Jerat Cinta Pak Dosen

Jerat Cinta Pak Dosen
Bab 10


__ADS_3

Arshaka memapah Shaila berjalan menuju ruang Rektor. Keduanya berjalan tanpa bersuara sama sekali. Sama-sama tidak menyangka jika niat baik malah menjadi petaka.


Sebelum ke ruang rektor, Shaka menelepon mamanya untuk menjemput Azka. Dia tidak ingin anak itu tiba-tiba menghilang di saat dirinya sedang menyelesaikan masalah yang baru saja datang. Meminta tolong pada ibunya adalah pilihan terbaik menurut ayah satu anak itu.


Mereka duduk berdampingan di sofa panjang yang ada di ruangan itu. Wajah sang rektor tampak sekali sedang diliputi amarah. Oleh karena itu, Shaka dan Shaila memilih diam dan bersuara ketika ditanya.


"Aku dengar kalian melakukan perbuatan yang tidak terpuji di lingkungan kampus. Apa betul demikian?"


"Apakah menolong seseorang itu suatu perbuatan yang tidak terpuji?" Bukan menjawab pertanyaan sang rektor, Arshaka malah balik bertanya.


"Saya tidak mau tahu alasan kalian. Saat ini saya sudah memanggil orang tua Shaila untuk datang ke sini. Kita akan bicarakan apa yang kita lakukan agar nama baik kampus ini tidak hancur karena ulah kalian."


"Maaf, Pak. Apa saya boleh menceritakan kejadian tadi secara detail?" potong Shaila dengan pertanyaan, meminta kebaikan hati sang rektor.


Tanpa menunggu jawaban dari sang rektor, Shaila bercerita bagaimana dia terpeleset setelah keluar dari kamar mandi. Saat terjatuh dia berteriak karena merasakan sakit yang amat sangat di kaki dan bo**ngnya. Tak lama kemudian Arshaka datang dan menolongnya.


Sungguh nahas bagi mereka, saat Shaka akan membantunya berdiri, tak sengaja wajah mereka berdekatan sehingga seperti adegan ciuman. Orang yang melihat mereka menyangka jika dosen dan mahasiswa itu melakukan perbuatan tidak terpuji. Akhirnya mereka sampai berada di ruangan ini setelah luka Shaila diobati di ruang kesehatan.


Ayah Shaila datang sesaat setelah Shaila selesai bercerita tentang kejadian yang sebenarnya. Baru saja tadi malam anak itu tepergok berpelukan sekarang, kembali tepergok sedang ciuman di kamar mandi. Lebih baik menikahkan keduanya dari pada terjadi sesuatu yang lebih buruk lagi.


"Nak Shaka silakan bawa orang tuamu ke rumah saya. Saya tunggu satu jam dari sekarang. Kita bicarakan pernikahan kalian di rumah saja, jangan di kampus!" ucap Nathan pada dosen muda itu.

__ADS_1


"Shaila ikut Daddy. Kita harus pulang sekarang juga," pinta Nathan pada anaknya.


Nathan kini menatap rektor yang masih duduk di kursi putarnya, melihat bagaimana dosen dan mahasiswa beserta orang tuanya itu menyelesaikan masalah.


"Terima kasih, Bro! Maaf anakku membuat masalah di kampus ini. Malu sebenarnya tapi mau bagaimana lagi. Anak jaman sekarang memang sering bertindak sesuka hatinya."


"Sekali lagi, terima kasih sudah diizinkan memakai ruangan kamu. Sampai ketemu lagi," ucap Nathan pada rektor yang ternyata sahabat masa SMA-nya.


Satu jam kemudian ....


Arshaka menepati janjinya untuk membawa orang tuanya datang ke rumah orang tua Shaila. Sebelumnya Nathan sudah mengirimkan lokasi rumahnya pada dosen muda itu agar tidak kesasar. Arshaka dan keluarga sampai di rumah Nathan tepat waktu, tak lupa membawa buah tangan.


"Berhubung anak-anak kita sudah dua kali ketangkap basah berdua-duaan di tempat sepi, sebaiknya kita segera nikahkan saja keduanya. Jika nanti mereka tertangkap lagi, mereka sudah sah dan tidak membuat malu keluarga." Nathan membuka suara begitu para tamu duduk dan hidangan tersedia di meja tamu.


