹πŸ’‹ Dilarang julid!!! Cerita ini hanya untuk hiburan, bukan untuk top up dosa!! πŸ’‹πŸ’‹


Ciri-ciri orang yang punya mentalitas miskin itu, hanya berputar-putar pada masa lalu, takut tertinggal, merasa bahwa orang kaya itu jahat, terus protes dan tidak pernah puas tapi hanya mau berdiam diri, takut mengeluarkan uang, merasa tidak perlu bantuan dari orang lain dan takut jika orang lain lebih baik dari dirinya.


Kira-kira adakah sifat kalian seperti yang diatas?


πŸ’‹πŸ’‹ Sarangbeo πŸ’‹πŸ’‹


β€’ β€’ β€’ β€’ β€’


Pukul 03.00


Plaak...


"Sss.. ah.."


Plaak...


"Sss.. ah.."


Plaak...


"Sss.. ah.."


Bunyi tepukan daging berkulit diiringi dengan suara merdu dan seksi penuh kenikmatan terdengar bersahut-sahutan memenuhi seisi kamar.


Ini adalah ronde ketiga Dewa mengguncang ranjang bersama Xena. Seperti orang yang terkena doβ€’ping, begitulah Dewa tak mengenal lelah meminta Xena melakukan ritual yang menggemetarkan lutut itu.


"Kak.. udah Kak, perih..." ringis Xena karena pintu surga dunia-nya sudah teras perih bagaimana tidak perih kalau Dewa sudah hampir dua puluh menit menghentak-hentakkan lubang surga dunia-nya.


"Sebentar lagi Sayang." Balas Dewa.


"Perih Kak."


"Tahan Sayang, tahan. Sebentar lagi keluar kok." Balas Dewa.


Dewa pun makin mempercepat hentakannnya, jerit kesakitan berbalut suara desβ€’ahan keluar dari mulut Xena saat Dewa semakin mempercepat hentakannya.


Tak sampai satu menit..


"Aaargh.." erangan panjang pun keluar dari mulut Dewa saat kerumunan encu kloter ke tiga berhamburan keluar dan berlomba-lomba menjadi perenang handal.


Dewa pun mengambrukkan tubuhnya diatas tubuh Xena, setelah para kerumunan encu kloter ketiga keluar, barulah terasa lelahnya, lututnya sampai gemetaran karena itu.

__ADS_1


Cup. Berulang kali Dewa mengecup wajah Xena, mulai dari kening, pipi dan kemudian bibir.


"Makasih yah Sayang." Ucap Dewa.


Setelah dirasa Huluk sudah berubah menjadi Hudin, Dewa pun mengeluarkan si Hudin dari lubang surga dunia. Harus segera cepat-cepat di keluarkan karena kalau di biarkan lima menit saja di dalam bisa-bisa si Hudin mengembang kembali.


"Itu yang terakhir yah Kak, aku capek, ngantuk. Si Eneng juga udah perih banget." Keluh Xena sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


"Kok yang terakhir Xen? Baru juga si Hudin ngerasain surga dunia, masa udah kamu larang ngerasain surga dunia lagi?"


"Maksudnya terakhir untuk malam ini Kak." Jawab Xena.


"Oh.. kirain untuk selamanya." Balas Dewa.


Dewa pun memiringkan tubuhnya untuk menghadap Xena lalu mengelus pipi Xena dengan sangat lembut.


"Sekali lagi makasih yah Sayang." Ucap Dewa dan di balas dengan anggukkan kepala oleh Xena.


Dewa pun menarik tubuh Xena dan membawa tubuh Xena kedalam pelukannya.


"Tidurlah. Aku tidak akan memintanya lagi." Ucap Dewa seraya mengelus rambut Xena.


Dan di jam yang sudah menunjukkan dini hari itu barulah mereka tertidur dengan nyenyak.


β€’ β€’ β€’ β€’ β€’


KRIIIING... KRIIIING...


Nada dering di ponsel Dewa yang begitu memekakkan telinga mampu membuat Dewa dan Xena yang masih tertidur pulas terbangun.


"Siapa sih ganggu aja!!" Dumel Dewa sambil melepas pelukannya dari tubuh Xena.


Masih dalam keadaan mata yang tertutup, Dewa pun meraba nakas yang ada di sebelahnya untuk mengambil ponselnya.


Setelah ponsel berada di tangannya, Dewa pun langsung menggeser tombol hijau.


"Halo." Jawab Dewa dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Halo selamat pagi Pak. Dengan Bapak Dewa?" Tanya suara bariton di seberang telepon.


"Hemh.. siapa ini?" Tanya Dewa yang masih dalam keadaan setengah sadar dan mata yang masih tertutup.


"Kami dari kepolisian Pak. Kami ingin meminta keterangan dari Bapak atas kasus penemuan mayat seorang wanita yang di ketahui identitasnya adalah Saudari Sagita." Jawab Pak polisi.

__ADS_1


Mendengar itu, jelas saja Dewa langsung refleks terduduk.


"Apa Bapak bilang? Mayat Sagita?" Dewa masih belum percaya kalau Pak polisi menyebutkan kata mayat di depan nama Sagita. Dan itu artinya Sagita sudah meninggal.


"Iya Pak, mayat Saudari Sagita baru di temukan di tempat pembuangan akhir sampah oleh seorang pemulung. Dan dari ponsel yang ditemukan di lokasi yang sama namun jarak yang berbeda, nama Pak Dewa adalah nama terakhir yang ada di ponsel Saudari Sagita." Balas Pak polisi.


Dewa tak bisa berkata-kata lagi, ia terlalu shock mendengar kabar kematian Sagita. Apalagi mayat Sagita di temukan di tempat pembuangan akhir sampah.


"Apa Pak Dewa bisa datang ke kantor polisi untuk diminta keterangan?" Tanya Pak polisi lagi.


"Iya Pak, saya akan datang." Jawab Dewa lemas.


Panggilan pun berakhir.


"Kenapa Kak?" Tanya Xena yang sudah terduduk karena ikut kaget saat Dewa tiba-tiba terduduk tadi.


"Sagita meninggal." Jawab Dewa.


Mata Xena membulat, mulutnya juga menganga.


"Ya-yang benar Kak?!" Tanya Xena. Suaranya sudah bergetar.


Dewa menganggukkan kepalanya lemah.


"Aku ke kantor polisi dulu. Polisi mau minta keterangan aku." Ucap Dewa.


"Aku ikut."


"Gak usah. Kamu di rumah aja. Kamu hubungi aja Arthur, Nancy, Mama dan Papa, kasih tau sama mereka tentang Sagita."


"Gak mau, aku mau ikut. Aku gak mau Kak Dewa di penjara."


"Yang bilang aku mau di penjara siapa Sayang? Polisi cuma mau minta keterangan aja." Balas Dewa.


"Kamu dirumah aja yah." Rayu Dewa.


Mau tak mau Xena pun menganggukkan kepalanya.


Cup. Dewa mengecup keningnya sebelum ia turun dari ranjang.


β€’ β€’ β€’ β€’ β€’


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2