"Shaila tidak mau, Dad! Shaila dan Pak Shaka tidak ada hubungan apa-apa selain dosen dan mahasiswa. Lagian, Shaila masih belum cukup umur untuk menikah," tolak Shaila mentah-mentah.


Gadis cantik itu menolak dinikahkan dalam waktu dekat ini. Masih banyak mimpi yang akan dia lakukan, termasuk keliling dunia dengan ilmu yang dimilikinya. Dia ingin membuka usaha sendiri tanpa menunggu mendapatkan warisan dari orang tua.


Berbeda dengan Shaila, Arshaka dan keluarganya langsung menyanggupi keinginan Nathan. Walau bagaimanapun juga, nama baik keluarga yang akan menjadi taruhan jika mereka tidak dinikahkan. Bisa jadi keduanya dikeluarkan dari kampus dengan tidak hormat.


Setelah melakukan pembicaraan yang cukup alot, akhirnya kesepakatan itu telah didapat. Mereka akan menikah besok pagi di KUA. Berkas-berkas diurus hari ini juga, agar besok pagi sudah bisa melakukan akad.

__ADS_1


Uang dan nama keluarga membuat pendaftaran berkas pernikahan itu diproses secepatnya oleh petugas sehingga dalam waktu sehari pendaftaran pernikahan selesai. Tinggal menunggu pelaksanaan saja.


Shaila pun menyerah mengikuti keinginan sang ayah, tetapi gadis itu meminta syarat agar pernikahan dilakukan secara diam-diam dan tidak ada pesta. Dia tidak ingin ada yang tahu jika mereka telah menikah. Hanya keluarga dan beberapa pihak kampus yang dianggap penting saja yang diberitahu.


"Apa kataku, anak kesayangan kamu itu memang biang masalah! Sejak kecil dia hanya bisa menyusahkan dan membuat masalah saja. Seharusnya kamu bersikap keras padanya sejak dia masih kecil, bukan baru sekarang!" ujar Dewi kesal, entah apa yang membuat wanita yang telah melahirkan Shaila itu begitu membenci anaknya.


"Lihatlah bagaimana dia sekarang! Memalukan, bukan?" Dewi tiada hentinya menjelekkan anaknya sendiri, darah dagingnya sendiri.


"Wi, ingat Shaila darah dagingmu! Jika Shaila seperti itu, tak jauh beda denganmu. Kenapa kamu belum bisa memaafkan kesalahannya? Ku pikir seiring berjalannya waktu kamu mau memaafkan Shaila. Ternyata kamu malah semakin membenci dia setelah sepuluh tahun kejadian itu berlalu," tegur Nathan pada sang istri.


"Gara-gara dia aku kehilangan semua yang seharusnya menjadi milikku! Seharusnya kamu tahu perasaanku, Mas," sahut Dewi dengan mata berkaca-kaca, teringat kejadian sepuluh tahun yang lalu.


"Aahhh, sudahlah! Aku hanya ingin kamu sehari saja berpura-pura di hari bahagia Shaila besok. Kalau kamu seperti ini sama saja kamu membuat malu aku di depan keluarga Mandala." Nathan kembali mengingatkan sang istri sebelum berlalu menuju kamarnya.


Sementara itu, Arshaka yang diminta menemani Shaila untuk membeli baju pengantin, tampak diam sembari memegang kemudi mobil. Dalam mobil itu hanya ada suara radio yang diputar oleh Shaka. Wajah murung gadis di sampingnya membuat dia tidak berani mengajak berbicara sehingga mendengar suara radio lebih aman dari pada mengajak berbicara calon istrinya.


Arshaka mengemudikan mobilnya menuju butik langganan sang mama. Tadi Mama Nenti menyarankan mereka untuk datang ke butik 'Elegant'. Nenek dari Azka itu sudah menghubungi pemilik butik agar segera menyediakan baju pengantin untuk acara akad besok pagi.


Arshaka hanya mengantar saja karena dia baru saja membeli setelan jas warna putih gading dan belum pernah dipakai. Shaila terpaksa mencoba beberapa kebaya yang sesuai dengan ukuran badannya. Setelah kebaya menempel sempurna pada tubuhnya, gadis itu keluar dari ruang ganti untuk meminta pendapat calon suaminya.


"Pak. Pak!"

__ADS_1


__ADS_2